ATHAYA?

ATHAYA?
62- Bertemu Kembali


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 12 tengah hari saat Iqbal berhenti di pertigaan lampu merah, memang sungguh perjuangan yang bodoh dengan mengandalkan aplikasi google maps untuk mencari sekolah dengan seragam merah marun untuk kota sebesar ini.


Apakah ia langsung menyerah padahal baru saja berjuang sehari? Orang macam apa itu?


Suara klakson memberhentikan lamunannya, rupanya lampu sudah beralih hijau menyala. Ia segera tancap gas, pergi entah kemana.


Apakah yang ia lakukan ini terkesan terburu-buru atau bagaimana? Hai Iqbal! Ini baru sehari! Dan ia tahu ia sangat merindukan gadis itu, entah bagaimana caranya ia menerobos masuk dalam pikirannya dan dengan riang memenuhi semua isi otaknya.


Ia tancap gas makin kencang di bawah teriknya matahari, suara klakson dari kendaraan lain sama sekali tak membuatnya goyah.


Lalu,


"Hey!"


"Iqbal!"


Yang di panggil mengerem motornya tiba-tiba hingga membuatnya sedikit oleng dengan motornya, lantas membuatnya jatuh lumayan keras.


Suara berdecit dari pelbagai motor di belakangnya terdengar, lalu pengemudi belakang dengan cekatan turun dari motor memeriksa apakah Iqbal tidak mengalami luka serius.


"Sep? Lo gak kenapa-kenapa kan?"


Mendengar panggilan yang cukup familiar dia menoleh cepat, ia tak mengalami luka yang cukup serius. Mereka ada tiga orang, dan Iqbal rasa ia tahu.


"Sep! Jangan bengong doang lu! Lu ga papa kan?"


"Lu? Vino?"


Mendengar namanya di sebut, Vino membuka helm-nya cepat, di susul dua orang di belakangnya, ada Don Don dan Damar.


"Lu bertiga ngapain di sini?"


"Kita nyariin eluu!" Damar kali ini yang menjawab.


"Buat apa lo nyariin gue?"


"Lebih baik lo ikut kita sekarang,"


"Gue gak bisa,"


"Kenapa?"


"Gue mau ketemu sama temen gue,"


"Temen siapa?"


"Temen baru gue," ucap Iqbal sambil mencoba berdiri.


"Temen baru atau temen lama?"


"Apa maksud lo?"


"Ivana kan? Lu nyari Ivana?"


Iqbal sedikit terdiam di tempat, bagaimana dia bisa tahu sedangkan ia saja sama sekali tak pernah menceritakan ini pada siapapun.


"Ayo ikut kita, sep. Kita tau di mana Iva,"


"Kalian tau?"


Vino mengangguk mengiyakan, "ikut kita, kita hampir telat,"


Jika ini soal Iva, Iqbal tak bisa menolak lagipula mereka berteman tak mungkin mereka menipu Iqbal.


Motor mereka melaju kembali kali ini Vino yang memimpin dengan Iqbal yang berada di antara Don Don dan Damar. Kali ini tempatnya cukup jauh dan jika tak ada mereka mungkin Iqbal tak akan melewati jalan itu.


...--...


Hari kelulusan Ivana.


Sekolah mereka tak sedikit mendapat cibiran dari siswa siswi nya. Bagaimana tidak? Setelah pengumuman PTN rata-rata semua sekolah sudah melaksanakan pelepasan siswa siswi mereka. Sedangkan di sini? Baru saja di laksanakan padahal PTN sudah beberapa hari yang lalu di umumkan. Tergolong lambat.


Hari ini dirinya nampak cantik dengan kebaya hijau sage yang di kenakan, proses kelulusan telah di laksanakan dari pagi, dan hari ini Ivana hanya duduk diam di sebuah bangku indoor yang di gunakan untuk prosesi kelulusan.


Ia menunggu kedatangan Sefi yang katanya mengambil pesanan donat tiga dusnya. Rencananya, Ivana akan membagikan donat donat itu pada orang orang yang dia sering temui di pinggir lampu merah saat perjalanan pulang. Sebagai bentuk syukurnya karena telah lulus dari SMA.


Hari ini dia bahagia, persetan dengan segala ***** bengek bahwa dirinya sering tidak di anggap oleh teman-temannya dan yang lainnya. Tadi malam ia coba merenung untuk kesekian kali atas keberuntungan nomor tiga yang dia akui.

__ADS_1


Setidaknya dia masih punya teman.


"Iva!"


Dan ada satu hal yang membuat Ivana sedikit menarik bibirnya karena lucu. Ya! Di sini semua orang hampir mendapatkan sebuah buket bunga entah dari pacar, sahabat atau keluarga. Namun, tidak untuk dua orang ini yaitu Iva dan Sefi yang hanya dikalungi medali kelulusan serta rapor hasil belajar mereka.


Untuk waktu yang cukup lama Ivana menyadari bahwa kelulusan itu bukan hanya sebatas di beri hadiah bunga agar orang itu merasa bangga. Namun, perjuangan di balik itu juga perlu perhitungan bukan? Atau... ya, mungkin orang orang mengekspresikan perasaannya melalui bunga itu.


"Ini, Va. Pesenannya,"


"Makasih, Sef. Ini uangnya," ucap Iva sambil memberi lembaran uang berwarna biru pada Sefi.


Gadis itu sedikit terbelalak, "Va? Ini kebanyakan,"


"Buat lo. Makasih ya,"


Dirinya seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ada yang merasa janggal di mata Ivana, "Sef, lo gak papa kan?"


"Iya, gak papa. Va, kayaknya aku mau balik dulu deh. Soalnya aku ada urusan,"


Dua detik setelahnya Ivana mengangguk, "Bo-boleh,"


"Makasih ya Va?"


Ivana mengangguk, "Ya, hati-hati,"


Ivana menerimanya dengan senang, siapapun termasuk teman-temannya dulu boleh mengatainya jahat, walau sebenarnya tidak begitu. Ia hanya lelah dengan segala sesuatu yang terjadi.


Bahkan sampai sekarang, saat dia merasa duduk termenung di sini. Sendiri. Padahal ia rencananya ingin mengajak Sefi ikut merayakan kelulusan ini.


Iva membuka bingkisan donat itu, tak spesial, hanya donat polos di baluri bubuk putih yang agak dingin. Ia mengambilnya satu sebelum diarahkan ke mulutnya yang kering dari pagi tadi.


Satu air mata berhasil lolos, entah mengapa dia sekarang ingin menangis sejadinya, ia tak pernah membayangkan sebelumnya kalau hidupnya serumit ini.


Di tengah keramaian ia merasa sendiri, teman-temannya bersuka cita dia sendiri, teman-temannya tertawa dia sendiri.


Dadanya sesak menahan semua beban pikiran, ia tak tahu apapun dengan kejadian itu. Apa? Mengunci Mentari di gudang lalu membiarkannya di lecehkan? Tak tahu menahu soal permasalahan antara Athaya dan Langit lalu dia yang di sangkut pautkan.


Athaya mati-matian meyakinkan Ivana kalau dia masih mencintainya. Tapi apa, dia pergi! Bersama Mentari yang ia yakini adalah sahabat terbaiknya di dunia ini. Lalu apa Tari? Apa dia pikir semua waktu yang di habiskan bersamanya adalah omong kosong belaka?


Persetan! Sialan!


Wajah yang sudah lama tak dia jumpai, tak terlalu akrab dengannya namun kenapa ia terlihat sangat bahagia?


Orang itu membawa satu buket mawar berwarna merah yang ada di tangannya. Wajahnya seperti menyimpan kesedihan yang tak berujung. Rindu yang akhirnya terbalaskan lewat keadaan yang tak tenang.


"Iqbal?"


"Happy graduation, Ivana. Congratulations..."


Detik itu juga Ivana menangis tersedu-sedu, sudah lama ia tak mengekspresikan perasaan ini. Karena yang selalu ia pikirkan hanyalah menangis hanya untuk orang yang lemah, dan Iva tak seperti itu.


"Iqbal..." tangisnya.


"Gue di sini, Va," Ivana memeluknya begitu erat, air matanya tak berhenti menghujani hingga membuat jaket hitam Iqbal basah karenanya.


"Gue capek, Bal. Demi apapun gue capek..."


Vino, Damar, Don Don memperhatikan dari jauh, kata Vino biarlah mereka menumpahkan rindu, kita cukup di belakang untuk melihat betapa hancurnya Iva sekarang dan berapa persen kira-kira rindu yang di tabung Iqbal selama ini.


Iqbal tak merasakan apapun lagi selain jantung yang berdegup kencang, baru kali ini dia memeluk dan di peluk seorang wanita seberat ini selain ibunya, ia membiarkan peristiwa itu terjadi sesuai alurnya, sebelum kembali ke keadaan normal.


Mereka memutuskan duduk di bangku taman— jauh dari keramaian pun tanpa Vino dan duo perintilannya, sejenak Ivana diam, sambil menatap bunga pemberian Iqbal di pangkuannya.


"Dari mana lo tau kalo gue ada di sini?" Ivana memulai obrolannya.


"Dari Vino,"


"Vino?"


Iqbal mengangguk, "Tadi dia di luar sekolah lo, katanya gak mau masuk,"


Keadaan kembali hening setelah Ivana mengangguk.


"Tujuan lo apa?"


Iqbal berusaha menormalkan nafasnya yang dari tadi berkecamuk, "Gue nyari lo, Va."

__ADS_1


"Buat apa?"


"Nggak... Gimana sekolah di sini," bodoh! Dia tak berani bicara banyak.


"Enak, mereka baik,"


"Gue kesini mau ketemu sama temen baru gue. Temen kuliah, terus malah lihat lo di sini jadi gue susul,"


Mata Iqbal mengarah pada pojok kanan atas, melihat dedaunan hijau yang bergesekan di terpa angin, kondisi di luar mungkin sudah agak sepi, mengingat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Acara resmi selesai.


"Lalu Vino ngapain?"


Ivana menatap Iqbal yang masih termangu dalam lamunannya. Ia berkali-kali bicara pada pikirannya katakan Iqbal! Katakan bahwa kamu mencintainya, kamu merindukannya, bukan diam saja seperti orang bodoh begitu!


"Bakal gue kasih tau nanti."


...--...


Vino yang sudah agak ngantuk kembali membuka matanya lebar-lebar saat melihat Don Don dari tadi senyum senyum sendiri, dia jadi geli sendiri di buatnya. Di warung saat itu hanya ada mereka bertiga. Kalau ramai mungkin mereka mengira kalau Don Don ODGJ.


"Ngapa lu?"


Don Don tersadar, lalu kembali tersenyum, "Nggak, cuma bayangin di dalem si Asep lagi ngomong beduaan sama Iva, nanti dia ngomong kek gini 'Iva, sebenarnya aku udah lama suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?' Cailahhhh!"


"Harusnya yang lebih tegas gak sih? Kayak gini 'konsonan langit yang akan menjadikan takdir cinta kita menjadi hamparan bahwa saksi ini detik ini secara Sinaran ultrafeng yang mulai di naungi oleh greenday' cailahh!"


"Yee, lu kira apaan? Puisi sih menurut gue 'engkaulah sang wanita yang di takdirkan untukku wahai bidadariku,"


Di tengah keributan Damar dan Don Don soal bagaimana cara Iqbal nembak Ivana, dia rupanya tengah di sibukkan dengan Arini. Ya, pacarnya itu mungkin sekarang sedang mempertanyakan di mana keberadaan pacarnya itu.


Berkali-kali juga Vino menjelaskan kalau dia sedang berada di rumah temannya. Namun, sepertinya gadis itu mempunyai indra ke-7 yang tak bisa langsung percaya pada Vino.


"Aduh!"


Suara deringan telepon terdengar, Arini yang menelpon, Vino menjauh dari keributan dua temannya, lalu dengan cepat tapi ragu mengangkat telepon itu.


"Iya sayang?"


"Kamu jangan bohong ya? Kenapa dari kemarin aku ajak kamu ketemu kamu selalu gak bisa?"


"Aku ada tugas sayang, jadi emang gak bisa,"


"Tugas? Kamu kan udah lulus! Gimana sih, kamu bohong ya sayang?" suara Arini terdengar kecewa.


"Bukan, bukan, aduh! Aku lagi di luar kota,"


"Di mana?"


"Di sana, gak jauh kok,"


"Jangan gitu... emang kenapa sih kalo aku tahu, ada sesuatu emangnya?"


Vino berfikir sejenak, benar juga! Lagi pula ini bukan soal kepentingannya, ini soal Iqbal, kanapa dia harus sembunyi-sembunyi?


"Aku di Bandung, puas kamu?"


Arini diam sebentar, seperti sedang mencerna sesuatu. Lima detik setelah itu ia kembali menyahut.


"Ngapain kamu ke sana?"


"Aku la-"


Telepon terputus.


"Halo? Halo? Vino?"


Dari Bandung sana, Vino mengumpat, tiba-tiba baterainya habis, mungkin efek dari kemarin yang tak pernah ia isi daya.


Dari Jakarta, Arini memikirkan sesuatu, apa mungkin Vino tahu pembicaraannya dengan Iqbal sekian hari lalu itu?


"Kalo emang iya, pantesan waktu itu gue nyium aroma parfumnya si Vino. Duh! Kenapa gue gak curiga sih?"


Ia melanjutkan monolognya, "Tapi kalau dia tahu pun, gak akan bahaya juga sih, ngapain gue khawatir ya?"


Ia duduk di kursi belajarnya lalu menelpon seseorang.


"Halo, Ayah?"

__ADS_1


...--...


Minta dukungan dengan bintang ya kakak :)


__ADS_2