
" Kamu yakin sayang ?" tanya Lily yang bertanya untuk sekian kalinya. Dia masih tidak setuju dengan keputusan sang putri. Padahal sang sang putri sudah siap untuk berangkat. Suaminya pun sudah memberi izin.
" Mama tanya beberapa kali pun jawabannya tetap sama," jawab Aulia yang kukuh dengan keputusannya.
" Tapi kondisi Aul kan belum begitu baik sayang ," bujuk Lily dengan lembut. Semoga putrinya mau mengubah keputusannya.
" Mama tenang saja . Keadaan Aul sudah baik kok. Lagian Aul sudah lama tidak masuk kuliah. Aul tidak mau jika aul harus mengulang kembali. Lagian Aul tinggal magang dan membuat skripsi," ujar Aulia beralasan.
" Baiklah... tapi ingat, jika ada sesuatu harus langsung menghubungi mama," putus Lily yang pasrah dengan keputusan Aulia yang ingin masuk kuliah, padahal kondisinya masih belum sepenuhnya pulih.
" Siap!"
Lily terpaksa mengijinkan putrinya kembali berkuliah. Sifat keras kepala sang putri mirip dengan sang suami .
Aulia berangkat dengan diantar sopir . Dia mengubah penampilannya menjadi tomboi. Sudah cocok dengan gelarnya si putri bar-bar. Sebab dulu meskipun bar-bar, Aulia lebih suka memakai pakaian feminim. Kebanyakan pakaiannya berupa gaun atau rok diatas lutut.
Mobil sudah berhenti di depan kampus . Aulia masih berdiam diri sebentar sebelum keluar.
" Apa ingin kembali nona ?" tanya sang supir begitu Aulia masih betah di dalam mobil .
" Tidak pak terimakasih sudah mengantar Aul dengan selamat," ucap Aulia dengan tulus.
__ADS_1
Setelah itu Aulia keluar dari mobil. Banyak yang menatapnya dan saling berbisik. Dia tahu dan tidak peduli . Sekarang dia hanya ingin fokus menyelesaikan kuliahnya.
" Jadi kamu kuliah sekarang?" tanya Nadia yang tiba-tiba ada disampingnya. Aulia melihat Nadia terakhir sebelum tidur. Setelah itu belum bertemu kembali.
" Jawab kek jangan cuman melirik doang ," gerutu Nadia yang ucapannya tidak dijawab.
" Bisa dikira gila kalau sku menjawabnya dodol," jawab Aulia dalam hati. Ternyata Nadia bisa mendengarnya.
" Ya begitu... jawab aja dalam hati," pekik Nadia dengan girang .
" Jadi kamu bisa membaca pikiran ku ?"
Mereka saling berbincang walau tanpa suara yang terdengar dari mulut Aulia. Aulia tidak menyadari saat dirinya berpapasan dengan Arfan dan teman-temannya. Dia terlalu fokus dengan Nadia. Hal itu membuat Arfan dan teman-temannya kaget. Mereka bahkan sampai menghentikan langkah mereka dan melihat Aulia yang berjalan semakin menjauh.
" Kok tumben si putri bar-bar diam aja bertemu dengan kita ?" tanya Dhika pada teman-temannya. Tentu saja tidak ada yang membalas karena mereka berdua pun tidak tahu jawabannya.
" Lo nanya ?" tanya Huda mengejek temanya.
" Menurut Lo ?"
" Ya mana saya tahu ."
__ADS_1
" Berisik !" bentak Arfan dengan kasar.
Arfan juga merasakan perubahan Aulia. Dia tidak menyangka Aulia tidak menyapanya. Padahal biasanya gadis itu meninggalkan pelajarannya hanya untuk bertemu dengannya.
Kini Aulia sudah ada di depan kelasnya. Meskipun ragu dia tetap masuk. Ternyata sudah banyak mahasiswa yang datang. Aulia menjadi pusat perhatian. Suasana yang tadinya gaduh langsung hening.
Tidak ada yang menyapanya sama sekali . Aulia pun cuek . Dia duduk di bangku yang selama ini ia tempati. Banyak yang berbisik tentangnya. Tetapi dia lebih memilih cuek.
Tidak lama kemudian dosen datang. Untuk semua mahasiswa di kelas itu telah lengkap .
" Selamat pagi anak-anak!" sapa sang dosen .
" Selamat pagi profesor."
" Apa ada mahasiswa yang tidak masuk ?"
" Masuk semua prof !"
" Aulia Bilqis!"
" Siap ..... hadir ," ucap Aulia dengan keras.
__ADS_1