
Alif tidak menyangka akan mendengar kata-kata pedas dari sang mama . Meskipun kata-kata itu bukan untuk nya. Dia jadi penasaran apa yang membuat mamanya sampai seperti itu.
Alif merasa kasian saat melihat Aulia meninggalkan mereka dengan mata berkaca-kaca. Jadi setelah mamanya pergi , Alif termangu di tempat. Sedangkan Andre berdiri di belakangnya.
" Apa kamu mengerti apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Alif setelah diam untuk beberapa saat .Andre menggelengkan kepalanya tanda tak faham sama seperti Alif . Kemudian Alif menyuruh Andre untuk menyelidikinya.
Sepeninggalan Andre .... Alif masih tetap berdiri ditempat yang sama . Untung lantai penghuninya tidak banyak dan tidak ada yang berlaku kalang . Jadi mengetahui kejadian tadi juga terbatas mereka saja .
Alif merasa khawatir dengan keadaan Aulia yang tidak kembali-kembali dari toilet. Jadi dia menyusulnya ke toilet . Karena Aulia berada di toilet wanita , maka Alif menunggu nya di depan toilet .
" Pak Alif ?" kata Aulia saat melihat Alif mondar-mandir di depan toilet. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh pimpinannya itu .
" Kamu ngapain aja sih di kamar mandi . Ini sudah setengah jam loh ," Kata Alif sambil menatap mata Aulia yang nampak sembab .
" Masak sih pak ... kok saya nggak ngerasa ya . Terus bapak ngapain disini ?" jawab Aulia dengan kikuk. Dia merasa canggung dengan Alif .
" Saya menunggu mu karena sekarang kita mesti balik ke pabrik . Masalah yang kemarin sudah menemukan titik terang ," jawab Alif memberi alibi . Tidak mu mungkin jika dia bilang mengkhawatirkan keadaan Aulia . Untuk ada telpon dari anak buahnya yang segera menyuruhnya ke pabrik .
" Mas Andre mana ... kok bapak sendiri yang panggil Aul ?" tanya Aulia sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Andre .
" Nggak usah banyak tanya . Lebih baik kamu segera bersiap ,'" ujar Alif sambil berjalan terlebih dahulu . Aulia mengikuti dari belakang.
Setibanya di meja kerjanya Aulia langsung mengambil ponsel untuk memanggil ojol . Dia sudah memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan alif maupun Arfan . Baik itu untuk urusan kerja . Sebisanya dia akankah kita meminimalisir komunikasi mereka.
Tak lama kemudian Alif keluar . Dia membawa berkas yang kemudian diberikan pada Aulia . Dengan sopan Aul menerima dan membawanya ke pabrik .
Alif berjalan diikuti Aulia dibelakangnya. Mereka berdua masuk dalam lift yang terbuka . Ternyata sudah ada beberapa orang yang sudah ada di dalamnya termasuk Arfan .
Alif nampak kaget melihat Arfan masih ada di perusahaan. Bukankah tadi mamanya ingin mengajak Arfan jalan.
Ternyata semuanya turun di lantai satu . Setelah liftnya terbuka semua keluar . Alif dan Aulia langsung berjalan keluar . Arfan yang penasaran dengan kepergian mereka berdua , mengikuti langkah mereka dari belakang.
Mereka sudah ditunggu oleh sopir .
" Kita langsung ke pabrik kan pak ?" tanya Aulia untuk memastikan sebelum Alif masuk kedalam mobil .
" Iya kenapa ? "
" Tidak kenapa-napa sih pak . Aul cuma tanya , sebab ojol yang Aul pesan juga sudah datang . "
" Kamu tidak ikut bersama mo ... oh iya lupa kalau kamu trauma dengan mobil . Apa saya _"
__ADS_1
" Bapak tidak usah khawatir pak , kalau begitu saya duluan ya pak . Itu ojol yang saya pesan sudah datang ," tanpa menunggu persetujuan dari Alif , Aulia langsung berjalan kearah ojol yang ia pesan .
Alif hanya bisa melongo melihatnya. Begitupun dengan Arfan yang sejak tadi ada di belakang mereka tetapi tidak disadari keduanya.
Setelah aulia berangkat Arfan mendekati abangnya . Dia masih penasaran kemana Alif dan Aulia keluar .
" Mau kemana sih bang ?"
" Mau ke pabrik . Kok kamu masih ada di perusahaan?"
" Kalau nggak disini mau dimana ?" tanya Arfan dengan bingung .
" Bukankah tadi mama bilang mau mengajak mu jalan."
" Males .... lebih baik disini dari pada nungguin orang belanja ," jawab santai .
" Terserah deh ... Abang mau ke pabrik dulu . Aul sebentar lagi sampai ," kata Alif yang langsung memasuki mobil . Arfan tidak mau ketinggalan. Dia langsung mengikuti abangnya. Membuat Alif mengernyitkan keningnya.
" Kenapa kamu ikut masuk ," tegur Alif.
" Mau ikut Abang lah ," jawab Arfan sambil memasang sabuk pengaman. Alif menghela nafas lelah .
" Jalan pak !"
" Abang ngapain sih natap Arfan gitu amat ?"
" Abang boleh tanya kan ?"
" Tanya aja ... sejak kapan abang minta persetujuan Arfan buat tanya ."
" Tapi kamu harus menjawab dengan jujur !"
" Nampaknya serius nih . Memangnya Abang mau tanya soal apa ?"
" Memangnya ada hubungan apa sih sebenarnya kamu dengan Aul ?" tanya Alif dengan serius.
" Kan sudah aku bilang , Arfan sama Aul tidak punya hubungan apapun ," jawab Arfan dengan jujur .
" Kok mama bisa mama bersikap kasar padanya di tempat umum ... hal yang belum pernah Abang lihat ," ungkap Alif dengan penasaran.
" Maksud abang ?"
__ADS_1
" Tadi mama memperingatinya untuk tidak menggoda Abang dan kamu ."
" Ha ... kok bisa , kapan?"
" Tadi lah !"
" Apa ini karena Arfan cerita soal aku yang ngejar-ngejar Arfan ya ?"
" Aul pernah ngejar-ngejar kamu ?"
" Hampir tiga tahun sejak kami masih awal jadi mahasiswa," jawab Alif sambil mengingat-ingat sejak kapan Aulia mengejar Arfan . Alif pun menganga .
" Tapi kok _"
" Dia berubah sejak bangun dari koma . Aul bahkan tidak pernah menyapa Arfan seperti dulu . "
" ...."
" ...."
Suasana mobil langsung sunyi . Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu . Tak lama kemudian mereka tiba di pabrik. Nampak Aulia yang berdiri di samping gerbang . Sepertinya dia menunggu kedatangan mereka .
Arfan dan Alif turun dari mobil dan menghampiri Aulia . Tak ada senyum yang bisa Aulia tampilkan saat menyapa mereka . Aulia hanya mengangguk kan kepalanya.
Mereka berdua juga tidak berniat berbasa-basi. Keduanya langsung masuk kedalam pabrik . Aulia mengikuti langkah keduanya di belakang .
Sepertinya kehadiran mereka sudah ditunggu. Mereka langsung diarahkan ke ruang rapat .
" Selamat pagi menjelang siang !" sapa Alif datar .
" Selamat datang tuan ," sapa salah satu petinggi pabrik .
" Saya tidak ingin berbasa-basi. Apalagi jika itu menyangkut perusahaan. Saya ingin memberi kesempatan untuk pengkhianat menyerahkan diri sebelum saya bertindak!"
" ...."
" Tidak ada yang mau mengaku?"
" ...."
" Kalau begitu jangan menyalakan ku jika bersikap kejam . Biar polisi sendiri yang menangkap kalian ,' lanjut Alif .
__ADS_1
Tidak ada yang mengaku . Semuanya saling melirik. Sedangkan pelaku mencoba untuk tenang . Dirinya yakin tidak di curigai .
Tak lama kemudian ada dua orang polisi yang datang . Dengan semua bukti yang dibawah polisi membuat direktur pemasaran tidak berkutik . Dia langsung dibawah ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.