
Langit memandang nanar pintu ber cat putih dihadapannya, tadi pagi saat Langit berangkat sekolah ibunya pulang, ia pikir wanita itu akan lergi lagi bahkan sebelum ia pulang tapi sampai malam begini ia masih mengurung diri di kamar
Sambil membawa foto yang Dina berikan padanya beberapa Minggu yang lalu Langit mulai mengetuk pintu dan memutar tuas kunci rupanya berhasil terbuka
"Ma?"
Sosok pertama yang ia lihat adalah wanita yang tengah memandang dirinya sendiri ke arah cermin, Dina rupanya tak menyadari kehadiran putra semata wayangnya itu
Langit mulai mendekat hingga beberapa senti jaraknya, Dina terkejut. Nafasnya sesaat tercekat dan menoleh ke arah Langit berdiri
"Ma? lagi apa?"
"Kamu ngapain disini? keluar,"
"Kenapa? Langit kan anaknya mama, nggak apa-apa kan?"
"Mau apa kamu kesini?" ucap Dian dengan nada tak suka
"Langit cuma mau ngomong sesuatu soal foto ini," foto yang tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya ia hadapkan pada sang ibu, Dina kembali menghadap cermin, "kenapa sama foto itu?"
"Langit nggak tau harus berbuat apa ma. Tapi, Langit ada temen baru, waktu kemaren Langit tanding basket sama dia, aku kerumahnya sebentar dan nemu ini," tangan kirinya merogoh saku celana pendeknya yang berisikan ponsel
Ia sedikit mengotak-atik ponsel itu sebelum ia berikan pada sang ibu, "Langit lihat ini di ruang keluarga temen Langit itu, diam-diam Langit foto ini,"
"Siapa namanya? dari mana dia?"
"Namanya Athaya Richard dia dari Semarang,"
Dina sedikit tertarik melihat foto pemberian anaknya itu, tak segan ia mengambilnya dan memerhatikan dengan seksama
"Aku sudah nggak punya perasaan apapun lagi sama kamu!" Rahsya membentak
"Tapi mas..."
"Nggak ada tapi tapian, kalau kamu gak mau pergi dari sini, biar aku yang pergi,"
Beberapa hari setelah itu, teman dekatnya memberi kabar bahwa Rahsya sudah memiliki keluarga baru, tepat 5 bulan setelah ia berpisah dengan Rahsya
Dina melonjak hingga menjatuhkan ponsel milik Langit, sementara cowok itu mencoba menahan tangan ibunya yang terlihat agak goyah
"Mama? kenapa?" panik Langit
"Minggir kamu! gara-gara ada kamu mas Rahsya pergi,"
"Ma? tenang dulu, dengerin Langit sebentar," Langit mencoba memeluk tubuh ibunya
"Nggak! lepasin saya, kamu bukan apa-apa saya, saya gak kenal kamu!"
Langit memeluk erat tubuh Dina walaupun ia merasa sakit di bagian badannya, akibat pukulan beruntun dari Dina
Setelahnya Dina menangis, Langit dibuat bingung karena itu, ia mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu
"Ma? kenapa?"
Saat ia lengah, dengan sekali hentakan yang pasti, pelukan Langit terlepas membuat Dina yang sedang menangis pergi keluar
"Aku harus cari kamu mas, aku harus cari! dimanapun kamu berada!"
Ia menyalakan mobil dan mengendarainya dengan cepat membelah jalanan gelap malam hari
Dari arah teras Langit menatap nanar kepergian ibunya, ia sekali-kali melihat foto dari ponselnya itu, dengan cepat ia mengambil kunci motornya—segera menyusul Dina
...--...
"Nggak mau ah!"
"Kenapa?"
"Kalo pingsan gimana?"
"Nggak bakal pingsan lah, mereka tuh hantu bohongan, gak bakal gigit,"
Dari sepuluh menit lalu, di depan wahana rumah hantu di sebuah pasar malam, Athaya dan Ivana sibuk berdiskusi
__ADS_1
Ivana sebenarnya gak takut-takut banget kalau sama hantu, tapi beda cerita, kalau biasanya hantu tak terlihat, di wahana ini hantu akan terlihat nyata
"Tapi kan bohongan," ucap Athaya tiba-tiba seakan tahu isi pikirannya, "tapi lo jangan kemana-mana ya?" Ivana mengingatkan yang disambut gelak tawa oleh Athaya, "haha...takut di tinggal gue lo? pengen gue gandeng?"
Athaya menggandeng tangan Ivana erat lalu mengajaknya membeli tiket terlebih dahulu, sebelum memasuki wahana tersebut
Baru saja sampai mereka sudah disambut dengan beberapa rupa yang menyeramkan hingga membuat Ivana menjerit ketakutan, lain halnya dengan Athaya, cowok itu malah tertawa cekikikan seakan tak merasa takut sekalipun
Beberapa rupa buruk yang menyeramkan sudah berhasil mereka lewati. Tapi, sekarang mereka ada di sebuah ruang yang cukup luas, tangan Ivana yang dingin tak pernah lepas dari genggaman Athaya
"Lo takut?"
"Ya takut lah!"
"Dingin banget tangannya" ucap Athaya santai
"Athaya! lo gak kenal tempat banget sih, lagi suasana genting gini juga,"
"Bentar,"
"Eh, lo mau kemana?
Dengan gerakan pasti, Athaya yang berada di ruangan tersebut langsung menjauh dari Ivana dan mengunci pintu yang berbentuk seperti pintu penjara dengan Ivana di dalamnya
"Athaya lo apa-apaan sih?!" Ivana menjerit takut sambil mencoba membuka pintu itu
"Hantu-hantu disana bakal kesini loh,"
"Athaya jangan bercanda!" pekik Ivana ketakutan
"Jawab pertanyaan gue, ntar kalo bener gue buka," ujar Athaya senang
"Athaya? buka nggak? lo apa-apaan sih?"
"Lo mau gak jadi pacar gue?" Athaya menatap Ivana serius, sementara si perempuan sejenak diam, mencoba mencerna kata-kata yang dilontarkan Athaya
"Mau gak?"
"Maksud lo apa sih?"
"Athaya jangan becanda!"
"Gue serius, hantu-hantu disana kelaparan kayaknya pengen dikasih makan," dan benar saja, dari arah dalam segala rupa macam hantu datang perlahan ke arah Ivana membuat gadis itu kian menjerit
"Athaya! tolongin gue!"
"Jadi pacar gue dulu,"
"Athaya...tolong," Ivana mulai merengek
"Jadi pacar gue dulu," Athaya mengulang dengan nada halus
"Iya!"
Mendengar penuturan singkat itu, lantas Athaya memasang wajah tak percaya, semudah ini?
"Lo serius?" Athaya memastikan
"Iya!" Ivana berteriak karena hantu-hantu itu sudah ada tepat di belakangnya
"Serius?" ulangnya dengan nada riang
"ATHAYA!" pekik Ivana keras
Saat pintu besi itu terbuka sekaligus membebaskan Ivana dari teror hantu, dengan secepat kilat Ivana jatuh ke pelukan Athaya
Pintu kembali terkunci, Athaya terdiam detik itu juga saat pelukan hangat Ivana menyelimuti tubuhnya yang berbalut jaket, Ivana menangis ketakutan disana
Entah apa gadis itu merasakan detak jantungnya yang kian kuat atau tidak. Tapi, perlahan namun pasti tangan Athaya yang semula menganggur ikut memeluk tubuh mungilnya, mengusap punggung gadisnya tanda bahwa semua baik-baik saja.
"Gue takut..."
Athaya panas dingin dibuatnya tangannya beralih ke surai gadis itu, ia betul-betul mencintainya, bahkan saat beberapa tahun lalu ia meninggalkan Ivana, tak ada celah di hatinya untuk diisi gadis lain
__ADS_1
...--...
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu mas!" Dina meraung di dalam mobilnya
Mobil berwarna silver itu melaju cepat membelah jalanan yang sepi, matanya tak berhenti mengeluarkan air mata
Mobil melaju tak tentu arah, Dina kalut dalam pikirannya, hingga mobilnya memasuki sebuah hutan antah berantah yang lebat, kehilangan kendali, mobil itu menerobos semak-semak dan terjun bebas ke jurang
Tak ada siapapun disana, hening mobil itu terbakar bersama pengemudi di dalamnya. Hingga beberapa saat setelahnya ada seorang wanita tua melihat kejadian itu, ia gugup, agak kurang waras namun punya nurani yang kuat
Ia berlarian kesana kemari tak tentu arah sebelum pergi ke jalan raya melambai pada orang-orang yang melintas dengan berbagai keadaan
Bahkan tak ada yang terenyuh melihat wanita tua itu, sebagian orang mengira dia dalam gangguan jiwa, sebagian lagi takut, lainnya tak peduli. Padahal ia jelas mengatakan dengan suara serak
"Tolong...ada yang terbakar..."
...--...
"Lo nggak ngambek kan?" Athaya membuka obrolan karena Ivana dari tadi hanya diam
"Ya lo mikir lah!"
"Mikir apa? yang lemah lembut dong kan kita udah jadi pacar," Athaya menaik turunkan alisnya
"Itu terpaksa ya," Ivana mengingatkan
"Biarin yang penting kita pacaran," Athaya tak peduli, intinya kalau ivana sudah bilang 'iya' berarti 'iya', siapa suruh tadi menyetujui
"Kita naik itu yuk," Athaya menunjuk ke arah biang Lala dekatnya, tak banyak yang menaiki dan lamban, ia dan Ivana bisa menikmati pemandangan dari atas sana
"Bianglala?" Athaya mengangguk, Ivana hanya menurut sepertinya kalau dilihat-lihat memang seru berada di sana
Tak butuh waktu lama, mereka bisa duduk di salah satu tempat disana, melihat dari atas betapa indahnya pemandangan, Ivana menjadi damai, hingga reflek menyandarkan kepalanya di bahu athaya nyaman
"Ini gue tanya serius, Va."
Ivana menoleh, "lo beneran mau jadi pacar gue kan?"
Ivana diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum tenang, "Iya, gue serius mau jadi pacar lo," ucap Ivana ditutup dengan senyum hangat khusus untuk Athaya
Mereka mengeratkan rangkulan dan genggaman, melihat bintang yang bertaburan di langit malam itu
...--...
Saat malam mulai larut keduanya memutuskan untuk pulang, dengan motor Athaya yang membelah jalanan malam itu
Jujur saja mereka agak gugup, seperti waktu pertama kali Athaya bilang kalau ia sangat menyukai Ivana SMP lalu
"Dingin gak?"
"Nggak,"
"Pake jaket gue kalau dingin,"
"Nggak kok,"
Setengah perjalanan berlalu, dari arah yang berlawanan dari motor Athaya, seorang perempuan terlihat hendak memberhentikan motor Athaya
"Dia siapa?"
"Gak tau"
Wanita itu terlihat mengucapkan sesuatu yang tak bisa didengar keduanya
Karena wanita itu terlihat panik, mereka berhenti, Athaya membuka helm sambil melihat kearah Ivana
"To-tolong,"
"Dia minta tolong Ath," Ivana memberi tahu, setelahnya wanita tua itu menarik narik tangan Athaya membuat cowok itu turun dari motor
Wanita itu berlari ke arah hutan membuat Athaya langsung menaiki motornya dan mengikuti wanita tua itu
Saat sampai di lokasi, wanita itu sempat menjadi-jadi sebelum keduanya sadar ada mobil yang terbakar disana, api tak terlalu besar, pun tak terlalu kecil
__ADS_1
"Iva, telpon ambulan dan damkar sekarang," titah Athaya panik