
Aulia masuk ke dalam ruangan Rani dengan santai . Ternyata saat tiba Rani belum ada di ruangannya . Lalu Aulia melanjutkan pekerjaan yang tadi ia tinggalkan.
Tak lama kemudian Rani datang dengan mata yang kelihatan sembab . Entah apa yang terjadi padanya. Tanpa kata dia langsung berjalan ke kursinya.
" Bu Rani tidak papa kan?" tanya Aulia yang melihat Rani seperti itu .
" Tidak papa kok ," jawab Rani dengan suara serak . Sepertinya dia menangis terlalu lama.
Aulia tidak melanjutkan ucapannya kembali karena Rani nampak tidak ingin bercerita . Dia ingin mengambil cangkir yang ada di meja Rani untuk ia ganti . Tetapi dia mendengar tangisan Rani lagi .
" Hu hu hu hu hu"
" Bu ....," ucap Aulia dengan lirih . Aulia tidak jadi mengambil cangkir itu . Tanpa disangka Rani menceritakan permasalahannya.
" Pernikahan ku hampir lima tahun . Tetapi kami belum juga dikaruniai keturunan. Sebelumnya suamiku tidak pernah mempermasalahkannya tetapi .... tadi ...aku melihat suamiku bersama wanita lain . Kamu tahu perut wanita itu terlihat membesar . Sakit ....sakit hati aku Aul hu hu hu."
Aulia dengan reflek menghampiri Rani dan memeluknya. Dia tidak berbicara apapun, dia hanya memberi semangat lewat pelukannya. Tak lama kemudian Rani pun berhenti menangis dan melepas pelukan Aulia .
" Terimakasih."
" Aul kan tidak ngapa-ngapain Bu ."
" Tadi itu adalah semangat untukku. Meskipun kamu tidak berbicara apapun . Sekarang aku ingin meminta pendapatmu apa yang harus aku lakukan?"
" Maaf apa ibu tadi berbicara dengan mereka ?"
" Iya ... kamu tahu hampir saja aku menjambak wanita itu jika suamiku tidak menyelamatkannya. Dan kamu kamu tahu ... suamiku malah menampar ku ."
" Apa dia mengaku siapa wanita itu ?" tanya Aulia dengan hati-hati.
" Suamiku bilang dia istri keduanya. Sudah tujuh bulan mereka menikah ."
" Astaghfirullah... apa mertua ibu tahu ?"
" Entahlah... aku bingung , apa yang harus aku lakukan. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
" Turuti apa kata hati ibu . Apa ibu rela di poligami?"
" Tentu saja tidak . Aku lebih baik hidup sendiri dari pada hidup di madu ," jawab Rani dengan keras .
" Kalau begitu ... ibu sudah mempunyai jawabannya. "
" Kamu benar ... kalau begitu , aku pergi dulu . Kalau sudah waktunya pulang kamu bisa langsung pulang . "
" Ibu mau kemana ?"
__ADS_1
" Tentu saja pulang ... terimakasih Aul , sekarang aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."
Rani langsung pulang kerumahnya. Selama ini Rani tinggal bersama suami dan juga kedua mertuanya. Suami Rani adalah putra bungsu dari tiga bersaudara. Untuk itulah mereka tinggal bersama kedua orang tua sang suami .
Rani asli orang Jakarta. Di Jogja dia hanya memiliki suami dan keluarganya.
Setibanya di rumah, ternyata mobil sang suami sudah ada di garasi . Sudah pasti dia sedang ada di rumah . Saat dia masuk dia mendengar tawa dari ruang tamu . Dia jadi penasaran apa yang sudah membuat mereka tertawa . Dan ternyata....
" Kita akan mengadakan acara tujuh bulanan dengan meriah ton . Ibu seneng banget akhirnya ibu akan menjadi seorang nenek ," ucap ibu mertua Rani .
" Tapi bagaimana dengan Rani bu ?"
" Sudahlah... kalau dia tidak mau di madu kamu harus menceraikannya. Buat apa masih mempertahankan si mandul itu . Lebih baik kamu memperhatikan kondisi Billa dan kandungannya."
" Tapi _"
" Aku setuju dengan saran ibu ," ucap Rani tiba-tiba. Ketiga orang yang sedang berbincang itu kaget akan kedatangan Rani .
" Sayang _"
" Basi ! Seperi kata ibu tadi ... aku ingin kamu talak aku sekarang juga !"
" Tidak !"
" Ton...ingat kondisi Billa."
" Sayang .... berilah kesempatan untuk aku sayang . Akan aku buktikan bahwa aku bisa adil _"
" Adil tai kucing .... sorry mas bro !!! aku tidak suka berbagi . Jadi lebih baik kita pisah . Tak ada lagi yang tersisa dari hubungan kita ."
" Tapi sayang ..."
" Sudahlah mas .... aku sadar , aku tidak bisa memberikan keturunan buat mas . Jadi aku rela mas menceraikan aku . Aku tidak masalah . "
" Sudahlah ton ... ceraikan saja Rani , Kamu juga harus memperhatikan nasib anakmu jika lahir nanti . Jika kamu bercerai dengannya maka kamu bisa melegalkan pernikahan mu dengan Billa kalau tidak , Bagaimana nasib anakmu kelak ," ucap sang ibu .
" Dengarkan ucapan ibu mas . Lebih baik mas segera menceraikan Rani ,'" ucap Rani dengan tegas . Dia sudah tidak ingin bertele-tele lagi .
" Baiklah dengarkan baik-baik, mulai hari ini Desi maharani bin Abdul Aziz ku talak kamu , mulai sekarang kamu bukan lagi istriku !"
" Alhamdulillah.... terimakasih," ucap Rani yang membuat ketiganya terbengong. Dia tidak menyangka Rani begitu tegar . Bahkan tidak ada suara tangis dari Rani .
Rani meninggalkan ketiganya kedalam . Dia berjalan menuju dapur untuk meminta bantuan pembantu.
" Bi ... bolehkah Rani minta tolong ?"
__ADS_1
" Minta tolong apa nyonya ?"
" Mari ikut Rani kedalam kamar ."
Rani mengajak pembantu itu ke kamarnya . Dia mengambil koper yang ada di atas lemari . Dia mengambil beberapa baju yang ia beli dengan uang miliknya. Tidak banyak karena hampir semua baju itu dibelikan sang suami . Dia juga mengambil berkas-berkas penting miliknya.
" Bi .... tolong bibi keluarkan semua baju-baju milik saya . Nanti bibi tanya sama tuan mau dikemanakan baju itu . Begitupun dengan barang-barang lainnya."
" Memangnya nyonya mau kemana ?"
" Saya harus pergi bi . Karena sudah ada nyonya baru yang menggantikan saya ."
" Yang sabar ya nyonya ... saya berdoa semoga nyonya mendapatkan kebahagiaan di manapun berada."
" Terimakasih bi . Dan ini ada sedikit rejeki buat bibi ," kata rani sambil memberikan beberapa uang ratusan yang ada di dompetnya.
" Terimakasih nyonya ."
" Sama-sama... kalau begitu Rani pergi dulu ," kata Rani .
Ternyata Toni menyusul Rani kedalam kamar . Terlihat matanya berkaca-kaca. Bagaimana pun mereka sudah berhubungan selama sepuluh tahun lebih . Sejak mereka di bangku
kuliah .
" Apa kamu akan pergi , sayang ?"
" Tentu saja mas ... oh iya saya hanya membawa barang-barang secukupnya. Dan untuk yang lain terserah mau diapakan. Semua perhiasan ada di lemari . Dan ini ... cincin pernikahan ini aku kembalikan."
" Itu hak mu sayang .... semua perhiasan yang telah aku berikan itu milikmu ."
" Maaf , tapi aku tidak bisa menerimanya. Ini semua kartu yang sudah mas berikan padaku. Mas bisa memberikan pada istri mas ."
" Sayang !"
" Maaf mas ...aku harus pergi !"
Rani langsung pergi melewati Toni begitu saja . Tapi dia harus menghentikan langkahnya saat Toni memeluknya dari belakang.
" Maaf mas sayang !"
" Rani susah memaafkan mas . Bukan mas yang salah tetapi Rani . Maafkan Rani yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas . Dan maafkan Rani Ng tidak memberikan keturunan buat mas . Rani berdoa semoga keluarga baru mas bahagia . Maaf Rani harus pergi ."
Rani melepaskan pelukan Toni dan melanjutkan langkahnya. Dia berhenti di depan ibu mertuanya.
" Maafkan semua kesalahan Rani selama tinggal disini Bu . Ikhlaskan semua makanan dan barang yang telah Rani pakai selama ini. Maaf masih belum bisa menjadi menantu yang baik buat ibu . Semoga ibu bahagia selalu . Rani pamit!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Rani keluar tanpa menoleh lagi . Bahkan dia melewati istri baru suaminya. Dia keluar dari rumah itu tanpa membawa mobil yang sudah di belikan suaminya. Untung uang penghasilannya selama ini ia sendiri kan . Dia akan mencari tempat tinggal yang tidak jauh dari kantor.