
"Athaya?" cowok itu menoleh saat mendengar suara seseorang memanggilnya, saat netranya menangkap sosok Iqbal yang berlari ke arahnya ia tersenyum.
"Hey, ada apa?" jawab Athaya saat Iqbal sudah ada di sampingnya.
"Nyokap gue pengen ketemu lo, lo mau nanti malem dateng, sekalian ngajak tante Zahra gak apa apa katanya," ucap Iqbal.
"Oh gitu? oke deh, ntar malam gue dateng sama nyokap," mereka berjalan beriringan melewati para siswa yang hendak pulang juga.
"Lo ngapain tadi, kok abis dari arah sini?" tanya Iqbal, ia memasukkan tangannya ke saku celana, walaupun masih siang tapi suasananya terasa dingin.
"Tadi abis ke ruang kepala, ada urusan sebentar, ini mau ambil tas," jawab Athaya ramah.
"Lo langsung pulang?" Athaya menyambung yang langsung diangguki Iqbal, "iya, tadi mau nongkrong dulu bentar, tapi anak-anak pada sok sibuk, besok aja katanya"
Setelah setengah menit berjalan, dari arah yang berlawanan dari mereka Ivana melambai yang kemudian di balas Athaya. Cowok itu melirik ke arah Iqbal untuk mengajaknya mendekat, Iqbal menurut meski ia bakal tahu alur yang akan terjadi.
"Hay Athaya," Iva menyapa dulu, saat ia melihat Iqbal yang ada di samping Athaya—dirinya mengangguk sekilas "Hay, Iqbal"
Iqbal membalas dengan anggukan pula, ia sempat melirik ke arahnya—terlihat matanya yang tak lepas dari Athaya, rupanya Ivana sedang jatuh cinta kedua kalinya pada Athaya.
Tatapan yang begitu tulus membuat Iqbal seakan-akan jatuh, membuat ia berpikir tentang bagaimana beruntungnya seorang Athaya dicintai oleh gadis tulus macam Ivana.
"Kayaknya mendung ya?" Ivana berargumen setelah melihat langit yang terlihat gelap.
"Iya, kayaknya mau hujan deh" Athaya mengiyakan.
"Cepetan pulang yuk," ajak Iqbal, saat mereka mulai melangkah Athaya tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Kenapa?" tanya Iqbal, "kayaknya gue perlu air nih. Tas gue gak ada,"
Ivana melonjak, "oh iya! Athaya sori gue kelupaan tadi abis nganterin Tari ke mobilnya gue langsung kesini,"
"Iya, gak papa kali. Gue ambil dulu ya? kalian tunggu sini," tanpa berkata apapun lagi Athaya setengah berlari melewati koridor yang mulai sepi.
Di sini lah Iqbal, saat Athaya meninggalkan Ivana sendirian bersamanya tanpa menaruh rasa curiga, kalau seandainya Athaya bisa membaca pikiran dan hatinya mungkin ia tak akan membiarkan itu terjadi.
Ia berniat hendak pergi sebelum suara Ivana memecah keheningan antara keduanya, "duduk dulu yuk, Bal. Kelas kita jauh," Iqbal terjebak dalam pikirannya, ia menyetujui—duduk berdampingan dengan jarak yang dekat dengan Iva.
Kalau saja ia menjadi miliknya, mungkin ia akan jauh lebih dekat dari ini, bagaimanapun juga seluruh hati yang dimiliki Ivana sekarang bernama 'Athaya' bukan 'Iqbal'.
"Lo gak barengan sama Tari kenapa?"
Iqbal menekuk padat wajahnya, pertanyaan aneh macam apa itu? padahal dari dulu jelas-jelas rumah Iva dan Tari beda arah! ia terlanjur gugup untuk urusan sepele seperti ini.
"Kita beda arah, kalo satu arah mungkin kita udah barengan, ya walaupun keluarga Tari udah ngomong bakal jemput gue sih, tapi ya tetep gak enak juga," Iqbal menghembuskan nafas lega, rupanya Ivana membalasnya santai.
"Berarti sejak malam itu lo udah jadian sama Athaya ya?" Iqbal memberanikan diri untuk bertanya.
"Lo tau?" terselip wajah kaget saat Iqbal melirik Ivana, wajar karena tak banyak orang tahu hubungan ini, Iqbal berusaha santai.
"Tenang aja, gue gak cepu kok, lagian yang ngasih tau Athaya nya langsung,"
Iva mencabik, "tuh orang emang suka ngumbar rahasia," Iqbal tersenyum kecut, "gak papa kali, itu tandanya dia bangga punya lo," Iva menoleh ke arah Iqbal membuat wajahnya memerah malu.
__ADS_1
"Kalo lo? gak punya cewek kah?" Ivana bertanya yang dibalas helaan nafas berat, "belum,"
Iva sedikit tertawa, "cari lah? tipe lo yang kayak gimana?". Saat Iqbal memandang langit yang menghitam mendung, ia tahu kalau semesta menginginkannya dibuat tak tenang.
Kayak lo Va, gue suka lo banget. Saat hatinya memilih untuk pasrah tercabik saat ia tahu kalau ia tak memberikan perjuangan sama sekali buat Iva, ia hanya fokus pada perasaannya sendiri yang menitik beratkan rasa malu dan ge-er.
"Dia suka sama gue dan gue suka sama dia. Dia setia sama gue dan gue juga setia sama dia. Dia peduli gue dan gue juga peduli ke dia" ia tenang, tak muluk-muluk memberikan penjelasan sana sini.
Ivana ikut menatap langit, lalu mengangguk, "oke juga tipe lo, out of the box, yang penting sama-sama peduli," Iqbal menjatuhkan pandangan pada Ivana, saat gadis itu menoleh, ia semakin jatuh.
Sekarang ia ingin menangis sekencangnya, dimana tak ada orang yang mendengarnya. Dan saat ia sadar ia terbawa dalam arus yang salah, kembali menoleh saat derap langkah Athaya terdengar, tak ada artinya berharap.
"Pulang yuk,"
Katanya sebelum semua pergi meninggalkan tempat itu.
...--...
"Ngomong apa aja lo sama Iqbal?" Athaya bertanya dari atas motornya, Iva menggeleng "kenapa? cemburu ya?"
"Yee, siapa juga yang cemburu, gue nanya"
Iva tertawa, "nggak ngomong apa apa tuh, cuman ngobrol biasa aja sebagai teman,"
"Btw, kita ngomong masih gue-lo nih?"
"Iya, gini aja"
"Kenapa?"
"Ohh, gue tau. Pasti Iqbal kan yang ngasih tau lo kalau kita jadian," Athaya melirik Iva dari kaca spionnya.
"Dih, ge-er"
"Apaan? bener kan kata gue?"
"Gak tau," jawab ivana, Athaya menggigit bibir lalu kembali fokus ke perjalanan.
"Eh, Ath?" ucap Iva tak lama setelahnya.
"Hm?"
"Hujan gak sih?" Iva mengadahkan tangan ke atas, rintikan hujan lambat laun mulai terasa deras. Setelah Athaya menyadari hujan akan benar-benar turun, ia tancap gas—berusaha lebih cepat dari hujan itu sendiri.
"Neduh dulu, Athaya. Hujannya gede-gede, sakit" Athaya mengangguk samar lalu membelokkan stang motor di halte bus disana.
Mereka turun dari motor dan berteduh, bajunya sudah setengah basah, sementara hujan tambah deras bahkan disertai angin yang lebat.
"Lo kedinginan?" tanya Athaya cemas karena melihat wajah Iva yang tiba-tiba pucat.
"Nggak terlalu, gue emang gini kalo kena hujan, dikit-dikit sakit" balasnya agak memekik karena suara hujan yang terdengar.
"Sini, peluk gue,"
__ADS_1
"Apa?" Ivana mengerutkan dahi karena tak mendengar jelas suara Athaya, ia berdecak gemas sebelum tangannya memeluk tubuh Ivana yang kedinginan.
Gadis itu melonjak, kehangatan menjalar saat tubuh Athaya memeluknya erat. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Athaya sambil memejamkan mata, di sana samar ia mendengar detak jantung Athaya yang terdengar berirama.
Ia merasa hangat, seperti pelukan ayahnya ketika ia sedang kedinginan, menghambat dingin masuk lebih jauh ke tulang-tulangnya.
Athaya memejamkan mata, menikmati segala yang terjadi, bertahun-tahun ia tak jumpa dengan Ivana, dan saat seperti inilah yang ia tunggu-tunggu, ketika ia menjadi tempat bagi Ivana agar terasa lebih nyaman.
...--...
Zahra dan Athaya menepati janji untuk mengunjungi rumah Iqbal, tak ada yang serius dalam obrolan 30 menit itu, merek menikmati masakan Anggi sebelum Athaya dan Iqbal memutuskan untuk memisahkan diri dari sana.
Di teras, Iqbal dan Athaya berbicara banyak hal, mulai dari masalah sekolah hingga rencana kuliah untuk kedepannya.
Saat di tengah pembicaraan Athaya mengerutkan dahi, dari arah luar gerombolan motor seperti terparkir di depan rumah Athaya.
"Kayaknya ada suara motor deh," kata Athaya.
"Iya, siapa?" tanya Iqbal pada dirinya sendiri.
Ia mengedarkan pandangannya, saat di sana ia menemukan mang Asep yang tengah lewat "mang Asep?"
Lelaki paruh baya itu menoleh setelahnya Iqbal melanjutkan "bisa minta tolong lihatin siapa nggak, mang?"
"Yang di depan, den? bentar ya den?" Iqbal mengangguk, mang Asep pergi keluar namun tak kunjung kembali lagi.
Iqbal menaruh curiga, ia pun berinisiatif pergi sendiri disusul Athaya. Saat sampai, ia sempat terkejut karena melihat beberapa cowok disana.
"Woy!" Iqbal memekik.
Athaya melihat dari belakang, setelahnya suara-suara para lelaki mendominasi disana.
"Hallo Asep, Athaya!" Vino dengan cengirannya langsung mengajak tos Iqbal dan Athaya, beberapa detik ia bingung sebelum akhirnya berdecak sebal—rupanya Vino, Don Don, Damar, dan Langit disana.
"Parah lo! nongkrong gak ngajak-ngajak!" Damar ikut-ikutan.
"Tante Anggi, temen-temen As–, eh kok Asep sih, temen-temen Iqbal dateng nih,"
"Mau minta makan kan lo?"
"Pake nanya," Don Don langsung melenggang masuk ke rumah Iqbal, begitupun teman-temannya, dari mana bisa mereka tahu?.
"Lo ngasih tau ya?" tanya Athaya.
"Kagak."
"Seru nih, rumah rame," Athaya tersenyum lebar.
Iqbal menyunggingkan senyum, benar juga, harusnya ia tak hanya mengundang Athaya, tapi teman-temannya yang lain juga.
Saat Athaya masuk Iqbal menyusul, sebelumnya mengucapkan terima kasih pada mang Asep untuk ketersediaannya tadi.
"Makasih, mang Asep" ucapnya sambil tersenyum ramah.
__ADS_1