Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
129. Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Bosen Mil pengen pulang tau!" gerutu Arkan.


"Aduh Mil, jangan dicubit dong, lo kok jadi sadis sih suka nyiksa gue, gue Cuman pengen pulang Sayang!" kata Arkan dengan manja. Persis seperti balita berusia 4 tahun.


"Gak usah ngeyel deh, lo belum sehat! Dokter bilang masih harus istirahat. Kenapa sih bandel banget? Tinggal istirahat aja trus abis itu lusa sehat pulang," kata Kamila sambil menjejali mulut Arkan dengan makanan.


Tadi, sebenarnya Alisha yang sedang menyuapi Arkan. Tapi, Kamila yang mengambil alih. Kamila memang merasa sangat bersalah kepada Arkan, beberapa kali Arkan harus terluka hanya karena ingin menyelamatkan Kamila.


"Pokoknya gue pengen pulang, gue udah nggak betah di sini Kamila. Apa salahnya sih kalau suruh dokter ijinin gue pulang? Lagian di rumah juga sama aja kok gue istirahat," kata Arkan kepada Kamila.


Kamila menggelengkan kepalanya perlahan lalu berkata, "kalau di rumah lo nggak akan istirahat tapi malah main PS udah gitu ngerumpi dan nggak mau tidur. Pasti lu ngerokok juga. Jadi yang paling aman lo ada di rumah sakit istirahat sampai sehat habis itu baru lo boleh pulang," kata Kamila.


Arkan menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. la merasa benar-benar bosan berada di rumah sakit ini.


Arkan juga merasa Jika ia sudah sehat, jadi ya memang ingin segera pulang dan tidur di kasurnya sendiri.


Di rumah sakit dia tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi sekarang tangannya masih dinfus sehingga untuk ke kamar mandi pun Arkan harus dibantu oleh Kamila atau Alisha.


"Ayolah Yang, bilang sama Bunda gue pengen pulang. Makanan rumah sakit gak enak juga, gue kangen masakan Bunda!" kata Arkan dengan manja.


"Kalo kangen masakan Bunda nanti gue bilang minta tolong biar Bunda masak terus bawa ke rumah sakit. Kalo lo pengen pizza atau yang lainnya kan bisa pesen online. Gue juga bisa minta tolong Daren buat beliin, tapi yang jelas lo nggak boleh dulu pulang ke rumah tetap harus dirawat sampai benar-benar sehat," kata Kamila dengan tegas.


"Aaaa Kamila, gue udah sehat kok, gue udah gak papa. Gue pengan pulang, lagian di ruma sakit sama di rumah gak akan ada bedanya, sama aja paling rebahan!" sahut Arkan.


Tetapi Kamila tetap menggelengkan kepalanya sambil melototkan matanya kepada Arkan. Dia tidak bisa mengabulkan permintaan Arkan begitu saja karena. Kamila tahu jika luka yang diderita Arkan cukup dalam. Dan itu bukan luka kecil.


Arkan harus menerima beberapa jahitan dan lagi dokter sudah mengatakan jika Arkan memang harus beristirahat selama beberapa hari di rumah sakit ini.


"Nurut aja kenapa sih Ar, gak usah jawab terus, kan ini jug buat kebaikan lo sendiri. Emang lo pikir kemarin Ayah sama Bunda gak khawatir ngeliat lo nggak sadar? Rekor lo gak sadar tiga hari tiga malem, untung lo masih bisa buka mata!" kata Kamila dengan ketus.


Arkan mengerucutkan bibirnya kesal, Kamila ini persis sama seperti bundanya keras kepala dan tidak bisa dibantah.


Arkan sendiri terkadang merasa kesal Kenapa juga ia tidak bisa bersikap keras kepada gadis itu. Mungkin ini yang dinamakan kebucinan tingkat akut.

__ADS_1


Saat Kamila tengah menasehati Arkan pintu terbuka ada Alisha dan Rara di sana, Kamila bangkit dia memeluk Rara.


"Apa kabar Kak?" tanya Kamila dalam pelukan Rara.


Dia senang saat mengetahui kakaknya itu datang.


"Baik dong, kamu gimana? Udah lebih baik?" tanya Rara.


Kamila tersenyum lalu menganggukan kepalanya, "Udah dong, keluarganya Arkan baik, itu yang buat mental aku jadi lebih baik!"


"Syukurlah, jangan suka mendem masalah sendiri yah!"


"lya Kak, oiya ada apa tumben?" tanya Kamila lagi.


"Gak ada apa-apa, Kakak ke sini cuman mau nengokin keponakan Kakak yang nakalnya gak bisa di atur itu," kata Rara kepada Kamila sambil melirik Arkan.


Kamila terkikik saat melihat wajah Arkan.


"Ya salah sendiri kenapa bikin password yang gampang ditebak, Ayah bucin!" bantah Arkan kesal.


Rara dan Alisa saling pandang. Melihat mereka seperti itu, Arkan hanya bisa bengong.


"Tuh kamu lihat kan? Ini anak kelakuannya udah mulai rese. Aku minta tolong kamu deh, Ra. Kalo masalah yang kayak begini kan kamu ahlinya. Aku cuman takut nantinya sifat Arkan yang begini cuman bakalan ngerugiin dirinys sendiri," kata Alisha.


"Iya Sha. Kamu tenang aja masalah ini biar aku yang urus," jawab Rara.


Rara mendekati keponakannya itu dengan tersenyum. Wanita itu pun kemudian menatap Arkan sambil menepuk-nepuk bahu keponakannya itu.


"Kamu udah selesai makannya?" tanya Rara.


"Emang kenapa Tante?" tanyanya kepada Rara


"Tante perlu bicara sama kamu berdua aja. Kalo kamu udah selesai biar Kamila sama Bunda kamu tunggu di luar dulu," kata Rara.

__ADS_1


Arkan mengerutkan dahinya apa tumben sekali Tantenya itu ingin bicara dengannya. Tetapi ia hanya menurut, sementara Kamila dan Alisha keluar dari kamar Arkan.


"Ada apa sih Tante, kok kayaknya penting banget tumben-tumbenan loh Tante ngajak aku bicara berdua kayak gini, "tanya Arkan.


Rara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Semalam Alisha sudah banyak menceritakan tentang perilaku Arkan. Alisha juga menceritakan


bagaimana jika Arkan sedang marah.


Anaknya tidak pernah bisa mengontrol


emosinya sendiri.


Sebenarnya wajar saja jika Arkan marah karena ada orang yang menyakiti kekasih atau orang tuanya. Tetapi, yang tidak wajar adalah saat Arkan seperti orang kesurupan


yang tidak mengenali orang lain lagi jika


marah.


"Tante cuman mau nanya, kenapa setiap kamu marah harus banget mau bunuh orang?"


Arkan terdiam dia terkejut dengan pertanyaan Tantenya.


"Itu gak baik Arkan, apa gak mikir nanti dampaknya gimana, Ayah Bunda pasti sedih liat kamu kenapa-kenapa, sekarang aja contohnya!" lanjut Rara.


Arkan menundukan kepalanya," Maaf Tante, aku gak tau kenapa tapi emosi selalu nguasain aku kalo aku marah!"


"Arkan!" Rara memegang pundak Arkan.


"Kamu harus bisa ngendaliin diri kamu, misalnya kemaren tembakan kamu kena sasaran. Bu Risa meninggal, kamu bakalan tetep ada di penjara Arkan mau sebanyak apa pun duit Ayah kamu. Tante kenal Ayah dan Bunda kamu, kalo salah yah mereka gak akan nebus kamu!"


"Di dalam diri aku ada sesuatu yang bergejolak Tante waktu aku marah, ada. yang mendorong aku buat bener-bener ngeluapin semua!" kata Arkan.


"ltu sisi buruk kamu Arkan, kamu terlalu memanjakan sisi kamu yang itu, itulah kenapa dia bisa seenak ngendaliin diri kamu! Bahkan Kamila aja gak bisa buat kamu tenang!"

__ADS_1


__ADS_2