
Beberapa hari berlalu saat memasuki pertengahan semester, Athaya sering menjemput Ivana untuk berangkat sekolah bersama walau tak setiap hari, meski begitu gadis muda macam ivana seolah-olah masih menutup matanya dengan perhatian yang selalu diberikan Athaya
Namun, bukan Athaya namanya kalau langsung menyerah, ia sudah tanya segala hal tentang Ivana melalui Tari dan gadis itu juga pernah bilang kalau Ivana tipikal orang yang sulit didekati
Ia juga sudah makin dekat dengan Vino dan teman-temannya tentu dalam tanda kutip ia tak mengetahui kalau sebenarnya Iqbal juga menyukai Ivana
"Berarti Damar dulu suka sama Tari?" Athaya membuka suara setelah mereka sampai ke kantin. Pertanyaan Athaya langsung mendapat anggukan dari Damar
"Dulu Vino juga, tapi sekarang oleng ke Arini," Vino yang mendengarnya langsung membuang kontak mata, kenapa emang?
"Arini? temen sekelas gue itu? Oh pantesan,"
"Pantes apa?"
"Sering banget nengok ke kelas gue, kirain cari siapa eh taunya ada gebetan," Athaya bergurau sambil mengaduk pelan es nya
"Lah emang si Arini gak pernah cerita kalo lagi deket sama gue?"
"Gak sih," semua yang ada di sana tertawa, Don Don memukul-mukul bahu Vino cukup kencang hingga membuat orang itu meringis kesakitan, Don Don emang begitu, kalau tertawa sukanya mukulin orang yang tak bersalah
"Santai Don, lo kira gue cowok apaan?" Vino merengut
"Abisnya lucu anjir, jangan-jangan lo cuman di anggep temen biasa lagi,"
"Eh enak aja dia itu ngaku fans terberat gue tau, tanya aja sama dia," kilah Vino
"Oh, kalo soal fans nomor satu itu emang bener, kalo itu dia pernah koar-koar kok ke seisi kelas," setelah melanjutkan ucapannya Athaya kembali menyesap es nya hingga setengah
"Ngapain sih lo?" Langit melirik ke arah Damar yang terlihat senyum-senyum sendiri dengan ponselnya
"Kepoo..." Damar menjawab dengan mata yang agak meledek, Langit menyipitkan matanya pada ponsel Damar lalu mengangguk pelan
"Ohhh...lagi sayang sayangnya ternyata sama Darr-rrahhhh," Langit membuat buat nada saat mengucap kata Dara, karena memang dari beberapa hari lalu dia baru saja mendapat nomor whatsapp Dara
"Giliran gue oleng dia juga ikut oleng, dulu aja pas gue masih gebet Tari dia ngikut mulu," Vino memutar bola matanya
"Yee, siapa yang ngikut orang gue nurutin apa kata hati gue, lo aja yang sirik," canda Damar
"Amit amit ngapain sirik sama lo, kata Don Don aja lo naksir sama Dara karena rekomendasi dari dia," bela Vino
"Kenapa emang?"
"Udah udah woy! lama lama gue sumpel mulut lo berdua pake nih pisang goreng, dari dulu sampe sekarang nih bocah gak ada akur-akurnya ya?" Don Don gemas sekali dengan dua orang itu sebelum akhirnya melirik Langit yang sedang menggigit baso acinya
__ADS_1
"Lo mau gue cariin Lang? siapa tau manjur kayak si Damar?" ucap Don Don sambil menaik turunkan alisnya
"Iya tuh Lang, jangan sampe kayak Asep yang hatinya kosong gara gara malu mengungkapkan perasaan," Vino ikut mengompor
"Mencintai elit, mengungkapkan sulit,"
"Chuakkk!"
Satu kantin menoleh ke arah meja yang di tempati Vino, sebagian senyum senyum karena melihat kebersamaan mereka yang asyik
"Oh, emang Iqbal suka sama cewek," Athaya yang baru tahu ikut berkomentar
"Iya, lo gak tau kan? dia itu udah lama suka sama cewek tapi gak berani ngungkapin,"
"Siapa ceweknya?"
Semua reflek melihat ke arah Iqbal, karena mereka juga takut kalau-kalau Iqbal mengamuk dan tidak mau bergabung dengan mereka lagi, apalagi wanita yang disukai Iqbal adalah wanita yang sama dengan yang Athaya suka
"Gak tau tuh, dia juga gak pernah cerita," Langit membuang pandangan dan lanjut memakan baso acinya
"Udah gak usah pada kepo," Iqbal kembali menatap layar hp nya setelah lama diletakkan
Setelah percakapan yang cukup panjang itu dan menyantap makanan, mereka kembali ke kelasnya masing-masing saat lonceng jam ke 5 sudah berbunyi
...--...
"Lo tau gak, siapa cewek yang disukai Iqbal," Ivana mengelus pelan dadanya saat Athaya tiba-tiba datang, Ivana melirik sekilas sebelum berujar, "ya mana gue tau, kan lo yang satu sirkel sama dia, kok malah tanya ke gue,"
"Ya siapa tau, kan lo udah lama sekolah disini,"
"Nggak, nggak tau gue, udah sana minggir, ganggu aja orang lagi baca novel,"
"Novel apaan sih, coba lihat," Athaya mendekatkan wajahnya hingga nyaris menyentuh kertas novel yang sedang dipegang Ivana, gadis itu hanya menghembuskan nafas pelan melihat perilaku Athaya yang seperti anak kecil
"Apaan sih, Athaya?" Iva berujar malas
"Tumben panggil gue Athaya, biasanya Ath atau Thaya?"
"Terserah gue lah,"
"Besok gue jemput lo lagi ya?"
"Kayaknya gak usah deh," Ivana menatap mata Athaya setelah menutup novelnya
__ADS_1
"Kenapa?"
"Gue malu, kalau ada yang jemput gue, apalagi orang tua gue tuh, setiap kali lo ke rumah mereka tuh kayak ngeledek gue,"
"Ya salah lo sendiri ngapain salting kalo deket deket gue,"
"Dih! sok tau,"
"Lah emang bener kayak gitu kok, nih lihat aja,"
Ivana menunggu lanjutan kata dari Athaya namun cowok itu malah menatapnya dengan teduh dan membuat Ivana berfikir keras
Ivana membalas menatapnya, hingga tanpa ia sadari ia tenggelam dalam mata coklat Athaya, tak berlangsung lama karena setelahnya Ivana membuang muka dengan wajah yang memerah malu
Jantungnya berdenyut cepat saat tatapan Athaya tak berhenti di sana, "tuh kan salting lagi," cowok itu memperlihatkan senyuman mataharinya
Ivana coba mengontrol diri sebelum memukul jidat Athaya dengan novel yang tebalnya 400 halaman di tangannya
"Aduh, sakit Va," Athaya mengusap jidatnya yang agak sakit sebelum melanjutkan, "muka lo tuh udah ketara salting, jadi lo gak usah susah nutupin," Athaya mengacak pelan rambut Ivana kemudian kembali ke bangkunya
Ivana yang mendapat perlakuan seperti itu jujur merasa senang, hatinya menghangat tak bisa dipungkiri kalau ia sempat jatuh dalam tatapan hangat Athaya untuk beberapa detik
Saat yang sama ketika Arini menerima pesan dari Vino yang mengajaknya pergi bersama setelah pulang sekolah, dia tersenyum simetris melihat pesan singkat itu
Vino
Nanti abis sekolah ke pantai yuk?
Arini hanya membalas singkat bermakna menyetujuinya, kadang kita harus bersikap tenang dan tidak bar bar ketika mendekati seseorang, karena sikap Arini waktu pertama bertemu Vino di luar sekolah mendapat perhatian yang lebih dari pada sikapnya di sekolah
Padahal ia hanya menjadi pendengar yang baik saat Vino sedang terpuruk saat itu
...--...
Seseorang sedang mengotak-atik ponselnya dengan wajah yang menahan marah, dia sudah muak, ingin mengakhiri ini semua
Sudah cukup bagi orang itu tertawa, orang jahat seperti dirinya tak pantas untuk tertawa di dunia
Saat telepon itu tersambung ia tersenyum miring, seseorang diseberang menyapa terlebih dahulu sebelum orang itu menjawab
"Iya, gue butuh bantuan lo, secepatnya."
...--...
__ADS_1