
" Nggak mampir dulu ke rumah A?" tanya Rani begitu sampai depan rumahnya.
" Nggak deh kak ... sudah sore , Aul mau langsung pulang saja !" tolak Rani dengan halus .
" Ya udah kalau begitu . Thanks ya untuk yang tadi ... kalau tidak ada kamu entah apa yang akan dilakukan oleh Toni pada kakak. Dan kamu terlihat keren loh tadi 👍 !" puji Rani dengan tulus . Dia bahkan mengacungkan jempol pada Aulia .
" Kak Rani ma bisa saja ... Aul kan jadi malu ," ucap Aulia dengan muka memerah . Dia tidak menyangka akan mengeluarkan tingkah bar-barnya lagi .
" Nggak usah malu .... kakak malah bangga sama kamu ."
'" Udah deh kak, Aul pulang dulu . Lama-lama jadi besar kepala nanti kebanyakan di sanjung !" kata Aulia sambil berlari ke rumahnya. Rani sampai tertawa melihat tingkahnya.
Setibanya di rumah Aulia langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih bersih . Dia juga menunaikan ibadah sholat asar yang waktunya sudah sangat mepet. Maklum dia di kantor polisi hampir dua jam .
Setelah sholat Aulia membaca ayat suci Al Qur'an sembari menunggu waktu datangnya sholat Maghrib. Sebenarnya dia sangat lelah tetapi jika dia merebahkan dirinya di atas ranjang sudah pasti langsung lelap . Tidak baik tidur menjelang waktu Maghrib.
Rani kedatangan tamu yang tak lain kedua Kakaknya. Semalam dia menceritakan soal perceraiannya kepada kakak pertamanya yang tak lain Bramasta. Ternyata Kakak kedua yang tinggal di luar negri telah kembali ke tanah air dan ikut bersama Bram . Mereka sangat marah saat mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Toni .
" kurang ujar emang tuh anak ... tapi nggak papa kan, dek ?" tanya Alvian , yang tak lain kakak kedua Rani .
" Kakak tidak perlu khawatir ... untung saja tadi A bantuin Rani . Keren banget tahu nggak, aksinya tadi . Andai dia _"
" A !!!! Lo udah deket SMA cowok lain dek ?" tanya Bram memotong ucapan adik adiknya .
" Enak saja kak Bram kalau ngomong ... emangnya Rani ini cewek apaan . Surat cerai aja belum keluar udah mau Deket Ama cowok," bantah Rani tidak terima.
" Tadi Lo bilang ?"
" Terus A siapa dek ?"
" A itu Aulia kak ."
" Ternya si putri bar-bar sudah kembali ke sifat aslinya ," gumam Bram yang masih dapat di dengar oleh kedua adiknya.
" Loh kakak kok juga kenal sama dia ?" tanya Alvian penasaran.
" Bagaimana tidak kenal ... kan dia salah satu mahasiswa kakak . Kakak juga yang mengirim Aulia ke Jogyakarta untuk menjadi asisten Rani sementara. "
" Tapi sepertinya kita mesti balik ke Jakarta lagi Kak ," ucap Rani dengan serius .
" Kenapa?"
" Tadi Toni sempet bilang kalau Aulia di pecat secara tidak hormat dan nilai magangnya harus kosong."
" Enak saja ... kalian memang akan kembali ke Jakarta dan untuk penilaian Aulia bisa kita pikirkan lagi nanti . Mungkin kakak akan memindahkan dia lagi . "
" Memangnya tinggal berapa lama lagi dia magang ?"
" Dia bulanan lebih lah."
__ADS_1
" Kalau dia memang tidak keberatan, dia bisa masuk keperusahaan ku saja . Sebagai ucapan terimakasih kita ," ucap Alvian .
Meskipun belum pernah melihat Aulia , Alvian merasa bangga dengan gadis yang menjadi penolong adiknya itu . Andai saja gadis itu tidak ada entah apa yang akan terjadi pada Rani .
" Tapi masalahnya apa dia mau ikut kakak ke Prancis?"
" Terserah dia sih ... kalau memang tidak mau ya ... terpaksa kak Bram bawa dia ke perusahaan lain . Aku sih nggak masalah. "
" Betul juga . Lebih baik kita bicarakan ini dengannya. Memangnya Aulia tinggal dimana dek ?"
" Dekat kak , jarak dua rumah dari sini ," jawab Rani.
" Kalau begitu gimana kalau kita kesana saja . Lagian ini masih jam delapan," kata Alvian memberi usulan . Dia juga sudah tidak sabar melihat gadis yang mereka bicarakan.
" Baiklah kalau begitu . Semoga saja dia memang belum tidur," harapan Rani .
Kemudian ketiganya berjalan ke rumah Aulia . Mereka berharap, Aulia masih belum tidur .
Tok tok tok
tok tok tok
Mereka berdiri di depan pintu sambil harap-harap cemas .
" Pakai bel itu saja dek ," tunjuk Alvin pada bel yang ada di samping pintu . Dekat dengan Rani berdiri .
" Iya juga ."
" Kok belum ada jawaban... jangan-jangan dia beneran tidur . Bagaimana kalau besok saja kita samperin ."
" Ya udah deh ."
Mereka akan kembali ke tempat Rani , tetapi suara teriakan yang berasal dari rumah Arini membuat langkah ketiganya berhenti . Mereka kaget dengan suara itu .
" Itu suara apaan dek ?"
" Kok seperti suara Arini ya ?"
" Siapa Arini ?'
" Dia putri pemilik kontrakan Rani ," jawab Rani sejujurnya.
" Memangnya dia sedang sakit ?"
" Setahu saya sih tidak . Pagi tadi kami masih sarapan bersama."
" Kamu deket Ama dia ?"
" Biasa aja sih , lagian kita kenal juga baru dua hari ."
__ADS_1
" Tapi _"
" A!!!! bruk !!"
Suara teriakan Arini menghentikan Bram untuk melanjutkan ucapannya. Kemudian mereka bergegas pergi kesana . Bukan hanya mereka tetapi tetangga sekitar yang juga mendengar teriakan itu juga turut ke rumah Arini .
Terlihat ibu Arini menangis melihat Arini yang sudah Seperi orang kerasukan . Matanya merah . Dia mengamuk dan menyakiti ayahnya . Ayahnya yang tadi ingin menenangkan Arini kena imbas sampai terluka .
" Ada apa dengannya Bu ?" tanya Rani pada ibu-ibu yang sudah disana sebelumnya.
" Entah... sepertinya dia kerasukan . Lihat !" tunjuk wanita pad Arini yang mulai terbang ke ke atap . Bahkan dia sampai menjebol plafon rumah . Sungguh pemandangan yang sangat di luar nalar . Keadaannya juga baik-baik saja .
" Ya Alloh.... apa yang sebenarnya terjadi pad putri hamba," ratap Arini dengan penuh kesedihan. Dia memangku sang suami yang sudah pingsan .
" Tolong ... putri saya bapak ...ibu , " pinta ibu Arini pada warga yang berkumpul di rumahnya.
Ada yang mengambil tangga untuk menyusul Arini yang sudah berdiri di atap rumah .
Melihat pemandangan itu Rani jadi ingat dengan ucapan Aulia yang bisa berkomunikasi dengan makhluk halus . Mungkinkan dia bisa menolong Arini ?
" Bu apakah ibu punya kunci cadangan milik Aulia ?" tanya Rani sambil mendekati ibu Arini .
" Siapa Aulia ?"
" Yang tinggal disamping ibu ."
" Oh ... ada apa dengannya ?"
" Saya ada perlu dengannya Bu , tetapi dia tertidur ," jawab Rani memberi alasan.
" Sebentar... tolong dek ambilkan kunci ibu yang ada di laci biasanya," ucap ibu Arini pada sang putri bungsunya.
Dengan patuh gadis kecil yang masih berusia sebelas tahu itu melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya . Tak lam kemudian dia datang dengan kunci ditangannya.
" ini Bu !"
" Terimakasih sayang ."
" Silahkan nona !"
" Terimakasih Bu !"
Rani segera berlari kerumah Aulia . Sedangkan Bram dan Alvian ikut membantu warga untuk menangkap Arini .
Rani hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Aulia yang meringkuk di ranjangnya. Padahal ada keramaian di samping rumahnya, tetapi dia tidak terusik sama sekali.
" A.... bangun dong ," kata Rani sambil menggoyangkan tubuh Aulia .
" Ada apa sih ... ngantuk banget nih ," jawab Aulia dengan mata yang masih terpejam .
__ADS_1
" Bangun napa dek , arini kalap ," ucap Rani membuat Aulia langsung membuka matanya.
" Apa !!!"