ATHAYA?

ATHAYA?
14-"Cukup jadi diri sendiri, Vin"


__ADS_3

Vino dan teman-temannya kompak mengantarkan Athaya pulang, sebenarnya Athaya sudah agak sehat tapi kata Damar sebagai teman yang baik dan solid, mereka mengantarkan Athaya sampai rumah


"Jangan bilang apa apa ke nyokap gue ya?" Athaya memperingati


"Iya lo santai aja, dah sana lo duluan masuk," Vino menyuruh Athaya untuk berjalan terlebih dahulu kemudian disusul Vino, Damar, Don Don, Langit dan Iqbal


Langkah Athaya masih pelan-pelan karena masih agak terasa nyeri di bagian pergelangan kakinya. Langkahnya berhenti di depan pintu lalu membuka perlahan, saat masuk nuansa abu-abu dan putih mendominasi dan ini adalah kali kedua Iqbal berkunjung


"Udah pulang?"


Dari lantai dua, ibunya Athaya menyapa, Athaya tersenyum senang karena rasa khawatir ibunya tentang disekolah barunya ia tak punya teman terjawab sudah, Athaya baik-baik saja


"Wah teman-temannya Athaya pada kesini? ada apa kok tiba-tiba nggak ngabarin mama dulu?"


"Iya tadi mendadak ma, jadi belum bisa ngabarin dulu," jawab Athaya


Mereka menyalami Zahra satu persatu sebelum Iqbal menyapa, "Tante apa kabar," menyadari suara itu, Zahra langsung menengok, rupanya ada Iqbal juga datang, senyum Zahra semakin sumringah


"Loh, Tante baru sadar loh, ada Iqbal juga, tante baik-baik aja kok, ya udah duduk aja dulu ngobrol-ngobrol sebentar,"


"Nggak usah repot-repot tante, kita juga paling gak lama kok," ujar Damar tak enak


"Nggak repot, kan kalian tamu tante, bentar ya?"


"Iya tante, kita nunggu kok" Don Don langsung ngegas saat feeling- nya mengatakan bahwa tuan rumah akan menyuguhkan makanan yang sayang untuk dilewatkan


"Iya, makasih tante-" Langit menggantung kalimatnya, Zahra tersenyum "panggil aja Tante Zahra," Langit tersenyum tulus sebelum kembali menyambung, "makasih tante Zahra,"


"Jangan malu-maluin gue ya Don?" Vino memperingatkan Don Don karena terdeteksi kalau Don Don akan makan banyak saat ini


"Santai aja anggap aja rumah sendiri," Athaya menengahi


"Sep? lo udah kenal sama nyokapnya si Athaya?" tanya vino


"Iya, tante Zahra itu sahabatnya nyokap gue," jawab Iqbal singkat


"Gue heran sama si Andika, udah kalah main kotor pula," Damar mengalihkan pembicaraan, "iya deng, nggak ada kapok-kapoknya tuh orang nantangin kita, giliran kalah malah nyerang,"


"Coba aja kalau gue tadi yang main, udah gue dudukin tuh si Andika,"


"Sok sokan lo Don, paling lo juga ciut sendiri kalo udah hadap-hadapan sama dia," canda Langit


"Enak aja, gini gini juga gue punya mental gede, lawan gitu aja kecil," Don Don mencubit udara tanda ia meremehkan Andika


"Apa kata lo Don," Langit memijat pelipisnya


"Tapi lo tadi keren bro, kapan-kapan kalo ada match lagi ikutan ya?" Iqbal menepuk pelan bahu Athaya


"Iya, gue usahain,"


Tak berselang lama Zahra datang dengan nampan berisi jus buah, mata Don Don berbinar bahagia saat di belakang Zahra ada orang yang juga membawa nampan berisi beberapa camilan


"Makasih tante," ucap mereka bersamaan, "diminum dulu gih, kalian pasti capek banget, oh ya, tadi kalian pertandingannya gimana?" tanya Zahra ramah


"Em! Itu tante, si Athaya kan, dia tadi di sledi—auh!" Don Don merasa sakit di jari-jari kakinya saat menjawab pertanyaan Zahra, awalnya ia ling lung tapi saat melihat tatapan mematikan teman-temannya ia sadar sendiri dan akhirnya melanjutkan

__ADS_1


"Itu Tante maksudnya tadi anak tante mainnya keren banget, banyak nyetak angka," alibi Don Don


Teman-temannya memijat pelipis frustasi, kalau ada makanan ini memang agak suka kebablasan, kalau kata sosmed sih 'pihak keluarga sudah sepakat akan rawat inap, tapi pasien masih tetap kekeh ingin rawat jalan di rumah saja' begitu!


"Oh, bagus lah kalau gitu, tante ikut seneng dengernya, ya udah kalian ngobrol-ngobrol aja dulu, Tante ada urusan di belakang,"


"Iya, makasih banyak tante," saat punggung Zahra sudah mulai menghilang, Vino kembali menginjak kaki kelingking Don Don—membuat sang pemilik memekik sakit


"Kalo punya mulut itu dikasih rem, Brandon!" Vino ngegas di samping telinga Don Don


"Hahaha...usia segitu emang lagi lucu-lucunya," Langit membalas, Don Don merengut sambil terus mengunyah biskuit di mulutnya, " iya salah! kan gue tadi udah klarifikasi,"


Don Don mulai memakan camilan disana seolah tak terjadi apa-apa, sementara teman-temannya sedikit bercanda dan membahas soal pertandingan tadi


...--...


Sore hari, Vino sudah di buat kebingungan dengan tugas yang membludak, pasalnya tadi di grup mambahas soal pengumpulan makalah


Dia mencoba mengingat-ingat tugas itu, tugas mana anjir? kayaknya setiap dia ada pelajaran gak pernah bolos, bolos tidur maksudnya


Wajahnya muram saat ia membuka helm nya untuk pergi ke kafe untuk sekedar meringankan pikiran, dia sudah biasa di kafe ini kalau ia ada masalah memang ia sering ngopi disini, istilahnya kafe ini adalah obat penenang baginya


Saat membuka pintu kafe itu ia tak sadar kalau ada seorang perempuan yang sedang lewat. Alhasil, barang-barang yang dibawa gadis itu jatuh berserakan di bawah


"Sori, sori kak" keduanya reflek mengucapkan kata maaf, saat menyadari suara itu Vino sadar kalau itu adalah teman sekelas Mantari


Arini, gadis itu langsung menutup mulutnya, "Vino?" cowok itu menatap Arini sebentar sebelum disadarkan oleh suara jernih Arini


"Sori ya Ar, gue lagi gak fokus" ucapnya sambil membereskan buku-buku yang dibawanya


"Gue? Nggak gue cuman mau nongkrong aja disini,"


Mendengar itu lantas Arini langsung menoleh ke kiri kanan, biasanya ia nongkrong dengan teman-temannya itu kan?


"Gue gak ngelihat ada Iqbal disini? lo sama siapa?"


"Sendiri sih sebenernya, tapi gue ma-"


"Gue temenin boleh?" Arini menatap penuh harap mata Vino berharap cowok itu mau ia temani. Vino jadi tak tega melihat tatapan itu, hingga sesaat setelahnya ia mengangguk dan tersenyum tipis pada Arini


"Kesana yuk," jari lentik Arini menunjuk ke sebuah meja kosong di pojok kafe, Vino hanya menurut ia seakan-akan tak punya tenaga sekarang


"Lo kok kayak ada masalah gitu? kenapa? bukannya tadi pagi lo menang ya? atau lo lagi berantem sama teman-teman lo?"


"Hah? Nggak kok, nggak ada yang berantem cuman, yaah gimana ya? ada masalah sedikit di rumah," Vino berujar dengan nada lesu


"Ada masalah apa? cerita lah,"


Awalnya Vino agak ragu. Tapi, melihat ketulusan di ucapan dan tatapan Arini tiba-tiba saja ia ingin bercerita


"Lo tau kan kalau sebenarnya gue gak mau nyalon OSIS?" Vino memulai ceritanya, Arini mengangguk mendengarkan


"Yah, gue selalu dituntut untuk jadi seseorang yang serba bisa sama bokap gue, dan lo tau gue kan? gue orangnya gak bisa kalau dikasih beban yang berat-berat, kayak tadi gue pulang-pulang dimarahin bokap gue gara gara main basket,


"Dan ngebiarin tugas-tugas gue menumpuk, gue sebenernya pengen cerita gini ke temen-temen gue, tapi gue gak mau karena gue tau mereka pasti punya masalah masing-masing, dan si Asep–"

__ADS_1


Vino berhenti sejenak dan tersenyum tipis


"Kenapa?"


"Nggak gue pengen ketawa aja setiap nama itu disebut," Arini ikutan tersenyum


"Karena di ambil dari sopir pribadi keluarga Iqbal kan yang namanya Asep?"


"Loh kok lo tau?" Vino agak terkejut


"Haha...Vin...Vin, lo lupa gue ngefans berat sama lo? lagian orang-orang juga pada tau kali soal kecil kayak gini,"


"Haha...nggak nyangka gue,"


"Terus apa lagi?"


Vino menaikkan satu alisnya, "emang lo mau dengerin lagi?"


"Hem? Why not? We're friend right?" Arini menyambung, "lagian lo udah terlanjur cerita tadi, siapa tau gue bisa bantu,"


"Iya, jadi Asep atau hmm...Iqbal dia-, gue pengen berterima kasih banget sama karena dia udah bersedia jadi waketos yang bertanggung jawab, gue kadang gak enak lihatnya, tapi lo tau kan? semua urusan itu bisa kelar kalau diurus sama dia,


"Dan tadi pagi itu kita bisa menang lagi karena ada campur tangan Athaya yang muncul karena ajakan Iqbal, padahal gue hari-hari dah overthingking kalau seandainya tim kita kalah karena kakel udah gak mau gabung sama kita lagi,"


Arini menyimak baik-baik


"Dan bokap gue nyuruh-nyuruh gue dengan semua hal yang menurut dia baik, tanpa tau apa yang gue mau. Gua sadar kalau gua gak pintar di akademik tapi gue yakin kok nggak goblok-goblok amat dalam olahraga, iya kan?" Vino mencoba meyakinkan ucapannya pada Arini


"Iya, lo udah baik kok Vin. Lo cukup dengan segala hal yang lo bisa, cuman kalau soal orang tua lo, mungkin itu adalah cara supaya lo jadi orang yang sukses di masa depan,


"Bagaimanapun juga, orang tua lo yang biayain lo untuk menyambung pendidikan yang bagus, lo tau kan sekolah kita itu elit, nggak semua orang bisa masuk ke sana. Nah, itu berarti lo salah satu orang itu,


"Coba yakinkan bokap lo soal ini, tentang prestasi lo yang mungkin cuman dia anggap sebelah mata. Lo itu cukup Vin, cukup jadi diri lo sendiri lo nggak perlu lebih. Gue yakin kok lo bisa,"


Vino mendengarkan nasehat Arini dengan seksama, ia larut dalam kata-katanya. Benar apa yang dia bilang, dia cukup, cukup untuk menjadi Vino, walaupun itu akan membawa sedikit gejolak pada dirinya karena sedikit bertentangan dengan ayahnya


Tapi suatu hari nanti, ia pasti bisa meyakinkan orang tuanya


"Thanks, Ar. kata-kata lo berpengaruh banget ke gue,"


"It's oke, lain kali kalo lo pengen cerita aja ke gue, gue siap kok jadi pendengar yang baik kalo lo gak enak cerita sama sahabat-sahabat lo. Tapi, kalau gue lihat mereka itu tulus kok, curhat sedikit-sedikit sama mereka oke lah,"


"Haha...thanks waktunya Ar,"


"Makasih juga udah berbagi cerita, Vin. Gua balik dulu ya, udah sore,"


"Iya, hati-hati"


Mereka berpisah sore itu, Vino membuang nafas panjang, ia sangat lega menceritakan semua masalahnya


Ia tak pernah terlihat lesu di depan teman-temannya, karena setiap kali mereka berkumpul hanya rasa senang yang mendominasi dan rasa sedih jadi hilang begitu saja


Makasih Arini, sekarang Vino merasa cukup untuk menjadi dirinya sendiri


...--...

__ADS_1


__ADS_2