
"Gue takut arkan, Gue takut ! Tante Laras ngancem gue katanya kalo gue cerita sama lo, dia bakalan bunuh atau nyakitin Papah!" kata Kamila masih sambil menangis sesenggukan.
Arkan diam saja dia mendengarkan tangis Kamila, hatinya ikut sakit mendengar Kamila yang sesenggukan.
"Lo boleh marah sama gue Arkan tapi jangan kayak tadi, gue takut kalo lo udah ngomong pake nada tinggi!"
Lagi-lagi Arkan menghela nafasnya dia melepas pelukan Kamila, dia melihat Kamila yang banjir air mata. Tangan Arkan terulur untuk mengusap air mata Kamila.
"Mulai sekarang gak usah takut Mil, ada gue ada anak-anak yang selalu lindungin lo! Kita semua selalu ada buat lo. Terlebih lagi gue," ujar Arkan.
"Maaf!"lirih Kamila kembali memeluk Arkan.
Arkan mengusap kepala Kamila
"Sekarang turun yu, jangan nangis lagi, gue mau obatin luka lo di UKS," kata Arkan kepada Kamila.
Arkan pun menggandeng tangan Kamila menuju UKS, Kamila melibat Arkan yang tengah menggandengnya pemuda itu memang sangat gantle.
Arkan masuk ke dalam uks lalu mengambil kotak p3k dan mulai mengobati tangan Kamila. Kamila sendiri duduk di atas brankar.
"Sakit?" tanya Arkan mengolesi salep di luka Kamila.
"Sedikit!" jawabnya.
"Lo tuh gak usah pura-pura kuat di depan gue Kamila, lo gak bisa bohong terus terusan, mungkin orang lain bakalan percaya sama lo! Tapi gue enggak!" kata Arkan mulai mengomeli Kamila.
"Ya gue kan males ngadu sama lo. Lo aja kadang sibuk sendiri," kata Kamila.
"Sesibuk-sibuknya gue Mil kalo lo mau cerita hayu, kalo lo mau pergi hayu! Tapi kalo gue bilang gak bisa jangan maksa berarti emang ada urusan yang harus gue selesain!"
"Gue selalu luangin waktu buat lo, gue cuman minta satu, nurut Kamila! Jangan bohong!"
Kamila menganggukan kepalanya, dia
sejujurnya takut Arkan akan marah lagi kepadanya.
"Iyah, maaf!"
Arkan mencubit kecil pipi Kamila gemas, Kamila terlihat seperti analk kecil.
"Kenapa sih Mil, lo takut sama gue?"
"Lo galak!" kata Kamila.
"Hahaha, gini-gini gue demi kebaikan lo, gue bakal siap jagain lo dua puluh empat jam!" kata Arkan.
Kamila berdecih
__ADS_1
"Sejak kapan lo jadi satpam?" katanya.
"Gue selalu luangin waktu buat lo, gue cuman minta satu, nurut Kamila! Jangan bohong!"
"Sejak Bunda nyuruh gue jagain lo. Emang lo pikir gue selama ini gak bilang sama Bunda apa yang lo alamin. Gue cerita kali. Bunda tau kok" kata Arkan.
Kamila membelalakkan matanya.
"Ya Allah, kutu kupret emang lo ya. Bikin malu aja cerita sama Bunda," kata Kamila.
"Ya emang kenapa kan lo pacar gue. Keluarga besar gue juga udah tau kalo lo cewek gue, udah setuju juga, kok," kata Arkan.
"Tapi, gue ga mau jadi ceweknya cowok berandalan kayak lo," kata Kamila jual mahal sambil memalingkan wajahnya.
"Oh, beneran? Ya udah, gue cari cewek lain aja boleh?"
Dengan cepat Kamila langsung mencubit pinggang Arkan sampai pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Busyeet, udah kayak ibu tiri nyiksa anak lo. Sakit, Kamila," ringis Arkan memegangi pingganya.
"Ya lo juga sih, pake acara mau cari cewek lain," kata Kamila.
"Lah, tadi katanya lo gak mau jadi cewek gue, ya udah gue cari cewek lain aja," kata Arkan tambah iseng.
Kamila makin melotot kesal.
Tiba-tiba saja, pintu UKS terbuka dan Pak Yusuf menatap ke arah keduanya.
Untung saja posisinya Arkan sedang memegang salep untuk mengobati memar di tangan Kamila.
"Saya lagi ngobatin Kamila, Pak. Ini liat sendiri tangannya biru memar begini,"
Arkan menunjukan tangan Kamila yang memar.
Pak Yusuf berjalan mendekat. Lalu ia memeriksa tangan Kamila. Hari itu, Kamila memang tidak sempat menutupi bekas luka-lukanya sehingga Pak Yusuf tidak jadi
memarabhi keduanya.
"Kamu jatuh di mana kok bisa biru-biru begitu? Tawuran ya?"
"Ih si Bapak, saya bukan Arkan yang hobi berantem, saya tadi jatoh terus kepantok Pak jadi begini! Di kaki saya juga ada," kata Kamila Memperlihatkan memar yang cukup besar di kakinya.
"Kalo pacar kamu mah emang hobinya tawuran, orang mah takut dia malah nantang maut!"
Arkan terkekeh saja. Tapi Kamila melirik
Arkan sekilas sinis.
__ADS_1
"Gak berantem gak laki Pak! Saya telat masuk kelas yah, masih ngobatin Kamila," ujar Arkan.
Pak Yusuf hanya menepuk dahinya mendengar perkataan Arkan,
"Nantang maut! Yaudah kamu obatin Kamila dulu abis itu kalian masuk kelas. Saya gak mau kalo kalian bolos," kata Pak Yusuf.
Kemudian ia pun melangkah meninggalkan UKS. Saat Pak Yusuf keluar Kamila menghembuskan nafasnya lega.
"Lo sih, bandel," kata Kamila.
"Ish kan gue ngobatin lo, gimana sih," bantah Arkan.
"Ya jadinya kena omel kan," sahut Kamila.
"Makanya jangan bohong! Kalo lo gak bohong lo gak akan luka begini!"
"Kan tadi udah minta maaf diungkit terus," kata Kamila merajuk.
"Ya lagian ngeselin."
"Gue gak mau yah Mil kalo lo bohong lagi, gue gak akan segan-segan buat perhitungan sama orang yang udah nyakitin lo, tanpa lo tau!"
***
Pagi itu, Arkan sedang berada di kelas. Sekarang mata pelajaran biologi, Pak Rahman- gurunya yang sudah tua jadi matanya tidak terlalu jelas dalam melihat.
Anak-anak senang karena dia tidak jelas melihat muridnya. Seperti biasa saat lelaki paruh baya itu masuk ke dalam kelas, ia
mengabsen satu persatu muridnya. Termasuk Arkan.
Namun, memang dasar Arkan petakilan. Setelah selesai diabsen dia malah melompat keluar jendela tanpa bisa dicegah.
"Eh, si anjir. Gue pikir dia mau diem di kelas. Eh, malah kabur," kata Kean. Dia melihat ke luar jendela. Arkan benar-benar kabur.
"Ah, lo mah kayak baru sehari dua hari aja kenal si Arkan," balas Bastian.
"Dia ada urusan, nanti gue kasih tau!"
Setelah itu Daren, Kean dan Bastian langsung menumpuk buku di meja Arkan dan menutupinya menggunakan jaket milik Daren agar terlihat seperti Arkan yang tidur.
Mereka berusaha untuk menutupi kenakalan sahabatnya. Memang untuk masalah kesolidan mereka ini nomnor satu.
Sementara Arkan setelah kabur dari kelas ia berjalan menuju ke parkiran. la melihat kanan kiri, takut jika ada guru yang memergoki dirinya. Hari ini ia memang sudah merencanakan akan bolos pelajaran.
la hendak melakukan sesuatu dan tidak ada yang tahu hal ini kecuali Daren.
Memang di antara sahabatnya yang lain, Arkan paling percaya kepada Daren. Jadi, jika ada sesuatu yang serius ia memang selalu mengatakan kepada pemuda itu.
__ADS_1
Tapi Arkan yakin Daren pasti akan
bercerita kepada Kean dan Bastian. Langkah Arkan terhenti karena, tiba-tiba saja ia melihat Livia berjalan menuju ke toilet. Naluri keisengannya pun tiba-tiba saja muncul di kepala. Dengan berjalan pelan ia mengikuti Livia. Pandangan matanya melihat ke sekeliling.