
"Posesif banget sih lo. Gue kan cuman mau deket aja sama Kamila. Lagian dia kan sekelas sama gue," kata Rena.
"Tapi gue gak suka kalau pacar gue bergaul sama cewek kayak lo," jawab Arkan.
Tiba-tiba saja, Kamila melihat tangan Rena memakai perban. la pun merasa penasaran dan langsung bertanya.
"Tangan lo Kenapa Ren, kok dibalut perban?" tanya Kamila.
Arkan melihat tangan itu, setelahnya Arkan langsung menarik tangan Kamila dan bergegas membawanya pergi. Kemudian la pun berbisik ke telinga Kamila.
"Nggak usah peduliin itu cewek gak waras. LO nggak usah deket-deket sama dia dan lo juga nggak usah kepo kenapa tangannya," kata Arkan kepada Kamila
***
Marvin sedang meeting di sebuah cafe, dia tidak sengaja melihat Pak Danu. la berniat untuk menghindari pak Danu. Tetapi pak Danu malah menghampirinya.
Kemudian menyapa dengan ramah mau tidak mau Marvin pun harus bersikap baik dan profesional ia tidak bisa bersikap ketus kepada Danu apalagi mereka tidak ada masalah.
"Wah, tidak menyangka kita bertemu di sini Pak Marvin. Sudah lama ya kita tidak bertemu," kata Danu sambil menyalami Marvin.
"Tidak terasa sudah hampir tiga tahun. Bagaimana dengan kabar anda dan keluarga?" kata Marvin kepada Danu.
"Keluarga saya baik-baik saja, Anda ke sini mau makan atau-"
"Ada meeting di ruangan VIP, mungkin saya sekarang sudah ditunggu. Saya duluan Pak Danu," kata Marvin dia tidak mau berlama-lama dengan Pak Danu.
Marvin pun bergegas meninggalkan Danu menuju ke ruangan VIP yang sudah dipesan, kebetulan kliennya sudah menunggu di sana dan Marvin pun langsung tenggelam dalam meeting bersama kliennya.
Setelah meeting selesai Marvin berharap jika Danu sudah tidak ada di kafe itu. Tetapi harapannya sirna, ternyata lelaki setengah baya itu masih duduk manis di kursinya semula sambil ditemani segelas kopi dan cemilan.
Dan saat melihat Marvin sudah keluar dari ruangan. la pun langsung bangkit berdiri dan menghampi Marvin.
"Hari sudah siang, Pak. Mari, kita makan siang bersama ... saya sudah memesan beberapa menu yang pasti anda suka sudah lama kan kita tidak makan bersama seperti ini," kata Danu.
Mau tidak mau Marvin pun akhirnya duduk satu meja bersama Danu dan seperti yang Danu katakan tidak berapa lama kemudian makanan yang ia pesan pun datang.
Rupanya lelaki itu memang memesan banyak makanan untuk dirinya, Marvin jadi merasa tidak enak.
"Sepertinya bisnis Anda berjalan lancar Pak," kata Danu kepada Marvin.
Marvin menganggukan kepalanya, "Ya, bisnis saya lumayan lancar apalagi sekarang Arkan juga sudah mulai saya ajari untuk kelak bisa memegang bisnis saya karena dia anak laki-laki saya satu-satunya," kata Marvin kepada Danu.
__ADS_1
"Wah baguslah, kalau begitu Bapak sangat beruntung memiliki anak secerdas Arkan. Sehingga tidak takut nantinya aset kekayaan bapak akan dikuasai oleh orang lain. Pastinya oleh anak sendiri nanti yang memegang perusahaan," komentar Danu.
Marvin hanya tersenyum sebenarnya ia mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Tetapi Marvin juga tidak punya alasan untuk menghindar dari Danu, apalagi lelaki itu sudah dengan sengaja memesan banyak makanan dan demi kesopanan Marvin pun terpaksa memenuhi undangan makan siang itu.
"Oh ya, Pak Marvin ... Rena bercerita jika Rena dan Arkan sekarang satu sekolah. Hanya mereka tidak satu kelas. Saya berpikir bagaimana jika kita mengatur pertemuan anak-anak kita dan keluarga kita? Ya kita makan malam bersama misalnya. Anda bisa memilih tempatnya, saya dan keluarga akan datang," kata Danu.
Marvin mengerutkan dahinya ia mulai menangkap ke arah mana pembicaraan Danu saat ini.
"Maksud anda saya dan keluarga makan malam bersama anda dan keluarga anda begitu, Pak?" kata Marvin.
"lya, bukankah sudah lama kita tidak bertemu, ya menjalani silaturahmi saja dan siapa tahu kita bisa melanjutkan perjodohan anak-anak kita. Tiga tahun yang lalu, Arkan dan Rena memang masih kecil, mereka masih kelas tiga SMP. Tetapi sekarang mereka sudah sama-sama besar. Bahkan sebentar lagi lulus sekolah tidak ada salahnya kan kalau kita coba lagi perjodohan itu dan di lanjutkan," kata Danu dengan penuh percaya diri.
Marvin menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dan tersenyum kepada Danu.
"Kalau hanya sekadar makan malam saya dan keluarga pasti bersedia Pak. Bahkan mungkin saya bisa meminta istri saya untuk menyiapkan makan malam di rumah dan mengundang anda serta keluarga. Tetapi, kalau untuk perjodohan.. Saya minta maaf, sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi karena anak saya sudah menikah," kata Marvin.
"Menikah?"
"Hahaha Pak Marvin bercanda deh!" Danu langsung tertawa terbahak-bahak sampai bahunya bergoyang dengan kencang, sementara Marvin dengan tenang menatap lelaki itu.
Setelah beberapa saat Danu pun bisa menguasai diri dan menghentikan tawanya. Kemudian la pun meraih segelas air minum yang ada di samping kanannya dan langsung meneguk isinya.
"Arkan dan Kamila memang belum mengadakan resepsi. Anda pikir kenapa saya mengizinkan Kamila untuk tinggal di rumah saya jika mereka belum memiliki ikatan. Silakan Anda datang ke rumah saya dan melihat sendiri, apakah betul Kamila tinggal bersama kami atau tidak," kata Marvin.
"Tetapi, kata Rena Arkan dan Kamila itu hanya pacaran," kata Danu.
Marvin hanya tersenyum sinis, ia sangat yakin jika sebelum keluarga Danu pindah ke Indonesia mereka sudah mencari tahu dulu tentang dirinya dan keluarga. Buktinya Rena langsung masuk ke sekolah Arkan.
Marvin sangat yakin jika Rena memang sudah tahu Arkan bersekolah di sana sehingga ia pun ingin masuk sekolah yang sama dengan Arkan.
"Rupanya, anda dan keluarga belum belajar dengan baik. Tiga tahun yang lalu saya pernah menolak perjodohan itu karena pada dasarnyabsaya tidak akan menjodohkan anak saya dengan orang yang tidak dia cintai hanya untuk kepentingan bisnis semata. Apa lagi sekarang Arkan sudah memiliki orang yang dia cintai. Jadi saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya untuk menjodoh kan Arkan dengan wanita lain."
Danu terdiam dia sama sekali tidak menyangka dengan jawaban Marvin.
"Maaf, Pak Danu saya harus kembali ke kantor, terima kasih untuk jamuan makan siangnya, lain waktu saya yang akan mentraktir anda, selamat siang," kata Marvin.
Marvin pun langsung meninggalkan pak Danu yang tampak kesal, karena sudah ditolak untuk kedua kalinya.
Sementara itu di sekolah Arkan bel pulang baru berbunyi. Seperti biasa Arkan pun langsung menghampiri Kamila ke kelasnya. Lalu mereka pun bergandengan tangan menuju ke tempat parkir.
"Kita langsung pulang atau ke mana?" tanya Arkan kepada Kamila.
__ADS_1
"Boleh nggak sih kalau kita makan siang di luar, terus udah gitu jalan-jalan sebentar. Kayaknya gue perlu refreshing, otaknya udah penuh banget sama pelajaran," jawab Kamila.
"Boleh dong. Ya udah gue lapor sama Bunda dulu ya, minta izin," kata Arkan.
Kamila pun mengangguk senang sudah lama ia tidak berjalan-jalan bersama dengan Arkan.
"Mau makan apa hm?" tanya Arkan sambil menyelipkan rambut ke telinga Kamila. Arkan sudah mengabari Alisha lewat pesan.
"Di depan sana katanya ada cafe baru opening, ke sana yu!" ajak Kamila.
"Yaudah ayo!"
Mereka pun memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari sekolah mereka.
Setelah selesai makan barulah mereka berjalan-jalan ke taman hiburan.
"Gue gak mau naik itu tadi aja gue mual, baru makan Ar!" Arkan terkekeh saja.
"lyah Sayang iyah, ayo duduk di situ.".
Arkan dan Kamila duduk di kursi taman, Arkan terus saja menatap wajah ayu Kamila.
"Apa sih liat-liat, malu tau!" ujar Kamila.
"Calonnya Arkan kenapa manis banget sih!"
Plakk...
Kamila memukul pelan lengan Arkan, "Arkan gak boleh gitu, Mila malu!"
Arkan tertawa melihat wajah merah Kamila.
Drtt... Drt....
Saat tengah tertawa karena Arkan, ponsel Kamila berdering, Kamila mengangat panggilannya, Kamila membelakan matanya.
PRAK!
Kamila menjatuhkan ponselnya, Air mata Kamila mengalir, "Ini gak mungkin?!"
"Arkan ini pasti gak mungkin?!"
__ADS_1