
Malam sudah lumayan larut saat Ivana baru saja selesai dengan pr nya, ia berbaring di atas ranjangnya dan meraih ponsel yang dari tadi sudah ia cas—semoga saja sudah penuh
Pikirannya tiba-tiba berkelana pada kejadian pagi tadi, pesan dari Athaya belum ia balas, dan ia juga tak bisa membohongi diri sendiri soal kekhawatirannya pada Athaya saat selesai pertandingan
Mengumpulkan nyali yang cukup untuk menghubungi Athaya terlebih dahulu lewat chat, supaya ia dapat tidur nyenyak malam ini
Athaya
^^^Besok masuk skolh g?^^^
Atau mungkin orang itu sudah tidur? 1 menit, 2 menit. Ah! mengapa ia jadi mengharap untuk mendapat jawaban dari Athaya? sudah jelas-jelas ini larut malam, ya pasti sudah tidur lah!
Ivana mematikan lampunya dan menarik selimut bersiap tidur. Namun, setelahnya ia mendapat notifikasi dari ponselnya dan otaknya reflek menerka bahwa itu balasan dari Athaya
Ia meraih ponsel dari nakas samping tempat tidurnya, sinar cahaya biru memancar dari sana saat ponsel itu kembali terbuka. Tak ada balasan apapun. Kecuali,
Mau dibelikan kuota internet oleh teman/keluarga?
Balas SMS ini dgn: YES untuk minta paket 500 MB Rp.4rb.
"Sialan!"
Rupanya surat cinta dari kartu perdananya, setia sekali memang, tak ada yang setia men-SMS nya setiap hari walau tak pernah ia balas
Ia lupakan pesan itu dan mencoba memejamkan mata–lagi
Ting!
Kali ini Ivana tak akan tertipu oleh pesan itu, enak aja! emang ia pikir Ivana tak punya kuota apa?
Ting!
"Berisik banget sih tuh operator! ganggu orang aja." Tak sampai disana suara ringtone hp nya berbunyi setelah pesan itu sampai kepadanya beberapa saat
Perasaan gadis itu mulai tak enak, buat apa operator kartu perdana itu menelponnya malam-malam begini?
Dan demi apapun itu! rupanya orang yang baru saja ia pikirkan beberapa saat lalu-lah yang menelpon. Buat apa Athaya menelponnya? Ivana malah jadi menyesal karena menanyakan kabarnya tadi
Ia menggeser panggilan itu untuk menjawab, saat ponselnya itu ia dekatkan di telinga, ia samar mendengar suara menguap Athaya dari seberang, apa dia bangun tidur?
"Ada apa?," suara dari sana menyapa dahulu
"Ya, lo yang kenapa, kok tiba-tiba telpon?" Ivana membalas
"Ya abisnya lo ngechat duluan tadi,"
"Ya kalo gue ngechat lo juga bisa bales lewat chat kok, nggak perlu nelpon,"
"Ya udah, lo mau apa? mau nanya kabar gua? gua baik-baik aja kok, besok juga sekolah,"
"Hah! Sekolah?, lo istirahat dulu lah, kalo sampe parah gimana?"
"Khawatir kan lo? lo gak pernah liat atlet ya? kayak gini mah biasa terjadi, lo nya aja yang kagak nyadar,"
"Ya kan gue antisipasi, siapa tau nyampe di amputasi, kan ada bakat jadi pesilat orang yang jatuhin lo tadi" canda Ivana sambil sedikit tertawa
"Eh, enak aja lo ya, tuh orang kalo tadi ngajak by one sama gue juga gue ladenin, lagian ngapa sampe gak masuk sekolah? gue cuma cedera biasa kok nggak sampe pingsan juga,"
"Ya deh, udah itu aja, gue tutup ya?"
"Eh, Va tungguin,"
"Apa?"
"Lo mau gak besok gue jemput,"
"Jemput?"
__ADS_1
"I-iya maksudnya, gue pengen aja barengan sama lo, itu tujuan gue nelpon lo malem-malem gini,"
Suasana yang tadinya santai tiba-tiba terasa canggung, hening beberapa saat menyelimuti keduanya, hanya suara jangkrik dari kejauhan yang terdengar
"Va? mau gak,"
"Nggak tau sih Ath,"
"Kenapa emang? lo nggak malu kan kalo boncengan sama gue?"
"Enggak Ath, cuman, gue gak pernah boncengan sama cowok manapun selama sekolah disana, dan kayaknya lo itu sama deh kayak Vino dan geng nya, fans lo banyak," Ivana mencoba berkata jujur
"Kok gitu? Va dengerin ya? gue ini anak baru yang belum banyak temen, lagi pula siapa mereka berani ngatur-ngatur hidup gue, udah ya? besok gue jemput lo,"
"Tapi, Ath-"
Panggilan terhenti saat Athaya baru menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja hatinya berdegup kencang, ia senang tapi sekaligus khawatir, seperti ada yang salah tapi semua jelas baik-baik saja. Aneh
...--...
Beberapa detik setelah Ivana men- share lock, ia mulai merasa gelisah, apa dia batalkan saja? tapi kasian juga kalau Athaya sudah sampai sini
"Nungguin apa sih, Va? ojol ya? kan udah beberapa kali mama bilang biar papa aja yang anter, atau mau pake mobil sendiri?" ucap Risa—mama Iva
"Nggak ma, Iva mau dijemput temen,"
"Wah temen siapa? kok nggak pernah cerita?"
"Iya ma, dia anak baru,"
"Cewek atau cowok?"
"Cee..ce...wok" ucapnya gugup
"Ha? yang jelas Ivana, cewek atau cowok,"
"Cewek, mungkin"
"Apaan sih ma? udah sana, tuh papa nyariin mama,"
"Kamu yang apa sih Va? huhh..."
Risa membuang arah ke pekarangan rumah, beberala detik setelahnya sebuah motor terdengar terparkir dari arah depan gerbang, saat netranya menyipit untuk memastikan, Risa mengangguk mengerti
"Oh, jadi cowok itu yang bikin kamu salah tingkah dari tadi subuh Va,"
Saat Ivana ikut menajamkan mata ke arah luar, rupanya sudah ada Athaya yang berjalan melewati pekarangan rumah sambil sesekali menyugar rambutnya ke belakang
"Ada ada aja kamu," Risa meninggalkan Iva untuk mengecek keluar
Ivana menghentak-hentakkan kaki nya pelan, ia malu sekali!
Saat sudah sampai depan pintu Athaya bersiap untuk mengetuk namun malah keduluan Risa yang memang sudah tahu akan keberadaannya
"Assalamualaikum, tante" Athaya menyalami Risa sopan
"Temennya Iva ya? Siapa namanya?"
"Kenalin tante, saya Athaya temen sekelasnya Ivana,"
"Ohh, ya udah kamu masuk dulu yuk, sarapan dulu," tawar Risa
"Oh, makasih Tante, tapi ini udah agak siang, boleh ketemu ivana?"
"Boleh, Va? ini temen kamu?" Ivana tak berani menatap mata Athaya saat sudah sampai di depannya, kenapa juga harus ibunya yang datang terlebih dulu, kan Athaya nggak bisa di briefing
"Tuh temen mu, orang ganteng gini kok bingung mau jawab cewek atau cowok," Ivana melotot dalam tunduknya, mama bisa-bisanya!
__ADS_1
"Ya udah, Iva berangkat dulu ma,"
"Loh, gak mau ngajak Athaya sarapan dulu?"
"Nggak maa, dia udah sarapan. Udah ya? Assalamualaikum" Ivana cepat-cepat menyalami punggung tangan Risa disusul Athaya yang tersenyum simetris sebelum mengatakan hal yang sama"
"Hati-hati ya, Athaya?"
"Siap tante, kami pamit dulu ya,"
"Iya,"
Risa melambai ke arah Athaya dan Iva walaupun tak dibalas oleh anaknya, "pantes dia salting," Risa berkata tak kepada siapapun
"Ada apa?" Fahri—suaminya bertanya dari arah belakang
"Ivana, berangkat sama teman cowoknya, salting dia,"
"Oh iya? kenapa gak beritahu papa?"
"Nggak keburu orangnya pergi,"
"Jadi inget masa muda ya?"
"Papa apaan sih, sana berangkat udah kesiangan loh," kilah Risa
Dari atas motornya Ivana berceloteh kesal sambil sesekali mencubit punggung Athaya kecil, "apa sih, Va?"
"Gue maluuuu"
"Buat apa harus malu? harusnya lo bersyukur dijemput sama cowok modelan kayak gue,"
"Dih! apaan?!" Ivana kembali mencubit pinggang Athaya kali ini agak kuat dari sebelumnya
"Auh, sakit anjrit!"
"Diem lo!"
Apa ujian yang akan Ivana hadapi saat sampai sekolah nanti tuhan?
...--...
"Anjir Ivana, dibonceng sama Athaya,"
Saat Iva membuka helm nya, semua bola mata memandang ke arahnya dari atas sampai bawah, "gue doain mata lo semua rabun!" batinnya kesal
"Udah yuk,"
"Eh!"
Iva reflek menghindar saat Athaya akan menggandeng tangannya, dadanya agak tersetrum sedikit, baru saja sampai di sekolah boncengan gini aja udah jadi pusat perhatian, apa lagi gandengan!
"Kenapa?" tanyanya polos
"Tangan lo," Ivana melenggang meninggalkan Athaya yang masih di belakang
Cowok itu mencoba menyamakan langkahnya dengan Ivana, sementara gadis itu terlihat seolah tak peduli . Athaya memasukkan tangannya ke saku celana sebelum berujar
"Mereka kenapa liatin kita kayak gitu ya?"
Ivana melotot, "ya karena lo lah!" tapi hanya ia ucapkan dalam hati
"Hai Athaya," segerombolan siswi menyapa Athaya bersama-sama, Athaya hanya membalasnya dengan senyum simetris yang mampu membuat gerombolan siswi itu melotot tak percaya
Ya! banyak yang tak percaya dengan kejadian ini, dalam 3 hari saja seorang anak pertukaran pelajar sudah jadi selebritis sekolah, tapi wajar saja selain pintar, tampan juga mendukung
Namun ada yang lebih tak percaya lagi, mata Iqbal tak henti-hentinya menatap kebersamaan ivana dan Athaya dari lorong OSIS, walaupun jika dilihat dari kasat mata Ivana tak terlalu nyaman di posisi seperti itu, tapi tetap saja, hati Iqbal seperti ditikam ribuan anak panah
__ADS_1
Dadanya bergemuruh, harusnya ia yang ada di posisi itu. Tapi, ia terlalu pengecut untuk disebut sebagai seorang lelaki, ia hanya memendamnya
"Sabar, Iqbal."