
Malam hari Iqbal sibuk dengan tugasnya sebagai wakil ketua OSIS, memang seharusnya ini menjadi tugas Vino. Namun, sepertinya ia sudah tak mempercayai orang itu untuk diserahi tugas seperti ini.
Ponselnya berdering dari atas ranjang, ia menengok sekilas sebelum mengambilnya. Ia hanya bisa menautkan alisnya bingung ketika mengetahui siapa yang menelpon malam begini.
"Ivana?" ia duduk di pinggiran kasur, menatap dalam ponsel itu sebentar sebelum menggeser ke tombol berwarna hijau, walau di hatinya ia menyimpan rasa gugup yang liar biasa.
"Halo, Iqbal?" suara agak serak menyapu pendengarannya, dari suaranya bicara sepertinya gadis itu belum sembuh betul dari sakitnya
"Iya, Va. Ada apa?"
"Gue boleh nanya sesuatu gak?"
"Nanya apa emang?"
"Tapi lo sibuk?"
Ia terdiam sebentar, sebenarnya tugas dari kepala sekolah itu menantinya untuk kembali berkutat. Namun, ia tak ingin menyiakan kesempatan ini. Iqbal membaringkan diri di ranjang.
"Nggak, kebetulan lagi nyantai, tanya aja,"
"Sori Bal, tapi lo jangan bilang ke siapapun ya?, menurut pandangan lo, Tari sama Athaya itu terlihat temenan biasa kan?"
Iqbal kembali duduk, ia seperti melihat lagi kejadian kala ia akan pergi ke ruang kepsek itu lagi.
"Temenan biasa sih, emang lo ngiranya kenapa?" jawabnya mencoba tenang.
"Bentar Bal, gue kasih kirim sesuatu dulu,"
Iqbal diam beberapa saat sebelum suara ringtone ponselnya mengalihkan. Ia sadar betul kalau nanti jawabannya bakal jadi pertimbangan besar untuk Ivana. Karena tiba-tiba saja gambar Athaya dan Tari yang tengah berpelukan membuatnya terkejut dalam diam.
Bagaimana bisa Iva menemukan gambar itu?
"Gue dikirimin gambar itu entah dari siapa, gue coba ngotak-atik tapi gak nemuin jawaban, kali aja lo tau, motif dari foto itu apa,"
Iqbal berpura-pura memerhatikan. Ia tak mungkin memberi tahu Ivana secara gamblang tentang apa yang dilihatnya tadi.
"Gue belum tahu pasti, Va. Tapi bakal lebih baik lo tanya langsung ke cowok lo soal itu, gue gak mau ngasih pendapat kalau gak tau apa yang terjadi sebelumnya," jawabnya mencoba bijak.
"Menurut lo aja, Bal. Gue gak bakal langsung ambil keputusan btw, cuman...supaya perasaan gue tenang aja,"
Iqbal membuang nafas, "mereka gak ada hubungan apapun kecuali pertemanan, mungkin ada kecelakaan kecil di sana Va,"
"Gue tanya lagi, emang selain lo, siapa lagi yang tau kalo gue sama Athaya itu pacaran?"
Belum sempat Iqbal menjawab Ivana sudah melempar pertanyaan lagi.
"Apa tujuan dia ngirim gambar itu ke gue? apa yang dia tahu soal gue sama Athaya?"
__ADS_1
...--...
Athaya baru saja mendapat pesan singkat dari Iva bahwa hari ini ia masih tidak masuk—karena sakit.
Ia mengirim pesan singkat balasan menyuruhnya untuk kembali beristirahat, dan melontarkan kata semangat supaya besok bisa kembali sekolah kembali.
Iqbal dan Vino yang kebetulan berada jauh di belakangnya, menetap sinis. Apalagi saat melewati kelasnya—seperti ibu-ibu yang butuh klarifikasi.
"Lo apa-apaan sih Vin?" Iqbal mendorongnya pelan saat Vino mencoba mencari celah untuk menengok ke kelas Athaya.
"Gue cari Arini," Iqbal melengos saat mendengar jawaban Vino, ia kira Vino sama sepertinya yang kepo urusan Athaya dan Tari, tapi sepertinya ia salah.
"Belum dateng kayaknya,"
Iqbal memutar bola matanya, sebelum pergi mendahului Vino yang masih celingukan disana.
"Asep? tungguin gue, ailah dasar cowok jomblo!" ia mengikuti Iqbal yang sudah naik lantai dua.
...--...
Saat akan memasuki jam pertama, Athaya baru menyadari satu hal, karena ia terlalu asik ngobrol dengan teman-temannya sampai ia tak tahu kalau teman sebangkunya hari ini izin.
"Ada yang tahu kemana Arya?" Gina dari arah bangku guru sudah koar-koar untuk mengabsen kelas.
"Athaya tau nggak dimana Arya?" tanya Gina, Athaya menggeleng "gue gak tahu, dia gak ngabarin apapun ke gue,"
"Kagak." Gina menoleh cepat saat mendengar suara sang ketua kelas yang paling gak berguna itu. Ia melotot ke arah Bayu, "lo gak ada inisiatif nya jadi ketua kelas atau gimana sih Bay? ditelpon kek, di chat kek, jangan diam-diam aja lo!"
"Udahlah, tulis alpha aja! gitu aja repot,"
Mendengar arahan dari sang ketua, Gina memiringkan kepala jengkel, sebelum ia benar-benar menggoreskan huruf A di buku absensi itu. Ia sudah muak.
Mentari memperhatikan dari jauh itu artinya Athaya tak mempunyai teman sebangku, begitu juga Mentari. Ini memang bodoh tapi...
"Athaya lo mau gak sebangku sama gue?"
Yang dipanggil menoleh, disana ada Arini yang diam-diam menyimak, tadi malam ia mendengar celotehan dari Vino soal mereka, dan kini ia seperti mata-mata yang mengincar targetnya.
Athaya berfikir sejenak, tak apa kan kalau ia sebangku dengan Tari? toh mereka hanya sebatas teman, tak lebih.
Ia mengambil tasnya dan duduk di bangku Ivana, ia tersenyum tanda meminta izin pada Tari, yang kemudian di balas senyum olehnya.
Arini menyenderkan punggungnya ke bangkunya, memotret dari jarak yang tak begitu jauh. Sebelum seorang guru masuk untuk memulai pelajaran.
...--...
Kerja kelompok mengisi mata pelajaran bahasa indonesia kali ini, guru memberi tugas untuk membuat karangan cerpen, Tari tak begitu yakin dengan kemampuannya. Tapi ia tahu kalau disampingnya ini ada orang pintar yang mungkin tahu.
__ADS_1
"Athaya?"
"Hm?"
"Bantuin gue ya? gue gak terlalu bisa soalnya," cowok itu menatap sekilas sebelum melihat coretan karangan Tari.
"Udah bagus itu, keren." pujinya.
"Beneran? gue lihat punya lo dong?" Tari mencoba merebut buku tulis milik
Athaya, cowok itu tak bisa menolak, setelah Tari sedikit mengamati ia kembali fokus pada bukunya sendiri.
"Lo gak mau jenguk Iva?" Athaya bertanya tanpa menoleh, gadis itu terlihat murung sejenak sebelum menjawab, "lo enak Ath, kemana-mana bisa sendiri, kalo gue? susah. Gue sebenernya ya pengen tapi keadaannya gak memungkinkan buat datang ke sana Ath,"
Athaya sedikit tak enak hati mendengarnya, ia melirik ke arah Tari yang anehnya gadis itu juga sedang melirik ke arahnya.
Mereka saling diam untuk beberapa saat, ketika renungannya berakhir ia rasa Athaya kembali membuat dosa besar di kondisi begini.
"Sori Tar," ucapnya pelan
"It's oke"
...--...
"Asep?"
Yang dipanggil menoleh, Vino baru saja mendapat pesan dari Arini yang berisi tentang foto Athaya dan Tari yang duduk bersebelahan.
Iqbal adalah anak yang disiplin. Oleh karena itulah ia tak mengindahkan sapaan dari Vino teman sebangkunya itu.
Vino sudah terbiasa dengan budayanya yang suka membuka tutup ponsel bahkan saat jam pelajaran sekalipun, Iqbal hanya membiarkan, kata dia ntar kalo sadar ya bakal tobat sendiri!
"Liat nih?" mimik wajah Vino mengundang atensi Iqbal untuk melihat, ia hanya melirik sebelum ia sendiri dibuat sedikit melotot atas gambar yang ia lihat.
"Nih dua orang gak beres, Sep" ucap Vino.
"Kenapa lo langsung ambil asumsi dari foto itu?" Iqbal coba memberitahu, sebelum pesan masuk untuk kedua kalinya.
Aku gak mikirin aneh-aneh dulu ya, karena Athaya duduk situ karena Arya teman sebangkunya kagak masuk
Iqbal ikut membaca pesan singkat yang dikirim langsung dari Arini, ia tersenyum tenang—tidak langsung menuduh mereka yang tak mungkin.
"Lain kali jangan gegabah dalam berfikir, kita belum tahu alasan pastinya gimana," Iqbal kembali fokus pada papan tulisnya yang tadi ia abaikan.
Tapi tetap saja kan? Vino memasukkan ponselnya ke tas hitamnya, bersiap sibuk dengan segala ***** bengek yang bersarang di kepalanya.
...--...
__ADS_1