
"Tapi Ayah... Aku kan cinta banget sama Kamila. Aku nggak mau kehilangan dia," kata Arkan.
Marvin menghela napas panjang. la bangkit dari tempat duduknya. Kemudian duduk di samping sang putra. Lalu menepuk bahu Arkan.
"Arkan, dengerin Ayah. Menikah itu bukan jalan keluar. Sekarang kalian jalanin aja dulu hubungan kalian seperti ini. Apa lagi kan kalian tinggal serumah. Kalian bisa lebih mengenal satu sama lain, mengenal sifat juga, karena yang namanya tinggal serumah itu pasti kelihatan ...sifat jeleknya apa aja, sifat baiknya apa aja. Pernikahan itu sakral bukan buat mainan," kata Marvin
panjang lebar.
"Tapi Ayah setuju kan kalau aku nikah sama Kamila?"
Marvin terkekeh, "Kalo Ayah gak setuju dari kemarin aja Ayah gak usah minta Kamila buat tinggal di sini, Ayah sayang sama Kamila sama seperti Bunda sayang sama Kamila. Kamila itu anak yang baik. Ayah juga melihat perubahan kamu semenjak bersama Kamila. Tapi, itu bukan berarti kalian boleh menikah secepatnya."
"Beneran gak boleh Yah? Aku takut Yah, Kamila itu segalanya buat aku!" kata Arkan berusaha merayu Ayahnya.
"Bang, bukan gak boleh, benerin dulu sikap kamu, kamu nantinya bakal jadi imam. Kalo imamnya gak bener gimana makmumnya, kalo pemimpinnya gak bener gimana
rakyatnya?"
"Udahlah yang penting sekarang bersikap dewasa dulu. Ubah sifat-sifat buruk kamu itu, yang masih suka nggak bisa ngontrol emosi dan lain-lain. Dewasa dulu baru mikirin nikah," kata Marvin.
Arkan menghela nafasnya dia benar-benar bingung harus bagaimana.
"Yaudah kalo gitu Arkan ke kamar yah Yah, udah malem!" Arkan bangkit dari sofa menuju pintu keluar.
Marvin menatap kepergian sang anak, sejujurnya Marvin setuju saja tapi anaknya itu masih suka lepas kendali, Marvin tidak mau jika nantinya pernikahan mereka berantakan.
Daripada Alisha, sedari dulu Marvin memang sangat bijak dia tidak akan mengambil keputusan dengan terburu buru.
Setelah mendapatkan khotbah singkat dari sang Ayah, Arkan pun keluar dari ruang kerja Marvin dengan bibir yang mengerucut kesal keputusan Ayahnya tidak akan bisa diganggu gugat.
Arkan berjalan menuju ke kamar Kamila. Lalu Arkan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Kamila. Gadis itu pasti sedang bersama Alisha dan Kayla. Semenjak Kamila tinggal di rumah mereka, setiap malam sesudah makan malam, Kayla pasti meminta Kamila untuk bermain bersamanya, dan menemani belajar.
Jadi, Kamila dan Alisha selalu menemani Kayla di kamar gadis kecil itu. Hingga gadis kecil itu selesai belajar dan tidur barulah, Kamila kembali ke kamarnya sendiri.
Setelah beberapa lama menunggu, Kamila pun masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu tersenyum melihat Arkan yang sedang memejamkan mata.
Tiba-tiba saja ponsel Arkan berbunyi. Kamila melihat notifikasinya
08XXXXX :gue lebih cantik dari cewe lo
"Siapa yah," gumam Kamila.
Kamila mengerutkan dahinya ia bertanya tanya dalam hati siapa yang mengirimi Arkan pesan seperti itu. Arkan yang mendengar suara Kamila kemudian membuka matanya.
__ADS_1
"Eh udah ke kamar, kenapa Yang?" tanya Arkan saat melihat wajah Kamila yang berubah.
Arkan melihat ponsel di tangannya dia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Gue gak tau ini siapa tadi gue bales malah makin-makin, nih buka aja kalo ada pesan masuk gak usah di bales dibaca aja. Gue gak pernah selingkuh!
Kalo cewek-cewek yang ngejar-ngejar gue itu mah udah nggak aneh. Kan emang dari dulu Gue ganteng," kata Arkan dengan pedenya.
Kamila mencubit pinggang Arkan kesal, sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Sakit Sayang, kok dicubit sih."
"Ya lagian percaya diri banget sih, kayak iya aja!"' sungut Kamila.
"Kan gue ngomong bener. Selama ini gue nggak pernah suka sama orang lain. Lo itu cinta pertama gue Mil, aman gue gak punya mantan lo gak usah takut gue balik sama mantan. Balik sama mantan juga itu pasti sama lo karena kalo putus cuman lo mantan gue. Tapi bakalan gue pastiin gak ada kata putus antara lo sama gue!" kata Arkan.
Kamila bernafas lega ia percaya dengan ucapan Arkan. Pemuda itu tidak mungkin selingkuh darinya. Selama ini Arkan adalah pemuda yang setia. Bahkan ia berani mati untuk Kamila. Jadi Kamila tidak perlu meragukan kesetiaan Arkan untuknya.
Kemudian Arkan meletakkan kepalanya di paha Kamila, "Gue ngantuk," kata Arkan dia menyerahkan ponselnya kepada Kamila lalu menyembunyikan kepalanya di perut
Kamila.
Kamila tersenyum dia membuka ponsel Arkan dengan sebelah tangan lagi mengusap kepala Arkan. Tidak ada pesan yang aneh semuanya normal aja, ada beberapa nomor yang hanya dibaca saja pesannya oleh Arkan.
"Hm.."
"Lo bucin amat sih," ujar Kamila dia terkekeh di ponsel Arkan semuanya adalah foto berdua dengan Kamila.
"Calon bini harus diakuin!" jawab pemuda itu.
Kamila gemas dia mencubit pipi Arkan, "Gemes banget sih!"
Arkan ikut tertawa, dia mengubah posisinya menjadi telentang masih dengan kepala di paha Kamila. Mereka saling menatap satu sama lain.
Cup...
Kamila mencium pipi Arkan dengan wajah yang memerha.
"Pacarnya Mila emang gemesin banget!"
***
Arkan sedang bersiap-siap di kamarnya hari ini ia akan mengantarkan Kamila konsultasi ke tempat Rara, sang tante.
__ADS_1
Ya, karena beberapa kejadian yang memang sangat mengguncangjiwanya.
Kamila memang harus berkonsultasi
secara rutin kepada psikolog supaya
mentalnya tetap terjaga.
Apa lagi kejadian terakhir cukup memukul Kamila dengan telak sehingga Rara memang mengusulkan supaya Kamila tetap berkonsultasi dengan dirinya secara rutin.
Sambil menunggu Arkan, Kamila duduk bersama Alisha di ruang tengah.
"Bunda," panggil Kamila.
"Iyah Sayang," jawab Alisha.
"Aku boleh nanya gak Bund?" kata Kamila ragu.
Alisa menganggukkan kepalanya, Boleh dong, tanya aja. Ada apa?"
"Hmm... Arkan itu pernah punya pacar gak Bund sebelum sama Mila?"" tanya Kamila.
Alisha mengerutkan dahinya, ia merasa bingung mendengar pertanyaan Kamila.
"Enggak deh, selama ini Bunda deket banget sama Arkan. Semua temen Arkan itu Bunda tau tapi sampe sebelum Mila dikenalin ke Bunda sama Ayah gak ada tuh dia bawa perempuan ke rumah, Mila itu yang pertama. Mungkin kalo disekolah ada beberapa yang deket sama Arkan tapi kalo cinta pertama Arkan itu kamu, emangnya kenapa? Ada masalah Sayang?" tanya Alisha.
Kamila langsung menggelengkan kepalanya perlahan.
"Enggak kok Bund cuman penasaran aja, masa iyah cowo kayak Arkan gak punya mantan!" ujar Kamila sambil terkekeh.
Alisa merangkul Kamila dengan hangat. Kemudian tersenyum sangat manis, "Kamila, gak usah mikir yang aneh-aneh, Bunda tau banget gimana perasaan anak Bunda tentang kamu. Kalo dia berani aneh-aneh nanti Bunda yang marahin dia!" kata Alisha dengan tegas.
Sedangkan Kamila tertawa kecil," Siap Bunda!"
"Kamila Ayo!"
Tak lama kemudian Arkan turun dari atas dia mengajak Kamila pergi. Kamila melihat Arkan lalu tersenyum.
"Loh, kalian mau ke mana? Kamu juga udah rapi aja," kata Alisha kepada Arkan.
"Bunda pasti lupa kalo hari ini Kamila ada jadwal terapi sama Tante Rara," kata Arkan.
Alisha menepuk dahinya, "Ya ampun, Bunda lupa. Ya udah, kalian sekalian bawain makanan untuk Tante Rara. Sebentar, ya," kata Alisha.
__ADS_1