
Cup...
Arkan mencium kening Kamila, dia lalu menangkup wajah Kamila.
"Tunggu di sini Sayang, sakit harus dibales sakit!"
Arkan menjauh dari Kamila dia menarik tangan Lia kencang dan hendak membawanya keluar.
"Gue mau lo mati! *****!" Arkan menarik Lia membuat langkahnya terseok-seok.
"Arkan sakit, gue minta maaf!" pinta Lia.
"Arkan enggak! Gue mohon!" teriak Kamila.
"Arkan?!" Panggil Alisha dan Marvin bersamaan.
"Tutup pintunya?!" perintah Marvin.
Daren dan Bastian dengan sigap menutup pintu.
Arkan menatap kedua temannya itu tajam, "Minggir! Gue gak punya urusan sama lo berdua!"
"Ar lo gak boleh gitu!" kata Bastian.
"Sadar Arkan! Lo lagi dikuasain emosi!" timpal Daren merasa khawatir.
"Lo berdua gak mau minggir?" Sontak keduanya menggelengkan kepalanya.
BRUKH!
"ARGHHH!"
Arkan langsung melempar Lia hingga tubuhnya membentur tembok dan membuat Lia menjerit. Semuanya juga ikut terkejut.
"Lo semua gak mau gue pergi kan? Yaudah biar lo semua liat gue nyiksa nih perempuan udik!"
"Arkan udah!" kata Alisha.
Seakan tuli Arkan, mencengkram pipi Lia.
PLAK!
"ARGHHH,, auww.."
"ARKAN!" teriak Kamila.
Arkan menampar Lia dengan sangat kencang.
"Arkan sakit, gue minta maaf! Gue janji gak akan ganggu hubungan kalian lagi!" Lia terus memohon kepada Arkan.
"Lo pikir dengan kata maaf lo, Kamila bisa jalan lagi!" ucap Arkan sakrastik.
PLAK...
Lia kembali tersungkur saat Arkan menamparnya lagi.
"Gue bales rasa sakit lo Mil!" seru Arkan.
__ADS_1
"Bang udah Bang!" Marvin berusaha menarik tangan Arkan.
Arkan menyentaknya kasar, rasanya emosi masih berada dalam diri Arkan.
"Ayah diem! Aku benci perempuan cupu ini!" seru Arkan.
"'Arggghhh... Sshhh... Sakit ampun!" Arkan menarik rambut Lia kencang.
"Lo harus mati ******!"
"Arkan?!" Arkan terkejut saat ada yang memeluk kakinya.
"Kamila?!" Kamila memeluk kaki Arkan.
"Udah Arkan! Udah! Gue mohon!" pinta Kamila.
Arkan melepaskan Lia dia berjongkok pada Kamila.
"Kenapa turun hm? Harusnya lo nonton aja gimana serunya gue nyiksa orang yang bikin lo sakit!" kata Arkan sambil mengusap air mata Kamila.
Nada bicara Arkan benar-benar sangat lembut jika kepada Kamila. Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak! Udah yah Arkan, gue gak papa maafin Lia. Dia gak tau kalo semua bakalan jadi begini!"
Sekarang Lia tau kenapa Kean menyebut Kamila ibu peri, Kamila sangat baik. Lia merasa kalah telak bukan hanya dari segi fisik tapi dar segi.hati juga.
"Lo harus balik ke kasur!" Arkan menggendong Kamila kembali ke brankar.
"Arkan!" panggil Kamila.
"Iyah Sayang!" kata Arkan.
Arkan tersenyum dia mengusap pipi Kamila, "Enggak Sayang!" katanya.
Saat Arkan tengah sibuk bersama Kamila, mereka senmua keluar begitu juga Lia. Marvin tidak mau putranya kembali mengamuk.
Arkan bukannya tidak tau jika Kamila berusaha mengalihkan perhatiannya dari Lia, dia tau sangat tau.
"Mau peluk!" kata Kamila.
Arkan terkekeh dia memeluk Kamila sambil mengusap kepalanya.
"Gue takut Arkan!" lirih Kamila.
"Gak ada yang perlu ditakutin, gue selalu ada di samping lo!"
Kamila menggelengkan kepalanya, "Gue takut lo marah begitu Arkan!" katanya.
Arkan mengusap kepala Kamila," Gue gak pernah marah begitu sama lo!" kata Arkan.
"Lo jangan ngelakuin hal-hal aneh Arkan gue mohon, maafin Lia, hubungan kita kan udah baik-baik aja jad-"
"Tapi kaki lo gak baik-baik aja, sakit harus dibales sakit Kamila, gue yang bakalan bales semuanya!"
Kamila menggelengkan kepalanya dia sejujurnya senang karena bisa meredam emosi Arkan tapi di sisi lain dia takut Arkan akan berbuat nekat pada Lia di luar sana.
Kamila tau Arkan itu bukan seorang pemaaf, dia tidak akan puas jika mangsanya belum merasakan sakit.
"Arkan, gue baik-baik aja!"
__ADS_1
"Gak ada yang baik-baik aja Kamila, sekarang lo tidur!" ujar Arkan.
Dia menyelimuti Kamila, Arkan merapikan posisi tidur Kamila. Kamila memegang pergelangan tangan Arkan membuat pemuda itu menoleh.
"Kenpa Sayang?"
"Di sini aja!" kata Kamila.
Senyum Arkan mengembang, dia menarik kursi lalu duduk di samping brankar Kamila sambil mengusap tangannya.
"Iyah, sekarang tidur yah! Gak usah mikirin gimana kaki lo, Ayah pasti bakalan cari cara!"
Kamila menganggukan kepalanya dia mengeratkan pegangannya pada tangan Arkan dia takut Arkan pergi dan kembali menyiksa Lia.
Arkan tau ketakutan Kamila saat ini, dia takut Arkan akan kembali emosi. Setelah beberapa menit terdengar deru nafas teratur milik Kamila, gadis itu pasti sudah tidur. Arkan mengusap kepalanya.
"Gue gak bodoh Kamila! Lo takut gue nyiksa Lia hari ini, tapi lo gak pernah berpikir besok atau lusa apa yang bakalan gue lakuin sama si cupu itu!" kata Arkan sambil terkekeh.
"Harusnya lo sadar Mil, cowo lo ini bukan orang yang bisa ngelepasin musuhnya gitu aja!"
"Maaf selalu buat lo sakit, gue janji gue bakalan buat dia ngerasain apa yang lo rasain!"
Arkan memegang kaki Kamila dia tersenyum dengan smirknya.
"Kaki yah? Gue bales rasa sakit lo Mil! Gak boleh ada yang nyentuh lo walaupun seujung kuku sekalipun!"
***
Alisha menatap Kamila dengan tatapan yang sangat sedih. la merasa sangat sakit melihat gadis itu berada di kursi roda dan tidak bisa berjalan.
Melihat Kamila sedih, sakit dan berduka membuat Alisha ikut merasakan sakitnya.
Sama seperti seorang ibu yang merasakan kesakitan anaknya begitu pula yang dirasakan oleh Alisha sekarang.
"Mila, Bunda minta maaf ya. Kalo aja Bunda sama Ayah nggak maksa ngajak kamu ke sini mungkin kecelakaan itu nggak bakalan terjadi. Bunda ngerasa bersalah banget udah ngajak kamu liburan ke Bali. Maafin Bunda ya, Nak," kata Alisha pagi itu
sambil menyuapi Kamila makan.
Kamila menatap Alisha sambil menggelengkan kepalanya, "Bunda gak salah kok, nggak ada manusia yang bisa
nebak kapan musibah dateng, gak ada Juga orang yang mau kecelakaan Bunda.
Aku juga gak tau kalo aku bisa kecelakaan padahal aku mau nyelametin orang, tapi aku ikhlas Bunda. Mungkin dengan cara ini aku bisa belajar dari kesalahan!" kata Kamila sambil memegang tangan Alisha.
Alisha mengusap kepala Kamila," Kamu terlalu baik Kamila, Bunda sama Ayah ngerasa bersalah banget!"
Kamila lagi-lagi menggelengkan kepalanya, "Enggak Bunda. Ini bukan salah Ayah atau Bunda, seharusnya aku juga bisa lebih percaya sama Arkan. Aku tau Ayah sama Bunda ngajak aku liburan ke Bali karena kalian tau aku sama Arkan berantem kan?" tanya Kamila di akhir katanya.
"Iyah, Bunda gak bisa liat kalian berantem, kalo kalian berantem tapi ketemu di rumah kan aman, ini kalian lagi jarak jauh, Bunda gak mau hubungan kalian berantakan, Bunda juga gak mau Arkan pulang-pulang
bawa menantu baru!" jawab Alisha sedikit kesal.
Kamila terkekeh, "Maaf yah udah buat Bunda khawatir, harusnya aku lebih percaya sama Arkan jadi semua ini gak akan terjadi, aku harusnya berpikir dari semua kemarahan Arkan itu udah bisa buktin kalo Arkan emang sayang banget sama aku. Jadi ini bukan salah siapa-siapa Bunda. Gak ada yang salah dan gak ada yang harus disalahkan," kata Kamila kepada Alisha dengan lembut.
Alisha langsung menmeluk Kamila dengan erat, betapa ia menyayangi Gadis itu seperti anaknya sendiri.
"Bunda janji sama Mila, Arkan gak akan pernah ninggalin kamu apalagi sampe selingkuh. Kalo dia berani macem-macem, Bunda orang pertama yang bakalan marahin dia, kalo perlu nanti Bunda coret namanya dari kartu keluarga biar aja dia hidup sendiri kayak gembel!"
__ADS_1