
Hari ini Athaya berangkat agak buru-buru, pasalnya hari ini ia bangun kesiangan karena tadi malam ia tidur agak larut.
Nafasnya terengah-engah saat berhasil memasuki kelas, ia bahkan tak sarapan tadi, "tumben lo telat," Arya menyapa saat Athaya baru saja duduk di bangkunya.
"Belum telat kan ini?" Athaya mengarahkan matanya pada jam dinding di kelas, sebelum dibalas gelengan oleh Arya, "belum kok, hampir maksud gue,"
Arya menggolekkan kepalanya di meja, sementara Athaya menyenderkan punggungnya di kursi, pandangannya menyisir ke seluruh penjuru kelas. Ia menautkan alis ketika tak melihat Ivana di sana.
Ia berdiri, menghampiri Mentari yang duduk sendirian di kursi rodanya, "loh, Iva mana Tar?"
Tari menoleh, ia menutup novel yang tadi dia baca, "loh? lo gak dikasih tau? dia hari ini sakit, jadi gak masuk,"
Athaya sedikit terbelalak sebelum merogoh saku celananya untuk mengecek ponsel, ia mendesah kecewa karena melihat beberapa pesan dan miscall dari Ivana.
"Oh iya, gue dikasih tau. Duh, bego banget sih gue," ia menepuk jidat pelan
"Lo kemana aja emang? sampe gak bales pesannya?"
"Gue kemaren malem main ke rumah Iqbal sama temen-temen yang lain, terus hari ini gue kesiangan sampe gak sempet buka hape," penjelasannya dihadiahi anggukan kecil dari Tari.
"Dia ngomong apa aja ke lo?" tanya Athaya setelahnya.
"Gak ngomong apa-apa sih, cuman dia nitipin surat izin ke gue, dia demam,"
Athaya tiba-tiba kepikiran hujan kemarin, mungkin karena itu ia menjadi demam begini. Ah! ia merasa tak becus menjaga Ivana sekarang!
"Lo gak jenguk dia?" tanya Athaya.
"Gue? gak tau deh" jawab Tari seadanya.
"Emang lo gak khawatir?"
"Ya khawatir. Tapi, susah Ath"
Hanya dengan begitu saja, Athaya langsung sadar, ia langsung tutup mulut. Jarinya bergerak untuk melakukan panggilan telepon dengan Iva. Namun, dari arah pintu sepertinya pelajaran sudah mau mulai, ia memasukkan ponselnya dan pergi ke bangkunya sendiri.
Mungkin, nanti ia akan menghubungi gadis itu.
...--...
Di ranjangnya Ivana menggigil, bubur yang diberikan ibunya tak ia sentuh sama sekali—padahal sebelumnya sudah ditawari seisi penghuni rumah untuk di suapi. Namun, yang namanya orang sakit ia tak selera masakan apapun.
Ia hanya meminum obat dari dokter yang jelas-jelas resepnya diminum sesudah makan, tapi masa bodoh untuknya, paling nanti sore juga sembuh.
Athaya tak membalas pesan yang dikirimnya dari pagi tadi, tak ada tanda-tanda ia aktif dari kemarin malam, sebenarnya anak itu sedang dimana?
Ia kembali membuka ponsel, mencari kontak yang bisa ditanyainya tentang keberadaan Athaya.
Iqbal
^^^Bal^^^
^^^Tau Athaya kemana gak?^^^
Ia kembali menyimpan ponselnya, dinginnya menusuk sampai ke tulang, Ivana memang lebay kalo lagi sakit, tadi malam saja ia merintih waktu tidur, membuat kedua orang tuanya bingung.
"Lagi ada pelajaran kali ya?" tanyanya pada diri sendiri, ia kembali mengambil ponsel, menghubungi siapa lagi terserah, yang penting dapat kabar dari Athaya.
"Ivana, jangan main hape terus," Risa dengan wajah yang tak habis pikir menatap tajam anaknya.
"Iva gak main hape mah," balas Iva lalu meletakkan kembali ponselnya.
"Gak main hape? tuh ngapain? ini nih yang bikin daya tahan tubuh kamu gak kuat. Main hape terus,"
__ADS_1
"Yah ma, hape aja terus yang disalahin,"
"Bantah kamu ya, Va. Gak sembuh-sembuh kamu kalo gak istirahat tapi malah hape terus,"
Risa memasuki kamar Iva dengan segelas teh hangat. Wanita paruh baya itu membuang nafas kesal ketika melihat mangkok berisi bubur yang belum tersentuh sama sekali.
"Ya ampun, Ivana. Dari tadi buburnya gak kamu makan?"
"Gak nafsu ma, mama aja yang makan sana,"
"Lah? berarti dari tadi kamu belum minum obat?"
"Udah, cuman aku belum makan,"
"Ya mana bisa Ivana, resep dokternya harus makan dulu sebelum minum obat,"
Ivana tak merespon, ia menutup matanya pura-pura tidur, Risa memutar bola matanya, lalu berjalan menjauhi ranjang Iva, sambil menungguinya tak sengaja membuka mata.
Iva yang seperti mengetahui ibunya pergi, perlahan membuka mata. Namun, perangainya itu diketahui sang ibunda yang ternyata masih berdiri di sana.
"Bagus, udah pinter akting kamu ya?"
"Udah lah ma." jawab Iva lesu.
"Ayo Mama suapi, sama ini teh herbal nya kamu minum ya? biar cepet sembuh,"
"Pait gak nih?" Iva menghindar saat suapan berisi bubur itu mendekat ke arah mulutnya.
"Va? jangan bercanda, ayo buka mulutnya, makan." dengan pasrah ia membuka mulut lalu mengunyah dengan pelan, dua suap setelahnya ia mengambil teh—ingin minum.
"Wekk!" Risa terkejut, "ada apa?" Iva menjauhkan teh itu dari mulutnya, "pait banget ma, ini teh atau pare?"
"Itu bikin daya tahan tubuh kuat, Va. Biar kamu cepet sembuh,"
"Sekali lagi ayo,"
"Udaaah, ntar lagi deh"
"Ivana agnesia–"
Dari arah bawah, ada suara bel berbunyi, asisten rumah tangga Risa juga ada keperluan di luar rumah tadi, sepertinya tuhan memihak pada Ivana sekarang.
"Ada tamu mah," kata Iva.
"Ya udah, kamu makan lagi ya? mama ke bawah sebentar," Ivana hanya mengangguk, saat ibunya keluar ia langsung membuka ponselnya, rupanya sudah ada balasan dari Iqbal.
Iqbal
Gue tadi liat dia masuk kok, cuma agak telat aja kayaknya
^^^Kok bisa telat?^^^
Hampir telat, kemaren main ke rumah gue sampe larut, mungkin karena itu
^^^Oh thanks bal, infonya^^^
It's ok, btw lo dmn?
^^^Gue sakit, hari ini gak masuk^^^
Sakit apa? gak parah kan?
^^^Gak kok cuma demam biasa^^^
__ADS_1
GWS ya? makan yang banyak
^^^Makasih bal^^^
Iqbal merasakan hati yang berdebar dicampur cemas, Iva bilang kalau dia sedang sakit, tapi malah ia yang mencari keberadaan Athaya.
Jam ke-2 berlalu, ada pengumuman dari pembina OSIS untuk segera mengumpulkan semua anggota OSIS di ruang OSIS sekarang, dan dia sekarang sedang menunggu Vino yang sedang melakukan aktivitas di kamar mandi.
"Lama banget sih, Vin? lo ngapain?" Iqbal agak memekik dari luar toilet karena lama menunggu sang ketos yang katanya sedang kebelet itu.
"Sabar, Sep. Gue mencret,"
"Ish! cepetan!" Iqbal membalas geram, 5 menit setelahnya Vino keluar dengan diiringi aroma asam amoniak.
"Anjir! bau banget," Iqbal menutup mulut dengan bagian atas seragamnya.
"Bersyukur lo! masih bisa nyium bau, itu artinya lo masih hidup," Iqbal berdecak saat Vino merapihkan rambutnya sebentar.
"Udahlah yok, lama lo," Iqbal melotot harusnya ia yang berkata seperti itu, ia yang menunggu Vino, malah sakan jadi dia yang ditunggui. Sial!
"Ivana sakit tau," saat menuruni tangga Iqbal memberi tahu Vino tentang kabar itu, Vino menautkan alisnya, "oh ya? berarti dia gak masuk dong hari ini?"
"Gak masuk dia," balasnya.
"Kok lo tau sih?"
"Iya, tadi dia nge chat gue,"
"Wah, sumpah Sep, lo perlu dicurigai,"
"Kok gitu?"
"Iya lah, lo kan bukan apa-apa nya dia, kok malah nge-chat lo sih, bukannya Athaya?" Vino menatap curiga Iqbal yang langsung dihadiahi tamparan pelan di muka cowok itu.
"Ya apa salahnya? lagian mungkin Iva udah nge-chat Athaya tapi gak dibales, gue tadi lihat dia hampir telat, gak sempet buka mungkin,"
Saat sampai di lantai dasar, sepertinya Vino mengetahui fakta baru, ia menghentikan pergerakan Iqbal, matanya menatap lurus ke depan dan betapa terkejutnya ia saat melihat itu.
"Ada apa sih?" Iqbal protes karena bajunya di cekal oleh Vino, "gue tau sebuah fakta baru," sambung Vino.
"Apa?" Vino menjawab pertanyaan Iqbal dengan menunjuk menggunakan dagunya.
Disana Iqbal juga terdiam. Jelas melihat, Mentari dan Athaya yang sedang berpelukan disana—disamping ruang laboratorium.
"Vin? itu bukannya Tari sama Ath–"
"Athaya, Sep." Vino melanjutkan pernyataan Iqbal. Disana terlihat Athaya yang memeluk Tari yang sedang berdiri dari kursi rodanya.
Pandangannya saling menyatu, Tari tenggelam dalam mata coklat Athaya, yang tak disadari Athaya, ia juga melakukan hal yang sama.
Suara mikropon dari dalam sekolah terdengar memanggil Vino dan Iqbal sang ketua dan wakil ketua OSIS, membuat keempatnya tersadar.
Vino dan Iqbal merenung sejenak sebelum berjalan cepat menuju ruang OSIS, karena hanya mereka berdua yang belum datang.
Sementara Athaya dan Tari saling meminta maaf, tadinya Tari ingin memperbaiki posisi duduknya, tapi malah kurang keseimbangan hingga Athaya yang tadi membantu mendorong kursi rodanya kena imbas.
"Sori, Ath. Ya ampun sori banget,"
"Iya, iya, gak apa apa," setelah kejadian itu dengan canggung yang masih menyelimuti mereka masuk ruang laboratorium. Athaya hanya berharap tak ada yang melihat tadi.
Namun, tanpa ia sadari dari arah yang cukup jauh, seseorang berhasil mengambil foto mereka, dia tersenyum miring—puas dengan apa yang ia peroleh barusan.
"Bagus."
__ADS_1
...--...