
Aulia merendam tubuhnya dengan aroma terapi pilihan. Tubuhnya terasa remuk semua . Maklum dirinya belum pernah sesibuk hari ini . Menurutnya hari ini adalah hari paling melelahkan.
Aulia menutup mata seraya menikmati aroma terapi yang menenangkan. Pikirannya berkelana pada kejadian tadi siang . Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan lelaki yang selaman ini ia kejar . Padahal sudah lama ia tidak bertemu dengannya.
Entah itu keberuntungan atau malah kesialan baginya . Dia sudah memantapkan hatinya untuk tidak berharap padanya. Apalagi setelah kejadian yang membuatnya kecelakaan dan koma. Ingatannya tertuju pada peristiwa sebelum dirinya kecelakaan.
Flashback on .
" Nggak ada cemilan ya Bu ," tanya Aulia pada Bu Yem yang sedang menonton televisi .
Sudah menjadi rutinitas sehari-hari saat papa dan mamanya ke luar negeri, Aulia akan menonton telivisi bersama dengan kedua pembantunya. Mereka menonton sambil memakan cemilan yang kadang Aulia beli . Tetapi biasanya Bun Yem juga akan membuatnya sendiri .
" Sepertinya habis non. Apa bibi buatin sesuatu saja ?" tawar Bu Yem dengan sopan .
" Memangnya ibu mau buat apa ?"
" Biar ibu lihat dulu bahan yang ada ," jawab Bu Yem sambil melangkah menuju dapur . Ternyata tidak ada bahan sama sekali. Beliau lupa jika belum belanja.
Bu Yem kembali ke ruang keluarga untuk memberitahu Aulia bahwa tidak ada bahan yang tersisa.
" Bagaimana Bu ?" tanya Aulia saat melihat Bu Yem tiba di ruang keluarga.
" Maaf non ternyata tidak ada bahan lagi yang tersisa," jawab Bu Yem dengan lesu .
" Kalau begitu biar Aul ke supermarket saja . Apa ada yang ibu inginkan ?" tanya Aulia sambil berdiri dan merapikan pakaiannya.
" Biar saya tulis dulu ya non !"
__ADS_1
" Iya Bu ... Aul juga mau ambil jaket dulu di kamar," ujar Aulia.
Setelah itu Aulia berlari ke kamarnya. Bu Yem
merasa perasaannya tidak enak saat menulis pesanannya.
" Bagaimana kalau belanjanya besok saja non !" kata Bu Yem dengan gugup .
" Sekarang saja bu ... sekalian Aul pengen cari angin ," jawab Aulia yang memang sedang bosan .
" Tapi non _"
" Nggak papa Bu , mana kertas nya!" Aulia meminta kertas yang di pegang oleh Bu Yem .
Bu Yem masih tidak rela majikannya itu keluar. Perasaannya makin tidak karuan . Tetapi dia tidak bisa papa , karena Aulia terkenal keras kepala .
" Hati-hati non ," pesan Bu Yem sebelum Aulia mengendarai mobilnya. Bu Yem sempat memaksa Aulia untuk menunggu pak Dadang . Aulia tidak menurut , dia kekeh ingin berangkat sendiri.
Aulia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang . Dia pun santai , karena memang tidak terburu-buru.
Karena supermarket nya tidak terlalu jauh tidak sampai lima menit sudah tiba di supermarket. Aulia membeli berbagai cemilan dan bahan yang di pesan oleh Bu Yem . Setelah semua selesai dibeli dia segera keluar dari supermarket.
Setelah berbelanja Aulia tidak segera pulang . Dia mengendarai mobilnya untuk mencari martabak . Dia menemukan penjual martabak yang letaknya cukup jauh dari rumahnya .
" Martabaknya satu ya pak . Terus terang bulan nya dua yang rasa black forest dan cokelat ." Aulia memberitahu pesanannya.
" Silahkan... tunggu sebentar!"
__ADS_1
" Kalau begitu saya tunggu di sana saja pak ," ucap Aulia sambil menunjuk sebuah pohon yang tidak jauh dari tempat itu .
" Baik mbak."
Aulia berjalan kearah yang ia tunjuk tadi . Kebetulan di bawah pohon itu ada kursi yang terbuat dari kayu . Aulia melihat ke arah jalan yang lumayan sunyi . Karena memang sudah malam . Saat dia fokus lihat-lihat, ada sepasang muda mudi yang sedang tertawa di depan mobil . Aulia melihat mereka dengan fokus .
Rasa cemburu membuatnya emosi . Aulia bangun dari duduknya dan menghampiri sepasang muda mudi itu . Dengan kasar Aulia memisahkan Brenda dengan Arfan . Hal itu justru memancing emosi Arfan .
" lo gila apa . Ngapain Lo tarik-tarik Brenda seperti itu. "
" Kan gua udah bilang , gua nggak suka lihat Lo jaman sama cewek lain ," jawab Aulia .
" Emang Lo siapa neng , sahabat kagak , pacar kagak , apalagi istri . Lo bukan tipe gua banget tau nggak . Gua lebih milih Brenda kemana-mana. Jauh banget Ama Lo . Lo mending jauh-jauh deh dari gua . Gua muak ngelihat wajah Lo , jijik tau nggak . Ayo bren... kita tinggalin dia ," ucap Arfan sambil memegang tangan Brenda dengan lembut .
Mereka memasuki mobil itu tanpa menghiraukan Aulia yang shock mendengar semua hujatan dari Arfan . Rasanya sakit !
Aulia masih terpaku di tempat itu hingga mobil milik Arfan hilang dari jangkauan . Untung disamping mereka tidak ada orang lain yang mendengar.
Aulia berjalan ke tempat penjual martabak. Pandangannya kosong .
" Silahkan neng .... semuanya delapan puluh ribu ," ucap penjual pada Aulia .
" Ina pak terimakasih... kembalinya buat bapak saja ," ucap Aulia sebelum kembali ke mobilnya. Setelah itu dia memasuki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi .
Ternyata Aulia tidak menuju rumahnya . Dia melewati jalur yang berbeda. Sepanjang perjalanan dia mengingat semua ucapan Arfan ...air matanya mengalir . Dia mengendarai mobil itu dengan tangis yang berderai.
Sebuah truk melaju dengan sangat kencang . Di jalur lain Aulia juga melajukan mobilnya tak kalah kencang . Entah apa yang terjadi tiba-tiba...
__ADS_1
Brak !!! brak !!!! Jedar !!!!