
Alif berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Bahkan dia tidak sarapan terlebih dahulu . Dia berharap Aulia masih datang ke kantor meskipun sudah di usir oleh papanya .
Mustofa duduk di kursi yang berada di ruang makan menunggu anggota keluarganya turun . Dia membaca koran yang setiap pagi diantar kerumahnya. Meskipun semua serba digital , dan membaca berita bisa lewat ponsel , tetapi tidak untuk Musthofa. Dia lebih suka membaca koran .
Siska masih menyiapkan keperluan princess untuk sekolah. Setelah putrinya sudah siap dengan seragam tinggal menyiapkan yang lainnya.
Tak lama kemudian datanglah Arfan dengan pakaian rapi . Wajahnya nampak lesu dan kurang tidur .Kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang biasa ia duduki.
" Pagi pa ," sapa Arfan tanpa semangat . Musthofa melirik keadaan sang putra yang tidak seperti biasanya. Tetapi dia memilih tidak berkomentar.
" Pagi .... Abang mu belum turun ?" tanya Musthofa .
" Sepertinya Abang sudah berangkat ke kantor lebih dulu ," jawab Arfan seadanya.
" Tidak sarapan dulu?" tanya Musthofa dengan heran . Tidak biasanya putra sulungnya itu meninggalkan sarapan.
" Entah....Arfan juga nggak tahu ," jawab Arfan seadanya dengan mengendikkan bahunya .
" Pagi papa," sapa princess dengan ceria. Dia datang bersama Siska .
Siska mendudukkan putrinya di kursi samping papanya . Kemudian mengambilkan nasi goreng untuk suaminya itu .
" Pagi juga princess papa yang cantik. Bagaimana tidurnya semalam?" tanya Musthofa tak kalah ceria.
" Nyenyak pa ... princess mimpi main sama kakak cantik yang baik hati ," jawab princess menceritakan mimpinya.
" Wah ... siapa nama kakak cantiknya?"
" Princess tidak tahu ," jawab princess dengan menggelengkan kepalanya.
" Kok tidak tahu ?"
" Kan nggak kenalan pa... jadi princess nggak tahu namanya."
" Ya sudah , kalau begitu kita sarapan dulu."
" Abang Alif mana?" tanya princess sambil celingak-celinguk. Sebab tadi dia mampir dulu ke kamar Abang pertamanya tetapi ruangannya sudah kosong .
" Abang berangkat kantor dulu ... katanya sih masih banyak pekerjaan," jawab Arfan pada adik kesayangannya.
" Abang Alif ma nggak seru ," kata princess dengan cemberut.
__ADS_1
" Iya dong seruan nasi goreng ini. Lihat ada cuminya. Kan kesukaan princess ," kata Siska membujuk .
" Wah ... ini ma kesukaan princess" teriak princess heboh . Meskipun kecil, tetapi princess merupakan pecinta makanan. Apalagi jika yang dimasak itu cumi-cumi .
Melihat hebohnya princess membuat tiga orang yang memperhatikannya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Bahkan Arfan yang sedari tadi murung , langsung bersemangat. Benar-benar mood booster.
Alif menunggu kedatangan Aulia dengan harap-harap cemas . Apalagi panggilannya tidak bisa terhubung sama sekali . Sudah berpuluh-puluh panggilan yang ia layangkan. Tidak ada satupun yang dijawab .
Andre yang baru datang heran melihat tingkah Alif yang mondar-mandir di depan pintu ruangannya. Memangnya apa yang sudah terjadi hingga dia seperti itu . Apalagi saat dia di telpon untuk tidak menjemputnya. Hal yang tidak pernah ia lakukan kecuali ada keadaan genting.
" Assalamualaikum.... lagi ngapain bos ? ... nunggu istri lahiran?" sapa Andre dengan sedikit menggoda.
" Pinjam ponselmu ?" tanpa menjawab sapaan Andre dia meminjam ponsel Andre . Meskipun bingung , Andre memberikannya.
" Ini bos !"
Alif segera mengambil ponsel Andre dan menekan nomer Aulia . Ternyata hasilnya sama . " Maaf nomer yang sedang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."
" Sial !" umpat Alif dengan agak tinggi . Membuat Andre berjingkat kaget . Hal yang jarang Alif keluarkan.
" Ada masalah apa sih bos ?"
" Sepertinya... Aul memblokir nomer kita semua deh ," jawab Alif .
" Ngomong-ngomong Aulia mama nih ya ... kok tumben belum nongol . Biasanya paling rajin ," kata Andre sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Aulia.
" Karena dia nggak datang dodol !"
" Sakit ya bos ?"
" Sudahlah... gua pusing !" kata Alif sambil ngeloyor pergi memasuki ruangannya. Sementara Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .
Karena tidak menemukan jawaban , Andre menyusul Alif kedalam ruangan. Dia lihat Alif masih mengutak-atik ponselnya. Nampaknya dia masih berusaha untuk menghubungi Aulia .
" Bagaimana kalau kerumahnya saja ?" kata Andre memberi saran.
" Memangnya kamu tahu rumahnya?"
" Kalau saya ngajak , pasti tahu rumahnya bos . Kalau tidak ngapain ngajak... bisa-bisa kesasar," jawab Andre santai .
"Kalau begitu nunggu apa lagi... kita pergi sekarang!" putus Alif dengan cepat. Dia langsung beranjak dari tempat yang baru saja ia duduki . Andre yang melihat tingkah Alif hanya bisa melongo .
__ADS_1
" Ngapain masih disitu ," sentak Alif , membuat Andre berjingkat kaget .
" Iya iya bos ... biasa aja kali , napa ?" gerutu Andre yang masih bisa di dengar oleh Alif .
" Mau protes?"
" Nggak lah ... ngapain coba ? bisa-bisa gaji aku dipotong . No !!!"
" Dasar lebay ."
" Biarin!"
Andre dan Alif masih berdiri di depan lift yang tertutup . Tak lama kemudian lift pun terbuka . Muncul Arfan yang datang dengan membawa bungkusan yang entah apa isinya .
" Abang mau ke mana?" tanya Arfan dengan biasa . Karena memang tidak ada orang lain selain mereka bertiga .
" Ada urusan mendadak. Ada apa kamu kesini?"
" Ada titipan dari mama ."
" Kamu letak aja di meja . Aku harus cepat, ayo ndre !"
Alif dengan cepat memasuki lift . Di ikuti Andre dari belakangnya. Sedangkan Arfan terpaku ditempatnya. Kemudian dengan lunglai berjalan ke ruangan Alif .
" Kok tumben Aul , belum datang ?" gumam Arfan saat tiba di depan meja Aulia .
" Apa mungkin Abang sama bang Andre ke rumah Aul ?"
" Ngapain kamu berdiri disini ? mana abangmu ?" tanya Musthofa yang tiba-tiba ada di belakang Arfan . Membuat Arfan kaget .
" Nggak usah ngagetin bisa kan pa ," protes Arfan pada papanya sambil menoleh kearah sang papa yang ternyata tidak sendiri.
Disampingnya ada seorang wanita muda , yang belum ia ketahui namanya. Entah ada keperluan apa wanita itu kesini . Bersama papanya pula .
" Jawab dulu pertanyaan papa !"
" Ya mana Arfan tahu . Katanya sih ada urusan penting diluar ."
" Ya sudah kalau begitu . Kenalkan... ini Merlin dia akan menjadi sekretaris sementara untuk Alif sebelum Dinda kembali bekerja."
" Papa serius ?"
__ADS_1
" Dua rius malah . Tenang saja Merlin ini hanya sementara sebelum membantu di perusahaan papanya . Selain itu dia juga seorang sekretaris yang handal . Jadi abangmu tidak perlu khawatir," ucap Musthofa membanggakan Merlin .
Merlin adalah anak dari sahabat Musthofa yang baru kembali dari luar negeri . Musthofa berharap Alif dan Merlin bisa berjodoh . Jadi hubungan persahabatan Musthofa dengan papanya Merlin bisa lebih erat . Itu keinginannya... tidak tahu apa yang akan terjadi , saat tahu sang sahabat memiliki maksud lain dengan dalih perjodohan .