
Berulangkali nomer Aulia ia hubungi tetapi tidak diangkat. Membuat Alif sampai frustasi. Dia tidak menyangka jika sang papa akan bertindak langsung seperti itu . Jika waktu itu dia melihat mamanya melabrak Aulia kini papanya yang bertindak. Tidak tanggung -tanggung papanya juga langsung menghubungi pihak kampus untuk memindahkan Aulia ke tempat lain. Tentu menggunakan alasan yang masuk akal .
Tetapi dia merasa tidak enak dengan Aulia, apalagi Aulia sudah dua kali memberikan kontribusi. Pertama pengkhianat direktur pemasaran, dan yang kedua masalah pembunuhan kemarin . Dia harap Aulia bisa sabar dan menunggu .Dia akan mencoba berbicara kembali dengan papanya besok . Mudah-mudahan papanya bisa merubah keputusannya.
Sedangkan Musthofa kini berada di ruang kerjanya. Dia teringat dengan mendiang sahabat sekaligus cinta pertamanya. Entahlah jika menyangkut hal pembullyan dia tidak bisa berpikir jernih .
Tok tok tok
" Masuk !" kata Musthofa.
Arfan masuk kedalam ruangan itu dengan muka lesu . Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya itu .
" Apa yang ingin kamu katakan?"
" Ini masalah Aulia pa... maaf _"
" Tolong .... untuk saat ini papa tidak ingin mendengar apapun tentangnya."
" Tapi pa _"
" Cukup... ! kasih papa waktu ," pinta Musthofa pada putra keduanya
" Baiklah... tapi Arfan cuman mau bilang , dia sudah mendapatkan balasan pa yang sudah ia lakukan. Ia mengalami kecelakaan hebat hingga harus koma selamat dua bulan , pa ."
deg !!
" ..."
Meskipun hatinya bergejolak tetapi Musthofa masih belum memberi tanggapan. Dia masih ingin mendengar kelanjutan dari omongan sang putra yang sepertinya belum selesai.
" Arfan juga merasa , Aul sudah tidak seperti dahulu lagi . Bahkan dia tidak pernah mendekati Arfan maupun bang Alif . Arfan juga mau bilang ... dia tidak pernah membuat masalah untuk perusahaan bahkan berkontribusi untuk mengungkapkan pengkhianatan di perusahaan kita . Arfan hanya minta jika takut Aul menggoda Arfan dan Abang , papa bisa memindahkan Aul ke bagian lain . Hanya itu yang ingin Arfan katakan , terimakasih."
Kemudian Arfan meninggalkan tempat itu. Musthofa sedari tadi hanya diam mendengarkan perkataan dari Arfan . Jika dipikir - pikir dia memang terlalu grusah- grusuh . Dia akan mempertimbangkannya kembali . Meskipun itu hanya akan sia-sia, karena sudah terlambat. Sebab dimalam ini juga Aul terbang ke Yogyakarta.
Rangga yang mendapatkan tiket malam ini juga pukul setengah satu malam . Jadi dia mengajak sang putri untuk langsung pergi ke rumah sang dosen untuk meminta berkas yang ia butuhkan.
Sedangkan di rumah Lily mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan oleh Aulia selama di Yogyakarta secukupnya. Karena jika masih kurang bisa langsung membelinya.
Semua berkas telah beres , Untung sang dosen membantunya. Aulia bahkan tidak sadar saat ponselnya tidak berhenti berdering hingga ponsel itu kehabisan daya .
Rangga dan Lily turut serta dengan Aulia ke Yogyakarta. Mereka akan menemani Aulia sampai Aulia mendapatkan tempat tinggal selama tinggal di Yogyakarta.
__ADS_1
Setibanya di Yogyakarta mereka langsung mencari hotel terdekat dengan perusahaan yang akan dijadikan tempat magang untuk Aulia .
Setelah mendapat kamar Aulia pisah dengan orangtuanya. Karena Rangga memesan dua kamar untuk mereka.
" Langsung tidur ya sayang... agar nanti tidak terlalu lelah," ucap Rangga sebelum Aulia memasuki kamarnya.
" Iya pa ... terimakasih sudah membantu Aulia ."
" Tentu saja ...Aul anak papa dan mama , kalau bukan Aul siapa yang akan kami pedulikan sayang ."
" Oke ... Aul ke kamar dulu . Terimakasih dan Aul sayang mama papa," kata Aulia sebelum mencium kedua pipi kedua orangtuanya.
" Kami sayang Aul," ucap Lily dengan Rangga serempak.
Setelah itu Aulia langsung masuk kedalam kamar. Tanpa membuang waktu dia langsung merebahkan dirinya yang sudah sangat lelah . Tidak butuh waktu lama , dia pun tertidur.
Keesokan harinya Aulia bangun seperti biasa. Mungkin karena sudah terbiasa bangun subuh , Aul bangun seperti biasa . Dia segera mempersiapkan apa saja yang ia butuhkan. Kemudian mandi dan juga sholat subuh.
Aulia berangkat setelah sarapan bersama kedua orang tuanya. Dengan mengendarai fasilitas yang dimiliki oleh hotel yang ditempati dia berangkat ke perusahaan. Perusahaan garmen yang tak kalah besar dengan milik Alif .
" Selamat pagi kak ?" sapa Aulia pada resepsionis.
" Selamat pagi ... ada yang bisa kami bantu ?" tanya resepsionis itu dengan ramah .
" Sebentar... boleh lihat suratnya?"
" Tentu ...ini ." Aulia menyerahkan surat yang sudah ditandatangani oleh dosennya.
" Sebentar ya mbak . Akan saya konfirmasi terlebih dahulu."
" Silahkan!"
Aulia menunggu resepsionis itu mengkonfirmasi kebenaran tentang surat rekomendasi yang ia bawa.
" Mbak sudah di tunggu di lantai lima ," kata resepsionis itu setelah Aulia menunggu.
" Terimakasih mbak. Kalau boleh atas nama Siapa?"
" Nanti mbak aul bisa panggil Bu Rina . Beliau salah satu designer senior disini ," jawab resepsionis dengan nama Adinda.
" Terimakasih mbak Adin ."
__ADS_1
" Kok tahu nama saya to mbak ?"
" Kan di baju mbak ada namanya," jawab Aulia dengan jujur .
" Betul juga ... kok aku pikun koyo ngene ," gumam Adin yang masih bisa di dengar oleh Aulia.
" Saya permisi dulu mbak ."
" Silahkan!"
Aulia berjalan kearah lift . Dia menunggu lift terbuka bersama beberapa orang . Mungkin karyawan disana .
Ting !
Aulia masuk dan memencet tombol lima . Tidak lama kemudian lift tertutup. Hanya ada tiga orang di dalam lift . Tiba-tiba ada seorang wanita tua yang muncul disampingnya.
Wanita tua itu memakai jarik dan juga baju kebaya . Tampilan nya seperti bangsawan kuno . Aulia hanya bisa melirik .
Ting
Akhirnya Aulia tiba di lantai lima . Ternyata dia sudah ditunggu di depan lift .
" Aulia kah ?"
" Iya Bu."
" Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga . Perkenalkan saya Rina . Saya saudara dari Bramasta , dosen kamu ."
" Jadi ibu saudaranya pak Bram ?"
" Ya begitulah... aku tak menyangka jika Bram mengirim mu kesini untuk menjadi asisten ku sementara."
" Mohon bantuannya Bu ."
" Tentu ... nggak usah formal begitu sih . Kita akan sering jalan bareng jadi jangan terlalu kaku , oke !"
" Oke !"
" Sekarang aku akan bawa kamu keruangan ku . Karena kamu akan satu ruangan dengan ku . Tidak masalah kan ?"
" Tentu tidak ."
__ADS_1
" Baguslah kalau begitu ."
Rina mengajak Aulia keruangan nya . Ternyata disini , setiap designer mempunyai ruangan sendiri. Mereka juga bebas mencari asisten sesuai kriteria mereka . Itulah yang menyebabkan dosen Aulia mengirimnya untuk membantu sang adik . Untung pak Musthofa mengeluarkannya dari perusahaan. Kalau tidak ... Bram akan sulit membantu adiknya. Apalagi sang adik butuh bantuan.