ATHAYA?

ATHAYA?
45-Kejutan Buat Mentari


__ADS_3

Lalu sebenarnya apa yang di cari dalam sebuah persahabatan?


Dan bukankah bersahabat itu harus mengerti satu sama lain? kalau begini apakah mereka pantas disebut begitu padahal Langit tengah menyembunyikan kesedihan sendirian?


"Bilang ke mereka buat gak cari gue lagi," Langit melanjutkan.


"Lo mau kemana?" cegah Athaya cepat.


Langit memiringkan bibirnya, "bukan urusan lo," jawabnya singkat.


Disana Vino hampir tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menemui Langit, ia sigap berdiri lalu dengan satu gerakan pasti akan menemui Langit dan Athaya detik itu juga.


"Gua harus ngomong sama Langit," bahu Vino ditarik cepat Don Don membuatnya oleng, lalu perlahan terduduk kembali.


"Lo jangan goblok! yang ada mereka malah makin marah kalo kita kesana, lo ngerti nggak?" Damar berbisik namun menekan tegas kata demi kata yang dilontarkannya.


Vino. Dia adalah orang pertama yang pernah dekat dengan Langit, satu-satunya orang yang sangat peduli saat Langit merenung sendiri di kelasnya karena tak mempunyai teman.


Salah satu yang paling dekat adalah dirinya, dan untuk saat ini mungkin ujian berat belum puas memakinya. Beberapa kali ia menghubungi namun tak ada jawaban, benar-benar seperti seorang yang tak pernah kenal.


Tanpa mengucap apapun lagi, Langit terlihat menaiki motornya. Memakai helm lalu meluncur pergi.


"Arghhh!" pekik Athaya saat dia menyadari tak banyak info yang ia dapat. Lalu hanya itu yang ia katakan untuknya?


Vino, Iqbal, Damar, dan Don Don merapatkan punggungnya ke tembok saat melihat Athaya melaju meninggalkan area itu dengan motornya.


"Argh! kenapa lo tahan gue?" pekik Vino.


"Lo mau semua kena imbasnya? yang ada masalah malah tambah runyam kalo mereka tau kita disini," oceh Damar.


"Iya, Vin. Apalagi ini masalah keluarga mereka yang kita sendiri belum tau kebenarannya," Iqbal menyambung bijak.


Ia menatap jejak kepergian Athaya, mengambil nafas dalam-dalam sambil memasukkan tangannya ke saku celana—karena dingin.


"Ayo balik." final Iqbal.


...--...


"Va?"


Yang dipanggil menoleh, ia agak girang saat Arini datang sambil membawa tas berukuran sedang.


"Arini, lo kesini?" ucap Iva dengan mata berbinar. Arini duduk di ranjang Ivana lalu menaruh tas nya disana.


"Gue bawa buku pelajaran tadi, siapa tau lo butuh mau lo pake belajar," ucap Arini hangat.


"Makasih, Rin. Lo baik banget deh, btw sekolah gimana tadi?" Ivana menghadap Arini dan bersila—bersiap mendengar cerita.


"Biasa aja sih. Eh, tapi sori ya Va sebelumnya, lo masih pacaran sama Athaya kan?" tanya Arini hati-hati.


Ivana mengangguk lemah, "bagi gue gitu, tapi gak tau kalo bagi dia," jawabnya.


Arini sedikit menunduk, "Athaya gak percaya sama lo?" Ivana menggeleng pelan yang langsung disambut gelengan lemah dari Arini.


"Anjir kok bisa sih," tatapannya tak percaya.


"Dia suka sama Mentari, Rin. Gua tau kok, udah jelas emang," Ivana tersenyum kecut.

__ADS_1


"Eh, Rin? gue boleh pinjem hp lo sebentar gak?" Ivana bertanya agak terburu-buru.


"Boleh nih, kenapa?" ucap Arini sambil mengambil ponselnya.


"Gue mau hubungin Iqbal."


...--...


Iqbal baru saja sampai kerumahnya. Ia menanggalkan jaket nya sebelum deringan telpon membuyarkannya.


"Arini? cewek nya Vino ngapain telpon gue?"


Iqbal menggeser tombol hijau disana. "Halo?" ucapnya duluan.


"Halo Bal ini gue Ivana, gue pake hape nya Arini," ucap Iva cepat.


"Oh? Va? lo gak kenapa-napa kan? hape lo gue hubungin kok gak ada yang masuk, nonaktif," Iqbal duduk di kursi belajarnya.


"Hape gue hilang Bal, dari kemaren pas sebelum kejadian itu," Iva menjelaskan.


"Kenapa lo gak bilang?" Iqbal menautkan alisnya.


"Gue gak bisa mikir kemaren Bal. Gue bener-bener kalut, sori," ucap Iva diseberang.


"Iya, gak papa. Terus ini hape lo belum ketemu?"


Iva menggeleng, "belum..." Iqbal menarik nafas panjang, "kok bisa sih?"


"Jadi..." Ivana mulai menjelaskan.


...--...


Reza menghancurkan dengan sekuat tenaga disaksikan langsung oleh Langit. Setelah menemui Athaya ia menepati janji untuk bertemu Reza.


"Ini bayaran lo sama cewek itu, suruh dia potong rambut pendek supaya gak ada yang tau," Langit menyerahkan berlembar-lembar uang dari sana.


Reza menghitungnya sejenak lalu tersenyum, "pas bang," katanya.


"Lo boleh pergi," setelah mengatakan itu Reza pergi dengan perasaan gembira.


Dia bukanlah pelajar di SMA Dharma Bhakti, hanya cewek bernama Via-lah yang termasuk disana. Ia juga yang telah mengirim foto sebulan lalu yang menunjukkan Athaya dan Tari yang tengah berpelukan.


Namun, ia berani jamin kalau tak akan ada orang yang tau, maka ia bisa aman.


Ponsel Ivana sudah hancur, supaya tak ada yang menghubungi gadis itu lagi.


Langit memeriksa ponselnya sendiri,  panggilan dan pesan terlihat belum dibuka, siapa lagi kalau bukan teman-temannya?


Mulai dari Don Don, Damar, Vino, bahkan Iqbal—menghubunginya, tak ada yang ia buka maupun balas.


"Kapan-kapan kita ketemu lagi guys,"


Langit tersenyum sangat tipis, lalu membuka suatu grup chat disana.


...You leave this group...


...--...

__ADS_1


"Tuh orang kenapa sih sebenernya?!" Vino memekik di kamarnya, tiba-tiba saja Langit meninggalkan grup, lalu memblokir nomornya.


"Lo kenapa sih Lang? gue ngajak ngobrol baik-baik tapi lo gak mau, sebenarnya yang lo harapkan dari kita apa sih?" ucap Vino tak pada siapapun.


Ia terduduk di lantai, mengacak rambut frustasi.


...--...


"Besok gue beli hape lagi," ucap Iva diseberang sana.


"Lo bisa cari dulu kan Va?" Iqbal membalas.


"Udah Bal, tapi tetep gak ada," kata Ivana.


"Besok gue coba minta tolong ke temen-temen buat cari orang itu," balas Iqbal yakin.


...--...


"Jadi...itu yang mama dengar?" malam itu dengan segala harapan yang tersisa di diri Athaya, ia berani mengetuk pintu kamar Zahra untuk menanyakan hal yang sama.


Semua ia lakukan demi mengobati rasa penasarannya yang ada, kalau memang begitu, apakah Langit tau kalau Rahsya di bunuh karena ulahnya sendiri?


"Lo gak perlu tau, intinya Rahsya udah mati ditangan orang yang tepat karena perbuatannya sendiri."


Mungkin ia tahu masalah itu, lalu siapa dibalik panggilan 'bos' hingga mampu membuat nyawa Rahsya melayang?


"Mama gak tau kesalahan apa yang dilakukan papa kamu sampai-sampai dia dikeroyok begitu waktu kami baru tiba di Jakarta," sambung Zahra lagi.


Malam itu lampu temeram dari kamar Zahra samar-samar menghapus air mata keduanya yang jatuh.


Entah bagaimana bisa, Athaya menangisi seorang lelaki yang samar. Apa karena itu adalah ayahnya? atau semata hanya kasihan telah meregang nyawa karena dikeroyok sekelompok orang yang tak ia kenal.


"Jangan tanya hal ini lagi nak...mama ingin hidup tenang sama kamu," Zahra mengusap pipi Athaya yang basah karena air mata.


"Maaf ma..." lirih Athaya.


"Kamu berhak tau, gak usah denger lagi omongan mereka tentang Rahsya. Dia sudah gak ada, ya?"


Athaya mengangguk mendengar petuah Zahra, mungkin hanya ini yang bisa ia dengar untuk sementara waktu.


Ia bangkit memeluk ibunya, walau terselip rasa penasaran juang mengatasnamakan 'kira-kira janji dan sumpah apa yang telah dilakukan Rahsya'


...--...


"Mentari?"


Intan—ibunya masuk ke kamar Tari dengan senyum yang jelas gembira. Ia duduk di ranjang biru milik anaknya, sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


"Nak...mama ada kejutan buat kamu," ucapnya senang.


"Papa tadi telpon mama, katanya dia udah menemukan cara terbaik supaya kamu bisa jalan kayak dulu lagi," ucap Intan senang.


"M-maksudnya..." Tari terbata, lalu seakan impiannya bertahun-tahun ini terjawab, kesusuahannya selama ini terobati.


"Kamu akan bisa berjalan normal seperti yang lainnya. Nak," ucap Intan haru.


Tari merasakan sesuatu meleleh dari pelupuk matanya, ia menangis tersedu, begitupun ibunya.

__ADS_1


"Mentari bakal bisa jalan lagi..." Tari kembali berucap haru.


...--...


__ADS_2