
Tangan Kamila terulur untuk mengusap kepala Arkan dia memainkan rambut Arkan dan itu membuat Arkan semakin menuntut agar Kamila membalas pangutannya
"Manis!" kata Arkan.
Tok... Tok...
"Kamila?!"
Kamila menepuk pundak Arkan seakan mengatakan sudah dulu.
"Ada Bunda," bisika Kamila.
"Ck!" Arkan berdecak kesal.
Bundanya itu menganggu saja. Kamila terkekeh dia mengusap rambut Arkan, "Sebentar yah!" bisiknya.
"lyah Bunda! Ada apa?" saut Kamila.
Cup...
Arkan mengecup bibir Kamila singkat membuat Kamila terkejut.
"Arkan!" cicit Kamila.
"Gak papa Sayang, udah malem tidur yah besok sekolah, Arkan juga udah tidur pintunya udah di kunci!"
Kamila melihat ke arah Arkan dia tertawa kecil, andai saja ibu nya tau jika Arkan tengah mengungsi.
"Iyah Bunda, Mila tidur kok!" javwab gadis itu.
"Oke Sayang, selamat malam!"
"Selamat malam Bunda!"
Terdengar langkah kaki yang menjauh Kamila kembali menatap Arkan.
"Hmphhh, Arkan pelan!" kata Kamila. Arkan tidak mau buang-buang waktu.
Tangan Kamila masih bertengger manis di pundak kekasihnya itu. Arkan terus bermain dengan bibir Kamila, hingga di rasa Kamila sudah hendak kehabisan nafas barulah dia melepasnya.
"Udah?" tanya Kamila.
Arkan menganggukan kepalanya dia mengusap bibir Kamila yang membengkak akibat ulahnya.
"Puas?" tanya Kamila lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Arkan.
"Gak pernah ada puasnya Mil!" bisik Arkan.
Kamila tertawa dia mengusap pipi Arkan.
Cup...
__ADS_1
Kamila mencium pipi Arkan, "I love you!" katanya.
Wajah Kamila memerah dia memalingkan wajahnya dan itu membuat Arkan tertawa.
"Hey kenapa merah gini Sayang, hm?" tanya Arkan menggoda Kamila.
"Gak tau!"
Arkan tertawa dia memegang kepala Kamila.
Cup....
Arkan mencium bibir Kamila singkat, "I love you too!"
Wajah Kamila semakin memerah," Arkan malu!" rengek Kamila dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arkan.
Arkan terkekeh dia mengusap kepala Kamila, "Sama gue ini Mil!"
Kamila menggelengkan kepalanya.
"Udah malem Sayang lepas dulu!"
Kamila melepaskan tangannya dari baju Arkan, Arkan turun dari atas Kamila dia membenarkan posisi tidurnya. Kamila bangkit dari kasur dan berdiri. Arkan merentangkan tangannya, " Hug me please!"
Senyum Kamila mengembang dia naik ke atas kasur masuk ke dalam pelukan ternyaman, Kamila mencari posisi yang nyaman, Kamila menciumi ceruk leher Arkan membuat Arkan terkekeh.
Arkan mematikan lampu tersisa lampu tidur saja.
Kamila menganggukan kepalanya, Arkan mulai mengusap kepala Kamila.
"Thank you Arkan, selamat malam!" ujar Kamila.
Arkan tersenyum, "Terima kasih kembali Sayang!"
Cup...
Arkan mencium dahi Kamila, " Punya Arkan! Hari ini, besok dan selamanya!"
...****************...
"Loh tumben Ra, ada apa ke rumah gak biasanya?"
"Ada yang mau aku bicarain Sha, sekalian main nih!" jawab Rara kepada Alisha.
"Arkan?" tebak Alisha yang diangguki oleh Rara.
Siang itu, Rara menemui Alisha dia membahas tentang kesehatan Arkan yang mulai membaik pemuda itu mulai bisa mengendalikan dirinya.
Sebagai seorang Tante ia tentu khawatir dengan kondisi kejiwaan Arkan. Apa lagi ia juga seorang dokter ia juga harus memperhatikan pasiennya.
"Ayo masuk dulu!" ajak Alisha.
__ADS_1
Rara menganggukan kepalanya dia masuk ke dalam rumah Alisha.
"Aku ke sini sebenernya cuman mau cek kondisi Arkan sama Kamila. Aku kau cek langsung gimana kondisi mereka, trauma Kamila dan emosinya Arkan itu bikin aku gak bisa tidur," kata Rara.
Alisha tertawa kecil mendengar perkataan iparnya. Sejak dulu Rara memang sangat perhatian kepada dirinya dan keluarganya.
Alisha juga tau masa lalu Rara seperti apa sehingga ia memaklumi jika Rara mengkhawatirkan kondisi Kamila dan Arkan.
"Kondisi Kamila baik-baik aja, kayaknya anak itu udah bisa ngelupain semuanya deh, dia emang sedikt ngelamun tapi itu cuman sebentar aja!"
Rara mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
"Dia masih suka nangis?" tanya Rara.
"Jarang sih, dia lebih sering sama Arkan, waktu itu aku bahas tentang kakek sama Neneknya dia udah biasa aja dia beneran udah ikhlas!" jawab Alisha.
"Nilai akademiknya juga bagus dibanding Arkan, kamu tau sendiri kan Ra gimana malesnya Arkan kalo masalah belajar!" lanjutnya.
Rara menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan ia merasa lega jika memang Kamila sudah bisa melupakan semuanya dan bisa menghadapi hari-harinya dengan lebih baik.
Rara sangat yakin support yang diberikan oleh keluarga Arkan cukup membantu untuk Kamila bisa move on dan berdiri tanpa dihantui oleh masa lalunya yang kelam.
"Kamila beruntung ketemu kalian Sha, kamu sama Marvin bener-bener bisa jadi pengganti orang tuanya Kamila. Apalagi Arkan keliatan sayang banget sama Kamila, dia sampe rela maubbunuh orang itu namanya dia cinta banget, aku kaget pas tau ceritanya!" kata Rara panjang lebar.
Alisha terkekeh, "Kamu yang Tantenya aja kaget apalagi aku yang ibu kandunganya, dia itu suka gak bisa ngendaliin emosinya, untung Marvin gak pernah ngajarin dia latihan menembak, kalo si Arkan udah lihai, aku yakin Risa pasti udah mati kena
tembakan Arkan, waktu itu ada polisi untung aja Risa baik-baik aja. Kamu tau sendiri kan Marvin jalur orang dalem, kalo Risa mati lain lagi urusannya!"
"Kadang aku bingung Ra anak itu sama kayak siapa emosinya, Marvin gak akan seemosi itu, aku belum pernah liat dia semarah Arkan, menurut aku Marvin itu laki-laki tersabar!"
"Kayak kamu Sha, kamu kalo ngambek kan begitu marah-marah!" ujar Rara.
"ih lain Ra, Arkan ini kayak psycopath dia kayak kerasukan gak ngerasa apa yang dia lakuin!"
Rara menganggukan kepalanya tanda setuju memang apa yang dilakukan Arkan itu di luar kesadarannya.
Itulah yang dinamakan penyakit kejiwaan, seseorang yang menderita penyakit kejiwaan tidak akan sadar jika dirinya sakit.
Tapi sebetulnya Dia sangat membutuhkan bantuan psikolog atau bahkan psikiater.
Termasuk apa yang dialami oleh Kamila dan Arkan. Dari luar Mereka tampak baik-baik saja tetapi dalamnya mereka sangat membutuhkan pertolongan. Hal seperti itu bisa terjadi karena beberapa banyak kejadian.
Misalnya saja sejak kecil mereka mendapatkan trauma khusus atau kejadian yang tidak mengenakkan sehingga ketika besar itu akan sangat berpengaruh dengan kejiwaan mereka.
Ada orang-orang yang memiliki dua
kepribadian atau yang disebut kepribadian ganda. Juga orang-orang yang mengalami bipolar atau mental illness.
Semua itu adalah gangguan kejiwaan ringan tapi harus diperiksakan secara rutin dan berkala karena jika dibiarkan akan menjadi bomerang bagi diri mereka sendiri.
Begitu juga dengan ibu-ibu yang baru melahirkan biasanya mereka akan mengalami sih yang dinamakan sindrom baby blues hal itu sangat berbahaya dan membutuhkan bantuan psikolog selain itu mereka juga membutuhkan support dari orang-orang terdekatnya.
__ADS_1