Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
184. Saham Dicabut?


__ADS_3

"Diem Pak saya mau ngabisin mereka! Manusia gak berguna?!" sungut Arkan.


"Cukup Arkan, mereka bisa kehabisan nafas kalo kamu terus mencekik mereka!"


Pak Yusuf dibantu Pak Anto berusaha memisahkan Arkan dengan siswa yang bernama Erik dan Agus itu.


"Lepas Pak!" Arkan dipegang oleh kedua guru itu.


"Kamu kenapa sampai bertengkar Arkan?" tanya Pak Yusuf.


"Saya gak bakalan kayak gini kalo mereka gak seenaknya bicara Pak, saya mau ngerobek mulutnya! Saya belum puas!" Seru Arkan sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Pak Anto.


"Sabar Arkan tahan, mereka udah babak belur kamu jangan terlalu ngikutin emosi Arkan! Mereka bilang apa?" tanya Pak Yusuf.


"Mereka bilang Kamila perempuan murahan cuman gara-gara dia tinggal serumah sama saya, siapa mereka bisa


bilang begitu, lagi pun orang tua saya selalu memantau! Kami ini anak-anak yang dididik dengan baik oleh orang tua kami!" seru Arkan.


"Alah maling mana ada yang mau ngaku, Pak!" seru Erik membela diri.


"lya bener Pak mereka ngakunya nggak pernah ngapa-ngapain. Namanya tinggal satu rumah siapa yang tau. Orang tuanya mungkin ngedidik baik-baik tapi semua juga tahu Arkan kayak gimana orangnya. Hobby berantem sukanya tawuran, anak motor, akhlaknya udah rusak. Dia tuh cuman karena orang kaya aja, jadi nggak ada yang berani sama dia!" Kata Agus ikut


menimpali.


"ANJING!"


Arkan lantas langsung menyentak tangan Pak Yusuf dan Pak Anto hingga lepas dari pegangan keduanya.


Bugh...


"Bangsat! Lo boleh ngehina gue tapi enggak Kamila Anjing! Gue emang brengsek tapi gue gak pernah sekalipun


nyentuh Kamila!" bantah Arkan.


"Alah siapa yang tau sih di belakang kayak gimana! Emang lo berani kalo si Kamila sampai di tes keperawanan?" Kata Erik dengan lantang.


Bugh... Bugh..


Arkan memukuli Erik dan Agus membabi buta dia benar-benar sudah hilang kendali.


"Bawa aja sialan gue sama Kamila gak takut tapi kalo sampe tuduhan lo salah gue bakalan bawa masalah ini ke jalur hukum!" pekik Arkan dengan dada naik turun menahan marah yang akan lebih meluap lagi.


"Itu di lapangan rame Kamila sama Arkan ayo liat!"


Kamila yang sedang turun tangga terkejut saat mereka berlari dan menyebut namanya dan Arkan.


"Arkan?"


Kamila ikut berlarian dia terkejut melihat Arkan bertengkar. Arkan tengah memukuli dua siswa sedangkan guru dan teman-temannya Arkan berusaha melerai.

__ADS_1


Bugh...


Hidung Arkan mengeluarkan darah karena terkena tinju Erik.


"ARKAN!" Kamila berlari dia berusaha melerai Arkan.


"Lepas Arkan lepas!" Kamila menarik Arkan.


"Lepas Kamila jangan ganggu gue, biar gue bunuh mereka!" bentak Arkan.


"Sadar Arkan! Hidung lo berdarah!" kata Kamila panik.


"Nah nih artisnya datang. Coba di antara kalian Siapa sih yang nggak pernah ngomongin si Kamila sama si Arkan di belakang mereka? Kalian nggak usah pada munafik deh, mentang-mentang Arkan anak orang kaya terus kalian takut. Pak Yusuf dan Pak Anto juga harusnya jangan bela Arkan. Para siswa di sini udah tahu


kebusukan mereka kayak gimana," kata Erik berusaha memprovokasi.


Sebenarnya Erik sudah sejak dulu tidak menyukai Arkan. Hanya saja, Dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjatuhkan pemuda itu.


"Kalian kalo berantem nggak usah bawa bawa orang tua atau bawa bawa sekolah. Apalagi ini masalah pribadi dan kalian juga nggak punya bukti kan buat nuduh Arkan sama Kamila," kata Pak Anto berusaha menengahi.


"Kamila murahan Pak!" saut Agus.


"SETAN LO PADA!"


BUGH... BUGH..


"'Arkan, udah," pekik Kamila panik dia sudah mengeluarkan air matanya.


Arkan mengusap air mata Kamila dia tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang menyakiti gadisnya.


Arkan tiba-tiba saja menarik Kamila ke tengah lapangan.


"Kamila itu cewe gue, lebih tepatnya calon istri. Siapa aja yang berani ganggu atau jelek-jelekin dia kalian bakalan langsung berhadapan sama gue! Kalian bakalan bernasib mengenaskan sama kayak Erik Agus! Gue gak akan ngasih toleransi apa pun!" kata Arkan dengan lantang.


"Arkan udah, gue gak papa! Jangan begini!" ujar Kamila.


Arkan tidak menghiraukan Kamila dia menatap kepada Pak Anto dan Pak Yusuf.


"Saya gak bisa terima ini semua Pak, jika tidak ada proses lebih lanjut, Saya akan mencabut semua saluran donasi saya dan saham perusahaan keluarga saya yang ada di sekolah ini, saya pewaris semuanya dan saham di sekolah ini atas nama saya!"


"Hah?!" seru semua siswa satu sekolah terkejut saat Arkan berkata begitu.


Pak Anto dan Pak Yusuf juga tak kalah terkejut.


"Arkan dengarkan saya!"


"Saya gak butuh penjelasan Bapak, saya menantikan proses selanjutnya!"


Setelah itu Arkan pergi bersama Kamila dia menarik Kamila pergi dari lapangan. Suasana di lapangan ricuh mereka memikirkan nasib mereka bagaimana jika keluarganya Arkan benar-benar mencabut sahamnya, sekolah akan hancur!

__ADS_1


Sedangkan Kamila dan Arkan berada di uks, Kamila tengah mengobati luka Arkan di UKS. Saat sedang mengobati Arkan, tiba-tiba Bastian dan yang lainnya masuk.


"'Ar lo sama Kamila dipanggil ke ruang kepala sekolah!" kata Bastian.


"Mager gue!" jawab Arkan.


"Gila lo bikin heboh satu sekolahan. Tapi emang tuh bocah pantes dikasih pelajaran sih biar nggak seenaknya," saut Kean kagum.


"Harusnya jangan langsung emosi kayak tadi, kan nggak enak sama guru-guru," kata Kamila.


"Bukan gitu Mil ini masalahnya kita yang denger aja emosi apalagi si Arkan yang emang cowok lo. Lagian emang mereka kelewatan banget sih bacotnya," kata Bastian.


Arkan menghela nafas panjang kemudian la pun bangkit berdiri dan melangkah keluar UKS menuju ke ruang kepala sekolah dengan Kamila.


"Ayo ke kantor!" ajak Arkan.


Saat ia tiba di ruang kepala sekolah ternyata sudah ada Pak Anto dan Yusuf di sana juga.


"Arkan Kamila silahkan masuk!" kata Pak kepala sekolah.


Arkan dan Kamila duduk di ruangan itu dengan wajah tegang, tidak itu hanya Kamila, Arkan terlihat sangat santai dia sama sekali tidak terlihat seperti merasakan sakit pada wajahnya padahal sudah biru-biru akibat tinju Erik dan Agus. Dua lawan satu!


"'Arkan, saya sebagai kepala sekolah meminta maaf atas kejadian tadi. Kami akan menindak Erik dan Agus karena tindakan mereka juga tidak dibenarkan. Mereka sudah melakukan perundungan dan juga fitnah. Pihak sekolah akan memberikan skorsing kepada mereka berdua," kata kepala sekolah.


"Saya juga minta maaf kepada Kamila karena Erik dan Agus telah mencemarkan nama baik kamu! Saya akan menidak tegas mereka," lanjutnya.


"Betul itu Arkan, Kamila, kedua orang tua mereka akan dipanggil dan mereka berdua akan mendapatkan skorsing," ujar Pak Anto.


"Sebagai kepala sekolah saya minta tolong kamu pikirkan lagi untuk mencabut saham keluargamu di sekolah ini." Arkan terdiam dia menunggu kelanjutannya dari kepala sekolah.


"Saya rasa jika Ayah kamu mengetahui hal ini juga beliau akan bersikap bijaksana."


"Aset saham di sekolah ini atas nama saya Pak! Saya bisa menariknya sesuka hati, saya memiliki hak penuh, Ayah saya tidak bisa ikut campur!" kata Arkan dingin.


Kepala sekolah terlihat menghela nafasnya, "Bukankah murid yang bermasalah itu sudah dihukum? Saham keluargamu di sekolah ini cukup besar jadi jika dicabut tentunya akan menyebabkan sekolah ini bangkrut. Saya sebagai kepala sekolah secara pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya," kata kepala sekolah


kepada Arkan dengan nada memohon.


"Saya tau kamu sangat emosi tapi tolong dipikirkan lagi mengenai saham dan donatur Arkan!" pinta Pak Kepala sekolah.


Kamila menggenggam tangan Arkan, Arkan melihat kepada Kamila, seakan mereka dapat bicara hanya dari tatapan mata.


Arkan lagi-lagi harus menghela nafasnya dia tidak tega melihat Kamila yang seperti itu.


"Bisa kan Arkan? Saya akan memberi mereka hukuman agar mereka jera," timpal Pak Yusuf.


"Terima kasih jika Bapak sudah menghukum kedua siswa tadi. Mengenai saham, saya akan coba membicarakannya dengan Ayah saya, saya yakin Ayah saya pasti satu pemikiran dengan saya tentang masalah ini!"


"Saya dan Kamila permisi!"

__ADS_1


__ADS_2