
Langit membuka helm frustasi, ia sudah mencari kemana-mana tapi tak kunjung menemukan ibunya, ia sangat khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi pada ibunya.
"Mama, kemana sih ma?" ia meninju keras motor yang ditungganginya, ia merogoh saku celananya membuka ikon whatsApp sebelum memulai percakapan.
'Grup Anti Stres'
...**Mas Asep** added Athaya****...
^^^Guys tolongin gue^^^
Mas Asep
Knp?
Don Don
Ada apa Lang?
Vino osis
Tolongin apa?
Damar
Ada apa Lang?
^^^Nyokap gue tadi ngamuk terus pergi nggak tau kemana^^^
^^^Plis tolongin gue^^^
^^^Gue g bisa nyari sendirian^^^
Langit mengacak rambutnya cemas, ia takut sekali. Langit mengedarkan pandangannya ke sekitar berharap menemukan jawaban
'Grup Anti Stres'
Mas Asep
Lo dmn? Shr loc
Vino osis
Posisi Lang?
Athaya
Ke rumah sakit Abimana, tante Dina disini
Badan Langit lemas membaca pesan singkat dari Athaya, di rumah sakit?. Sambil menahan air mata yang memaksa menerobos keluar, Langit memakai helm nya, dengan kecepatan penuh langsung menuju ke tempat yang ditujukan Athaya.
__ADS_1
Yang lain pun begitu, mereka tak banyak bertanya. Kalau keadaan sudah genting begini memang harus mengerti satu sama lain, Langit sangat bersyukur mempunyai teman seperti mereka walau terkadang sering membuatnya naik darah.
Keempatnya sampai dalam kurun waktu berdekatan, Vino yang melihat siluet Langit yang tergesa masuk rumah sakit langsung menyusul, disusul yang lain.
"Pasien atas nama Dina Larasati ditempatkan di ruang mana, mbak?" saat resepsionis itu memberitahu ruangan tempat Dina dirawat, Langit disusul teman-temannya berjalan cepat mengikuti, sambil berharap tak terjadi apapun.
Sampai di koridor ruangan, Athaya terlihat berdiri sambil memandang ruangan UGD yang didalamnya terbaring ibunya Langit, di tempat yang tak jauh, Ivana yang tengah duduk terlihat melamun entah memikirkan apa.
Iqbal sempat mematung di ujung koridor saat melihat Ivana, rupanya ia sedang bersama Athaya, ia ingin mundur dan berbalik arah. Namun, temannya itu sepertinya sedang butuh dukungan dibanding egonya sendiri.
"Dimana nyokap gue?" Langit berkata panik, "masih di tangani, lo tenang dulu" Athaya menjawab pertanyaan Langit sambil mendekat ke arahnya.
"Gimana ceritanya?"
"Tadi ada orang yang ngehampiri gue sama Iva waktu naik motor, dia teriak-teriak minta tolong tapi gak ada yang peduli,"
Athaya terus bercerita kronologi kejadiannya tadi, Langit pasrah, pertama kali ia menjatuhkan air matanya di depan teman-temannya seperti ini.
Yang lain hanya diam, tak ingin berkata apapun karena mereka tahu yang dilalui Langit memang berat, masing-masing menyandarkan punggungnya ke dinding, Langit yang terisak mendekati pintu UGD sambil berdoa-semoga baik-baik saja walau terlihat tak mungkin.
Tak ada suara kecuali nafas Langit yang tersengal, tak ada yang berani mengajak bicara, sebelum ada suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana membuat orang-orang yang ada disana tersadar. Pintu UGD terbuka lebar menampilkan pria dewasa dengan setelan perlengkapan dokter lengkap.
Dokter ber name-tag Rian itu menatap satu persatu orang-orang didepannya sebelum membuka suara, "adakah keluarga dari pasien?"
"Saya anaknya, dokter" Langit menjawab cepat dan langsung dihadiahi helaan nafas panjang dari dokter itu, "luka bakar korban sudah terlalu parah, kami sudah melakukan berbagai tindakan, tapi tuhan berkata lain, maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien,"
Langit meremas bajunya erat sebelum akhirnya menerobos masuk, saat ia melihat ibunya terbujur kaku dengan luka bakar yang begitu miris, ia menghambur ke tubuh ibunya, berkali-kali menyalahkan diri sendiri karena kejadian ini, harusnya ia tak bertanya hal itu pada Dina, harusnya.
"Mama...jangan pergi," ia terisak, begitu cepat terjadi, "bangun, ma. Maaf, Langit salah, Langit nyesel,"
"Lang, udah Lang," Vino mencoba menenangkan cowok itu, tak banyak balasan yang ia dapat, hingga ia menarik cowok itu pelan ke dalam pelukannya—pelukan lelaki.
"Langit menangis di bahu Vino, berbicara dengan nada lesu, ia membalasnya erat dengan wajah yang memerah padam.
"Nyokap gue pergi, Vin. Gue sama siapa lagi?"
"Lo masih punya kita-kita disini, jangan ngerasa sendiri Lang. Kita selalu ada buat lo," balas Vini dengan sesenggukan.
"Lo kuat dan lo bisa, Lang. Kita keluarga," Damar yang dari tadi diam mulai bicara, sementara yang lain merenung, mencerna cobaan yang tiba-tiba datang di tengah mereka.
Mata mereka sembab, setelah administrasi dibayarkan, jenazah di bawa ke rumah duka, disemayamkan dengan layak, rencananya jenazah akan dikebumikan besok.
Tidak banyak tetangga yang hadir, hanya beberapa saja yang terlihat—entah karena sudah malam, tidak tahu, atau tidak peduli.
Mereka memutuskan menginap, mencoba membuat Langit lebih tenang walaupun mereka tahu yang dilakukan itu sia-sia.
Saat kondisi sudah mulai tenang, Athaya melangkah keluar, ia sampai lupa kalau tadi ia membawa Ivana, ia merutuki dirinya sendiri, sangat lalai.
Gadis itu duduk di teras rumah Langit saat Athaya menghampiri, "Ivana? kenapa nggak bilang dari tadi? ayo gue anterin pulang, orang tua lo pasti nyariin," Athaya menggandeng tangan Ivana—mengajaknya pergi.
__ADS_1
Gadis itu tak berdiri dari duduknya, "Athaya? gue mau disini aja,"
"Ntar lo dicariin orang tua lo, Va. Mereka pasti khawatir,"
"Nggak apa-apa Ath, gue udah kasih tau mereka kalau hari ini mau nginep disini aja,"
"Tapi Va-"
"Langit juga temen gue, Ath. Gak mungkin gue enak-enakan dirumah sementara dia disini lagi butuh dukungan," Langit melepas perlahan genggamannya pada tangan Ivana, setelahnya ikut duduk disampingnya.
Jam menunjukkan pukul satu malam, mereka masih terjaga—atau tidak tidur sampai matahari terbit nanti.
"Gue udah kasih tau ke temen-temen, rencana mereka bakal kesini besok," Ivana membuka percakapan setelah hening menyelimuti.
"Iya, bagus kalau gitu," Athaya membalas, kembali memandang Langit malam, "kasihan Langit," ungkapan dari Ivana membuat Athaya reflek menoleh.
"Hidupnya gak seceria dia kalau di sekolah,"
"Emang ada apa sama keluarganya?" tanya Athaya.
"Bokapnya pergi ninggalin Langit dan nyokapnya waktu Langit masih bayi, bokapnya pergi gak tau kemana sampe sekarang,
"Langit nggak pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya, gue salut sama dia, walaupun begitu dia ramah sama semua orang,
"Harusnya orang tua Langit bangga punya anak kayak Langit, dia gak pernah ngeluh di depan teman-temannya sekalipun,"
Athaya mendengarkan dengan baik, ia sedikit terhipnotis dengan wajah Ivana, ternyata tak ada perubahan yang terlalu spesifik, semua mengingatkannya pada cinta monyet-nya kala SMP.
Wajahnya disinari cahaya rembulan dan rambutnya yang terurai yang beradu ketahanan dengan angin yang semilir, sementara tangannya bergesekan satu sama lain mencegah agar tak terlalu kedinginan.
"Pakai jaket gue, lo pasti kedinginan,"
"Nggak usah, pake lo aja, Ath" Ivana mencoba menolak.
"Lo pacar gue, Va. Gue akan merasa bersalah kalo lo tiba-tiba sakit karena gue," mendengarnya Ivana sedikit merona, ia menerima tawaran Athaya.
Aroma lelaki itu menyelimutinya erat, ia merasakan ketenangan. Malam ini sangat menguras emosi, banyak yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari sehari. Tak ada yang tahu.
...--...
Mentari memandang ponselnya nanar, ia kembali merasakan bagaimana jadi manusia paling tak berguna di dunia.
Saat teman-temannya melayat ke rumah Langit, ia sendirian. Lagi-lagi ia merasa bukan apa-apa tanpa kehadiran seorang Ivana.
"Lo lupa sama gue ya, Va?" pikiran bodoh itu muncul saat ia sedang kebingungan, cepat-cepat ia menepis pernyataan konyol itu.
Sudah seharusnya ia tidak berharap pada siapapun dan menyadari kalau Ivana mempunyai hati nurani seperti malaikat. Bagaimana bisa ia kuat berada di dekat orang cacat seperti dirinya?
"Gue egois, Va. Gue benci jadi orang egois," di kelas yang kosong itu ia melamun, seakan menjadi orang yang paling tersakiti di dunia, rasa egois muncul seakan memberi peringatan untuk tak percaya pada siapapun.
__ADS_1
Mentari menunduk, memandang kakinya yang hanya bisa diam tanpa melakukan pergerakan apapun sampai tangannya bergerak memukuli kakinya yang lemah. "Gue benci diri gue sendiri."
...--...