Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
139. Kamila Milik Arkan


__ADS_3

"Gue percaya sama lo Mil percaya banget, tapi gue takut!"


Kamila kembali menangkup wajah pemuda itu, "Kalo lo percaya sama gue, serahin semuanya sama gue oke, gue bisa jaga diri dan gak akan pernah berpaling dari lo. Lo pergi turnamen dengan tenang, gak usah mikirin gue di sini, gue di sini bakalan baik-baik aja!"


Kamila memeluk Arkan lagi, "Kalo lo gak berangkat gara-gara gue, gue bakalan ngerasa bersalah banget sama lo. Gue gak mau jadi penghambat mimpi lo, gue hadir buat jadi orang yang selalu ngedukung lo bukan penghambat buat lo! Gue bakalan ngedukung lo sama kayak lo yang selalu support apa pun yang gue lakuin!"


Hati Arkan sedikit tenang setelah menceritakan semuanya kepada Kamila. gadis itu benar-benar membuat Arkan


tenang.


"'Sayang!" panggil Arkan.


"Berangkat yah, seminggu itu sebentar kok, nanti kan di sana bisa ngabarin dari telpon bisa video call juga kan!" kata Kamila berusaha meyakinkan Arkan.


Arkan melepas pelukan Kamila dia membalikan posisi sekarang Kamila yang berada di bawah kukungan Arkan. Kamila tersenyum dia mengusap pipi Arkan dan lehernya bergantian lalu melingkarkan tangannya di leher pemuda itu.


Kamila tau Arkan tidak akan lepas kendali sebelum menikah walaupun jarak mereka seperti ini.


"Berangkat yah!" kata Kamila.


"Yakin?" tanya Arkan memastikan.


"Yakin Sayang!" jawab Kamila sambil menunjukan senyum terbaiknya meyakinkan Arkan.


Arkan memajukan wajahnya, Kamila menutup matanya saat merasakan benda kenyal menempel sempurna di bibirnya, lidah Arkan menerobos masuk seakan mencari kehangatan di dalam sana.


Setelah di rasa puas Arkan melepas pangutannya dia terkekeh melihat wajah Kamila dengan nafas yang tersenggal senggal.


Kamila mengusap wajah Arkan dengan pelan.


"Makasih yah Mil udah mau ngertiin posisi gue! Lo harus janji gak akan aneh-aneh sama Dika!"


Kamila menganggukan kepalanya," Janji Arkan! Lo juga harus janji di sana cuman turnamen aja gak ada acara tebar pesona!" kata Kamila yang masih berada di bawah Arkan.


Arkan terkekeh, Arkan kembali memajukan wajahnya dia menciumi leher Kamila.


"Arkan!" panggil Kamila.


Arkan melepas ciumannya dari leher Kamila, Arkan mengambil ponselnya yang ada di atas meja dia membuka kamera agar Kamila berkaca. Kamila membelakan matanya saat melihat lehernya memerah akibat Arkan sedangkan sang pelaku hanya tersenyum.


"Ar-"


"Mwah!" Arkan mencium bibir Kamila singkat.


"Janji Sayang, gak akan ada tebar pesona, abis selesai turnamen kalo bisa pulang duluan gue bakalan pulang duluan!"

__ADS_1


Arkan mengusap tanda merah di leher Kamila, "Lo punya gue, gak akan ada yang bisa ngambil lo dari gue, siapa pun itu!"


Kamila menganggukan kepalanya," Mila punya Arkan! Arkan punya Mila!"


...****************...


Arkan membuka matanya dia melihat ke samping ada Kamila yang masih memejamkan matanya. Senyum Arkan mengembang dia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Kamila.


Melihat wajah Kamila yang begitu tenang saat tidur selalu membuat rasa nyaman di hati Arkan. Kamila yang merasa terusik lantas membuka matanya.


"Engghh Arkan, jam berapa? Kok tumben udah bangun?" tanya Kamila dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur.


"Baru jam enam pagi, Sayang."


Kamila mengucek mata sebentar melihat jam saat sudah memastikan jam dia lalu memeluk Arkan lagi, Arkan terkekeh dan mengusap kepala Kamila.


"Bangun, yuk. Kan mau sekolah, ntar ketauan Bunda Lo tidur di sini, nanti kita langsung dikawinin lagi."


"Nikah Arkan!" Protes Kamila masih dengan mata yang terpejam.


"'Sebenernya sama aja sih Mil," kata Arkan.


"Beda!"


"Konsepnya sama aja, Sayang," kata Arkan.


"Sama Sayang!"


"Udah ah pusing... Gue mau balik ke kamar," kata Kamila sambil bangkit berdiri.


Kamila pun bangun dari kasur Arkan.


"Ayo gue bantu!" Arkan membantu Kamila melompati pagar.


Sesampainya di kamar Kamila kembali merebahkan diri karena memang masih mengantuk.


Kamila merasa masih memiliki sedikit waktu sehingga ia kembali tidur. Sementara Arkan yang tidak bisa tidur lagi dia langsung bersiap untuk sekolah.


Satu jam kemudian setelah selesai berpakaian Arkan turun ke bawah. Dia melihat Kamila sudah ada di bawah. Tak lama, Sean dan Kean juga turun.


"Wah, tumben ini udah pada kumpul tepat waktu gini. Biasanya pada buru-buru takut kesiangan ke sekolah. Lagi ada angin apa ini?" tanya Marvin saat baru saja datang ke meja makan.


"Gak tau tuh, anak kamu pagi bener udah bangun. Kalah ayam jantan," celetuk Alisa.


"Bund, serba salah banget deh jadi aku. Abang bangun siang salah, bangun kepagian salah. Harusnya gimana, Bundaku sayang?" Protes Arkan.

__ADS_1


"Maunya Bunda kamu gak pake dibangunin kayak gini kan enak. Biasanya Bunda harus teriak-teriak dulu baru bangun. Tapi, kalo tumben bangun sendiri begini jujur aja Bunda curiga. Ada apa? Mau minta tambah uang bulanan?" Cerocos Alisha.


Arkan mendengus malas sedangkan Kean dan. Sean tertawa saja.


"Abang males," celetuk Kayla.


"Ish bocil nyaut aja. Abang mana males. Abang kamu ini paling ganteng paling rajin, Kay," jawab Arkan.


"Noo! Kay yang paling rajin, buktinya tiap hari Kay gak pernah dibangunin Bunda udah bangun terus mandi sendiri," bantah Kayla tak mau kalah.


Arkan hanya bisa menghela nafas panjang. Meladeni Kayla sama saja bohong, karena meskipun masih kecil Gadis itu tidak akan pernah mau mengalah kepadanya.


Prinsip Kayla itu satu, wanita tidak pernah kalah dan tidak akan pernah salah. Apalagi Marvin dan Alisha selalu saja berkata untuk mengalah kepada Kayla.


Sehingga gadis kecil itu merasa dibela dan tidak pernah mau kalah dari abangnya.


"Sebenarnya Abang tuh mau bilang sesuatu ke Ayah sama Bunda."


"Tinggal ngomong aja susah amat Bang. Kamu mau beli mobil baru atau si Ucup mau Bunda jual buat modal nikah sama Kamila?"


Arkan langsung memberenggut kesal mendengar motor kesayangannya hendak dijual.


"Ish Bunda jangan tega dong. Masa sih Ucup mau dijual itu kan motor kesayangan aku."


"Jadi gini kemaren Abang, Kean sama Sean dipanggil ke kantor kita disuruh ikut turnamen basket di luar kota, semua biaya ditanggung sekolah selama seminggu. Semua ikut kok Bund, Bastian sama Daren juga ikut, Abang pengen banget ikut turnamen ini buat terakhir kali kan udah mau lulus. Siapa tau aja sekolah menang, boleh kan?"


"Kalau Bunda sih Nggak masalah selama kegiatannya positif. Lagian selama ini kamu tuh kan bisanya cuman tawuran sama berantem. Bunda juga sekali-sekali pengen liat kamu punya prestasi sendiri, Bang. Jadi kalo emang kamu mau ikut turnamen ini sama teman-teman kamu... Ya silakan. Bunda sih dukung aja."


"Ayah juga. Seharusnya dari waktu itu kamu tuh punya kegiatan positif selain cuman motor-motoran. Emang kapan berangkatnya?" tanya Marvin.


"Berangkatnya lusa, Yah. Tapi ..."


Arkan sengaja menggantung ucapannya sehingga membuat Marvin dan Alisha kebingungan.


"Tapi apa? Uang jajan mah gampang nanti Bunda transferin buat kamu selama di sana. Inget aja jangan macem-macem ya. Nanti Bunda telepon Daren biar dia ngawasin kamu, di sana ada Kean sama Sean juga yang jadi cctv Bunda."


"Siap Tante, nanti aku sama Sean laporan kalo Arkan aneh-aneh," ujar Kean sambil tertawa.


"Bagus, nanti Bunda minta Daren buat ngiket Arkan biar gak keluyuran!"


Alisha dan Marvin memang sangat


mempercayai Darren. Bukan hanya Arkan yang mempercayai Darren lebih dari yang lain tetapi kedua orang tuanya juga.


Karena memang dibandingkan teman-teman Arkan yang lain Daren itu lebih bijaksana dan juga lebih dewasa.

__ADS_1


Selama ini pun hanya ucapan Daren yang lebih didengarkan oleh Arkan dibandingkan teman-temannya yang lain.


__ADS_2