
Iqbal, Vino, Damar, Don Don, Langit dan satu lagi yang bergabung bersama mereka, Athaya. Menikmati siang menjelang sore di angkringan samping parkiran belakang sekolah, suara tawa dari mereka menggema di sekitar tempat itu, tak ada yang mempermasalahkan karena keadaan sudah sangat sepi.
"Gila ya, bentar lagi udah mau lulus nih kita," Don Don melempar obrolan.
"Lulus bapak kau, kita aja masih disini setaun, ngayal aja mau lulus," Damar menampik.
"Eh kutukupret! lo kira waktu setaun itu gak sebentar apa? bisa-bisanya lo, ntar kalo gak lulus gimana," Don Don coba membela.
"Lah itu mah elu, kalo gue udah pasti lulus dong," Damar menaikkan sebelah alisnya.
"Lo tau gak? kalo lo punya kuasa lo pasti bisa nge- hendle semua," Vino ikutan nimbrung.
"Apaan maksud lo?"
"Alahh, masa lo gak tau sih, cuan," Athaya sedikit berbisik di bagian terakhir kalimatnya yang membuat Vino menjentikkan jari, "makannya jadi orang itu yang pinter, goblok lu formalin,"
"Yee, nge- lag biasa kali, lagian kata orang-orang mah, kalo anak gak naik bahkan gak lulus, akreditasi sekolah lo bisa anjlok,"
"Nah itu, jadi simpel, sesuai mindset"
"Apaan sih lo bahas begituan, inget ada ketua OSIS tuh," Iqbal yang dari tadi diam ikut berbicara sambil menunjuk Vino dengan dagunya.
"Ya elah, itu mah kambing hitamnya, suka ngompor-ngompirin emang," Langit berkomentar.
"Sesuai fakta kalo itu mah," balas Don Don.
"Kampret lo pada," Vino menatap teman-temannya satu persatu. Sesaat setelahnya ia menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis bahkan dari mereka tak ada yang menyadari. Ia pasti akan merindukan teman-temannya ini nanti.
"Kayaknya udah sore ya? gue pulang dulu ya? udah capek abis olahraga tadi," Langit menyelutuk, disusul jawaban dari teman-temannya, "oh ya udah gak apa-apa, hati-hati ya Lang,"
Langit mengambil kunci motornya dan langsung tancap gas meninggalkan angkringan itu. Namun, tak jalan pulang ke rumah yang ia tempuh, melainkan rumah seseorang yang akhir-akhir ini sering membuatnya seakan berpacu melawan rasa kasihan.
"Oh iya, gue mau nanya ini tapi segan tadi ada Langit, Ath? kemarin lo pas nemuin mobil nyokapnya Langit lo lagi sama Ivana ya?" pertanyaan dari Iqbal membuat keempatnya menoleh.
Agak terkejut, mau kasihan tapi ini Iqbal, dia yang mencari sakit seperti itu dengan bertanya perihal hubungan dengan Iva, begitulah ia, walau terlihat tidak mencampuri urusan orang lain kalau soal Iva, ia akan pantau sampai ke akar-akarnya.
"Oh, itu pas gue sama dia baru aja ke pasar malam yang deket taman kota itu loh, dan pas kita mau jalan pulang ada orang tua yang manggil-manggil minta tolong. Kayak yang gue ceritain kemarin lah," jawab Athaya santai.
"Lo ke pasar malam?" tanya Iqbal lagi.
"Iya, gue yang ngajak soalnya gue kangen banget jalan sama dia, walaupun kita sekelas sih,"
"Dulu lo deket banget sama dia? bahkan sampe sekarang?" Vino, Damar dan Don Don hanya mampu menyimak, ia tak ingin berurusan dengan masalah ini, cukup mendengarkan saja, kali aja bisa buat bahan gosip kan?
"Kalau lo jadi gue, kira-kira apa yang bikin lo jatuh cinta sama Ivana?"
Iqbal mengalihkan pandangan dari Athaya. Banyak sekali! banyak yang membuat ia jatuh cinta berkali-kali pada seorang gadis bernama Ivana itu.
__ADS_1
"Kalau jadi lo, mungkin gue bakal cinta dengan caranya bersikap, caranya menatap sahabatnya, ketulusan dia dan keikhlasan dia sebagai seorang teman,"
Iqbal berada di satu titik dimana ia merasa jatuh cinta lagi pada Ivana, cintanya besar, hingga jika dihadapannya pun ia akan tunduk dan mengatakan bagaimana Tuhan dengan hebatnya menciptakan gadis setulus dan sesempurna dia.
"Itu dia, sejak SMP gue kenal dia, Bal. Dia beda, kalau yang lain bully gue karena fisik, ia salah satu orang yang menganggap gue teman pada umumnya, sorry to say tapi Mentari itu gak pernah lepas dari Ivana, ia selalu nomor satu, karena tahu banyak teman yang bisa berteman dengan Tari tapi jarang ada yang setulus dia sampai rela ngedorong kursi roda cuma buat pergi ke kantin yang rame,
"Dan kagetnya pas gue ke sini dan reunian sama alumni SMP gue, gue lihat Ivana yang masih sama kayak dulu, selalu tulus dengan apa yang ia sebut sahabat, awet banget! dan gue masih suka dia,"
Yang lain menyimak dengan serius cerita dari Athaya, hening sekejap sebelum Athaya kembali bicara.
"Dan kemaren gue nembak dia dan dia mau jadi cewek gue lagi,"
Uhuk!
Iqbal tersedak ludahnya sendiri, apa ia tak salah dengar? berarti sejak malam kejadian itu mereka resmi pacaran?
"Sep? minum dulu Sep, jangan buru-buru," Vino mengulurkan botol Aqua miliknya yang belum dibuka untuk Iqbal minum.
Ia juga syok, tapi sepertinya manusia yang paling syok dan sakit di sini adalah Iqbal. Don Don yang tengah memakan pisangnya hanya bisa mangap dengan pisang dimulut yang belum dikunyah.
Damar mengalihkan pandangan ke arah langit—pura pura tak peduli.
"Ada apa, keselek ya?" Athaya bertanya ketika Iqbal baru selesai minum, ia menggeleng sebelum kembali bicara, "jadi, sejak kita-kita dateng ke RS itu lo resmi ya?" Jawaban 'iya' dibalas dengan anggukan kecil.
Disana Vino membatin, "nih orang kagak ada kapok-kapoknya ya tanya soal Iva mulu ke Athaya, demen banget nyakitin diri sendiri,"
Satu persatu memberi ucapan selamat pada Athaya, "lo keren bro, LAKIK!!" Don Don menggelengkan kepala kiri-kanan dan sesekali melirik Iqbal.
"Nih, baru laki, Sep." sambung Don Don yang hanya bisa diutarakan sampai kerongkongan saja.
...--...
Langit baru sampai rumah sekitar pukul 10 malam, setelah mendengarkan celotehan panjang lebar dari seseorang yang di datanginya tadi.
Ia tak sampai berfikir sejauh ini untuk bisa mengetahui tentang sebenarnya apa yang terjadi di keluarganya. Namun, semenjak ia di tinggal Dina rasa penasarannya muncul, agak lama baginya untuk bisa mengetahui ini.
Ia terseok berjalan dari pekarangan ke rumahnya, saat sampai di ruang tamu, ia melihat Lina yang duduk dengan mimik wajah cemas disana, memegang ponsel kuno nya yang sudah lapuk termakan usia—menunggu Langit pulang.
"Mbak?"
Lina agak terkejut, lalu bergegas berdiri dan memeluk Langit, cowok itu sedikit terpaku ditempatnya, ia membalas pelukan dari pembantunya, ia tahu kalau Lina menganggapnya sebagai anak sendiri, wajar ia khawatir karena dari tadi Langit tak memberi kabar.
"Mas Langit ke mana aja mas? mbak nyariin kamu kemana-mana tadi," suaranya bergetar, Langit malah menjadi merasa bersalah kalau begini.
Ia tetap diam, saat pelukannya tak seerat sebelumnya Langit mulai berkata, "mbak gak mau cerita apapun ke Langit?"
Lina menjauh setelah meminta maaf, "kasih tau apa ya? maaf mbak gak paham,"
__ADS_1
"Tentang keluarga Langit, mbak,"
"Mbak gak tahu,"
Langit memutar bola matanya sebelum memijat pelipisnya sendiri, kepalanya pusing sekali. Ia merogoh saku celana SMA nya dan menunjukkan sebuah foto disana.
Rahsya Kurniawan, Zahra and our baby boy
"Mbak gak usah pura-pura gak tau, Langit udah tau semua mbak," Lina merasakan jantungnya yang berdegup dua kali lebih cepat.
"Mbak, Langit pengen banget denger dari mulut mbak Lina sendiri tentang keluarga Langit sendiri? apa salahnya?"
Suara Langit bergetar menahan isakan, sementara ucapan Rahsya bertahun-tahun lalu menerornya untuk tidak menceritakan peristiwa ini pada Langit.
"Atau mau Langit ceritain?" Langit yang sudah menangis untuk kesekian kalinya itu berucap, sebelum ia mengingat kembali kejadian bersama temannya tadi.
"Lo bener Lang, maaf kalo ini sedikit bikin lo sakit. Tapi, memang benar di foto itu, itu foto bokap lo sama nyokap nya Athaya, temen lo itu,
"Dari anak buah gue yang dua minggu nyari fakta ini. Bokap lo—om Rahsya saat itu berumur 28 tahun, pengusaha batu bara yang kaya raya keturunan indo-australia yang menikah dengan wanita cantik yang bernama Rahmadina—wanita malam pemuas nafsu lelaki hidung belang
"Entah kenapa om Rahsya bisa secinta itu dengan nyokap lo dan minta buat nikah sama dia, walau keluarganya banyak yang menentang. Karena ia cinta, ia lakukan semua, om Rahsya menikah dengan tante Dina tanpa persetujuan keluarga om Rahsya. Karena pernikahan itu lo lahir diantara mereka
"Tepat beberapa hari saat lo lahir, bokap lo tiba-tiba marah dan ngaku-ngaku gak suka sama tante Dina lagi, dia pergi dari rumah tanpa alasan jelas
"Dia pergi ke Semarang, menemui seorang gadis cantik yang langsung diajaknya menikah, dan di foto ini, Zahra Jasmine namanya, ibu dari Athaya Richard—temen lo sendiri
"Mereka pindah lagi ke Jakarta saat Athaya sudah kanak-kanak. Tapi, memang banyak yang benci bokap lo waktu itu, mungkin, karena udah nyakitin nyokap lo kali ya?"
Langit diam sambil mengepalkan tangannya marah, cerita sebesar ini tak ia ketahui selama bertahun-tahun, ia menarik nafas panjang—menunggu temannya itu melanjutkan.
"Om Rahsya meninggal, polisi tutup kasus tanpa alasan jelas, hasil otopsi mengatakan kalau om Rahsya kemungkinan meninggal karena babak belur di keroyok,"
"Siapa mereka?"
"We don't know, kasus ini ditutup dan gak ada yang ngulik sampe sekarang, dan gak banyak yang tahu juga. Mungkin nyokap lo salah satunya,"
Lina menutup tangis di wajahnya erat, mendengar kabar itu ia sangat terpukul, Langit menunggu reaksi nya, air matanya habis—berhenti keluar.
"Mbak gak tau kabar ini?"
"Mbak gak tau sama sekali, mas Langit, mbak cuman dikasih tau malam itu sama pak Rahsya pas bu Dina dan pak Rahsya berantem, buat nggak ngasih tau hal ini ke mas Langit, maaf mas. Tapi mbak emang gak tahu kejadiannya,"
"Mbak tahu nggak kenapa papa sampai berpaling dari mama cuma buat dateng ke Semarang?" tanya Langit dengan suara yang kembali bergetar.
Lina menunduk ke bawah, mencoba menenangkan isi kepalanya yang ramai, sebelum menjawab.
"Ta-tau, mas Langit,"
__ADS_1
...--...