
" Ha ?" Aulia bingung . Apa yang harus ia lakukan sekarang.
" Apa lagi yang kamu tunggu , Aul !" ucap Alif dengan keras. Ke tiga pria itu masih menatap Aulia yang masih diam di tempat. Andre pun keluar dan membuka pintu untuk Aulia .
" Ayo masuk , Aul !"
" Maaf ... bolehkah jika saya naik ojol saja ," pinta Aulia dengan wajah melas.
" Hei ... kamu diajak naik mobil , bukan naik becak kenapa lelet amat !" kata Alif dengan tidak sabar . Padahal Alif orangnya lebih sabar dibanding Arfan . Arfan masih memandang wajah Aulia yang nampak sendu .
" Kalau begitu biar saya naik becak saja pak , gimana ?" pinta Aulia dengan penuh harap . Membuat ketiga pria itu tak habis pikir.
Arfan tiba-tiba ingat saat pagi tadi , Aulia turun dari motor . Jangan-jangan.....?
Arfan pun turun dari mobil itu . Membuat Alif terperangah. Apalagi Arfan mendekati Aulia yang masih diam di tempat.
" Pak Alif dan pak Andre lebih baik jalan dulu , biar Aul bersama saya naik motor," kata Arfan tiba-tiba.
" Apa maksudmu?"
" Nanti kita lanjutkan lagi pak . Lebih baik sekarang kita berangkat dahulu . Dari pada kita terlambat."
" Baiklah... awas jangan sampai telat !"
" Siap !"
Kemudian Andre menyalakan mobilnya. Sedangkan Arfan mengajak Aulia menuju tempat parkir untuk mengambil motor yang tadi ia gunakan.
Aulia tidak membantah , dia mengikuti Arfan dari belakang. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Arfan meminjam helm pada satpam untuk dipakai Aulia . Kemudian mereka berdua mengikuti mobil yang dikendarai Andre .
Ternyata mereka menuju pabrik garmen milik Alif . Ada masalah yang terjadi di pabrik. Itulah alasan Arfak ke ruangan Alif tadi . Tanpa membuang waktu lama dia langsung mengajak kemari .
Aulia turun dari motor setelah Arfan memberhentikan motornya. Dia memandang gedung di depannya yang nampak suram . Bukan hanya itu dia melihat banyak hantu yang ada di situ, membuat Aulia merinding.
" Ada apa ?" tanya Arfan melihat Aulia yang bergidik sambil melihat pabrik di depannya.
" Ini bangunan apa sih pak ?"
" Bisa tidak panggilannya jangan pak ," protes Arfan yang tidak suka dengan panggilan pak untuknya. Memangnya dia bapaknya?
" Gitu aja protes ... Saya beneran tanya loh pak , ini gedung apa ?" tanya Aulia tanpa menghiraukan peringatan Arfan .
" Kalian kenapa masih berdiri disini , Ayo kita masuk ," ajak Alif .
__ADS_1
" Baik pak ," jawab Aulia. Arfan sebenarnya masih belum puas , tetapi mengikuti langkah abangnya. Aulia dan Andre jalan bersisian .
" Ini bangunan apa kak?" tanya Aulia sambil berbisik .
" Ini pabrik garmen , tempat mengolah kain menjadi pakaian jadi. Semua produksi milik AA 'P Garmen dilakukan disini ," jawab Andre .
" Jadi begitu ?"
Alif langsung membawa mereka ke ruang direktur. Untuk pertama kalinya Aulia akan bertemu dengan direktur pemasaran.
" Selamat datang di pabrik tuan ," sapa pria paruh baya dengan ramah . Dilihat sepintas dia nampak pria baik-baik. Tetapi kita tidak menyimpulkan sesuatu dari luarnya doang . Karena bersihnya wajah tidak mesti hatinya juga baik .
" Hem !"
Tanpa memperdulikan orang tersebut Alif langsung menuju ruangannya. Alif memang memiliki ruangan sendiri di pabrik ini .
" Ada apa ?" tanya Alif pada orang kepercayaannya.
" Produk yang baru saja kita produksi ternyata mempunyai kesamaan dengan produk milik perusahaan tetangga. Dan mereka menuduh perusahaan kita telah meniru produk kita ."
" Jadi ada pengkhianat?"
" Benar bos!"
" Itulah masalahnya boss . Putri yang menjadi penanggung jawab tidak bisa ditemukan. Sudah hampir tiga hari dua menghilang. Orang tuanya sudah melaporkan ke kantor polisi , tetapi sampai sekarang masih belum ketemu . "
" Kenapa baru sekarang melapor ?" tanya Alif dengan geram.
" Maaf !"
" Apa maaf bisa menyelesaikan masalah ?"
" ..."
" Sabar boss, dari pada marah lebih baik kita cari solusi " kata Aulia memecah keheningan.
" Jangan cuma banyak omong jika kamu sendiri tidak bisa mendapatkan solusi."
" Kan saya belum mencoba , bagaimana bisa bisa langsung menyimpulkan seperti itu ," protes Aulia tidak terima .
" Baiklah sekarang apa solusi yang kamu punya ?" tanya Alif mencoba memberi kesempatan untuk Aulia.
" Bolehkah saya melihat produk baru itu ?"
__ADS_1
" Ambil barang yang dibutuhkannya?" perintah Alif pada tangan kanannya itu .
" Ini pak ." Sebuah jaket di berikan kepada Alif . Alif langsung memberikannya pada Aulia.
Aulia meneliti kaos itu dengan seksama.
" Apa produk perusahaan tetangga itu sama persis dengan ini ?" tanya Aulia dengan serius .
" Benar nona ."
" Kalau begitu kita bisa menambahkan sesuatu agar jaketnya berbeda. Contohnya seperti ini ...."
Aulia dengan santai menguraikan pendapatnya. Semua yang mendengar pendapat Aulia langsung setuju . Ternyata untung juga membawa Aulia kesini , batin Alif dengan senang karena satu masalah selesai .
" Sekarang masalah kedua ... bagaimanapun kita harus menemukan putri untuk meminta penjelasan padanya."
" Pak ...."
" Ada apa ?"
" Sebenarnya apa bapak ...."
" Bicara saja !"
" Sebenarnya... saya curiga dengan orang yang menyambut bapak tadi ."
" Siapa ?"
" Pria yang tadi ."
" Kenapa memangnya?"
" Bapak bisa menyelidikinya. Karena dia sebagai penanggung jawab tertinggi di sini . "
" Kamu _!"
" Tolong bapak selidiki dahulu ," pinta Aulia dengan serius.
" Baiklah. ... tidak ada salahnya ."
Aulia menyetujui semua usulan Aulia. Baik Arfan maupun Andre tidak ada yang membantah . Mereka di pabrik cukup lama . Selanjutnya mereka bertemu dengan klien yang tadi pagi mereka bicarakan.
Arfan ikut dengan mereka sebagai supir Aulia . Mereka berdua mencoba untuk berdamai.
__ADS_1