
" Semoga kerja sama kita berhasil tuan ," ucap klien Alif .
" Amin ... terimakasih atas kepercayaan anda pada produk kami , tuan Adam !" jawab Alif . Dia bersyukur kerjasamanya berhasil .
Aulia menggantikan tugas Diana dengan baik. Meskipun ini pengalaman pertamanya tetapi tidak membuatnya gugup . Kalau urusan pekerjaan Aulia memang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Apalagi darah bisnis mengalir ditubuhnya. Performanya tadi membuat Alif dan kliennya kagum .
Andre dan Arfan berada di meja yang lain . Sambil nunggu Alif dan Aulia selesai keduanya memainkan ponselnya masing-masing.
" Bolehkah minta nomer anda nona ?" pinta Adam dengan ramah.
" Buat apa ya pak ?" tanya Aulia .
" Biar lebih muda jika menghubungi anda ."
" Sebenarnya saya tidak memberi nomer sembarang sih pak . Karena... kekasih saya sangat posesif. Tetapi jika memang untuk urusan perusahaan sih tidak masalah."
Jawaban Aulia membuat tiga orang didepannya terbengong. Dia tidak menyangka jika Aulia akan menjawab secara blak-blakan.
" Jadi anda sudah memiliki kekasih?" Adam bertanya dengan raut wajah wajah kecewa.
" Alhamdulillah... sebenarnya.. itu kekasih saya ," tunjuk Aulia pada seseorang yang baru memasuki restoran.
" Ternyata anda menyukai wajah bule ," canda Adam . Alif masih menatap orang yang ditunjuk Aulia sebagai kekasihnya. Ada nyeri sedikit dihatinya.
Orang itu nampak duduk di kursi kosong. Dia adalah Yusuf yang sedang makan siang .
" Mau bagaimana lagi buat merubah keturunan," jawab Aulia asal .
" Kalau begitu saya kira pertemuan kita cukup sampai disini dulu . Masih ada urusan yang harus saya selesaikan."
" Silahkan," kata Alif dan Aulia bersamaan.
" Itu beneran kekasihmu?" tanya Alif begitu Adam dan sekretarisnya sudah keluar.
" Menurut bapak?"
" Mana saya tahu . Bisa saja kamu bohong ," kata Alif dengan asal dan tepat sasaran. Membuat Aulia heran .
" Kok bapak tahu kalau saya lagi bohong?"
" Jadi kamu beneran bohong ?"
Alif tidak menyangka jika sekertaris sementaranya ini benar-benar tidak bisa diprediksi. Bisa-bisanya bohong , apa tidak takut terbongkar. Alif hanya bisa geleng-geleng kepala .
" Ada apa ini kok kayaknya seru amat ?" tanya Arfan yang tiba-tiba sudah ada disamping mereka bersama Andre .
__ADS_1
" Kamu lihat orang itu ," tunjuk Alif pada Yusuf.
" Loh bukannya itu kan Yusuf," jawab Arfan saat mengetahui orang yang ditunjuk Abangnya .
" Kok kamu kenal mas Yusuf ," tanya Aulia penasaran.
" Kamu kenal ?" Alif dan Aulia tanya hampir bersamaan.
" Kenapa tidak diajak makan disini saja ?" tanpa aba-aba Arfan menghampiri Yusuf dan mengajaknya berkumpul bersama mereka. Tentu saja Yusuf senang , karena tidak harus makan sendirian.
" Kok makan-makan nggak nawarin mas dek ?" sapa Yusuf begitu sampai di dekat Aulia .
" Adek aja baru tahu kalau mas makan disini . Mas sendirian?"
" Enggak!" jawab Yusuf santai . Dia mengambil kursi kosong di meja sebelah dan meletakkannya di samping Aulia .
" Sama siapa?" tanya Aulia sambil celingak-celinguk mencari orang yang diajak Yusuf.
" Nggak usah celingukan gitu kali dek , kan mas sekarang makan siang bareng kalian ," jawab Yusuf santai .
Alif tidak menyangka jika Arfan bisa kenal dengan lelaki yang diaku sebagai kekasih Aulia.
" Bos kalau penasaran... bisa langsung tanya orangnya langsung ," kata Aulia tiba-tiba.
" Uhk uhk uhk"
" Gara-gara kamu sih . Oh iya maaf jika saya lancang anda siapanya sekretaris saya ini ?" tanya Alif .
" sepupunya Aulia pak ," bukan Aulia yang menjawab melainkan Arfan .
" Kok kamu tahu ?" tanya Alif dan Aulia kompak . Membuat Arfan yang minum air langsung menyembur ke arah Aulia .
" Byur !!!"
" Lo jorok amat sih , fan ! "
" Sorry... habisnya sejak kapan kalian kompak ?"
" Bagaimana kalau kita makan dulu , sebab saya masih harus ada urusan ," kata Yusuf menghentikan perdebatan mereka .
" Urusan apa mas ?"
" Ada deh ... anak kecil nggak boleh banyak tanya, pamali !" jawab Yusuf dengan senyum misterius.
Akhirnya mereka memakan hidangan yang mereka pesan . Aulia makan dengan lahap . Meskipun makan di depan bos dan orang yang masih ada dihatinya, Aulia biasa saja . Dia menikmati makanannya tanpa malu-malu. Yang ada malah malu-maluin.
__ADS_1
" Ya Alloh dek .... kalau makan yang anggun dikit napa . Kenapa belepotan kayak gini sih !" omel Yusuf sambil memberikan tisu pada Aulia untuk membersihkan noda di mulutnya.
" Makasih... tapi anggunnya nanti saja mas ," jawab Aulia sambil meneruskan suapannya.
Yusuf hanya bisa mengelus dada mendengar jawaban adik sepupunya. Begitupun dengan ketiga pemuda yang lainnya. Arfan bisa melihat sisi yang berbeda dari seorang Aulia .
Setelah menyelesaikan makannya mereka kembali ke perusahaan begitupun dengan Yusuf. Aulia masih berboncengan dengan Arfan . Mereka berdua tidak seperti dua orang yg ang terlihat bermasalah.
Di tengah perjalanan ponsel Arfan tidak hentinya berdering . Membuat Arfan mau tidak mau harus memberhentikan motornya di tepi jalan .
" Assalamualaikum...ada apa ma ?"
" ...."
" Arfan ke perusahaan dulu ya ma ... baru pulang ."
" ..."
" Tapi ma "
tut .....
" Sial !
Kemudian Arfan membuat panggilan. Dia menelpon Alif untuk memastikan sesuatu.
" ...."
" Wa alaikum salam warahmatulloh...Abang juga di telpon mama ?"
" ...."
" Lah ...terus Aul bagaimana?"
" ..."
" Ya udah deh kalau begitu ."
Setelah ponselnya mari Arfan memandang Aulia .
" Ehm ... saya harus pulang ," kata Arfan dengan canggung.
" Kalau begitu biar saya naik ojol saja , tidak perlu khawatir," jawab Aulia seolah faham apa yang akan diucapkan oleh Arfan .
" Tidak bisa ...kamu harus ikut saya !" titah Arfan tak ingin di bantah .
__ADS_1
" Tapi _"
" Nggak ada tapi , ayo naik !"