
1 tahun setelahnya.
Disaat tiba-tiba saja Athaya merasa bahwa semesta bergerak lebih cepat dari biasanya, bahkan ketika lelaki itu dikalungi samir berwarna merah—tanda bahwa dia telah lulus dari SMA.
Netranya menerawang sekitar. Walaupun tak sampai 3 tahun dia mengabdi untuk sekolah ini sebagai pelajar, ia selalu merasa diakui. Dan selama itu pula Athaya selalu menemukan dirinya berdiri di sebuah jalanan sore melepas teman-temannya dengan mimpi masing-masing, juga kenangan indah.
Alih-alih ikut berdiri dan berfoto ria di luar sana, Athaya lebih milih untuk berdiri di ambang pintu 12 IPA 2 untuk menyapu kenangan terakhir ini.
Setiap harinya selalu terjadi cerita, ketika saat itu satu kelas menunduk dalam-dalam karena kemarahan seorang guru biologi, kecerobohan Bayu ketika hilang keseimbangan yang berakhir tubuhnya oleng dan terjatuh tanpa alasan pasti.
Juga kehebohan Joko ketika tahu kalau Arini sang pujaan hati berpacaran dengan Vino, ketika pertengkaran Gina dan Saka setiap bertemu yang seperti anak kucing sedang berebut ikan asin, dan yang lainnya.
Tak banyak yang bagus dari sana. Satu kelas yang semi-hiperaktif apapun bisa dijadikan guyonan, kalau kata Gina, "orang sangar kayak Bayu aja bisa jadi pelawak kalau masuk IPA 2," itu katanya.
Kawan Athaya itu mereka, orang yang rawan gilanya. Entahlah, semua akan terasa mengkhianati sesuai waktunya. Banyak kata-kata yang belum usai, tugas-tugas yang masih dalam proses yang tiba-tiba saja hilang bagai ditelan bumi, tapi kata orang itu maklum.
Namun, sekali lagi. Dia masih punya rasa bersalah terhadap seseorang, kala itu dia benar-benar bodoh—tak berani bicara apapun, lalu dengan begitu saja dia pergi dan sampai sekarang Athaya tak tahu dia kemana.
"Athaya?" yang dipanggil menoleh, seorang wanita cantik dengan tubuh tegap tersenyum manis ke arahnya, sudah ratusan kali ia melihatnya seperti itu dan berkali-kali juga ia terpesona.
"Gak ikut foto-foto di luar? lagi rame tahu," Tari mencabik sambil membenarkan letak medali di lehernya. Athaya terkekeh melihat tingkah pacarnya itu.
"Bentaran Tari, kamu gak mau menikmati kelas ini buat terakhir kalinya?" Athaya mendekat. Tari menghembuskan nafas berat, dirinya hari ini sangat cantik dengan setelan kebaya coklat muda dan sanggul rambut kecil di sana.
"Ini pertama kalinya aku ngelihat kamu pake jas. Kita belum foto tau," kata Tari.
"Ya udah ayo foto," Athaya mengeluarkan ponsel dari saku jas-nya lalu mengarahkan ke kamera depan sebelum kamera menangkap gambar mereka berdua.
"Kamu gak kangen Ivana?" atau dari tadi Tari bisa menebak isi pikirannya? "kenapa tanya Iva?" Athaya menyimpan kembali ponselnya.
"Gak tau kenapa Ath, aku kangen dia. Aku ngaku kalau aku kangen sama dia, apalagi kita berpisah karena hal yang konyol," Tari menjawab.
"Nanti kita bicarain lagi ya? keluar yuk?" sambil menggandeng tangan Tari Athaya mengajaknya ke luar kelas untuk menikmati acara yang ada.
Sebenarnya susunan acara sudah selesai. Hanya tersisa beberapa yang berfoto ria membuat kenangan, saling memberi ucapan selamat, dan lain-lain lagi jenisnya.
__ADS_1
Sementara di lain tempat, Iqbal sedikit mendongak ke arah langit. Ya! seperti namanya, Langit... apakah anak itu kembali melanjutkan sekolahnya setelah pertemuan terakhir mereka yang terlihat berantakan.
Selain Langit ada Ivana, Iqbal heran dengan dirinya sendiri, mengapa bisa dia masih mencintai gadis yang dilihat saja sudah tak ada wujudnya? dia menghilang bagai ditelan bumi, benar-benar tak ada kabar apapun.
"Asep!" Don Don memeluk erat Iqbal yang sedang merenung, sambil sesak nafas Iqbal mencoba berontak dari pelukan si tubuh gempal Don Don, "Don udah sesek napas," katanya.
"Huaa Asep gue bakal kangen banget banget banget banget sama lo. Jangan lupain gue ya? nanti kalo misal lo nikah jangan lupa undang gue. Nanti kalo udah punya anak kita nikahin," kata Don Don.
"Lepaaas," saat pelukan itu merenggang, Iqbal baru bisa bernafas lega, tak cukup sampai disitu, Vino dengan berbagai macam jenis bunga di tangannya menghampiri dengan Arini disampingnya.
"Sumpah lo kayak kuburan tau gak, banyak amat kembangnya," hardik Don Don.
"Buket goblok!" sargah Vino cepat.
"Iya nih, ayang. Bisa-bisanya buket dari orang lain di terima padahal udah punya pacar," Arini mengembangkan pipi gemas.
"Duh ayang, meskipun Vino banyak yang nge-fans tapi di hati Vino cuma ada Arini doang," Arini yang memang gampang baper langsung meleleh dibuatnya, "ih Vino...makin sayang deh..." kata Arini manja.
Iqbal menyipitkan mata. Apa mungkin Arini sudah tau kabar soal Ivana? haruskah dia tanya itu sekarang? atau...tidak. bukan waktunya?
"Gue kira gandeng cewek lo, eh taunya masih jomblo," celetuk Don Don pelan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Damar. "ngaca itu perlu ya!" balasnya agak kesal.
Sebenarnya tujuannya ke sini, untuk menyampaikan banyak hal. Perlu diketahui, Damar itu orangnya receh tapi gampang mewek, seperti sekarang ini, bisa-bisanya dia merasa sedih tiba-tiba.
"Lo kenapa lo?" Iqbal bertanya dulu, hanya dibalas gelengan cepat dari Damar.
"Sedih karena gak dikasih buket? nih gue ada banyak, mau satu?" Vino mencoba berbaik hati dengan menyumbang satu buketnya untuk Damar, cowok itu menolak, "gue juga punya yang kayak gitu, gue cuma..."
Dia berhenti, membuat yang lainnya sabar menunggu, Damar menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kita jangan sampe asing ya?"
Semua yang tadinya heran menjadi ikutan berkaca-kaca, "gue tau kok, kalo gue itu orangnya rese, jangan lupain gue ya?" ucapnya tanpa menoleh.
"Ya...ya nggak lah. Kita bakal selalu ada kok buat lo sama yang lain. Kayak sama siapa aja lo," jawab Don Don bijak.
"Tapi kan, setiap pertemanan ada akhirnya. Belajarlah dari pengalaman seseorang, itu bukti kalau orang lama bisa dikalahkan dengan orang baru,"
__ADS_1
Mendengar kata-kata Don Don entah mengapa yang mereka pikirkan adalah kisah dari Ivana dan Tari. "Ngomong apa sih lo? sok sokan mau sedih sedihan. Gak ada yang mau ningglin lo kok, katanya mau kuliah di tempat yang sama juga." kata Iqbal
"Oh iya," suasana yang tadinya haru biru berubah menjadi tawa pelan akibat celetukan Iqbal, anak itu sedikit hebat mencairkan suasana.
"Tapi kan, kenangannya gak bisa diulang Asep, pasti kangen banget sama suasana sekolah kayak gini," Damar melanjutkan.
"Yang udah biarin berlalu, ini waktunya kita ukir mimpi kita, Dam. Sudah saatnya kita serius, dunia perkuliahan pasti lebih berat dari ini, ya gak guys?" papar Vino.
"Yoi, intinya harus saling menyemangati lah, jangan sampai kita hilang kontak nanti kalau sudah ngejar mimpi masing-masing," Don Don menyetujui.
"Tumben mantan ketua OSIS jadi bijak kayak gini," Iqbal menyelutuk ringan, "wajarlah kan pernah jadi ketua OSIS SMA Dharma Bhakti, haha..." canda Vino.
Setelahnya mereka berfoto ria bersama, sesekali bercerita tentang awal mereka bertemu sampai pada detik ini, tentu saja tak mudah, apabila telah datang waktunya pada pembahasan Langit, mereka seketika diam.
"Gimana kalau kita cari Langit," kata itu reflek dikeluarkan Vino yang setelahnya mendapatkan tatapan tak enak dari yang lain.
Salahnya membahas yang tak seharusnya dibahas. Tanpa menimpali kata itu, mereka kembali tertawa mengalihkan topik seakan-akan tak terjadi apapun.
...--...
"Kamu cantik Tari," ucap Athaya tepat disamping telinga Tari.
Cowok itu menatap netra hitam Tari dengan sayang. Orang tua mereka sudah pulang sedari tadi, mereka diberi izin untuk bersenang-senang terlebih dahulu.
"Kalau dulu pas aku masih pakai kursi roda?" kata Tari sedikit bercanda.
"Cantik juga," jawab Athaya cepat, setelahnya fokus pada jalanan depan saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Aku mau ngomong sesuatu, tapi kamu gak boleh marah," kata Tari sambil menatap lamat Athaya. Cowok itu menoleh sekilas sambil menautkan alis bingung.
"Ada apa?" jawabnya. Tari menatap lurus ke depan sebelum berbicara, "aku sudah lama pengen ngomong ini, tapi... Ath..."
Athaya menengok sekilas, Tari membuang nafas perlahan sebelum melanjutkan.
"Ayo cari Ivana."
__ADS_1
...--...