
Hari-hari Arkan kembali seperti semula. Dia akan selalu berangkat bersama Kamila. Yang berbeda adalah sekarang Kamila dan Arkan berada dalam satu rumah yang sama.
Livia sudah tidak tinggal di rumah Kamila lagu, tentu saja karena Kakek dan Neneknya Kamila tidak mau dia ada di sana. Jadilah salah satu keluarga dari
Laras membawa Livia itu tinggal bersama sekalian melakukan terapi kejiwaaan.
Kamila juga masih trauma jika kembali ke rumah itu. Lagipula Marvin dan Alisha tidak memberikan izin untuk kembali ke sana.
Mereka ingin merawat Kamila saja. Alisha sudah menganggap Kamila seperti anaknya sendiri jadi, tidak masalah jika Kamila tinggal bersama mereka.
Setiap malam juga Arkan selalu pindah ke kamar Kamila. Arkan tidur di sofa yang berada di kamar Kamila. Tapi, kadang juga keduanya tidur dalam satu ranjang yang sama.
Seperti malam ini Arkan merebahkan dirinya di sofa dia melihat ke arah Kamila yang tengah belajar, ini masih jam delapan malam.
Alisha masih mengijinkan Arkan berada di kamar Kamila karena masih sore. Tidak tau saja jika tengah malam Arkan akan pindah ke kamar sang pujaan hati merangkai mimpi bersama.
"Mil belajar mulu deh lo, gak bosen apa? Gue yang liat lo belajar aja bosen banget!" tanya Arkan kepada Kamila yang masih asik mengerjakan tugasnya.
Kamila menoleh kepada Arkan sambil mengembuskan napas dengan sedikit keras.
"Yang namanya tugas yah harus dikerjain Arkan. Kalo gak dikerjain nanti nilai gue turun lo mau tanggung jawab?"
"Boleh nanti waktu ujian, gue dikelas lo. Lo di kelas gue gimana?" tawar Arkan sambil menaik turunkan alisnya.
"Ogah! Nanti nilai gue merah semua berabe!" kata Kamila.
"Yeee gak percayaan lo sama gue, oiya Mil udah kek belajarnya. Kita ngapain gitu bosen banget gue di rumah, nonton yu abis itu cari makan," kata Arkan sambil mengerucutkan bibirnya persis anak kecil yang sedang meminta permen.
Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak boleh keluar ini udah malem, lagian lo baru aja sehat. Jangan keluar malem gak baik buat kesehatan, heran deh lo tuh gak betah banget di rumah, keluyuran terus!" omel Kamila.
"Aaa bosen Sayang!" rengek Arkan sambil meletakan ponselnya di meja
Kamila lalu berjalan mendekati Kamila yang berada di meja belajarnya.
"Main sama Kayla," kata Kamila
"No! Gue laki mana bisa main barbie, lagi pun tuh bocil lagi keluar sama Ayah Bunda!" tolak Arkan mentah-mentah. Arkan bersandar di meja belajar Kamila.
"Gue laper Mil, padahal tadi kan udah makan juga," lanjut Arkan.
Kamila terdiam dia lalu membalikan tubuhnya melihat ke arah Arkan.
"Bikin mie yu minggu ini kan belum ada yang makan mie instan, kita mukbang makan mie korea yang pedes itu loh terus ditambahin toping bakso sama seafood gue tadi sore bantu Bunda masak di kulkas ada stoknya," ajak Kamila.
"Mau bunuh gue lo Mil? Gue daripada suruh makan pedes mending berantenm, gue mana bisa makan pedes banget."
__ADS_1
"h Arkan lo mah badan doang gede, makan pedes gak berani... Lemah!" ledek Kamila.
"Bilang apa tadi?" kata Arkan sambil menangkup wajah Kamila.
"Arkan cemen Arkan lemah!" ujar Kamila sambil terkekeh.
"Gue cium lo Mil lama-lama!"
Kamila langsung menutup bibirnya menggunakan tangan.
"Ih gak mau! Ayolah Arkan bikin mie yu," kata Kamila sambil merengek.
"Gue gak bisa makan pedes Kamila Sayang!" kata Arkan gemas dia mencubit pipi Kamila.
"Arkannn... Ayolah, justru itu tantangannya, gue yang masak deh nanti lo cobain masakan gue," kata Kamila masih berusaha merayu Arkan.
Arkan yang melihat wajah memelas Kamila lantas menghela nafasnya,"
"Yaudah ayo!"
Kamila tertawa kecil melihat kelakuan Arkan yang seperti anak kecil itu, Arkan paling tidak bisa menolak keinginan Kamila.
Mereka pun kemudian melangkah ke dapur. Kamila mengeluarkan 5 bungkus mie extra pedas dan juga mengeluarkan sayur sawi dari dalam kulkas. Tidak lupa bakso ikan dan sedikit udang.
Dengan cekatan gadis itu memasak Mie, tentu saja dengan Arkan yang memperhatikan Kamila, Arkan merangkul Kamila membuat gadis itu tersenyum kepadanya.
Kamila menuang mie ke dalam mangkuk yang besar dia tersenyum saat melihat warna kuah itu.
"Ayo makan!" ajak Kamila dia duduk di meja makan.
Arkan menurut, dan mereka pun mulai makan. Satu suap menurut Arkan masih bisa di terima.
"enak kan?" tanya Kamila.
Arkan tidak menjawab, dua suap rasanya telinga Arkan sudah panas.
"Anjir ini mau bunuh gue!" kata Arkan. Arkan kembali menyendokan mie ke dalam mulutnya.
"Shitttt.... Kamila?!"
Baru tiga suapan saja pemuda itu langsung merasakan telinganya mengeluarkan api dan lidahnya terbakar.
"Hahahah, Arkan muka lo merah banget!" Kamila puas sekali mentertawakam Arkan.
Dengan cepat Arkan berjalan menuju kulkas dia menyambar sebotol air dingin, tetapi rasanya malah bertambah pedas.
__ADS_1
"Mil makin pedes!" Kamila terlihat santai ia malah tertawa melihat Arkan yang belingsatan karena pedas, Arkan sudah seperti cacing kepanasan.
"Ya ampun ini pedesnya kok ga ilang-ilang!" protes Arkan dia mengacak rambutnya kenapa kepalnya ikut panas.
"Gimana gak makin pedes orang lo minumnya air dingin, alo kepedesan itu minum air anget atau susu!" kata Kamila dengan santainya.
Arkan langsung membuka kulkas dia meminum susu langsung dari kotaknya dia sudah sangat kepedasan.
"Gila lo Mil, itu mie pedes banget tapi lo makan santai banget, perut lo terbuat dari apa Kamila?" tanya Arkan sambil menggaruk kepalanya.
Kamila tertawa kecil, "Dari besi, gue enak-enak aja tuh, lo nya yang lebay"
"Bukan lebay, kan gue udah bilang kalo gue gak bisa makan pedes banget!" jawab Arkan sambil kembali meminum susu dalam kotak itu lagi.
Syukurlah rasa pedasnya berangsur-angsur hilang. Saat sedang menikmati mie, Kean dan Sean turun dari kamar mereka untuk makan malam. Kebetulan mereka memang belum makan malam sementara Alisha, Marvin dan Kayla sedang pergi keluar karena ada urusan dan Arkan memilih diam di rumah saja.
"Wah ada mie Sean, ini enak nih ada sayur sama baksonya juga, bagi lah Mil," kata Kean.
"Makan aja," jawab Kamila santai.
Arkan hanya tertawa kecil melihat kedua sahabatnya itu mengambil piring dengan semangat kemudian menyendokkan mie.
"Kok lo nggak makan? Ini enak banget kayaknya. Kamila yang masak ya?" kata Sean.
"Yah, itu Kamila yang masak lo berdua cobain aja deh dijamin ketagihan," kata Arkan sambil menahan tawa.
Arkan tahu jika kedua temannya ini tidak kuat juga makan makanan pedas.Sehingga ia yakin hanya dalam suapan ketiga maka mereka akan kepedasan seperti dirinya.
Sean dan Kean pun langsung duduk di kursi bersama Kamila dan Arkan.
"Ar, lo yakin nggak mau nih? Kok cuman ngeliatin Kamila makan doang?" kata Kean.
"Gue udah kenyang, lo aja yang makan," jawab Arkan santai.
Dengan penuh percaya diri Sean dan Kean pun langsung melahap mie nya. Pertama-tama mereka memakan baksonya terlebih dahulu.
"Wah baksonya enak, nih," kata Kean.
"lyalah itu bakso Bunda yang beli, pasti enak premium no kaleng-kaleng," kata Arkan.
"Iya nih enak banget," jawab Sean.
Setelah mencicipi baksonya barulah mereka menyendokan mie yang pedas itu, satu suap dua suap dan...
"Anjir gila! Ini mie apa racun, buset pedesnya bikin mau mati?!"
__ADS_1
Kean dan Sean bangkit mereka berlomba menuju ke kulkas dan mencari air dingin.