Aulia Bilqis

Aulia Bilqis
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Setelah drama penyambutan itu , kini Aulia sudah ada di kamarnya. Dia duduk di kursi meja riasnya. Sedangkan Nadia Telang berbaring di ranjang . Aulia sampai heran siapa yang tuan rumah disini. Tetapi Aulia bersyukur meskipun Nadia hantu tetapi sangat perhatian dengannya.


Selama Aulia di rumah sakit , belum satu kali pun teman yang menjenguknya. Tapi dia sadar , mana mungkin mereka mau menjenguknya. Hanya saja dia sangat kecewa dengan sang sahabat. Menurut Nadia sekarang Bella yang menjadi sahabat satu-satunya telah dekat dengan Brenda. Padahal dulu Bella lah yang menyuruh Aulia untuk membuly Brenda .


" Jangan suka ngelamun, ayam tetangga aku langsung mati karena banyak melamun loh ," celetuk Nadia yang melihat Aulia terdiam dengan pandangan kosong .


" Tapi jika ayam itu nggak melamun , pasti yang jualan ayam potong akan kewalahan," jawab Aulia santai. Meskipun melamun ternyata dia mendengar ucapan Nadia.


" Ngelamun apa sih ?"


" Ngelamun nasib."


" Kenapa ?"


" Ternyata gua nggak punya teman sama sekali ya ?" ucap Aulia dengan sendu.


" Nggak usah sedih gitu. Bukankah gua temen Lo , nanti gua kenalin sama sahabat gua ," kata Nadia mencoba menghibur.


" Pasti pocong dan mbak Kunti ?" tebak Aulia.


" Kok tau sih ?"


" Ya iya lah kan sama-sama hantu ."


" Betul juga , " jawab Nadia dengan mengangguk kan kepalanya.


" Lo nggak marah ?" tanya Aulia.


" Kenapa?"

__ADS_1


" Kan nyebut teman Lo pocong ."


" Ngapain marah ... kan memang mereka temen aku . gimana dong ?"


" What!!" teriak Aulia yang membuat Lily dan Rangga kaget . Mereka langsung memasuki kamar putrinya dengan panik .


" Kenapa sayang ?" tanya Lily khawatir.


" Oh ... tadi ada kecoa...ya kecoa ," jawab Aulia asal . Dia sungguh menyesal telah berteriak seperti tadi . Membuat kedua orangtuanya khawatir.


" Mama kita ada apa . Bagaimana kalau kita makan sekarang. Bibi sudah menyiapkan semuanya."


" Tapi _"


" Nggak ada tapi , nanti bisa lanjut istirahat sekalian makan malam," ucap Rangga. Karena memang sekarang sudah menjelang Maghrib.


Aulia mengikuti langkah kedua orangtuanya ke ruang makan . Ternyata sudah banyak makanan yang sudah terhidang di atas meja.


" Ayo sayang ... bibi menyiapkan makanan kesukaan Aul . Ada udang krispi , cumi asam pedas dan juga cah kangkung ," ucap Lily sambil duduk di samping Rangga yang sudah duduk terlebih dahulu.


Lily mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan lauk kesukaan sang suami yang tak jauh beda dengan sang putri . Setelah itu mengambil untuk dirinya sendiri.


" Ayo sayang ," kata Lily pada Aulia yang hanya diam melihat orang tuanya makan .


" Iya ," ucap Aulia. Kemudian mengisi piringnya dengan sedikit nasi dengan berbagai lauk kesukaannya.


" Masakan Bu Yem nggak pernah berubah , enak banget ," kata Aulia begitu ia menyuap satu sendok kedalam mulutnya.


Rangga maupun Lily tersenyum melihat Aulia berbicara dengan mulut yang masih penuh . Ada penyesalan tersendiri dalam hati mereka karena tidak melihat pertumbuhan putrinya.

__ADS_1


" Pelan-pelan sayang , nanti tersedak ," ucap Lily begitu melihat Lily dengan lahap menyantap makanannya.


"👍"


Aulia hanya memberikan satu jempol tanpa mengeluarkan suara . Karena masih menikmati makanannya. Sudah lama banget rasanya tidak makan seperti ini. Makan didampingi oleh kedua orang tuanya. Tiba-tiba air matanya menetes . Hal itu disadari oleh Rangga.


" Ada apa sayang ?" tanya Rangga khawatir. Aulia menggelengkan kepalanya. Lily pun turut melihat sang putri yang sudah menangis tergugu.


Dengan cepat dia menghampiri sang putri . Dia mengambil tisu yang tersedia di meja dan mengusap air mata yang masih terus mengalir. Makanan yang tinggal separuh itu jadi tidak tersentuh.


" Maaf," ucap Aulia begitu tangisannya berhenti .


" Kenapa sayang ?" tanya Lily dengan hati-hati. Tetapi Aulia hanya menggeleng.


" Aulia boleh ke kamar dahulu ?" tanya Aulia dengan agak canggung. Entah kenapa dia merasa seperti itu.


" Baiklah sayang ... istirahatlah."


Setelah mendapat persetujuan dari orang tuanya , Aulia langsung beranjak dari ruang makan . Sedangkan Lily maupun Rangga melihat kepergian Aulia dengan tatapan sendu.


" Apa yang harus kita lakukan, ma ?" tanya Rangga dengan frustasi. Melihat keadaan sang putri seperti itu membuat hatinya terasa teriris .


" Mari kita kurangi sedikit kegiatan kita sayang , sebelum kita kehilangan putri kita ,"


" Tapi bagaimana dengan perusahaan kita yang ada di luar negri ?"


" Kita bisa pantau dari sini dan sesekali melihatnya langsung . Nanti jika putri kita sudah menikah, kita tidak akan bisa sering berkumpul lagi . Mumpung kita masih diberi kesempatan," kata Lily setelah mempertimbangkannya selama menunggu sang putri koma .


" Baiklah... semua akan papa urus ," putus Rangga. Dia setuju dengan usulan sang istri . Keputusan yang berat menurutnya. Tetapi demi kebahagiaan semuanya. Semoga semuanya berjalan lancar .

__ADS_1


__ADS_2