
" Kok kamu diam saja ... jawab kek ," kata Alif begitu tidak mendapat tanggapan dari Aulia. Aulia pun yang mendengar jadi gedek . Sedangkan Andre berusaha untuk menahan tawanya.
" Bapak kalau ngomong jangan plin-plan dong ," protes Aulia
" Kamu bilang saya plin-plan gitu ?" tanya Alif dengan mata melotot.
" Iya.... memang saya salah pak . Bapak tadi suruh saya diam , saat diam malah suruh berbicara kalau bukan plin-plan apa dong namanya?"
" Ya Alloh... maksud saya bukan begitu , Aul !"
" Terus bagaimana dong pak ?"
" Dengar dulu apa yang saya ucapkan. Kemudian baru kamu buka suara," ujar Alif dengan gregetan.
" Oh !"
" Kok oh ?"
" Eh !"
" Jangan main-main Aul!"
" Iya iya sensi amat pak boss," sindir Aulia membuat Alif mendelik tak suka .
" Andre!" teriak Alif . Dia sudah tak sanggup debat dengan Aulia. Menyuruh Andre menjelaskan apa yang harus aulia katakan .
" Nona Aul , nanti siang anda harus ikut untuk menemui klien menggantikan nona Diana . Ini berkas yang perlu anda pelajari !" ucap Andre to the poin .
" Baik pak apa ada yang lainnya?" tanya Aulia . Dia menerima berkas itu dengan senang hati. Alif yang melihat itu langsung mengernyitkan dahinya. Santai amat ni cewek , gumam Alif dalam hati .
" Tidak ... untuk saat ini kamu kembali ketempat. Nanti jam sebelas kita berangkat. Ada pertanyaan?"
" Tidak pak !"
" Kalau begitu sekarang kamu bisa kembali ketempat mu !"
" Baik pak , permisi !"
__ADS_1
Setelah itu Aulia keluar dari ruangan itu. Andre kembali melanjutkan ucapannya yang tadi terpotong .
Aulia membuka berkas yang ada di tangannya. Dengan teliti Aulia memeriksa dokumen itu . Hingga suara seseorang mengalihkan perhatiannya.
" Bapak Alif ada di ruangannya kan ?" tanya Arfan sambil menatap Aulia yang sedang serius.
" Ada pak !" jawab Aulia spontan. Membuat Arfan seketika melotot.
" Emang gua bapak Lo !" pekik Arfan membuat Aulia kaget .
" Maaf maaf ... aduh , terus harus panggil apa ya pak ," ucap Aulia dengan sopan . Dia berusaha untuk bersikap profesional meskipun dadanya berdegup kencang.
" .....?" Arfan malah bingung mendapatkan pertanyaan itu . Dia pun tidak menghiraukan lagi . Dia langsung melewati meja Aulia dan mengetuk pintu ruangan CEO.
Aulia yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa mengelus dada. Kemudian melanjutkan pekerjaan yang tertunda .
Tok tok tok
" Siapa?" tanya alif dari dalam .
" Saya pak ... manager keuangan, Arfan !" jawab Arfan dengan suara agak keras. Dia juga sesekali melirik Aulia yang kembali fokus dengan berkas di tangannya.
" Silahkan masuk ," ucap Andre dengan sopan .
Andre mempersilahkan Arfan masuk kedalam. Kemudian menutup itu kembali dari luar . Karena dia tidak ikut masuk. Andre menghampiri Aulia.
" Ehm !"
" Eh pak Andre. .. ada yang bisa saya bantu pak ?"
" Tidak perlu panggil bapak , panggil saja Andre," ucap Andre dengan tersenyum ramah . Perlakuan yang baru kali ini Aulia terima dari sang asisten CEO sejak masuk perusahaan. Padahal baru hari kedua, sudah kayak bertahun-tahun saja 😓😓.
" Bagaimana kalau kak Andre saja . Bagaimana pun usia kakak lebih tua dari saya ?" tanya Aulia seolah memberi solusi .
" Boleh juga , apa Aul ada kesulitan dengan berkas itu ?"
" Belum ada pak . Sejauh ini masih bisa dimengerti ," jawab Aulia santai . Hal itu membuat andre bingung .
__ADS_1
" Beneran ?"
" Tentu ... kak Andre bisa mengujinya," jawab Aulia .
Untuk menghilangkan keraguannya Andre menanyakan beberapa hal tentang isi berkas . Aulia menjawabnya tanpa ada kesalahan sama sekali . Membuat andre kaget sekaligus terpukau dengan kejeniusan Aulia . Itu membuatnya faham alasan Aulia menerima jabatan sekretaris sementara, selama ia magang .
Percakapan mereka makin lancar membahas berkas tersebut. Hingga mereka tidak sadar menjadi bahan tontonan dua orang yang baru keluar dari ruangan CEO. Keduanya merasa tidak suka melihat kedekatan Andre dengan Aulia. Keduanya mendekati Andre dan Aulia yang masih berdiskusi. Andre saat ini duduk di kursi tempat Diana duduk .
" Ehm !"
" Ada yang bisa saya bantu pak ?" tanya Aulia dengan berdiri dari tempatnya diikuti andre . Keduanya biasa saja . Tetapi tatapan kedua orang di depan mereka membuat Aulia maupun Andre bingung. Kok seperti kepergok selingkuh.
" Apa kamu sudah mempelajari berkasnya?" tanya Alif datar . Pandangannya sangat menusuk .
" Sudah pak . Kak Andre juga membantu saya memahaminya.
" Kalau begitu kalian berdua ikut saya sekarang!" titah Alif tanpa ingin dibantah. Aulia tahu itu ... jadi tanpa banyak tanya mengiyakan.
" Baik pak ," jawab Andre dan Aulia kompak .
Hal itu membuat alif dan Arfan tidak senang .Tanpa banyak kata mereka berjalan duluan . Andre dan Aulia mengikutinya dari belakang .
Mereka berempat menaiki lift yang terbuka . Di dalam lift itu hanya ada empat orang itu . Suasana lift sangat hening , tidak ada satupun yang bersuara . Hingga bau menyengat membuat mereka terganggu.
" Ini sebenarnya bau apa sih pak , kok sering banget seperti ini ," ucap Arfan dengan formal. Dia menutup hidungnya dengan tangan , begitupun Alif, Andre dan Aulia .
" Sepeti bau bangkai , tapi bangkai apa ?" gumam Alif yang juga sama bingungnya dengan mereka . Karena hal ini bukan kali pertama terjadi .
Aulia diam-diam melirik satu penghuni yang tidak dilihat oleh ketiga pria itu . Aulia sangat yakin jika bau bangkai ini berasal dari tubuhnya. Dia berusaha agar tidak di curigai oleh makhluk itu .
Ting !
lift berhenti di lantai satu . Alif dan Arfan keluar terlebih dahulu di ikuti Aulia dan Andre . Tetapi selanjutnya Andre berjalan dengan cepat mendahului Alif . Aulia jadi bingung mau mengikuti siapa . Tapi dia masih berjalan di belakang Arfan dan Alif .
Mereka berhenti di depan kantor. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka bertiga. Alif masuk kedalam kursi belakang begitupun dengan arfan . Sedangkan Aulia masih terpaku di tempat .
" Cepat masuk !" titah Alif dengan datar .
__ADS_1
" Ha ?"