ATHAYA?

ATHAYA?
56- Mulai Mencari


__ADS_3

Anggi mengetuk pintu kediaman Athaya, ia putuskan untuk pergi hari ini karena ia merasa kesepian di rumah. Iqbal sudah pergi ke Bandung, sementara suaminya baru saja pergi ke kantor.


Sambil menentang buah tangan ia tersenyum lebar, beberapa detik setelahnya seorang lelaki jangkung terdengar membuka pintu rumah, sosok Athaya muncul tak lama setelahnya.


"Tante Anggi?"


"Nak, Athaya?"


Cowok itu langsung menyalami punggung tangan wanita 30 tahunan itu, setelahnya ia di persilakan masuk.


"Mari masuk tante,"


"Makasih, Athaya. Mama di rumah,"


Athaya mengangguk, "Di rumah tante. Biar Athaya panggilin ya? tante mau minum apa?"


"Nggak usah repot-repot lah Athaya," balas Anggi.


"Tante kayak sama siapa aja, Athaya panggilin mama dulu ya?"


"Iya, makasih ya Athaya?"


Athaya membalas dengan anggukan singkat, ia langsung menuju lantai atas memanggil ibunya. Anggi mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu menyelutuk.


"Perasaan Athaya baik-baik aja. Kenapa Iqbal jarang ketemu?" ucapnya pada diri sendiri.


"Eh Anggi? maaf ya nunggu lama?" ucap Zahra saat sudah sampai di lantai dasar.


"Ah nggak baru aja nyampe?"


"Udah di buatin minum tadi?"


"Udah. Ini aku bawain sedikit makanan buat kalian," ucapnya sambil menyerahkan buah tangan yang ia bawa.


"Repot banget sih, makasih ya?"


"Sama-sama,"


Seorang asisten rumah tangga perlahan berjalan ke arah mereka sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan, Athaya mengikuti dari belakang.


"Silakan bu Anggi,"


Anggi tersenyum, "makasih ya mbak,"


"Nggih, sami-sami,"


"Ayo diminum dulu," Zahra menawarkan sebentar, Athaya yang baru sampai langsung duduk di salah satu sofa ruang tamu.


"Gimana proyek suami kamu kemarin? lancar?"


"Alhamdulillah lancar, eh ngomong-ngomong Athaya denger-denger kemarin lolos PTN ya? selamat Athaya,"


Athaya sedikit tersipu, "makasih tante," Zahra tersenyum sebentar sebelum menyelutuk, "Kamu sukanya gitu, padahal Iqbal juga lolos PTN kemarin kan?"


"Iya, terbayar sudah perjuangannya buat pertahanin nilai dari kelas sepuluh, eh lolos juga,"


"Baguslah, kemarin masuk siswa eligible juga bareng Athaya, iya kan nak?"

__ADS_1


Athaya mengangguk, "iya ma,". Anggi menyandarkan punggungnya ke sofa, "kenapa gak milih kampus yang sama aja kayak Iqbal Athaya?"


Athaya di sana mulai memutar otak, sepertinya kabar keretakan hubungannya dengan Iqbal sudah tercium di telinga tante Anggi.


"Kalau kita milih kampus yang sama apalagi jurusan yang sama, kita bakal saingan dong tante, nanti kemungkinan peluang lolosnya kecil,"


Athaya puas dengan jawabannya, semoga ibunya Iqbal tak bertanya lebih jauh lagi, apalagi sampai menyangkut pautkan kejadian setahun lalu itu. Iya, semoga dia lupa.


"Iqbal gak ikut?" kali ini Zahra yang membuka suara.


Anggi menipiskan bibirnya sejenak, "pergi ke Bandung dia,"


"Bandung? ngapain dia kesana?"


"Katanya mau ketemu sama teman barunya,"


"Temen baru?" Athaya ikutan nimbrung. Anggi langsung menoleh, "iya, temen sama-sama maba katanya,"


"Buat apa dia kesana?" tanya Athaya lagi.


"Mau ketemuan sama temennya katanya, ya udah ketemuan doang, tante aja bingung, malah ngiranya dia ketemuan sama cewek, haha... dia kan gak pernah ngajak cewek datang ke rumah," di sana Anggi agak terkikik.


"Ketemuan doang? sampe jauh-jauh ke sana?" papar Zahra.


"Tante tau wajahnya?"


Mendengar pertanyaan Athaya lantas Anggi menggeleng ia tak bertanya sejauh itu pada anaknya.


"Tante gak nanya apapun ke Iqbal, percaya aja lah ya? tante juga gak mau terlalu ngatur-ngatur dia. Iqbal sudah besar, biarin lah dia nyari pengalaman sendiri,"


Pikiran lelaki itu berkelana, apa mungkin? tapi, sebenarnya tidak. Tidak mungkin ia berhasil menemukan gadis itu, siapa tahu dia memang benar-benar menemui teman barunya itu kan?


"Athaya? kenapa sekarang gak pernah ke rumah tante? kamu gak ada masalah sama Iqbal kan?"


Athaya terkesiap, "ohh... nggak lah Tan, kita emang belakangan jarang main bareng, karena kan udah kelas dua belas, emang lagi sibuk-sibuknya ujian, praktek, presentasi, kelompokan, sama ngurus PTN kemarin. Ribet banget."


Pernyataannya barusan sepertinya membuat Anggi sedikit lega, kemungkinan Anggi sudah curiga sejak lama, karena sesibuk sibuknya mereka, mereka akan menyempatkan diri untuk sekedar nongkrong sebentar.


Namun sepertinya, Athaya menemukan sedikit titik terang, ia harus bisa menurunkan sedikit egonya sekarang. Untuk Mentari.


Apa benar Iqbal menemui teman barunya yang mungkin baru ia kenal? yang ia tahu Iqbal tipikal orang yang bodo amat terhadap orang yang baru ia kenal. Se- effort ini?


Atau malah ia menemui Langit? teman lamanya itu yang sudah lama hilang kontak, tak tahu sekarang dia ada di mana, dan kabarnya bagaimana?


Athaya berdiri dari duduknya, "mama, tante? Athaya baru inget kalau ada urusan tadi. Athaya tinggal dulu ya?"


"Oh iya, Athaya. Maaf mengganggu urusan kamu ya?"


"Gak papa tante, Athaya permisi."


Setelahnya ia menaiki satu persatu tangga sambil berteori ria di kepalanya, kira-kira siapa yang ia temui?


Hai Iqbal, dia teman baru, atau teman lama?


...--...


Langit kota sudah terlihat mendung pagi-pagi begini. Sefia dengan semangat mengayuh sepedanya untuk mengantarkan beberapa buah donat yang masih hangat di keranjang sepeda depannya.

__ADS_1


Ia belum sarapan, walau sudah terbiasa begini tetap saja jika ad opsi sarapan atau tidak ia akan memilih untuk sarapan terlebih dahulu untuk menjalani hari.


Ia membelokkan stang sepeda di warung pertama, lalu dengan sigap mengambil salah satu plastik di keranjang sepeda untuk ia titipkan ke warung itu.


"Ibu Sari...? Sefi mau setoran," katanya dengan semangat.


"Iya neng ini uangnya kemarin, alhamdulillah habis, orang sini banyak yang suka," kata bu Sari bahagia.


"Alhamdulillah Bu, kebetulan aku bawa lebih banyak, makasih ya sebelumnya?"


"Sama-sama neng, ibu di sini seneng banget bisa membantu, itung-itung makin banyak orang yang datang ke warung ibu," katanya antusias.


Setelah Sefia menerima lembaran uang itu ia menamatkan diri— kembali mengayuh sepedanya untuk menuju ke warung selanjutnya.


Dia sedikit bersenandung ria, menyapa beberapa orang yang ia lewati. Walau sedikit mendung, justru ia menyukainya, kata guru panas di pagi hari seperti ini tidak terjadi di zamannya, karena sekarang ada efek pemanasan global.


...--...


Dalam satu waktu yang sama, Langit akhirnya menyadari bahwa kedatangannya di Bandung bukan untuk sekedar bermain atau mencari pelarian.


Melainkan untuk mengetahui secara lebih rinci maksud dari koran yang akhir-akhir ini kembali sering ia baca.


Kemarin malam saat ia mendapat siraman kalbu dari Aji, ia langsung menyuruh anak-anaknya untuk mencari koran-koran lama. Hal itu sedikit membuat Aji terkikik geli, "jaman sekarang udah ada google bos, ngapain suruh nyari koran lama dah," itu katanya.


Namun, hal itu malah langsung mendapat tatapan tajam dari Langit— menyuruhnya untuk tetap diam.


Tapi beda urusannya jika ia sudah tak menemukan apapun lagi di koran ini. Isinya hanya berita-berita biasa yang tak bisa di percaya. Dan tak berguna!


"Di mana si Aji?" cowok itu berbicara sendiri, katanya Aji akan mencari tahu lebih dalam lagi, sejak dari melam tadi. Namun, sampai sekarang anak itu tak ada kabar apapun sama sekali.


"Aji belum pulang bos?" tanya orang berambut tipis itu tiba-tiba.


"Belum." jawab Langit singkat.


"Mati kali dia." cowok botak itu langsung memalingkan wajah. Langit kembali fokus.


Tak lama setelahnya telepon di sakunya berdering. Panjang umur! ternyata itu Aji.


"Di mana lo?" tanya Langit cepat.


"Bos, lo kesini sekarang, cepat!"


"Di mana? lo di mana sekarang?!"


"Banyak nanya lo bos!"


"Bacot gede lo! lo nyuruh gue, tapi gue gak tau lo posisinya di mana!"


"Oh iya lupa bos, sori sori, ntar gue sharelock,"


"Anak setan!"


"Tapi gue serius bos, lo harus cepetan ke sini. Penting banget! cepet ya, gua sharelo-"


Telepon langsung di matikan Langit detik itu juga. Anak itu memang tololnya kebangetan, nyuruh cepet tapi ngomong mulu.


Pesan singkat lalu muncul tak lama setelahnya. Ia lalu bergegas menuju tempat itu, dimana Aji memberi lokasi.

__ADS_1


__ADS_2