ATHAYA?

ATHAYA?
68- Selesai Berharap


__ADS_3

"Tante, Athaya ada?"


Langsung ke intinya. Arini berdiri dengan nafas yang memburu di hadapan ibunya Athaya. Pertama-tama ibunya terlihat bingung lalu dengan menyesal mengatakan pelan.


"Athaya lagi gak di Jakarta Nak,"


"Maksudnya? Loh? Terus sekarang dia di mana?"


"Dia bilang kemarin sama Mentari mau ke Bandung, mau jalan-jalan katanya biasalah anak muda, butuh healing. Memang ada apa nak Arini?"


Arini kikuk, "Emm... Nggak tante awalnya mau ngajak main aja eh ternyata udah duluan. Tapi, sejak kapan tante?"


"Sejak tiga hari lalu. Memangnya kmu gak nelpon dia dulu kalo mau kesini?"


"Eh... Iya tante dari kemarin Arini emang gak nelpon salah Arini juga. Ya udah tante kalo gitu Arini pamit dulu ya? Maaf udah ngrepotin,"


"Iya, tante juga minta maaf ya, Athaya nya lagi gak ada di rumah,"


Keringat Arini terasa makin deras saja keluar. Dia? Di Bandung? Ada urusan apa tiba-tiba liburan ke sana?


Dia masuk kembali ke mobilnya. Lalu dengan cepat merogoh saku celananya, mencari nama 'Athaya' sebelum menekan tombol telepon untuk memulai pembicaraan.


Satu kali.


Dua kali.


Tiga kali.


Panggilan tidak terjawab.


Ia lalu beralih ke nomor lain, kali ini punya Mentari. Melakukan hal yang sama yaitu menghubungi mereka meskipun hasilnya sama, tak di jawab juga. Ia merasakan suatu hawa yang berbeda, gadis itu mulai menunjukkan kemampuannya. Dia secara cepat melacak nomor Athaya untuk mendapatkan alamat cowok itu.


Dia juga bersama Mentari, kacau. Jangan sampai ayahnya atau para ajudannya itu menemukan mereka.


Jangan sampai.


...--...


Sefia mengacak rambut frustasi, tinggal kurang dari lima hari uang lima puluh juta itu harus sudah terkumpul, tapi sampai sekarang tak jua ia temukan uang sebanyak itu.


"Ada makanan nggak sih?"


Yatno yang baru datang sepertinya mampu membuat emosi Sefi meledak. Sudah dari kemarin ibu dan dia kerja banting tulang dan mencari banyak pekerjaan tapi dirinya malah tak tahu kemana.


"Haduh! Dasar punya istri tidak berguna! Punya suami bukannya di layani malah pergi entah kemana!"


Sefi dengan wajah bersungut-sungut menghampiri. Yatno memandang dari atas ke bawah seolah tidak suka dengan tatapan anaknya.


"Mau apa kamu?"


"Pak? Bapak itu ngerti gak sih kalo semua masalah ini datangnya dari Bapak?!"


"Apa maksud kamu?!" Yatno sedikit membentak.


"Bapak emang gak tau malu ya? Gak ada seminggu Abraham ngasih kita kesempatan buat nyari uang untuk bayar hutang! Bapak kemana aja selama ini Pak! Bapak nggak lihat ibu kerja banting tulang buat nutupin semua utang Bapak?!"


"Jangan melawan kamu anak kecil!"


"Sefi bukan anak kecil lagi Pak! Sefi udah dewasa! Bapak yang punya sifat kayak anak kecil. Maunya di manja mulu padahal suasana lagi darurat kayak gini!"


Yatno berdiri, "Heh... Tau apa kamu soal ini? Kamu kira bapak gak kerja? Bapak selama ini kerja bu-"


"Kerja apa Pak?! Apa pernah aku sama ibu nikmatin hasil bapak mencari nafkah?!" Sefia memekik. "Selama ini cuman aku sama ibu yang kerja bahkan sudah malam begini ibu belum pulang karena bapak!"


"Bapak peringatkan kamu jangan kurang ajar ya?" kali ini Yatno berbicara halus namun dengan tatapan mengintimidasi.


"Oh, Sefi tau. Bapak kerja ya? Judi tapi selalu kalah terus itu?!"


Mungkin Sefi sudah bisa mendengarnya sejak awal, ia tak akan pernah selamat dari tamparan keras bapak. Tapi, jangan di ragukan lagi tentu saja gadis itu sudah kebal dengan perlakuan seperti ini.


Namun, tanpa di sadari oleh Sefi berikutnya, Yatno mengambil sebuah tingkat kayu panjang yang setelahnya dihantamkan begitu saja pada tubuh anaknya. Gadis itu terjatuh sambil meringis sebelum serangan balok kayu brutal benar-benar membuatnya memekik.


"Kurang ajar! Di ajarin siapa kamu?! Berani-beraninya kamu ngomong begitu ke orang tua kamu sendiri!"


Sefi berusaha memberontak tapi hanya kekerasan yang ia dapat, awalnya hanya balik kayu tapi lama kelamaan bapak juga menggunakan tenaganya untuk memukul Sefi berkali-kali hingga wajah gadis itu lebam-lebam.


Sefi tersungkur lemas saat itu juga. Kepalanya mengeluarkan banyak darah, hampir pingsan. Bapak mendekat siap menghadiahi luka baru untuk anaknya hingga tanpa di sangka segerombolan orang-orang bertubuh tegap datang dan menyeret bapak begitu saja.


Sefi melihatnya secara jelas, bagaimana bapak berontak minta di lepaskan mungkin seperti dirinya tadi, persis.


"Lepaskan saya!"


"Ikut kami!"

__ADS_1


Beberapa dari mereka melihat Sefi terkapar, namun mereka hanya melihatnya saja, tanpa ada niatan membantu atau apapun itu. Dia juga tidak bisa berdiri untuk membantu bapak. Badannya sakit semua, matanya berkunang-kunang dengan kepala yang terus sakit dan berputar.


Yang terakhir dia lihat adalah bapak berhasil di lumpuhkan, mereka membawa bapak dengan menyeretnya. Kejadian terjadi begitu cepat sebelum dia sendiri melihat dunianya gelap dengan rasa lemas yang memeluk.


...--...


"Di sini adem ya? Apalagi kalo hujan udah turun,"


Sore hari Iqbal mengajaknya untuk berjalan jalan di pusat kota. Kali ini Ivana yang agak kikuk karena tak biasanya Iqbal bersikap begini, apalagi dulu mereka gak kenal dekat kan? Tapi sikap dan perilaku Iqbal seakan-akan mengatakan kalau mereka sudah sahabatan lama, atau... Oke oke Iva terlalu berlebihan.


Iqbal berusaha mencair, lebih tepatnya mencoba membanting hancur kulkas dalam tubuhnya itu. Karena sejak semalam ia mendengar siraman qolbu dari yang mulia Vino tentang bagaimana mendekati cewek yang baik dan benar.


"Lo harus mulai ngajak dia nge date Sep,"


Itu sudah dia lakukan. Dan katanya lagi.


"Lo itu setidaknya harus punya love laguange Sep"


"Apaan itu,"


"Manusia apaan lo ga tau love laguange?"


"Apaan dah?"


Vino berdecak, "Iqbaal! Bahasa cinta! Ayolah word of affirmation, act of service, jalan bareng, ngapain kek... Bloon banget jadi orang,"


Vino melanjutkan, "Lo jangan kikuk, harus tegas dan tegap jadi cowok. Ajak jalan, makan, tapi jangan split bill ya? Gue tabok lo kalo sampe gue tau,"


Kurang lebih begitulah percakapan Asep dengan yang mulia Vino. Dan malam itu ia langsung mengirimi Iva pesan singkat untuk mengajaknya jalan.


"Tumben Bal, ada apa ngajak jalan?"


Tiba-tiba Iqbal merasa kikuk, "Enggak kok, cuman pengen aja, kan kamu udah cukup lama di sini. Eh duduk dulu yuk?"


Mereka berhenti di sebuah lapang agak luas, di sebuah kursi taman yang setengah basah karena air hujan. Sebelum Iva duduk Iqbal sudah mengelap kursi itu dengan sapu tangan yang sengaja ia bawa.


"Itu namanya act of service," kata Vino.


"Makasih ya?"


Iqbal duduk di sampingnya, jantungnya kembali berdegup kencang, harus ngomong apa sekarang? Beli makanan mungkin?


"Lo mau makan gak?"


"Gak papa gue bayarin, makan ya? Atau mau beli apa? Gue tadi lihat di sana kayaknya ada penjual gula kapas, mau?"


"Nggak usah Bal,"


"Yah, mau nganggur di sini?"


"Tenang Bal. Lo kayak orang panik tau gak?"


Iqbal duduk perlahan, Anjir! Dia pasti terlihat menyedihkan sekarang.


"Kalo gue tanya sesuatu lo mau jawab ga?"


"Mau," jawab Iqbal pelan.


"Tapi ini agak sensitif,"


"Apa emang?"


Ivana terdiam dua detik, "Lo masih kontakan sama Athaya?"


.


.


.


"Bal? Pertanyaan gue salah ya?"


"Eh? Eng- enggak kok, Athaya ya? Masih kok,"


Iva mengangguk.


"Ada apa Va?"


Iva tersenyum kecut, "Nggak Bal. Gue cuma pengen tahu keadaan dia gimana sekarang,"


"Gak coba lo telfon?"


"Udah gue blokir, Tari juga. Gue kira gue bakal cepet lupain ternyata nggak, dan gue terlalu malu buat hubungin mereka lagi."

__ADS_1


Hening menyambut.


"Mereka masih pacaran?"


Saat Iqbal menoleh untuk melihat wajah Iva, semua harapan yang telah di susunnya seketika hilang, ketara jelas Iva masih ingin mengetahui segalanya tentang Athaya. Bahkan di kondisi begini.


Bodoh memang! Untuk apa dia mencoba mendekati seorang wanita yang belum selesai dengan masa lalunya? Bahkan saat setelah selesai di sakiti berkali-kali.


"Waktu wisuda kemarin mereka gandengan tangan, foto bareng, bareng terus kemana-mana. Mungkin... Iya.


Iva merenung, bukan ini obrolan yang di harapkan Iqbal. Mengapa perempuan di sampingnya ini tak mau membuka matanya untuk sesuatu yang nyata?


"Lo masih suka sama dia?"


Bahkan saat Iva tak menjawab, itu Iqbal yakini sebagai jawaban atas pertanyaannya. Iqbal menekuk wajah kecewa, kecewa sedalam-dalamnya atas sore ini. Entah Iva menemukan gerakan non verbalnya itu atau tidak.


"Gue..."


Wajahnya menekuk menahan rasa yang Iqbal tak tahu itu apa, bahkan dia bisa merasakannya. Va? Kita berdua adalah orang-orang yang suka menyakiti diri kita sendiri dengan pikiran yang kita buat sendiri.


"Gue se-"


Kalimat Iva berhenti saat deringan ponsel Iqbal berbunyi. Iqbal melihatnya untuk beberapa detik saat Athaya tiba-tiba menelpon.


Kenapa bisa?


Dia membiarkan saja, tak dia jawab.


"Siapa Bal? Angkat aja siapa tau penting" kata Iva.


"Nggak, lo tadi mau ngomong apa?"


Deringan nya berhenti. Ia berharap jawaban tidak dari Iva.


Tak sampai sepuluh detik, deringan ponsel kembali terdengar, Iva menoleh. "Angkat aja Bal, mungkin emang penting,"


Iqbal melihat si penelpon, kali ini Mentari. Ia ragu-ragu, apa memang ada keperluan sampai-sampai Athaya dan Tari menghubunginya hampir bersamaan.


"Siapa sih?"


Mungkin Iva terlihat lancang saat menengok siapa si penelpon itu. Iqbal agak terkejut juga melihat perlakuan mendadak begitu, tapi setelahnya ia menemukan wajah Iva yang menegang sambil menatapnya.


"Bal, angkat Bal plis... Speaker!"


Dengan gerakan pasti Iqbal menggeser ikon hijau. Lalu memulai obrolan.


"Halo Tar?"


"Halo Bal? Lo masih di Bandung?"


"Masih ada apa?"


"..."


"Halo?"


"..."


Telepon terputus.


"Itu Mentari..." kata Iva lemah.


Iva memundurkan tubuhnya, "Maaf gue tadi lancang,"


"Gak papa,"


"Tari ngapain nanya itu?"


Iqbal menggeleng, "Gak tahu,"


Mungkin harus cepat-cepat di lupakan.


"Va... Soal yang tadi-"


"Bal? Udah mau magrib, lebih baik kita pulang yuk,"


"Belum Va... Masih sore,"


"Besok aku ceritain, nanti sampe rumah pasti udah gelap, aku gak boleh keluar malam sama papa,"


Iva menggenggam tangan Iqbal untuk segera pulang. Ia tahu ada yang tidak beres, hari masih tergolong siang-sore, waktu magrib masih lama.


Dia sengaja menghindari obrolan.

__ADS_1


Hari ini Iqbal tak mengharapkan apapun lagi dari Iva. Apapun...


__ADS_2