ATHAYA?

ATHAYA?
36-Rahasia di Gudang Lama Sekolah


__ADS_3

"Terus kenapa lo cari gue kalau yang bermasalah sama lo itu Athaya?" Tari mencoba membela diri.


Langit sedikit merenung lalu kembali berkata, "mungkin karena lo adalah manusia terlemah disini."


Langit menjeda ucapannya, "kenapa ya nyokap gue waktu itu bisa jadi pelacur?...gue lebih baik hidup miskin dari pada kekurangan perhatian kayak gini,"


Tari masih terisak, tangannya memerah dan masih dalam genggaman erat Langit, "jangan lakuin apapun ke gue plis...lepasin gue Lang,"


"Kalo gue lepasin lo, kira-kira apa yang ada di pikiran Vino dan yang lainnya," Langit mulai merenung, pikirannya mulai tak terkendali.


"Mereka pasti benci banget sama gue," Langit menatap mata Tari, "mereka percaya penuh sama gue, menganggap seolah hidup gue biasa aja, padahal nggak. Tapi ini juga bukan soal mereka, ini soal hidup gue sendiri," Langit berbicara tak jelas, pikirannya kalut. Seolah suara-suara sakit yang terkunci dengan cepat meluap.


Langit memajukan badannya mendekati Tari, gadi itu memekik tertahan, berusaha menyadarkan temannya yang sedang kacau itu. Pun memekik meminta tolong—berharap ada seseorang yang mendengarkannya.


...--...


Athaya kembali ke ruang OSIS. Vino, Damar, Iqbal dan Don Don masih disana untuk bercengkrama. Malah sekarang juga sudah bergabung diantaranya ada Dara dan Arini.


"Ath? kesini lagi lo? gak usah bolak-balik kesini aja sama kita," ajak Vini yang kemudian di angguki oleh ketiganya.


"Nggak, gue cuman mau cari Mentari, lo semua lihat gak?"


Mereka saling pandang, "lah? gue gak tau kalo soal Mentari, emang dia kemana," Damar menjawab.


"Nah, itu dia. Iva juga lagi nyari nih, masalahnya tadi dia diajak sama cowok nggak tau kemana, gue khawatir aja kalo diajak kemana-mana, lo tau kan kondisinya gimana?"


"Oh? iya Ath, tadi gue sempet lihat dia bareng sama cowok gitu. Katanya dia mau nyusul Ivana," Arini memberitahu.


"Kemana emang?" tanya Dara.


"Gue gak tau pasti, sebelum kesini gue samar-samar denger ada yang nyebut nama Ivana, katanya malah suruh nyusul-nyusul gitu, makannya gue santai aja," sambung Arini.


"Mana Iva," sesaat setelah Iqbal bertanya, Iva datang. Wajahnya agak pucat—hanya sedikit, semua orang yang ada di ruangan itu memandangnya bingung,"


"Loh? Va? bukannya tadi Tari nyusul elo?" Arini bertanya.


"Nggak, nyusul apa sih? gue dari tadi ada di ruang guru, lo lihat kan gue dipanggil buat kesana?"


Arini diam. Ivana benar. Vino yang melihat wajah bingung Arini langsung menepuk pelan punggungnya, "terus sekarang lo mau gimana," Vino bertanya tanpa menoleh.


"Kalian udah cari Mentari?" Iqbal bangkit dari duduknya.


"Dari tadi gue nyari dia, tapi gak ada." jawab Iva.


"Jangan-jangan kalian di tipu lagi! lo udah coba chat dia gak Va?" tanya Don Don.


"Masalahnya, hape gue juga ilang," Ivana menoleh ke arah luar—mencoba kembali berpikir.


"Ada yang gak beres, kita harus cepetan cari," anggapan dari Damar langsung di angguki oleh semua.


Iqbal memusatkan pandangannya, mencoba mencerna. "Mana tempat yang belum kalian datengin di sekolah ini?"


"Gue sama Athaya udah nyari ke setiap tempat disini, tapi tetep gak ada, Bal." jawab Ivana.


"Kalian tau gak siapa orang yang bawa Tari tadi?" Vino memandang satu persatu teman-temannya.

__ADS_1


Semuanya diam—karena memang tak tahu pasti, "dia pasti gak pernah bikin ulah apapun selama disini, beberapa kesempatan gue pernah lihat dia. Tapi, jarang," jawab Arini.


"Terus kita harus cari kemana?" tanya Dara.


"Kalian udah cari di gudang belakang sekolah?"


...--...


Saat para siswa-siswi sedang diambang kebahagiaan karena jam kosong. Mentari dengan segala kekuatan yang ia punya mencoba menghindar dari tangan-tangan kotor milik Langit.


Saat berhasil menanggalkan pakaiannya, cowok itu berbicara dan bertingkah seolah tanpa kendali. Ia menangis, tertawa, memekik. Membuat seorang gadis yang duduk di kursi roda menangis ketakutan.


Ia sudah merencanakan ini sejak lama. Awalnya, Mentari sudah cukup puas hati dengan jawaban yang ia terima dari Ivana bahwa ia sudah memaafkan kesalahan Mentari atas peristiwa nya dengan Athaya.


Gadis itu baik layaknya biasa. Saat seorang lelaki tinggi kurus menemuinya dan Iva saat berbincang di kelas—ia tak menyadari keganjilan apapun.


Namun, saat ia melihat sendiri seseorang berambut sebahu persis dirinya yang pergi dengan kunci gudang ditangannya ia tersentak. Dan emosinya sampai ke ubun-ubun saat dia meninggalkannya dengan Langit yang sedang hilang kendali.


"Nggak Langit! gue gak mau! lepasin gue Lang!" Tari terus saja memekik walau tak ada yang mendengar.


"Berisik lo!"


Brak!


Mentari meringis saat tubuhnya terjatuh di lantai gudang yang penuh debu itu. Ia tak bisa berontak lebih jauh saat Langit menahan bahunya.


Wajah cowok itu mendekat, kembali menangis saat menyentuh leher Tari—ia teringat ibunya, apa dia sekarang berada di surga?


"Gak usah takut, Mentari. Lo pasti suka ini," pandangan Langit menyapu wajah Tari yang berkeringat.


Brak!


Suara pekikan keras terdengar saat pintu gudang terbuka, gerombolan orang yang beberapa menit yang lalu ia anggap sahabat telah datang.


Saat Langit mencoba berdiri, ia sudah terlebih dulu dibuat tak berdaya Athaya.


"Langit!"


"Cowok gak tau diri!"


Pukulan demi pukulan dirasakan Langit dari tangan sahabatnya, Athaya melayangkan tinju di perutnya lalu Vino dengan emosi meluap-luap memukul keras rahangnya hingga setitik darah keluar.


Tak butuh waktu lama Langit membalas, memukul bertubi-tubi Vino dan Athaya. Namun, tak membuatnya terjatuh, hanya beringsut mundur lalu kembali melayangkan tinju.


"Ath! Vin! stop" Iqbal mencoba memisah ketiganya, Damar merenung dari kejauhan, Don Don membantu Iva, Dara dan Arini menolong Mentari.


"Jangan gini..." lirih Damar


"Apa-apaan lo bangsat! lo mau ngelecehin Mentari? Ha?!" Athaya membuka suara.


"Anjing lo!"


Kata itu mampu membuat Athaya tersulut, dengan pukulan kuat ia meninju dada Langit hingga membuatnya tersungkur.


"Lo apain Mentari ha?! lo mau macem-macem sama dia?" Langit berdiri dengan memegang erat perutnya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Gue gak nyangka sama lo Lang," dari sana, Don Don bersuara. Namun, hanya dibalas senyuman miring oleh Langit.


"Apa yang lo nyangka dari gue?" balas Langit


"Apa yang lo cari Lang! maksud lo apa ngelakuin hal kayak tadi!" Iqbal maju dua langkah mendekat.


"Gua gak ada urusan sama lo!" Langit mendorong dada Iqbal yang membuatnya sedikit terhuyang. Athaya hendak maju untuk memberi pelajaran namun cepat-cepat dihentikan Iqbal.


"Gua tanya baik-baik sama lo Lang," Iqbal menatap tajam mata Langit kemudian melanjutkan, "apa yang lo mau?"


Langit membuang nafas keras, "gue pengen ngerusak cewek itu," ucapnya sambil menunjuk ke arah Mentari.


"Ada masalah apa lo sama dia?" Iqbal melanjutkan, Langit terdiam ia menatap intens ke arah Iqbal. Baru kali ini ia melihat Iqbal menatapnya dengan mata nyalang.


"Lalu lo mau apa? mau selanjutnya Ivana yang gue giniin?" perkataan yang keluar dari Langit hampir membuat Iqbal tersulut, "jaga omongan lo," sambung Iqbal dingin.


"Kenapa? gak sudi lihat orang yang ko suka ditelanjangi?"


"Langit!" bogeman mentah dari Iqbal mampu membuat Langit mengeluarkan darah dari mulutnya. Iqbal menarik krah baju Langit—menatapnya tajam.


"Jangan bikin gue buat ngehabisin lo disini," amarah Iqbal memuncak, Langit kembali tersenyum miring.


"Gua pengen Athaya hancur," Langit mulai bicara, dengan tegas Iqbal melepaskan cengkeramannya—menunggu Langit bicara.


"Gua sakit nyokap gue mati!" pekik Langit.


"Dan lo Athaya Richard. Seseorang yang udah gue curigai pas pertama kali lo masuk sini,"


Athaya membalas tatapan Langit saat netranya bertemu, "bokap lo ninggalin nyokap gue untuk nikah sama nyokap lo,"


Ia terkejut untuk beberapa saat, "apa maksud lo?" ucap Athaya dingin.


"Bokap lo sebelum nikah sama nyokap lo dia udah terlebih dulu punya nyokap gue, dan si bodoh itu ninggalin gue sama nyokap buat pergi ke Semarang buat nemuin lo," Langit agak memekik.


"Lo tau? selama ini nyokap gue jadi pelacur karena apa?" Langit menjeda, "karena dia udah gila nangisin orang kayak suaminya yang pergi ninggalin kita buat orang baru,"


"Gua...gak pernah dapet apapun,"


Athaya menunduk, "jadi selama ini..." ia melirih. "pengecut lo! lo punya masalah sama Athaya tapi kenapa Mentari yang jadi korbannya?!"


Dari arah yang tak jauh, Iva memekik. Langit dua langkah mendekat sebelum kembali bicara, "bukannya lo yang bilang?"


Ivana menautkan alisnya bingung.


"Lo yang suruh gue buat ngerusak Mentari buat balas dendam ke dia kan supaya dia dak deket sama Athaya lagi?" Langit memiringkan bibirnya puas.


"Lo yang ngunciin gua tadi, Va?" dengan suara lirih, Tari berujar. Memandang Ivana tanda tanya.


"Gua gak ada sangkut paut apapun sama kejadian disini," bela Iva.


"Lalu kenapa lo ngunciin Tari? kuncinya masih di lo kan?" kata Langit.


"Kunci apa yang lo maksud?"


Semua memandang curiga ke arah Ivana. Dia sedang tidak membual. Gadis itu berdiri, menatap Langit dengan tanda tanya penuh...

__ADS_1


__ADS_2