ATHAYA?

ATHAYA?
20-Terlalu Untukku yang Pemilih


__ADS_3

Setidaknya ia sudah berusaha, suatu hari nanti ia bisa mengirim pesan singkat pada Ivana tanpa embel-embel tanya tugas, memberi pengumuman yang tidak penting atau apalah itu


Yang jelas hati Iqbal sudah mode baja, alias sudah siap dengan segala kemungkinan kalau-kalau nanti saat di sekolah ia menemukan temannya Athaya sedang berboncengan dengan Ivana untuk kesekian kalinya


Grup anti stres


Vino


Kalian kalau ada masalah jangan sungkan buat cerita ke gue ya,


Don Don


Ada apa nih, kesambet lo? Wkwk


Damar


Iya nih, lagi ketimpa setan di malam jumat, tiba-tiba tanya begitu


Vino


Kampret lo pada! ditanya baik" malah jawab kek gitu lo. Gue cuman mau minta maaf, kalo seandainya gue pernah nyakitin hati lo pada


Damar


??????


Bro? lo gak kenapa-napa kan? Jangan nakut-nakutin gue anj


Don Don


Vino lo ada dimana? kalo ada di luar plis balik sekarang, kalo bawa motor hati-hati ya? jangan ngebut-ngebutan, jangan nerobos lampu merah kek biasanya


^^^Iqbal^^^


^^^Knp?^^^


Damar


Jgn jajan sembarangan bro, jaga kesehatan


Vino


Bikin jijik lo pada, ada apa sih?


Langit


Lah lu yang kenapa? Gak ada apa-apa tiba-tiba ngechat mau minta maaf, umur gak ada yang tau Vin


Vino


Lu kira gue mau mati gitu?


Don Don


Iya lah, gitu aja pake nanya

__ADS_1


Vino


Ngawur! kalian kira maaf-maafan cuma pas lebaran sama mau mati doang?


Langit


Ya udah jadinya lo mau apa nih?


Vino


Gak ga jadi gak asik lo semua


Damar


Iyaaaaaa, gue maapin, gue anak baik, rajin menabung, dan tampan


Iqbal menautkan alisnya membaca chat grup dengan teman-temannya, tumben banget Vino, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan orang itu, tak biasanya ia begini


Sementara di rumahnya Langit bersedekap di balkon sambil melihat bintang yang bertebaran di langit. Pikirannya tiba-tiba tak nyaman, kenapa Vino menanyakan hal itu? apa Vino melihatnya tadi? tapi apa iya?


"Nggak mungkin lah, kan bisa aja dia kesambet apa gitu, tapi juga gak menutup kemungkinan kalo lihat gue lagi cerita ke orang lain,"


Vino mengusap bahunya yang dingin sebab bergesekkan dengan angin, "lagi pula kenapa kalau gue cerita-cerita ke orang lain?," Langit berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "lain kali gue harus hati-hati, jangan lengah, tadi dia bilang mau pergi, harusnya gue tanya dia mau pergi kemana, bukannya diam,"


Saat malam semakin larut, Langit menutup pintu kamarnya. Setelah itu, tangannya mengambil sebuah foto keluarga di laci meja belajar untuk sekedar membaca sebuah nama yang tertera di balik foto itu


Rahsya Kurniawan, Zahra and our baby boy


Saat ia sudah menidurkan diri di kasur, dan mematikan lampu, Langit membuka ponselnya dan langsung mencari ikon galeri, dilihatnya foto yang sama saat ia berkunjung ke rumah Athaya beberapa hari lalu.


Foto yang ada ditangannya dengan foto yang ada di ponsel yang ia ambil di rumah Athaya itu tak jauh berbeda


Langit menyimpan kedua barang itu, ia akan melanjutkannya besok. Tak banyak yang diketahuinya, namun ia juga tak ingin berprasangka buruk pada siapapun. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya ia tertidur pulas


Dari luar suara rintikan hujan terdengar, aroma petrikor menembus dinding rumah Langit, sepertinya malam ini musik penghantar tidurnya adalah hujan


...--...


Melewati koridor kelas, Vino menenggelamkan tangannya—hendak melakukan rutinitas siangnya yaitu mengunjungi kamar mandi


Tak ada yang dilakukan disana, hanya memandang ke area kanan kiri yang tak ada pemandangan menarik, kata Asep Vino itu aneh, membuang-buang tenaga hanya untuk pergi ke kamar mandi yang letaknya di lantai dasar


Tapi ini lah hidup bukan? sekedar cuci mata dari tulisan-tulisan rumus kimia di kelas yang bikin kepala berasap


"Udah berkali-kali gue kesini tapi hawanya selalu sama, hmmm adem sekali,"


"Orang orang kok pada bisa ya nggak keluar kelas pada saat jam ***, nggak berasap apa tuh otak dengerin pelajaran mulu?" Vino berujar sendiri sambil mengelupas cat kamar mandi yang sudah rapuh


"Vino?"


Ia agak melonjak kaget saat suara seseorang memanggilnya, tak apa jika itu siswa sini, tapi kalau guru, bahaya, ia bisa ketahuan melakukan perusakan fasilitas sekolah


Rupanya wajah itu tak asing, Arini menyapa dengan buku paket ditangannya, dari arahnya berjalan sepertinya ia baru saja dari ruang guru


"Loh, Arini? lo ngapain?" Vino mendekat

__ADS_1


"Gue baru aja dari ruang guru bantuin pak Budi bawa buku paket, tapi ini ada buku paket yang kebawa, jadi gue bawa balik lagi. Lo ngapain?"


"Gu-gue? yaaa...biasalah anak gabut, absen ke kamar mandi dulu,"


Arini mengangguk sebelum kembali berujar, "oh ya? kemarin lo mau ngomong apa?". Vino kikuk sendiri, menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal


"Ada apa?" Arini kembali bertanya


"Besok aja deh,"


"Oke," setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Vino langsung mengalungkan lengannya ke pundak Arini yang membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan


"Eh ada apa?" Arini bertanya gugup


"Gue masih crush lo kan?" Vino melotot sambil memalingkan muka ke sembarang arah, kenapa tiba-tiba tanya hal seperti itu?


"Apa? gue gak denger?" Vino mendekatkan telinganya ke mulut Arini hingga membuat gadis itu sedikit menjauh sambil menggenggam bukunya erat


"Jadi..." Arini menggantung ucapannya, lalu dengan gerakan kilat mendekat ke arah Vino dan berkata, "iya." singkat. Dalam keterkejutan Vino, Arini berlari sekuat tenaga hanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu


Sementara Vino disana mengusap wajahnya kuat dan mengacak acak rambutnya sendiri. Cowok itu bersandar di dinding putih kamar mandi, ia seperti disengat listrik ratusan volt, benar-benar bisa membuatnya meninggal karena salah tingkah


"Arini," ia meninju tembok agak keras yang berakibat sedikit memar pada punggung tangannya, dan dengan hati yang berdegup kencang ia menuju kelas


Melihat wajah Vino yang cengar-cengir lantas menimbulkan hasrat bagi Iqbal untuk menimpuknya saat masuk kelas


"Aseeep...kali ini gue semangat belajar," Vino mulai berbicara setelah berhasil mendaratkan bokongnya ke kursi


"Udah gue bilang jangan ke toilet, kena tempel setan kan lo?" Iqbal berucap sambil memperhatikan papan tulis


"Kali ini bukan setan tapi bidadari," Vino nyengir sambil mengguncang bangku mereka, membuat Iqbal menunjukkan tatapan sinis, nggak bohong nih kayaknya, beneran kesurupan!


"Vino, yang dibelakang ngapain itu? jangan rusuh," guru perempuan itu agak berteriak melerai Vino yang sejak kedatangannya menjadi ribut


"Nggak kenapa-napa bu, lagi seneng aja," melihat cengirannya guru wanita itu hanya menggelengkan kepala heran lalu melanjutkan materi pembelajaran


Vino perlahan mendekat ke arah Iqbal lalu berbisik pelan, "fiks, gue udah move on dari Mentari,"


...--...


Ivana memainkan jarinya pelan, perasaannya dibuat campur aduk. Di sekolah tadi, Ivana terdiam mendengar celotehan Tari


"Dia masih suka sama lo,"


"Nggak, Tar,"


"Lo nggak percaya sama gue? Va, jangan sia-sia in Athaya, dia tulus ke lo, jangan sampai suatu saat nanti lo nyesel karena nggak peduliin dia,"


Saat itu jamkos di kelas mereka, suara gaduh dari dalam kelas ulah dari teman-temannya tak menghentikan pembicaraan serius dua sahabat itu


"Setidaknya lo masih ada rasa kagum kan ke dia?" Tari kembali berkata


"Gue, gue gak tau, Tar,"


"Lawak ya lo, bisa-bisanya lo gak tau apa yang terjadi sama diri lo, kita udah gak anak kecil lagi, Va. Kita bukan anak-anak yang beranjak dewasa yang suka main-main sama perasaan orang,

__ADS_1


"Lo nyadar gak dia itu selalu berusaha ngedeketin lo?" sambungnya yang hanya dibalas gelengan lemah dari Ivana


Ivana tidak tahu. Ia bingung. Athaya terlalu sempurna untuknya yang ia rasa terlalu pemilih.


__ADS_2