
Ivana tak beranjak dari duduknya, ia hanya menaruh buku pelajarannya di dalam tas lalu menutup matanya—menggolekkan kepalanya ke meja, saat yang sama Athaya duduk di sampingnya—ikut memperagakan hal yang dilakukan Iva.
Entah Ivana menyadari atau tidak, cowok itu menatap dengan mata teduhnya. Di kelas itu benar-benar hanya ada Iva, Athaya dan Mentari. Ia juga ingin membuktikan pada Iva, jika sebenarnya ia tulus.
"Va? kamu tidur?" Athaya mengusap surai Ivana, membuat matanya terbuka dengan mata yang agak memerah.
"Lo ngapain ke sini?" ucap Iva agak ketus.
"Aku sayang banget sama kamu, sori Va. Aku emang cowok yang bodoh, gue janji gak bakal kayak gini lagi," ucapnya.
Ivana tak membalas, seperti tak membutuhkan penjelasan apapun lagi saat ini, ketika matanya beradu pandang dengan Athaya, ia merasakan jatuh cinta untuk ketiga kalinya.
"Kamu mau maafin aku kan?" suara Athaya terdengar sangat hangat, ia memang sudah menyesal. Dan entah bius dari mana ia mampu menganggukkan kepalanya—tanda menerima permintaan maaf itu.
Mentari hanya membuat kegiatan yang tidak jelas dengan ponselnya, ia ikut senang walau tak tahu apa yang dibicarakan keduanya.
Ia mengaku salah, dadanya berdegup kencang saat melihat Athaya, bahkan saat ia memikirkannya, ia cukup sadar diri untuk tidak berurusan dengan masalah orang lain.
Dan ketika masalah itu berangsur baik, ia akan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain.
Athaya tersenyum senang, menegakkan kepalanya kembali lalu menarik pelan Iva agar nyaman dipeluknya.
"Makasih, udah percaya aku. Aku sayang banget sama kamu, Va."
"Lo gak bakal kayak tadi kan?" Iva membalas pelukan sambil mengatakan hal itu. Ia merasakan anggukan dan sesuatu yang membasahi bahunya.
"Ath? lo nangis?"
Ia tak akan lagi kehilangan untuk kedua kalinya.
...--...
Iqbal melangkahkan kakinya cepat menuju kelas 11 IPA 2 saat jam pulang, ia tak melihat Iva sama sekali waktu jam istirahat tadi, ia takut terjadi sesuatu padanya.
"Va?" Iqbal memanggil Iva dikelasnya, tak ada siapapun disana. Ia celingukan sendiri, bertanya pada orang yang lewat tentang keberadaan Iva, namun tak ada yang tahu.
"Udah di parkiran kali ya?"
Iqbal melangkah menuju parkiran, dan benar saja saat dia melihatnya seakan rasa pedulinya pada Iva hanya membuatnya terlihat bodoh.
Bagaimana bisa ia melupakan kekasih Iva, ia tahu kalau Athaya tak akan tinggal diam atas masalah yang dihadapinya. Apalagi sampai berlarut-larut.
Iqbal membuang nafas berat sebelum ketiga sahabatnya menyelutuk dari belakang.
"Udah, Sep. Kayaknya mereka udah baikan deh," ucap Don Don.
__ADS_1
"Iya, gak usah dikejar." Langit ikutan berbicara.
"Gue salut sih sama mereka, walau ada masalah ternyata mereka gak sekanak-kanakan itu, berani bicara sama apa yang terjadi," Vino yang menggandeng Arini baru saja datang.
"Mereka kataknya udah oke kok. Cuman Mentari yang kayaknya masih ada masalah sama Iva," Iqbal menoleh ke arah Arini.
Cewek itu menggenggam erat tangan Vino, Iqbal berbalik "tadi mereka ngomongin apa aja?"
"Gue gak tau pasti. Intinya, Iva sama Tari pindah bangku, mereka juga gak ke kantin waktu istirahat."
Iqbal mengangguk, "kalau ada apa-apa kasih tau gue ya?"
Arini mengangguk mengiyakan permintaan Iqbal."oke, kalau ada apa-apa gue kabarin."
Athaya terlihat memakaikan helm kepada Ivana, sebelum gadis itu terlihat melihat ponselnya dan mengotak-atik sebentar.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari ponsel Iqbal, terlihat nama Iva disana.
Gue pulang bareng Athaya, Bal. Sebelumnya makasih ya udah jemput gue tadi.
Seharusnya ia tak memberikan harapan apapun pada perasaannya. Saat perlahan ia menyadari kalau ia masih menyimpan rasa pada Ivana.
...--...
Malam harinya seseorang terlihat memandang ke arah langit yang menghitam karena mendung.
Dia baru saja menerima telpon dari seseorang yang mengatakan akan melakukan semua perintahnya besok.
"Gue bakal atur semuanya. Lo tenang aja, semuanya pasti bakal gak nyangka, dan sebisa mungkin rencana ini bakal berhasil," kata seseorang di seberang sana
"Lo udah siapin orang-orangnya kan?"
"Tenang, gak udah khawatir. Semua udah gue atur, lo tinggal ngelakuin itu aja," seseorang dari sana agak sedikit terkikik.
Ia tak bisa melupakannya walau kejadian itu sudah terjadi berminggu yang lalu. Langit dilahirkan untuk bermain-main dengan hidupnya yang tak tentu arah.
Bahkan saat ia kecil tak ada yang mengerti perasaannya sama sekali. Ibunya telah dirusak oleh para lelaki—dan lelaki salah satunya adalah ayahnya sendiri.
"Kenapa ayah menikahi mama kalau berujung ninggalin mama? kalau aja lo masih hidup, dan gak mati di tangan orang-orang itu, mungkin lo bakal mati di tangan gue."
Lina hanya memandang dari jauh, sikap yang diberikan Langit akhir-akhir ini menjadi pertanyaan besar pada dirinya, hanya berharap semoga pemuda itu tak melakukan sesuatu yang merugikannya.
...--...
__ADS_1
Saat Ivana selesai dengan makan malamnya, suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Risa berdiri dari duduknya lalu mengecek sebentar.
Iva sibuk dengan sosial medianya sebelum Risa memanggilnya, "Va? ada yang datang tuh,"
"Siapa ma?"
Saat ia selesai dengan kalimatnya, tiga tamunya terlihat, dan ia agak salah tingkah ketika yang datang adalah ayah ibu dari Mentari.
"Om, tante" Iva berdiri untuk menyalami keduanya. Dari arah ruang tamu Tari menunggu. Semoga saja dia tak menceritakan apa yang terjadi diantara hubungan persahabatannya.
"Ada apa ya malam-malam kok berkunjung," ucap Fahri ramah ketika mereka berkumpul.
"Nggak, ini mau nganterin Tari, katanya besok ada ulangan dan mau ngembaliin buku yang dipinjam sama Iva." kata Angga—ayah Tari.
"Nih Va?" Iva agak terkejut. Pasalnya besok mereka tak ada jadwal ulangan apapun lalu buku apa yang dibawa Tari.
Tak ingin terlibat masalah, Iva menyambut buku itu. Dan benar, ini jelas-jelas buku Tari, bukan bukunya. Ia melirik ke arahnya lalu tersenyum.
Iva membuka beberapa bagian awal, saat matanya melihat ada tulisan bahwa Tari akan mengajaknya keluar sebentar, baru saja dia selesai membaca Tari tiba-tiba berujar.
"Tante, kita boleh ngobrol didepan gak," ujar Mentari.
"Oh, boleh banget." jawab Risa antusias
Ia mengulurkan berbicara pada Iva seolah tak ada masalah apapun yang terjadi, Tari mulai mendorong sendiri kursi rodanya menuju teras sebelum Iva ikut menyusul.
Disana mereka terdiam sebentar, Iva duduk di kursi anyaman miliknya dan taro yang berada di posisi yang sama.
"Gue minta maaf, Va." ucapnya.
"Gue bodoh banget, harusnya gue bisa jaga diri gue. Bukannya kegatelan deketan sama Athaya, sori Va." dia melanjutkan.
"Gue udah maafin lo kok, santai aja. Tadi pagi gue emang lagi sensi," jawab Iva. Walau ada sedikit kebohongan di salah satu kata.
"Gue bener-bener minta maaf, Va. Jangan jauhin gue ya? gue sadar tanpa lo gue gak bisa apa-apa,"
Iva menoleh dan menemukan Tari yang tertunduk, "iya, gue maafin. Tapi, plis ya Tar, jangan lo ulangin lagi. Maaf kalo tadi pagi gue terlalu keras ke lo,"
Tari mengangguk "lo maafin gue kan?" Tari membalas dengan tatapan meyakinkan.
"Iya, udah santai aja. Besok bakal baik-baik aja kok,"
Besok akan baik-baik saja. Saat masalah itu akan dilupakan Iva seketika, kerena seperti prinsipnya di awal, sahabat itu melebihi apapun.
Apapun...?
__ADS_1