ATHAYA?

ATHAYA?
35-Terlalu Hancur


__ADS_3

Jika Iqbal ditanyai pertanyaan tentang seberapa tulusnya ia mencintai Ivana, mungkin ia akan menjawab kalau dia adalah orang paling tulus yang pernah ada.


Persetan dengan dirinya yang pura-pura mengiyakan, bagaimanapun juga karena masalah ini hubungannya dengan Ivana semakin dekat.


"Btw, sekarang lo sama Iva udah baikan kan?"


Athaya mengangguk, ia baru saja mengambil nafas ketika dari arah dalam ia baru menyadari kalau tiga orang kepo itu menguping pembicaraannya.


Vino, Don Don, dan Damar yang tersisa. Langit? di mana dia? yang pasti saat Iqbal melihat mereka bertiga menguping, ia langsung menampar tak bersalah kaca jendela yang terbuka tepat di samping ketiganya.


"Ngapain lo bertiga," Iqbal


Ivana menengok ke kiri-kanan ruang guru, melirik meja-meja yang berbaris rapi yang setiap mejanya terdapat tumpukan buku dan map yang beragam.


Sudah hampir setengah jam ia disini, membuat Ivana merasa aneh. Apa perlu dia percaya pada omongan cowok itu?


"Lo ngapain di sini?" Iqbal bertanya dengan nada dingin.


Yang diajak bicara hanya saling melirik dan menyenggol satu sama lain, sambil menunjuk-nunjuk Iqbal dengan dagunya.


"Kalian mau ikut ngobrol?" Athaya membuka suara.


"O-ohh eng-enggak ya Don ya? kita cuma mau...mau apa kita?" Damar kembali menyenggol tangan Don Don.


"Ituuu...kayaknya suara si Vino kentut deh, ya gak sih?" balas Don Don seadanya.


"Enak aje lu kalo ngomong," Vino terlihat salah tingkah. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Gitu aja Bal. Makasih lagi ya?"


Iqbal membalas perkataan Athaya dengan anggukan, sebelum Athaya menarik diri dari sana.


Iqbal makin menyukai ini, setidaknya ia bisa jadi teman terdekat Iva setelah Mentari kalau ada masalah antara nya dan Athaya.


Agak jahat memang. Iqbal segera membuang pikiran kotornya itu, jangan sampai ia menjadi buta karena seorang perempuan, apalagi ia sudah punya lelaki pelindung seperti Athaya.


...--...


Ivana menengok ke kiri kanannya sesekali. Meja-meja guru tertata rapi dan masing-masing di atasnya teradapat tumpukan buku tebal dan beberapa maps yang tersusun dengan warna beragam.


Saat ini ia masih menunggu kepastian, ia sejenak berfikir untuk apa ia kesini. Bagaimana bisa dia mempercayai orang yang jelas tak dikenalnya.


"Gue balik aja gimana ya?" ia berbicara pada dirinya sendiri.


Iva kembali merebahkan punggungnya di sofa. Tiba-tiba saja ia kembali teringat kejadian beberapa hari lalu dimana ia dan Tari berseteru hanya karena seorang lelaki.


"Gue harus minta maaf sama Tari, kemaren gue udah kelewatan banget kayaknya," ia bicara pada dirinya sendiri.


"Va?"


Ivana menengok ke arah luar, Ivana tersenyum sumringah saat yang datang Athaya. Ia berdiri sebelum Athaya menyuruhnya untuk duduk kembali.


Athaya duduk sambil mengalungkan tangannya ke pundak Iva, "kamu ngapain kesini?"

__ADS_1


"Nungguin bu Yuni,"


"Bu Yuni? bukannya guru-guru pada rapat ya?"


"Iya, makannya itu. Tadi ada cowok yang ngasih tau aku kalau aku dipanggil sama bu Yuni disuruh kesini,"


"Kamu di bohongin kali, siapa namanya,"


"Gue gak tau, dia kurus tinggi. Gak tau kelas berapa," jawabnya.


"Va...Va...harusnya kamu gak usah ladenin orang kayak gitu, lo cuma di bohongin,"


"Gitu ya?" Ivana menggaruk dagunya, bodoh juga dia. Kenapa nggak kepikiran dari tadi?


"Yuk. Kita ke kelas," Athaya menatap manik Iva dekat. Begitupun sebaliknya, Iva bahkan telah mengakui ia jatuh cinta lagi dengan orang didepannya ini.


Inilah yang Iva cari? saat dia dikelilingi oleh orang-orang baik. Athaya dengan perasaan yang sama kembali menemuinya setelah terpisah jarak sekian jauhnya.


Mencoba puluhan kali, bagaimana caranya meluluhkan hati Iva yang sekeras batu itu, ia jadi berfikir soal ini, tentang beruntungnya ia di miliki sosok tulus dan tampan macam Athaya Richard.


"Aku sayang banget sama kamu," Athaya agak terbelalak sebentar, mengedipkan mata berkali-kali.


"Apa tadi kamu bilang?" ia ingin mendengar ucapan itu lagi.


"Aku sayang banget sama kamu, Ath. Makasih udah ngeyakinin aku, ternyata di dunia ini ada orang yang setulus kamu. Jangan tinggalin aku ya?"


Entah ia yang terlalu terbawa atau bagaimana, seumur-umur Iva baru berkata sejujur dan sedalam ini.


"Iya, aku bakal terus disini sama kamu,"


...--...


"Lang?" nafas Tari sudah tak terkontrol dari tadi, ia mengedarkan pandangan ke kiri kanan, mencoba berfikir waras.


"Lo mau ngapain Lang?" cowok itu mendekat, seragam yang melekat di tubuhnya ia tanggalkan begitu saja. Di depan kursi roda Tari ia tersenyum miring.


"Lihat gue kayak gini, lo masih nanya gue mau ngapain ke lo?"


Tari menggeleng pelan, "Lang? gue tau maksud lo. Jangan gini Lang, kita temenan." ucap Tari dengan nafas tersengal.


"Gua tau lo suka sama Athaya," Langit bangkit. Menatap ke atas ruangan, "jangan dungu! lo harusnya bisa dapetin dia dari pada Iva!"


"Apa maksud lo?" Tari memundurkan kursi rodanya, air matanya sudah tak tertahan. Ia takut, sementara kondisinya tak memungkinkan dirinya untuk kabur.


Langit kembali mendekati Tari, gadis itu sudah menangis, "jangan nangis Tari, gue disini cuma pengen membalaskan dendam atas takdir gue yang sampah," Langit mendekat.


"Langit jangan macem-macem!" Tari memekik dan memundurkan punggungnya, kursi rodanya ditahan Langit—membuatnya tak bisa kabur kemanapun.


"Tolong!" dengan segala mental yang ia punya, ia berusaha memekik mencari bantuan. Walaupun tau kalau itu akan sia-sia.


"Gak ada yang denger lo teriak-teriak disini. Ya kan Va?"


Mendengar kata 'Va' Tari menoleh, ia benar-benar tak bisa berkutik ketika melihat seseorang yang persis dengan Ivana terlihat mengunci pintu gudang, membuatnya makin menangis.

__ADS_1


"Cowok bajingan! lepasin gue Lang!" ia kembali memekik. Langit menulikan pendengarannya.


"Bokap gue meninggal Tar," Langit mengubah ekspresi wajahnya, ia terlihat sedih, lalu kemudian menangis di depan Tari.


"Dan lo tau? ternyata bokap gue itu...adalah bokapnya Athaya," hening menyelimuti sesaat.


"Nyokap gue hampir gila karena ditinggal anjing sialan itu. Dia ngejual dirinya sendiri, gak pernah pulang. Tanpa tau gue selalu menunggu kehadiran dia, walaupun ending yang gue terima adalah kekerasan."


"Gue hancur Tari..., gue gak punya siapapun...dunia gue hancur...gue selalu pura-pura senyum di depan para bangsat itu..." Langit mulai menangis.


"Saat nyokap gue pergi... disini..." Langit menunjuk dadanya, "kayak ada beban yang beraaaaat banget... beban berat yang gue tanggung sendirian..."


"Gue pengen punya keluarga utuh...bukan bokap yang bajingan dan seorang pelacur seperti nyokap gue..."


"Gue gak punya dunia, dunia gue habis, gue butuh pelampiasan." ia melanjutkan.


Tari yang sudah menangis sesenggukan mencoba bicara, "lo gak seharusnya kayak gini Lang...lo bisa bertahan, tanpa berbuat kayak gini,"


Tari mencoba berontak, hingga tangannya dicekal kuat oleh Langit, membuat Tari meringis merasakan sakit di pergelangannya.


"Gue gak sanggup bertahan...gue udah terlalu hancur...gue cuma pengen dendam gue terbalas-"


"Gak harus gue Lang! plis lepasin gue, gue takut...lepasin gue...kita itu teman Lang...plis jangan kayak gini...tolong..."


Langit menatap teduh Tari, ia tak memiliki hubungan apapun dengannya. Seseorang yang tak berdaya seperti dia tak pantas untuk dikelilingi orang-orang seperti mereka.


Langit makin mendekat, membuat Tari menjerit keras, Langit coba membungkam, tangannya yang satu lagi melepas kancing baju Tari, gadis itu tak bisa melakukan apapun.


"Tolong!" pekiknya lagi.


...--...


"Tari dimana?" saat Iva tahu kalau sebenarnya ia ditipu, ia jadi menaruh curiga. Ia bertanya pada salah satu teman disana, "lo lihat Tari gak?"


Dia menggeleng tak tahu, Ivana jadi bingung, cewek itu mencoba menenangkan diri dengan duduk.


Ia tak biasanya pergi sendiri, tak pernah malah! lalu dimana dia sekarang?


"Lo cari Tari?" Joko yang baru datang bertanya pada Iva, "iya, lo tau dia dimana?" Athaya cepat bertanya—terselip rasa khawatir disana.


"Gue tadi lihat dia dibawa sama cowok yang kesini nyamperin lo tadi Va,"


Ivana menautkan alisnya, "cowok kurus tadi?" Joko mengangguk, "tadi gue lihat dia sama cowok itu, gak gue tanyain sih,"


Tiba-tiba perasaan Iva jadi tak enak, ia menatap mata Athaya, mencoba mencerna keadaan.


Ia dibohongi oleh cowok itu untuk memasuki ruang guru tanpa alasan jelas. Lalu dia menghilang, dan sekarang Tari juga hilang setelah bertemu cowok itu.


"Cari Tari sekarang Va," Athaya berkata serius, tanpa berkata apapun lagi ia melesat pergi. Sepertinya juga merasakan keganjalan yang sama.


Iva memeriksa tas, berniat mengambil ponsel untuk menghubungi Tari, saat ia sudah lama mengacak isi tasnya, ia baru menyadari sesuatu.


"Hape gue hilang."

__ADS_1


__ADS_2