ATHAYA?

ATHAYA?
58- Keberangkatan Mereka 1


__ADS_3

"Kebayanya gak harus warna hijau sage kan ya?"


"Wajib,"


"Lah? emang iya? Ya udah lah nanti gue nyari lagi, soalnya kemarin gue udah nyari warna lain,"


Saat yang lain sibuk dengan topik pembicaraan warna dresscode saat perpisahan nanti, justru pikiran Ivana melayang pada kenangan bertahun lalu.


Tak perlu di kenang juga, toh itu sudah berakhir. Hanya saja di pikirannya ia bertanya, apakah teman-temannya sudah wisuda di Jakarta sana?


"Nanti kita kumpul di sekolah jam tujuh, jam delapan udah mulai acaranya," kata seorang siswi.


Wisuda itu dimulai besok lusa, mereka masih akan melakukan acara gladi bersih agar acara bisa berjalan lancar.


Mungkin ini adalah hari terakhirnya masuk kelas ini, besok mungkin ia akan menginjakkan kaki hanya sampai indoor SMA Bina Bangsa, setelah itu... selesai.


"Woy miskin! Punya duit lo buat beli kebaya wisuda?" dengan menentang tasnya, dari arah koridor lantai 3 Iva mendengar suara ejekan dari orang. Sudah ia duga siapa pemilik suara itu.


"Sefi kan anak orang miskin, gak mungkin lah dia beli baju mahal, mungkin pake baju biasa yang udah lusuh kayak yang biasa dia pake haha..."


"Jangan ganggu aku,"


"Halah, sok sokan, justru ini hari terakhir kita ketemu sebelum kita pisah, Sefia... apa lo gak kangen sama kita?"


"Aku mau pulang," Sefia berusaha berjalan terlebih dahulu namun dengan sigap salah satu siswi di sana menariknya hingga membuat dia tak bis bergerak lebih jauh.


"Kita puas puasin main sama nih orang, sebelum kita pisah, ya kan?"


"Nggak, gak mau, aku mau pulang,"


Seorang siswi di sana langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk 'mengajak main' Sefi.


"Bac-"


"Berhenti."


Ivana mungkin sudah bosan menjadi orang baik. Namun, ada kala nya ketika ia merasa melihat kembali masa lalunya yang di penuhi oleh rasa sakit hati yang mendalam itu. Iva berdiri di tengah-tengah Sefi dan gadis itu, hingga membuatnya menurunkan tangan.


"Gue gak ada urusan sama lo," kata perempuan itu.


"Gue juga gak mau bikin masalah sama lo, gue mau lo pergi sekarang," kata Iva.


"Oh, lo mau bela dia? Si cupu ini?" perempuan itu menunjuk dengan rasa jijik pada Sefi.


"Pergi lo," titah Iva tanpa menggubris pertanyaan dari perempuan itu.


Yang di ajak bicara sementara diam. Ia tahu betul siapa Ivana, dia anak orang kaya yang di segani di sini. Kata orang-orang tak perlu ada urusan dengan orang bernama Ivana Agnesia itu, atau...


"Cabut." perempuan itu mengajak kedua temannya tadi untuk pergi, ada sedikit rasa tak terima dari salah satunya. Namun, ia hanya bisa mengikuti ke arah mana 'bos' nya ini akan membawa mereka.


"Makasih kak," kata Sefi. Ivana tersenyum tipis, "Gak usah pake 'kak' kita seumuran. Kenalin gue Iva,"

__ADS_1


Gadis itu menjulurkan tangannya yang langsung di balas oleh Sefi. "Aku Sefia, bisa di panggil Sefi," katanya.


"Lo kalo ada apa-apa jangan ragu buat hubungin gue,"


"Iya, makasih,"


Iva mengangguk sebentar sebelum melanjutkan, "Oke, gue pergi dulu. Jaga diri baik-baik, jangan mau di perbudak sama orang-orang gak ada adab kayak gitu, lawan." Iva menepuk pundak Sefi dua kali sebelum benar-benar pergi.


Di tengah sedikit keramaian karena kejadian kecil tadi, diam-diam dia membatin.


Tuhan, aku akan melawan kalau di tempat yang aku pijak ini aku punya tahta, aku bukan di perbudak oleh mereka. Namun, takdir yang memperbudak ku, kalau saja aku punya segalanya seperti dia...


...--...


Athaya dan mobilnya sudah sampai di pekarangan rumah keluarga Mentari, ia sendiri sambil membawa beberapa kebutuhan di sana. Beruntung orang tua Tari dan orang tuanya mengizinkan, ia berjanji akan menjaga Tari dengan baik.


Dia hanya modal nekat. Urusan bertemu atau tidak ia pasrahkan, meski begitu ia akan tetap berusaha untuk hasil baik yang mereka inginkan.


"Tari berangkat ya Ma?"


Saat Tari sudah siap dengan segala perlengkapan yang ia butuhkan, Athaya mendekat— ikut menyalami orang tuanya.


"Athaya hati-hati ya? Nanti kalo di jalan gak usah ngebut,"


Athaya mengangguk mengiyakan, "Makasih om, tante, udah percaya sama Athaya buat ngizinin Tari pergi bareng saya," ucapnya tulus.


"Iya, kami ngerti kok, pasti kalian butuh healing setelah berjuang menghadapi ujian sekolah. Gak apa apa sebelum kalian masuk kuliah," kata Intan.


Mereka mengangguk sambil tersenyum sebelum menaiki mobil Athaya. Intan dan Angga melambai untuk melepas putrinya pergi berdua dengan Athaya. Mereka percaya tak akan ada sesuatu apapun yang terjadi. Mereka sudah besar, bisa berfikir lebih dewasa.


...--...


Langit menemukan Aji yang sedang melamun di depan sebuah bangunan yang lusuh, mungkin sudah puluhan tahun tidak di tinggali, seperti tak ada seorang pun yang pernah singgah ke sana.


"Aji!"


Yang di panggil menoleh, Langit mendekat sambil menatap nyalang sekitar. Aji juga sedikit mendekat sebelum berbicara, "Ada sesuatu yang aneh dari bangunan ini," kata Aji.


Pintu itu terlihat terkunci dengan gembok yang tergantung di sana, lumut di mana-mana, mungkin di dalam bangunan itu banyak terdapat sisi yang bocor.


"Apa yang menurut lo aneh?" balas Langit.


"Bos. Aji lihat di internet beberapa tahun lalu tempat ini pernah jadi tempat perkumpulan suatu organisasi ilegal,"


"Ilegal?"


Aji mengangguk, "Aji gak tau pasti apa yang mereka sebut organisasi itu. Mungkin sebuah perkumpulan."


Aji menapak ke samping bangunan, "masih ada sedikit sisa garis polisi. Pernah di amankan,"


Langit mengikuti arah pandang Aji, dan benar saja! Sisa-sisa penyidikan masih ada.

__ADS_1


"Lalu, apa tujuan lo ngajak gue kesini?" kata Langit.


"Ini ada hubungannya sama ayahnya bos,"


"Hub-"


"Woy!"


Langit dan Aji reflek menoleh, mata mereka melebar panik saat melihat banyak motor besar dengan jumlah yang cukup banyak meneriaki mereka.


Tanpa berkata apapun lagi, mereka segera berlari, beruntungnya motor mereka terparkir tak jauh dari tempat Aji dan Langit berdiri. Mereka langsung tancap gas dan segera pergi.


Beberapa dari mereka mengejar, banyak juga yang masih tinggal. Seketika suasana yang awalnya sangat tenang berubah menjadi ricuh.


Jantung Langit berdetak kencang, apa maksud mereka mengejar Aji dan dirinya? Ada apa dengan tempat itu. Tubuh mereka kekar seperti sudah terlatih bertahun-tahun, menggunakan pakaian serba hitam dan melaju dengan kecepatan tinggi.


...--...


Di lain tempat, Iqbal memarkirkan motornya di SPBU, sementara dia beristirahat sejenak untuk sekedar melegakan dahaga nya, dia akan memulai pencarian besok, sementara ini ia akan menyewa kamar hotel untuk bermalam.


Dia memeriksa ponsel, melihat apakah ada pesan masuk, beberapa dari orang tuanya yang langsung ia balas.


Ia sedikit menipiskan bibir, tumben Vino dan duo perintilannya itu tak berisik di grub, biasanya di jam segini mereka akan koar-koar di grub yang membuat ponsel Iqbal tak diam dari suara notifikasi.


"Tumben sepi. Lagi pada gak punya kuota apa bagaimana ya?" Iqbal tersenyum tipis. Sebelum menyimpan kembali ponselnya.


Dari arah kejauhan ia menatap serius. Ada dua motor yang di kejar-kejar oleh segerombolan pria berbadan kekar. Iqbal mengambil helm-nya, ada sedikit pertanyaaan yang mampir dalam pikirannya.


"Ada masalah apa sih?" ucapnya sambil menatap kasihan pada dua orang paling depan.


Ia menaiki motor, segera mencari kamar hotel dan menyimpan barang-barangnya sebelum memulai pencarian.


...--...


Langit dan Aji berpacu pada waktu, gerombolan itu masih mengejar mereka. Sambil terus melaju, ia berfikir cepat. Ia harus segera mencari solusi sebelum habis di tangan mereka.


Langit menekan klakson motor sekali— memberi tahu Aji.


"Aji! Ikut gue!"


Motor Langit melaju sedikit lebih depan dari Aji, cowok itu mengikuti arah demi arah yang di tujukan Langit. Butuh waktu lama untuk bisa mengelabuhi orang-orang itu, sebelum mereka belok pada suatu gang sempit di samping pemukiman.


"Cepet!"


Mereka memarkirkan motor mereka tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Di samping sebuah pohon beringin besar, Langit dan Aji mencoba menormalkan nafas.


Tak lama orang-orang itu lewat, beruntung tak ada yang menyadari keberadaan mereka berdua. Setelah semua membaik, Langit dan Aji keluar dari tempat persembunyian— menghampiri motor mereka.


"Siapa mereka? Kenapa mereka ngejar kita?" kata Langit.


"Aji gak tau bos, kayaknya mereka ada sangkut pautnya. Aji bakal nyari tau."

__ADS_1


Dan Langit makin penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


__ADS_2