ATHAYA?

ATHAYA?
53- Bertemu


__ADS_3

Untuk waktu yang lama, Vino sempat memikirkan untuk menikah di usia muda, tentu saja dengan 'sayangnya Vino' bernama Arini itu.


Hari ini rencananya, entah ini akan terlihat menarik atau bukan, cowok itu akan mengatakan keinginannya untuk menyunting gadis itu untuk diajak hubungan lebih serius.


Tidak, Vino bahkan belum menyiapkan ***** bengek keperluan seperti cincin, atau bunga itu, ia hanya 'menyampaikan' dan semoga saja Arini mau.


Atau rencananya hari ini akan tertunda, "aku lagi ada urusan sebentar Ino, besok bisa ya?" kata Arini dari sambungan telepon. Vino yang awalnya rebahan di kasur langsung mendudukkan diri, "lah kenapa?" Arini terdiam sebentar sambil merapikan lipstik di bibirnya.


"Aku ada urusan sebentar sama temen," kalau Vino tidak serius tentu saja dia tidak akan berani menyatakan kalau dirinya siap untuk menikah bukan? "temen siapa?" kata Vino. "ada Vin, besok ya soalnya ini penting banget, oke? besok aku janji bakal datang ke sana," jawab Arini tenang.


Saat sambungan itu terputus, Arini agak resah, seketika dia menyesali perkataannya tadi, "kenapa gue jawab ketemu sama temen? pasti dia ngiranya yang aneh-aneh," tuturnya pada diri sendiri.


Di tempat yang lumayan jauh dari Arini, Vino bertanya-tanya tentang siapa teman yang bisa membuat Arini menolak bertemu dirinya? "gue harus ikutin," pikiran itu tiba-tiba saja datang seiring pikirannya yang mulai liar. Lalu, dia memakai jaket denim warna hitam pemberian Arini dan langsung pergi kesana.


...--...


Mentari merebahkan diri di sofa ruang tamunya, meletakkan kepalanya di paha sang ibu yang sedang membaca sebuah majalah.


"Ma? kata mama kita harus selalu memaafkan orang lain kan?" kata Tari.


"Iya, kita harus bisa memaafkan kesalahan orang lain," jawab Intan tenang.


"Bahkan saat orang itu ngebuat kita jadi trauma?"


"Kamu ngomong apa sih, Nak. Ada masalah ya?"


Tari perlahan bangun dari rebahannya, terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Tari mau cari Iva," katanya.


Walau ada sedikit perubahan ekspresi dari wajah Intan, sebisa mungkin ia tak terlihat seperti ada sesuatu.


Ia sangat menyayangkan kejadian yang menimpa putrinya tempo lalu, ia hanya bertanya-tanya mengapa sahabatnya itu begitu tega melakukan hal sekeji itu?


"Kenapa mau cari dia?" tanya Intan.


"Bagaimanapun juga orang yang selalu menemani Mentari itu Ivana ma... dan tari juga udah maafin dia kok," Tari memejamkan mata pelan.

__ADS_1


"Memangnya dia sekarang di mana?" Intan berkata lembut sambil mengelus surai putrinya.


Mata Tari terbuka, "Itu masalahnya ma... Tari kurang tau. Tapi, Tari sama Athaya bakal cari kok, mama gak usah khawatir, ada Athaya,"


Intan sedikit menimang sebentar, menatap bola mata putri tunggalnya itu dengan sayang lalu dengan hembusan nafas pelan mengangguk- menyetujui.


"Tapi kamu harus hati-hati ya?"


"Iya, ma... Tari yakin kok Iva gak jauh-jauh dari daerah ini," tuturnya yakin.


...--...


Iqbal bolak-balik memeriksa jam di tangannya, padahal dia menunggu baru lima menit di sini. Arini juga bilang kalau dia baru di perjalanan.


Iqbal akan memanfaatkan waktu liburnya ini dengan mencari Iva, hanya dia! dia yang akan menemui Iva sendiri.


"Lo di mana Va?" gumamnya.


"Apa Tari dan Athaya gak ada maksud cari lo? tega banget mereka Va... dan lo terlalu baik buat mereka yang mudah melupakan kebaikan lo... lo terlalu baik," gumamnya.


Dan Athaya sama sekali tak memberikan respon, padahal ini ada sangkut pautnya dengan dia, tapi apa? dia seperti orang buta dan tuli dengan tidak melakukan tindakan apapun!


"Udah lama Bal?" tepat sepuluh menit dia menunggu, akhirnya Arini datang, Mereka duduk berhadapan di tempat itu.


"Mau langsung to the point atau gimana?" kata Arini.


"Terserah lo, kalo lo mau pesen minum dulu gue gak masalah," responnya.


"Lo ngomong kalo gak masalah tapi muka lo udah kayak gak sabar gitu ya?" Arini sedikit terkikik.


"Nggak gitu," Iqbal memijat pangkal hidungnya frustasi dan membuat Arini tidak bisa menahan tawa.


"Dia ada di Bandung,"


Tawa di bibirnya tak lagi terlihat, sekarang bahkan menatap serius Iqbal, "Bandung?" tanya Iqbal dan hanya dijawab anggukan dari Arini.

__ADS_1


"Gue cuma ngasih tau ini ke lo Bal, dia bilang kalo nggak mau keberadaannya di kasih tau siapapun, termasuk lo," katanya.


"Tapi sekarang gue kayaknya gak akan nyesel kasih tau ini ke lo, karena dari awal gue tau Bal, kalo lo setulus itu sama Iva... Ivana juga tulus, dan harus dapat orang yang tulus juga kayak lo,"


Perkataan Arini ditutup dengan senyum tipis sebelum memesan minuman di kafe itu.


Seorang pelayan perempuan mengambil pesanan mereka, diiringi kacaunya pikiran Iqbal yang bingung dengan keadaan yang terjadi, karena setelah itu, entah mengapa tak ada seorangpun yang percaya pada Iva.


Bahkan orang tuanya yang perhatian pada Iva, juga cenderung menghakimi gadis itu— seakan memang dia biang keroknya.


"Bandung mana?" setelah pelayan itu selesai dengan tugasnya, Iqbal kembali bertanya, "jujur kalo itu gue gak tahu Bal, tapi terakhir dia ngirim ini,"


Arini terlihat mengotak-atik sebentar ponselnya, selang beberapa detik kemudian dia memperlihatkan layar ponselnya pada Iqbal.


Seragam berwarna merah marun dengan olesan garis berwarna putih, hanya di perlihatkan bagian bahu kebawah. Iqbal melirik ke arah Arini, "apa maksudnya?"


"Ini seragam Ivana, alias sekolah barunya di sana, habis itu gue di blok, semua akun sosmed gue," kata Arini.


"Jadi ini yang Iva kasih tau di lo?"


Arini mengangguk. "Ini salah satu alasan gue gak mau terus terang sama lo, karena cuma ini info yang gue dapat,"


Mereka diam tanpa bicara apapun lagi. Arini harap ini akan jadi penolong bagi Iva. Karena ia tahu, betapa kacaunya gadis itu saat pergi meninggalkan rumahnya.


"Itu berguna buat gue, makasih Ar,"


"Sama-sama,"


Tanpa mereka sadari seorang cowok dengan pakaian tertutup, masker, dan topi itu memperhatikan mereka sedari lama. Vino, rupanya cowok itu mendengarkan semua ucapan Arini dan Iqbal.


Awalnya mungkin Vino akan marah besar karena menemukan pacarnya tengah berbincang dengan cowok lain tanpa sepengetahuannya, Iqbal pula!


Tapi, mencari tahu lebih dulu itu merupakan suatu hal yang sangat penting. Rupanya tentang Ivana, masih soal Ivana. Wanita yang sangat di cintai Iqbal namun tak pernah menunjukkan apapun kepadanya.


"Ternyata dia masih ingat sama Iva," gumamnya pelan, "goblok! kenapa gue gak pernah tanya ke dia ya?" seketika rasa yang sudah urung selama satu tahun itu muncul lagi, saat ia merasa jadi orang yang tak berguna karena telah menyepelekan atau membiarkan masalah temannya itu berlarut.

__ADS_1


Setelah setengah jam ia menyibukkan diri oleh pikirannya yang berkecamuk hingga menunggu saat di mana Iqbal dan Arini keluar dari sana, Vino segera berdiri— sedikit meyakinkan diri untuk membantu tanpa sepengetahuan mereka.


__ADS_2