ATHAYA?

ATHAYA?
59- Keberangkatan Mereka 2


__ADS_3

Vino mengerutkan kening sebal karena ulah Don Don, pasalnya orang itu sampai sekarang belum memunculkan batang hidungnya. Sementara yang lain sudah menungguinya sedari lama.


"Ngantuk lagi gue kampret," ujar Damar sambil menguap. Karena tadi pagi sekali sehabis subuh, Vino sudah koar-koar di grub mengingatkan mereka untuk segera bersiap. Tapi, sampai sekarang belum lengkap juga. Padahal cuma tiga orang.


Setelah beberapa saat berlalu dari arah yang berlawanan mereka berdiri, suara motor mulai samar terdengar. Hingga dua detik berlalu muncullah sosok Don Don dengan segala ***** bengek barang bawaannya yang banyak.


Hal itu sontak membuat Vino memijat dahi frustasi. Ia menatap myalang Don Don dengan barang-barangnya.


"Sori Vin. Wah macet parah tadi," katanya.


"Macet atau karena barang bawaan lo yang seabrek itu?" Damar menyahut sedikit kesal.


Yang di tanyai nyengir, "Ya maaf, buat bekal nanti Dam, ya elah sensi banget lu,"


Don Don lalu menurunkan satu persatu barangnya, membuat Vino menarik nafas panjang mencoba untuk sabar. Kira-kira apa lagi ulah anak ini.


"Terus itu lo mau ngapain itu," kata Vino.


"Lah? Lu semua bawa ransel satu-satu. Ayolah bantuin gue bawa ini,"


Mendengarnya Vino mungkin sudah habis kesabarannya, sebelum ia turun dari motor dan menepuk kepala Don Don lebih keras lagi. Dia segera memakai helmnya dan menyalakan motor.


Begitupun Damar, mungkin ia juga sama lelahnya. Don Don mengernyitkan dahi, "Lah mau kemana? Ini bawain dulu,"


"Terserah lo Don, mau ikut atau gak, pusing gue," kata Vino sambil bersiap menancap gas.


"Udah lo, cepetan ayo sebelum gue sama Vino sleding lo sekarang,"


"Ya elah iya iya. Sabar,"


Agak sedikit cemberut Don Don kembali menaikkan barang bawaannya ke atas motor, tak lama setelah kehebohan itu mereka bertiga berangkat.


...--...


Ivana fokus melihat-lihat kebaya yang ada di depannya, sangat indah dan apik, ia akan menggunakan salah satu di antaranya untuk wisuda lusa nanti.


"Ini bagus Va," mamanya ikut menemani anaknya untuk belanja kebutuhan.


"Iya ma, bagus. Tapi, coraknya udah kuno, mau yang model baru," balas Iva.


Ibunya menipiskan bibir— kembali menaruh kebaya itu dan mencari yang lain.


Ivana menuju ke butik lebih dalam lagi, dia melihat-lihat sekilas. Matanya sedikit membuka kagum melihat sesuatu di depannya.

__ADS_1


Sebuah kebaya dengan pernak-pernik yang cantik namun tidak terlalu ramai, warnanya yang sama seperti yang di seragamkan dan tentunya pas di tubuh Ivana.


"Nanti kalau kita wisuda, pokoknya baju kita harus samaan ya, Va?" Ivana yang sedang mendorong kursi roda mentari mengangguk menyetujui.


"Boleh banget, nanti kalau kita udah di kasih tau bajunya apa, kita cari bareng-bareng ya?" balas Ivana senang.


"Oke, pokoknya kita harus samaan semua, mulai dari model rambut sepatu, pokoknya semua," kata Tari antusias.


"Iya, siap."


Obrolannya dengan Tari tiga tahun lalu.


"Va? Mikirin apa sih? Kok ngelamun,"


Suara sang ibu membuyarkan lamunan Iva, Risa masih menatap anaknya untuk menjawab.


Iva mencoba memutar otak, "Ini ma, tiba-tiba Iva keinget temen sekolah Iva,"


Risa mengernyit, "Siapa?"


"Namanya Sefi. Kasian ma dia selalu dirundung di sekolah, karena dia anak orang yang gak punya. Iva mikir, apa Iva beliin dia kebaya aja ya biar samaan kayak Iva?" jawab Ivana.


Tanpa pikir panjang lagi, Risa menyetujui, "Boleh, boleh banget. Beliin aja dia, kamu mau yang mana,"


Ibunya menerima uluran dari Iva, ia tersenyum sekilas, "Oke, ibu bayar dulu ya?"


Ivana mengangguk senang. Saat ibunya pergi ia tiba-tiba mensyukuri sesuatu.


Ibunya dulu pernah bilang kalau kita tak boleh terlalu baik oleh setiap orang. Namun, Sefia mungkin beda, ia hanya berharap kalau gadis itu tak mengkhianatinya seperti Tari.


Ya... setidaknya ia akan memakai kebaya yang sama. Bukan dengan Tari melainkan Sefi.


...--...


"Nanti kalau kita wisuda, pokoknya baju kita harus samaan ya, Va?" Ivana yang sedang mendorong kursi roda Mentari mengangguk menyetujui.


"Boleh banget, nanti kalau kita udah di kasih tau bajunya apa, kita cari bareng-bareng ya?" balas Ivana senang.


"Oke, pokoknya kita harus samaan semua, mulai dari model rambut sepatu, pokoknya semua," kata Tari antusias.


"Iya, siap."


"Tari? Kita udah sampai,"

__ADS_1


Athaya menepuk pelan pundak Tari yang tengah tertidur pulas, gadis itu bangun dengan perasaan yang sedikit tak enak. Mimpinya tenteng Ivana seperti membuka suatu memori yang tak ada habisnya.


"Kita taruh barang di sini dulu,"


Mereka berhenti di sebuah hotel, Tari yang masih sedikit mengantuk membuatnya memiliki wajah yang lucu, Athaya tertawa melihat tingkahnya yang sedikit kurang nyambung.


"Haha... ya udah kamu ngumpulin nyawa di sini dulu kalau gitu. Biar aku check in dua kamar ya?" ucap Athaya lalu beranjak pergi.


Tari tak mendengar terlalu jelas perkataannya, ia kembali memikirkan mimpinya barusan. Sudah setahun lamanya ia tak bermimpi soal Ivana. Kanapa tiba-tiba ia terpikirkan oleh gadis itu lagi.


Ia sangat ingin memakai kebaya yang sama dan ***** bengek nya juga. Tapi, dari kejadian kemarin itu pun ia tak tahu siapa sepatutnya yang harus di salahkan.


Matanya memerah menahan tangis yang tiba-tiba keluar. "Kenapa gue jadi kangen dan merasa bersalah banget ya sama lo Va?. Selama ini gue kemana aja?"


Satu tetes air mata berhasil jatuh di pipinya, "Padahal lo selalu ada buat gue..."


Ia segera mengusap air matanya saat mendengar suara langkah seseorang menghampiri mobil.


Rupanya Athaya, "Kamu yakin mau tiduran di sini," ia terkikik geli. "Udah aku siapin satu kamar buat kamu, ayo aku bantu angkat barang-barang kamu,"


Tari keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Saat ia melihat wajah Athaya yang sedikit berpeluh ia seakan-akan kembali pada masa dua tahun lalu saat ia pertama kali mengenalnya.


Tari sudah menyukainya saat itu juga. Dan bodohnya ia yang malah merebut pujaan hati Ivana itu untuk kepentingan pribadinya. Dan bersikap seolah-olah dialah yang paling tersakiti di antara semua.


"Ayo." ajak Athaya riang.


...--...


"Itu dulunya markas sebuah perkumpulan yang sangat di segani di kota ini," kata Aji.


Dengan nafas yang masih membabi buta Aji melanjutkan, "Katanya buat tempat ambil hutang,"


Langit menatap temannya itu sekilas, "Terus?"


"Itulah yang mau gue cari tahu, gue belum terlalu paham bos, gue coba cari di internet berita itu juga seakan-akan hilang," kata Aji.


"Bahkan kasusnya langsung hilang, polisi juga udah tutup kasusnya tanpa kejelasan lebih lanjut," sahut Langit.


"Kenapa bisa begitu ya bos?" tanya Aji.


"Uang. Semua bisa dilakukan dengan benda itu, semua tanpa terkecuali." Aji mengangguk mendengar jawaban dari Langit.


"Cari tahu lebih dalam lagi Ji. Selalu libatkan gue, kasih tahu secepatnya ke gue," peringat Langit.

__ADS_1


Aji mengangguk sambil menormalkan nafasnya yang berkecamuk. Ia menutup mata. Takut rombongan itu datang lagi.


__ADS_2