
"Aaaaa, buka mulutnya!"
Kamila menyuapi Arkan, pemuda itu sudah mengulum senyumnya. Dia terus mengemudikan motornya menuju
rumah Kamila.
Saat sampai di rumah Kamila. ternyata Arkan masih khawatir. Dia menatap Kamila cemas.
"Mil," panggil Arkan.
Saat Kamila turun dari motornya.
"Sebentar yah!" Kamila berjalan ke tempat sampah, dia membuang tempat topokkinya.
Kamil mendekati Arkan lagi sembil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Kamila.
"Lo yakin baik-baik aja?" tanya Arkan cemas.
"Atau gue panggil beberapa anak Gravendal buat nyamar jadi pekerja di rumah lo?"
"Buset lo Arkan sampe segitunya! Gue baik-baik aja kok lo gak usah khawatir!" kata Kamila.
Arkan turun dari motor dia melepas helmnya lalu memegang pundak Kamila.
"Kalo ada apa-apa lo langsung telpon gue yah," titah Arkan.
"Gue gak punya nomor lo dodol, gimana mau nelpon!" kata Kamila.
"Ya salah lo sendiri kenapa bisa gak punya nomor telepon orang ganteng," kata Arkan ngeyel.
"Najis amat," jawab Kamila.
"Halah, najis-najis juga lo cinta. Udah sini mana hp lo," pinta Arkan.
Mau tidak mau Kamila memberikannya, Arkan tersenyum saat melihat lockscreen ponsel Kamila gadis itu sangat cantik.
Arkan menunjukan wajah Kamila ke ponsel Kamila untuk membuka kuncinya benar saja ponsel Kamila terbuka.
Dengan cepat Arkan menyimpan nomornya di ponsel Kamila. Tidak lupa ia juga dengan sengaja menelepon nomornya sendiri
sehingga ia juga bisa tahu nomor
telepon Kamila. Arkan membuka galeri dengan cepat, dia mencomot satu foto Kamila dan di kirim kepadanya.
Arkan menghapus pesan itu dari ponsel
Kamila.
"Lama amat!" ujar Kamila.
"Udah nih!"
Arkan memberikan ponselnya kepada Kamila, setelah menghapus semua jejak yang memberitahu jika Arkan mencomot
satu foto Kamila.
"Pokoknya nanti kalo ada apa-apa lo langsung telpon gue! Ntar gue isiin pulsa sekalian kuota biar lo gak bisa alesan ini itu!"
__ADS_1
"Ya ampun, kalo beli pulsa doang gue ada kali," kata Kamila cemberut.
"Ya kan lo biasanya suka ngeyel."
"Ish, udah ah sana lo balik, pamali bentar lagi maghrib," kata Kamila mendorong Arkan ke motornya.
Arkan menghela nafasnya.
"Bener yah lo gak papa?" tanya Arkan.
"Iya, udah gih sana pulang!"
Arkan melihat ke arah balkon rumah Kamila, ada Livia tengah memperhatikan mereka.
Arkan menarik tangan Kamila lalu memeluknya.
"Ish lo apa-apaan sih! Lepas!" Kamila berusaha memberontak.
"Sstt... Diem ada Nenek sihir!" Kamila terdiam.
"Siapa?" tanyanya.
"Livia!"
Arkan mengusap kepala Kamila, rasanya nyaman sekali. Arkan lalu melepas pelukannya.
"Udah sana pulang!"
Arkan naik ke atas motornya lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Kasih kissbay dulu dong Mil buat calon suami, kualat lo ntar!" kata Arkan sambil menjawil pipi Kamila.
"Udah sana lo balik, entar bunda lo nyarin," usir Kamila.
"Tapi Mil--"
"Pulang Arkan!" seru Kamila lalu berlari masuk halaman rumahnya dia tau jika dirinya berada di sana Arkan tidak akan pulang.
Arkan menatap gadis itu dia hanya berharap jika gadis itu baik-baik saja.
Arkan melihat ke arah balkon masih ada Livia bahkan sekarang ada Laras. Arkan menatap mereka tajam tanpa takut.
"Cih... Satu luka dari kalian untuk Kamila, seribu luka dari gue buat lo berdua!"
"Sayangnya hati gue bukan hati malaikat kayak Kamila! Gak akan ada maaf buat luka yang kalian kasih ke Kamila. Dia milik gue!"
***
Kamila masuk ke dalam rumah dengan hati berdebar-debar bukan karena Arkan tapi karena dia takut di siksa lagi oleh Ibu tirinya.
Ceklek..
Kamila membuka pintu dia melihat ke sekeliling dia heran karena tidak dipukuli oleh Laras. Biasanya wanita itu akan menunggunya pulang dan memukulinya dengan sesuka hati.
Kamila pun akhirnya tak peduli, ia melangkah menuju ke kamarnya. Namun, saat ia hendak naik ke kamarnya di lantai atas sesosok lelaki yang sangat ia rindukan menyapanya dengan hangat.
"Kok baru pulang anak Papah?"
Mata Kamila langsung berkaca-kaca. Ia berlari ke arah sang ayah dan langsung menghambur dalam pelukannya.
__ADS_1
"Papah!"
Tangisan gadis itu pun pecah dalam pelukan sang ayah.
"Mila kangen banget sama Papah. Kok, Papah gak bilang sih mau pulang?" kata Kamila.
"Ehh kok nangis sih anak Papah, Papah pulang kan mau bikin kejutan. Emang Mamah gak bilang yah? Kalian baik-baik aja kan?" tanya Reynald sambil mengusap kepala Kamila.
"Kami baik-baik aja kok Mas, aku belum sempat kasih tau Kamila, karena Kamila ada acara di sekolah makanya dia baru pulang, iyah kan Kamila Sayang?"
Laras menjawab pertanyaan Reynald sambil merangkul Kamila dengan sangat hangat dan penuh dengan senyuman.
'Nenek lampir! Ya iyalah gak ngasih tau, sibuk nyiksa gue mulu' batin Kamila menggerutu kesal.
"Haha iyah Pah! Tante Laras bener," kata Kamila dia terpaksa mengatakan itu karena Laras sedikit menekan pundaknya yang terluka.
Laras tersenyum jahat kepada Kamila, Kamila memaki dalam hati, seandainya saja ia memiliki bukti kejahatan Laras, sudah ia laporkan kepada sang ayah.
"Loh kok manggilnya Tante, kan dia sudah jadi Mamah kamu juga Kamila!" ujar Reynald heran.
"Mamah Mila udah gak ada Pah, boleh aku gak usah manggil dia Mamah?" tanya Kamila takut.
Reynald menghela nafasnya dia tidak bisa memaksa putrinya, karena mau bagaimana pun putrinya benar tapi tetap saja Kamla sekarang sudah punya ibu tiri.
"Tapi kan Mamah Laras juga Ibu kamu Sayang!"
"Udah gak papa Mas, aku ngerti kok! Gak papa yah Mila, panggil Tante juga gak papa. Nanti kamu akan terbiasa!" saut Laras sambil mencengkram bahu Kamila.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang kamu mandi ya. Kita mau pergi makan malam di luar. Papah sudah reservasi tempat," kata Reynald.
Kamila pun menganggukkan kepalanya.
"Mila ke kamar dulu," katanya singkat.
Setelah selesai mandi dannbersiap, Kamila pun segera turun. Ia tidak mau membiarkan ayahnya menunggu lama.
Mereka makan malam di sebuah restoran mahal. Biasanya Reynald mengajak keluarganya makan malam di sana jika ada perayaan penting atau sesuatu yang hendak dikatakan.
"Ada hal yang istimewa apa, Pah? Kok Papah sampai ajak kami makandi sini?" tanya Kamila.
"Karena, Papah punya berita gembira buat kalian," kata Reynald.
Kamila menatap ayahnya dengan serius. Ia sangat berharap jika Reynald membawa kabar baik.
"Apa itu, Mas?" tanya Laras.
Reynald menyesap minuman di hadapannya kemudian tersenyum.
"Selama ini kan Papah selalu keluar kota karena banyak proyek di luar kota. Sekarang Papah udah punya asisten jadi Papah akan selalu berada di rumah, dan bekerja di kantor pusat paling hanya satu bulan sekali Papah akan ke luar kota!" kata
Reynald menjelaskan.
"Benar Pah? Papah gak akan ninggalin Kamila sendirian lagi?" tanya Kamila terkejut.
"Loh kok sendiri sih, kan ada Mamah Laras sama Livia!"
"Iyah maksud aku kita!" kata Kamila menatap kedua orang itu malas.
"Iyah dong Papah akan ada di rumah!"
__ADS_1