Aulia Bilqis

Aulia Bilqis
Teman baru


__ADS_3

Rangga, Lily dan juga Aulia mencari makan di sekitar kontrakan. Banyak penjual makanan yang berjualan di sepanjang jalan . Jadi bagi Aulia yang belum bisa memasak, bisa jadi alternatif lain jika tidak memiliki seorang asisten rumah tangga.


" Kalau begini kan mama tidak perlu khawatir kalau Aul akan kelaparan," kata Lily sambil terus berjalan.


" Papa setuju dengan mama . Meskipun hanya makanan sederhana tidak masalah kan nak ?" tanya Rangga pada Aulia yang fokus melihat penjual yang berjejer di pinggir jalan.


" Tidak masalah dong pa , agar Aul juga belajar untuk nggak terlalu milih-milih makanan ," jawab Aul santai .


" Good ! sekarang kita makan apa dong ?"


" Karena kita sekarang ada di Jogja belum lengkap dong kalau belum makan gudeg , tuh ada yang jual ," tunjuk Aulia pada warung yang menjual gudeg .


" Kyu lah kalau gitu ," dengan senang hati Rangga dan Lily mengikutinya.


Warung yang ditunjuk Aulia nampak ramai . Aulia dan kedua orangtuanya harus sabar menunggu giliran. Mereka ikut antri seperti yang lainnya.


" Bade tumbas nopo , cah ayu ?" ( Mau beli apa , cantik ? ) tanya wanita paruh baya yang bertugas melayani para pembeli .


" Saya mau beli ini , ini dan ini ," jawab Aulia sambil menunjuk makanan yang ia inginkan.


" Sekedap nggeh , cah ayu ," ( sebentar ya , cantik ) jawab wanita itu sambil mengambilkan pesanan Aulia .


" Nggeh ," jawab Aulia yang sedikit mengerti ucapan wanita itu .


Wanita itu mengambil beberapa makanan yang tadi ditunjuk oleh Aulia . Setelah selesai beliau memberikan pada Aulia.


" Mangga!" ( silahkan!)


" Terimakasih ."


Setelah pesanan Aulia selesai kini giliran Lily dan Rangga yang menunggu pesanannya. Aulia dengan sabar menunggu mereka , meskipun air liurnya hampir menetes .


Sambil menunggu orang tuanya, Aulia mencari tempat yang dapat mereka pakai .


" Kita duduk dimana nih ?" tanya Lily yang sudah berdiri disamping Aulia.

__ADS_1


" Tuh ... ada tempat kosong ," tunjuk Aulia pada kursi kosong yang ada di pojok ruangan.


Mereka pun berjalan ke kursi kosong yang ditunjuk oleh Aulia . Aulia memesan nasi gudeg ditambah telur balado dan sayur pakis . Begitupun dengan Rangga dan Aulia . Mereka bertiga memiliki selera yang sama soal makanan.


" Enak juga ... tak kalah sama makanan yang pernah papa beli di restoran," kata Rangga begitu dia selesai menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


" Papa benar ... menurut mama malah lebih enakan yang ini ," kata Lily membenarkan ucapan Rangga . Karena keduanya memang selalu berdua kemana pun pergi .


Aulia hanya mendengar tanpa mau berkomentar. Perutnya sangat lapar , dan makanan ini sangat enak menurutnya.


Setelah makanan habis mereka kembali ke kontrakan. Di tangan Aul sudah ada beraneka ragam makanan yang akan ia santap saat lapar .


Rangga dan Lily tidak bisa menemani Aulia lebih lama lagi karena sudah ada telpon dari anak buahnya. Ada pelanggan dari luar negeri yang ingin pelayanan langsung dari mereka. Untuk itu mau tidak mau mereka harus meninggalkan Aulia sendiri di kontrakan.


Aulia yang sedang asyik menonton televisi terganggu suara bel yang berbunyi . Dia segera membenahi pakaiannya yang tersingkap saat berguling di karpet .


Saat melihat tamu dihadapannya, Aulia merasa bingung. Perasaan dia tidak mengenalnya tetapi kenapa orang ini bertamu ke kontrakannya?


" Assalamualaikum..." sapa seorang wanita muda yang mengenakan hijab pink sambil tersenyum menatapnya .


" Perkenalkan nama saya Arini. Saya tinggal di samping rumah ini ," jawab wanita itu sambil mengulurkan tangannya.


dert dert


Entah kenapa saat dia menyambut uluran tangan wanita itu , tangan Aulia terasa kesetrum . Reflek Aulia menarik tangannya. Wanita itu sampai kaget . Aulia jadi tidak enak sendiri .


" Maaf ... tangan saya kesemutan," kata Aulia seolah memberi jawaban akan tingkahnya.


" Tidak masalah, boleh kan saya masuk kedalam?"


" Tentu saja ... tapi maaf kalau tempatnya agak berantakan."


" Santai saja , tempat aku juga lebih berantakan."


Aulia membawa tamunya duduk di ruang tamu . Kemudian dia mengambil minuman yang tadi ia beli sekaligus dengan camilan nya .

__ADS_1


" Maaf hanya ada ini ," kata Aulia canggung .


" Tidak masalah ... seharusnya tidak perlu repot-repot sih , Arin jadi tidak enak deh ."


Mendengar ungkapan Arini hanya membuat Aulia tersenyum.


" Arin asli sini ?" tanya Aulia .


" Iya .... kebetulan rumah ini milik ibuku," jawab Arini dengan jujur .


" Oalah ... jadi Arin putri pemilik kontrakan ini?"


" Betul sekali. Tadi ibu bilang ada yang ngontrak di samping rumah dan kita seumuran gitu . Jadi sama ibu suruh kenalan deh ."


" jadi gitu .... pantesan. Seneng banget akhirnya Aul punya kenalan juga di tempat yang asing ini ."


" Memangnya Aul belum pernah kesini ?"


" Belum pernah sama sekali dan baru semalam aul tiba ."


" Sekarang orang tua Aul kemana ?"


" Sudah kembali ke Jakarta ."


" Ooo ... jadi Aul sendiri dong di sini?"


" Ya begitulah, mau bagaimana lagi . Apa Arin mau nemani Aul?"


" Nggak deh makasih . Lagian rumah kita juga gak jauh , dempet malah ," kata Arini menolak permintaan Aul . Padahal Aul juga cuma asal, sebab dirinya juga belum kenal sama Arini.


Sore Aul ditemani oleh Arini dengan berbincang-bincang. Aul mengajak Arini ke ruang keluarga. Mereka berbincang sambil menonton saluran televisi.


Arini pulang saat mendengar suara ibunya berteriak memanggil namanya. Bukan hanya itu, suara Adzan Maghrib berkumandang dari segala penjuru.


Setelah Arini pulang , Aul pun mengunci semua pintu . Karena dia belum terbiasa tinggal di tempat yang pengawasannya kurang . Atau bisa dibilang dia harus bisa menjaga dirinya sendiri . Untuk itu dia harus sedia payung sebelum hujan.

__ADS_1


Aul menunaikan sholat Maghrib di dalam kamarnya. Setelah sholat dia juga menyempatkan diri untuk membaca Alquran. Meskipun masih banyak bacaan yang kurang sempurna. Dia bertekad untuk belajar lagi . Sepertinya dia tahu , kepada siapa dia akan belajar mengaji.


__ADS_2