
Kantung mata Iqbal terlihat jelas setelah memaksa matanya terbuka dari pagi tadi. Kali ini ia mengatakan sendiri bahwa dirinya memang bodoh, ia pun tak tahu, apa mungkin dirinya terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Kota ini besar dan sangat luas, tak mungkin apabila dirinya mencari satu persatu sekolah SMA yang berseragam merah marun, itu sangat mustahil apabila dia mencarinya sendirian di satu kota besar ini.
Dia merebahkan tubuhnya ke ranjang hotel, bahunya seakan-akan di Bebani oleh tumpukan batu yang besar, padahal ini ulahnya sendiri untuk kembali mengulik kisah yang sudah lama terkubur.
Ia tak punya kenalan di sini. Inilah salah satu momen yang ia takutkan, yaitu "merasa kebingungan sendiri" persis seperti sekarang.
...Grub Abal-Abal...
^^^Anda^^^
^^^tumben pada sepi, ga punya kuota ya?^^^
Ia membuka grub chat sebentar, sedikit heran karena sedari kemarin tak ada seorangpun yang koar-koar di grub ini, padahal biasanya tak seperti itu.
...--...
"Si Asep nge chat Vin,"
Rombongan kecil Vino mampir sebentar di sebuah minimarket dekat kota, hari sudah sore kata Vino mereka sudah akan sampai ke tujuan.
"Nge chat apa dia," jawab Vino atas pertanyaan Don Don.
"Katanya grub sepi, kita kagak ada yang nge chat,"
"Biarin," Vino meneguk air mineral dingin. Sementara Damar terlihat menutup matanya karena kantuk mulai menyerang.
"Jangan tidur nyet," Vino menggoncang bahu Damar pelan, kasihan juga dia. Vino ajak pergi jauh tapi tak tahu apa yang akan mereka lakukan.
Damar membuka sebelah matanya, "hmm apa Vin?" yang ditanyai kembali mengarah pada motornya sebelum berujar, "Ayo lanjut,"
"Bentar Vin, lo gak pegel apa? Dari pagi kita gak istirahat, lagian ini jauh banget masak ga nyampek-nyampek sih?" tutur Damar— kembali menutup matanya.
"Salahin tuh Don Don siapa suruh telat," kata Vino.
"Lah kok nyalahin gue sih? itu juga karena lo tadi berhenti mulu setiap belokan, lo tau jalan atau gak sih?" merasa agak tidak terima Don Don sedikit menaikkan nada bicaranya, ia sedikit sensitif hari ini karena kelelahan.
"Udah ayo pergi," Vino memakai helm-nya.
Damar semakin memeluk tubuhnya nyaman.
"Gak."
"Dam!"
"Kita mau kemana?"
"Gak usah banyak nanya,"
"Kita berhak tau."
"Nanti juga lo tau."
"Tapi kapan?!"
Vino menoleh mendengar bentakan Damar, kini tak ada raut bercanda dari cowok itu, Damar berdiri dari duduknya dan langsung berhadapan dengan Vino.
"Lo gak bisa kayak gini, Vin. Kita juga berhak tau. Lo kira kita gak capek dari tadi jalan terus? Gak masalah kalo lo lancar ngasih tau jalannya, tapi apa? Lo bertingkah seolah gak tau mana jalan yang benar,"
__ADS_1
Don Don di belakang memandang takut ke arah mereka, ia tak berani bicara banyak kalau keadaan sudah serius begini.
Vino meletakkan helm-nya kembali, dia menatap Damar tak kalah serius. Mungkin ia terlalu tegas pada teman-temannya ini. Benar, tak seharusnya sikapnya begini.
"Sori, Dam. Gue gak bermaksud kayak gini,"
"Ck!"
Damar membalikkan tubuh, "Sori Dam, Don. Gue egois, sekarang terserah lo pada mau ikut gue atau nggak. Maaf ya?"
Damar menghela nafas panjang, "Vin, bukan berarti kita gak mau ikut lo pergi kayak gini, tapi setidaknya lo cerita lah mau ngajak kita ke mana, biar kita juga bisa bantu, ya gak Don?"
"Betul Vin. Kita kan temenan masak lo gak percaya sih sama kita?"
Suasana sore menyelimuti hangat, wajah mereka disinari cahaya senja yang jingga, lampu-lampu gedung-gedung tinggi di kota sudah mulai di nyalakan namun kendaraan masih setia berlalu lalang.
"Ayo kita makan dulu, lo berdua pasti capek kan? Nanti gue cerita sekalian."
Vino memakai helm-nya kembali, lalu segera menaiki motornya. Saat mesin motor itu sudah hidup dia menoleh ke belakang karena tak kunjung menemukan keduanya beranjak.
"Ayo cepet, abis makan kita cari tempat buat tidur,"
Don Don menepuk pundak Damar yang masih mematung, ia mengangguk sebentar seolah mengatakan bahwa semua akan baik saja.
Di bawah langit Bandung kala itu, suara azan mulai berkumandang di semua pelosok. Lampu jalanan mulai memancar lebih terang dan indah.
...--...
Pagi itu mungkin jadi pagi terakhir Ivana berpijak di SMA Bina Bangsa mggunakan seragam SMA, karena besok wisuda sudah mulai berlangsung.
Sambil menenteng totebag hitam, Ivana berjalan menyusuri area indoor. Besok acara akan di laksanakan di sana, berbagai hiasan panggung pun sudah datang tapi belum di pasang.
Ivana menoleh mendengar suara itu, sebagian siswa siswi yang lewat terlihat menahan tawa, atau bahkan ada yang tertawa secara terang-terangan.
Donat donat ber serbuk putih beberapa jatuh dari toples yang di bawa Sefi. Tidak! Kali ini bukan karena tukang bully yang biasanya mengganggu Sefi itu, tapi ini ulahnya sendiri. Tersandung tali sepatu sepertinya.
"Duh, jatuh lagi," Sefi segera memungut lima buah donat yang terjatuh mengenaskan di lantai itu, ini sudah tak bisa di makan lagi.
"Ayo gue bantu,"
"Eh, ga usah,"
Ivana tak mengucap apapun lagi, ia fokus pada barang Sefi yang berjatuhan, karena larangannya tak di respon ia membiarkan.
"Lo jual donat ini berapaan?" Sefi agak termangu sebentar, sebelum berucap "Biasanya satu seribu," ucapnya pelan.
"Besok gue pesen boleh?"
"Boleh,"
"Gue mesen tiga dus,"
Sefi yang awalnya takut-takut sedikit melebarkan matanya, "Ti-tiga?"
Di sana Ivana mengangguk pasti, melihat wajah Sefi yang terlihat kikuk dia menyipitkan mata, "Kenapa emang?"
"Ng-nggak kok, cuman Sefi gak pernah aja nerima pesanan sebanyak ini,"
"Lo Sefia kan? Kenalin ya gue Ivana," Sefi menganggukkan kepalanya sekali karena tangannya tengah kotor memegang donat berminyak yang berjatuhan itu, Iva tak keberatan ia membalasnya dengan senyum tipis.
__ADS_1
Mereka berdua berdiri, detik itu juga Ivana mendengar bunyi yang tak asing, Iva menoleh ke Sefi, ternyata orang itu dari tadi menahan lapar.
Ivana berinisiatif untuk mengajaknya sarapan, "Mau sarapan bareng?"
"Enggak, aku udah sarapan kok, kamu duluan aja,"
"Gue ngajak lo, lo pasti ga punya temen kan di sini, sama gue juga gak punya temen, yuk?"
Mendengarnya membuat hati Sefi lega, tak sekali dua kali ia melihat Ivana jalan sendirian. Walaupun ia juga tak memiliki niat untuk menegur kadang kali, tapi untuk ajakan ini ia rasa tak masalah.
...--...
"Ampun pak. Saya janji minggu depan akan saya ganti uangnya," lirih Yatno pelan, badannya gemetaran sejak pria bertubuh tegap itu memukulinya tanpa belas kasihan.
"Bacot, sudah dari kapan lo ngomong hal itu? Berulang-ulang," sebelumnya pria itu menarik krah baju Yatno kencang lalu dengan sekali hentakan melepasnya hingga membuat sang empu tersungkur lemah di lantai.
"Semua naik tiga kali lipat,"
Ucap seseorang yang sedang duduk di belakang menambah rasa takut dalam diri Yatno, ia duduk bersimpuh sambil menyatukan telapak tangannya takut, "Ampuni saya tuan. Akan saya ganti secepatnya,"
Tubuh Yatno yang sudah renta mungkin membuat setitik rasa iba tercetak di dalam diri 'bos' itu. Ia berdiri menghampiri Yatno. Tangannya yang kekar mencengkram kuat dagunya.
"Cepat lo bayar hutang-hutang lo, atau bakal gue mangsa keluarga lo."
...--...
"Gue yang bayar,"
"Beneran, Va?" Ivana menjawabnya dengan mengangguk, ia kembali duduk meneguk es nya sebelum Sefi berujar, "Besok uangmu aku ganti,"
"Ga usah,"
"Aku ga enak,"
"Lo harus ganti, tapi bukan dengan uang," Sefia menaikkan satu alisnya saat Ivana membuka sebuah paper bag yang ia bawa dari tadi.
"Ini buat lo, di pake ya besok,"
Sefia tak bertanya lebih lanjut, ia membuka bingkisan itu. Mulutnya agak sedikit terbuka, "Ini kebaya buat-"
"Buat lo besok. Di pake ya?"
"Kamu serius?"
"Iya, gue gak mau gimana gimana kok, cuma dari sebelum gue pindah kesini gue pengen aja couple baju wisuda sama sahabat gue. Tapi, karena gue gak punya siapa siapa lagi. Lo mau make kan?"
"Sefia suka banget,"
"Di pake besok, itu lengkap kok. Kalo ada apa-apa nih nomor hape gue, biar gue bantu,"
"Makasih, Iva."
"Dasar Athaya gendut!"
Dulu Ivana pernah berjanji untuk tidak pernah berbuat jahat pada siapapun. Termasuk saat ia melihat Athaya yang diam saja ketika di- bully seisi kelas setiap harinya.
Dulu ia tak punya nyali untuk membela Athaya. Lalu, apa gunanya Ivana memacari seorang yang terkenal buruk rupa di sekolah.
Ia kasihan pada Athaya, dia anak baik yang tiba-tiba saja datang mendekati Ivana waktu SMP. Hingga, keduanya berpisah saat tiba-tiba saja Athaya pergi keluar kota untuk urusan yang cukup lama.
__ADS_1
Dulu... ia hanya kasihan. Tak lebih...