Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
77. Rencana Busuk Reynald


__ADS_3

Arkan yang mendengar perdebatan di sana lantas diam saja mendengarkan.


Kamila yang tersadar tengah menghubungi Arkan dia mematikan panggilannya.


"Kenapa gak Livia aja yang dinikahin, kenapa harus Kamila? Livia juga kan anak perempuan. Dia sudah Papah angkat dari kemiskinan. Kalo bukan Papah yang nikahin Tante Laras dia sekarang masih hidup susah !" kata Kamila dengan kesal.


"Tapi, yang anak kandung Papah itu kamu. Lagipula harta itu nanti juga bakalan jadi milik kamu," kata Reynald.


"Mila gak gila harta, Pah! Sekarang ini kondisi perusahaan Papah udah membaik kan? Arkan sama keluarganya sudah ngasih investasi yang Papah minta. Bahkan


mereka ngasih lebih. Papah meminta tiga milyar mereka ngasih lima. Apa itu kurang! Mila bukan gak tau Pah, Arkan selalu cerita sama Mila!"


Sementara itu, Arkan yang berada di basecamp langsung menyambar kunci motornya. Dia akan ke rumah Kamila, dia tau gadis itu pasti akan bertengkar dengan


Ayahnya. Jadi, lebih baik mengamankan Kamila dan mengajaknya pergi dari rumah itu.


Tok... Tok...


"Papah gak mau tau Kamila, kamu harus menikah secepatnya!"


"Pah itu sama aja Papah jual Mila sama orang lain!"


Saat Arkan mengetuk pintu terdengar jika Reynald masih berdebat dengan Kamila. Arkan mengepalkan tangannya dia ikut kesal mendengar pertengkaran itu.


Arkan sama sekali tidak menyangka jika Reynald ternyata bisa bersikap sangat jahat kepada Kamila. Padahal Kamila itu adalah anak kandungnya sendiri.


Arkan hanya memasang wajah datar saat Livia yang membukakan pintu. Gadis itu juga tidak mau berlama-lama, ia segera masuk dan memanggil Reynald.


"Pah, udah dulu berantemnya. Itu ada Arkan di depan. Kayaknya dia mau ajak si Kamila pergi," kata Livia.


"Mila ke atas dulu!"


Kamila yang mendengar ada Arkan langsung berlari ke kamar dia mencuci mukanya dan merapikan dirinya dia tidak mau terlihat habis menangis. Karena Kamila tau Arkan pasti akan tidak suka melihat Kamila menangis.


Sementara Reynald langsung menemui Arkan. Dia tersenyum sangat manis.


"Eh, Nak Arkan. Mau cari Mila?" tanya Reynald dengan ramah.


Arkan menganggukkan kepalanya tapi dalam hatinya memaki habis-habisan Reynald.

__ADS_1


Belum sempat ia menjawab, Kamila sudah turun ke bawah dengan senyuman kepada Arkan. Arkan tau itu senyum palsu.


"Mil ini ada Arkan," kata Reynald ketika Kamila turun.


"Tumben dateng gak bilang dulu, ada apa Ar?" tanya Kamila.


"Gue ada tugas, gue mau ke toko buku. Anter yu," ajak Arkan.


Kamila mengerinyitkan dahinya heran, sejak kapan Arkan butuh buku, pemuda itu tidak pernah mengerjakan soal apalagi tugas, tapi Arkan mengedipkan sebelah matanya membuat Kamila mengerti.


"Boleh, kalo gitu Mila pergi dulu yah Pah," pamit Kamila dia menyalami tangan Reynald.


"Kamu harus merayu Arkan untuk menikah!" bisik Reynald membuat Kamila tertegun Ayahnya itu masih kekuh dengan keinginannya.


Kamila hanya menghela napas panjang , lalu bergegas pergi. Sumpah demi apapun dia sudah bosan dengan semua pertengkaran ini.


Kamila keluar dari rumah, Arkan mengusap pundak Kamila. Kamila naik ke atas motor Arkan.


"Maksih lo udah dateng gue pusing banget di rumah," kata Kamila.


"Gue bakalan selalu jadi orang yang ngelindungin lo Mil, tapi gue bingung sama Om Reynald kata lo dia baik banget tapi kok sekarang malah begini. Kayaknya Livia anak kandung lo anak tiri!" ujar Arkan.


"Papah berubah setelah Mamah pergi, Papah juga kayak jaga jarak sama gue sering keluar kota. Dia emang gak nyiksa gue tapi dengan sikapnya yang kayak sekarang dia gak ada bedanya sama Tante Laras, sama-sama nyiksa gue tapi yang satu fisik yang satu mental!"


Arkan menghela napas dia mengusap tangan Kamila yang berada di pinggangnya, dalam hati ia merasa sangat geram mendengar cerita Kamila. Mana ada orang tua sepertiitu! Apa Arkan juga harus membuat Reynlad terluka?


"Lo mau ke rumah gue? Ngobrol sama Bunda main sama Kay?" tanya Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Gue mau jalan-jalan aja boleh?" ujar Kamila.


Arkan menganggukkan kepalanya, "Mau ke mana?"


"Ke mana aja, gue gak mau pulang pengen di luar, gue cape!"


"Siap laksanakan nyonya, apa sih yang enggak buat lo Mil," ujar Arkan.


"Halah gombal!" kata Kamila.


Arkan tertawa, "Sebenernya, gue disuruh kawin sama lo sekarang juga mau, Mil. Tapi, itu mah sama aja bikin seneng bokap lo. Kebiasaan nantinya," kata Arkan.

__ADS_1


"Nikah Arkan nikah!"


Kamila menghela napas panjang, ia merasa rindu sekali kepada sang ibu. Semua berubah ketika mamanya tiada.


"Ar boleh gak sih gue nyusul Mamah?"


"Hust lo ngomong apa sih gue gak akan biarin lo pergi dari hidup gue Mil. Gue mau buat lo ngeliat orang yang udah nyakitin lo hancur satu persatu!"


"Lo udah ngelakuin apa Ar? Setiap ada yang nyakitin gue orang itu pasti punya luka?" tanya Kamila.


Arkan terkekeh dia mengusap kepala Kamila yang ada di pundaknya.


"Gue gak ngelakuin apa-apa, itu balesan buat setiap perbuatan mereka "


Pada saat Kamila pulang ke rumah Reynald sedang berada di ruang tamu. la pun sama sekali tidak menoleh saat Kamila melangkah masuk. Kamila tidak peduli, ia langsung naik ke atas menuju kamarnya dan langsung duduk di meja belajarnya.


Hari ini Kamila merasa sangat lelah sekali, ia lelah bertengkar dengan ayahnya dan ia juga lelah menghadapi Laras juga Livia yang semakin hari semakin menyebalkan.


Mereka memang sudah tidak menyiksa fisiknya lagi, tetapi kali ini batinnya yang tersiksa.


Tiba-tiba saja Reynald masuk ke kamar Kamila dan dia memberikan sebuah plastik.


"Ini plastik apa, Pah?" tanya Kamila kepada Reynald.


"Plastik itu isinya racun, jadi tugas kamu menuangkan racun itu ke dalam makanan kedua orang tuanya Arkan. Papah mau mereka mati dan setelah itu kamu menikah dengan Arkan dan hartanya jatuh ke tangan kita," kata Reynald.


Deg....


Dunia terasa berhenti berputar bagi Kamila. Ia terkejut saat mendengar sang ayah mengatakan hal itu. Bagaimana bisa Reynald mengatakan hal seperti itu?


Selama ini kedua orang tua Arkan sudah sangat baik kepadanya. Bahkan bundanya Arkan selalu menganggap Kamila seperti anaknya sendiri. Ia tidak mungkin tega


meracuni mereka.


"Racun itu kerjanya pelan, kamu cukup memberikan sedikit demi sedikit kepada kedua orang tuanya Arkan. Dan dalam waktu 3 bulan mereka akan meninggal dunia seperti orang yang terkena serangan jantung. Tidak akan ada yang curiga," kata Reynald.


"Papah keterlaluan, mereka itu udah baik sama kita. Kalau nggak ada mereka perusahaan Papah udah bangkrut. Mereka itu ngasih uang ke Papah karena percaya, terus sekarang Papah mau ngelakuin hal itu sama mereka? Papa jahat, Kamila nggak mau! Mereka itu baik banget sama


Kamila apalagi ibunya Arkan dia udah kayak Mamah Mila sendiri! Mila gak mungkin ngelakuin hal sekeji itu sama mereka!"

__ADS_1


__ADS_2