Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
79. Psikolog


__ADS_3

Kamila membuka matanya dia melihat ke sekeliling, tidak ada Arkan pemuda itu pasti sudah pulang.Kamila menatap ke arah langit-langit kamarnya dia masih berharap jika semua ini hanya mimpi, apa benar Reynald seperti itu.


Kamila sangat kecewa bagaimana bisa orang sangat dia sayang malah seperti itu. Apa yang akan lakukan sekarang, saat dia tau Reynald sama liciknya seperti Laras. Kamila benar-benar sedih.


Hatinya sakit tidak ada cinta lagi dalam hidupnya. Bagaimana dengan masa


depannya sekarang? Tidak ada lagi tempat untuknya bernaung dan berlindung sebagai seorang anak.


Padahal, anak seusia Kamila tidak seharusnya memikirkan hal berat seperti sekarang ini. Seharusnya, ia bisa bersama dengan teman temannya dan bersenang senang.


Tetapi nasib membawa kehidupannya. seperti ini. Sungguh sangat menyedihkan.


Kamila bergegas untuk mandi dan memakai seragam sekolah, setelah semuanya selesai Kamila turun ke bawah.


Tanpa sarapan dia pergi begitu saja tanpa berpamitan semuanya terasa buruk.


Kamila merasa seperti tidak punya rumah. la tidak bersemangat untuk ke sekolah, dan ia sendiri kini bingung harus ke mana. la ingin sekali pergi ke rumah Arkan dan nmenangis dalam pelukan Alisha. Tetapi, ia takut karena sang ayah sudah memintanya


menaruh racun ke dalam makanan kedua orang tua Arkan itu.


Kamila ingin menjauh dari Arkan, ia merasa jika semua karena kedekatannya dengan Arkan. Itu yang membuat Reynald gelap mata. Jika saja ia bukan kekasih Arkan tentu Reynald tidak akan memanfaatkan


dirinya.


Sementara itu di sekolah Arkan bersama dengan teman-temannya sedang bermain basket merasa tidak enak.


Sejak tadi ia belum melihat Kamila. Bahkan chat dan pesannya pun belum dibalas oleh gadis itu.


"Kenapa lo Ar?" tanya Daren yang sejak tadi melihat Arkan gelisah.


Daren paling hapal melihat gerak gerik Arkan. la tahu jika saat ini Arkan tidak sedang baik-baik saja.


"Dari pagi gue gak liat bini gue, biasanya tuh anak jarang telat tapi sampe sekarang gue gak liat dia. Ke mana yah seharian gak keliatan. Gue jadi khawatir," kata Arkan, ada nada khawatir dalam ucapannya.


"Nyokap tirinya gak berulah lagi, kan?" tanya Daren.


Arkan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kayaknya enggak deh gue gak pernah lagi liat luka Kamila. Gue sekarang malah khawatir Om Reynald yang jahat gue ngerasa Kamila itu lagi nyembunyin sesuatu dari gue pas gue tanya dia bilangnya kangen nyokapnya!"


"Lo sering ke rumahnya kan, lo juga di kasih akses keluar masuk kamarnya kenapa lo gak beli cctv aja cari yang kecil lo taro di kamarnya. Jangan sampe Kamila tau, dengan begitu lo bisa tau kegiatan Kamila tanpa harus lo ada di sana!" usul Daren kepada Arkan.


Arkan menepuk dahinya. Kenapa jugaa ia tidak kepikiran ke sana, "Iya ya. Kenapa gue gak kepikiran."


Daren tertawa terbahak-bahak, " Emang bener yah cinta itu bikin bego, buta karena cinta itu nyata!" sindir Daren.


"Sialan!"


"Eh itu ada Naya, gue mau tanya ke dia kan satu kelas!" Arkan yang melihat Naya pun segera mengejar gadis itu.


"Nay, si Kamila ke mana?" tanya Arkan kepada Naya.


Gadis berkulit hitam manis itu langsung mengerutkan dahinya.


"Lah, kok Lo tanya gue? Pan Lo yang cowoknya. Kumaha bagaimana sih? Gue malah baru mau nanya ke mana dia kok gak masuk sekolah. Gue chat sampe sekarang cuma dibaca aja chat gue. Di telepon ga dijawab. Apa dia sakit? Emang tadi pagi Lo ga jemput dia ke sekolah sampe Lo bingung dia ke mana?" kata Naya beruntun.


Perasaan Arkan semakin tidak enak, "Gue gak sempet jemput dia gara-gara gue kesiangan. Pesan gue juga belum di bales sama dia!"


"Duh, Lo cari dia deh. Gue khawatir banget sama itu anak. Lo tau sendiri kan kondisi keluarganya kayak gimana," kata Naya.


Wajah Arkan membeku seketika, "Ya udah, kalo gitu gue mau cari dia," kata Arkan.


"Sekarang?"


"Tahun depan," jawab Arkan.


Naya hanya mengerucutkan bibirnya, "Ye si Panjul diajak serius jawabnya suka asal aja," maki Naya saat Arkan sudah berjalan pergi.


Sedangkan Kamila dia berjalan di pinggir trotoar, kali ini dia tidak tau mau ke mana dia bingung hendak ke mana. Ke sekolah tidak mungkin karena sekarang sudah masuk jam istirahat.


Pulang ke rumah, ia tidak mau bertemu dengan Laras dan bertengkar dengan ibu tirinya itu.


Kamila tidak mau mendengar caci maki dari Laras. Langkah Kamila terhenti saat


melihat ada papan nama, Kamila membaca nama. Adelia, psikolog. Kamila memutuskan untuk masuk ke sana dan langsung mendaftar. Karena hari masih pagi, tidak terlalu banyak pasien yang

__ADS_1


datang. Sehingga tanpa menunggu


lama, Kamila pun sudah dipanggil masuk.


Adelia PhD seorang ahli psikologi yang masih sangat muda. Usianya mungkin baru sekitar 27 tahun, dan ia terkejut saat melihat pasiennya kali ini yang datang dengan menggunakan seragam sekolah.


"Selamat pagi, Dek. Ada yang bisa saya bantu?" Tangis Kamila pun pecah


seketika. Perlu waktu hampir lima belas menit untuk Adelia menunggu hingga Kamila menuntaskan tangisannya.


"Maafkan saya, Dok. Saya tidak tau saat ini saya harus ke mana dan bercerita kepada siapa. Jadi, saat melihat papan nama Anda, saya memutuskan untuk ke sini," kata Kamila masih dengan suara terbata bata.


Adelia menganggukkan kepalanya, "Gak apa-apa, siapa nama kamu? kamu bolos sekolah?" tanya Dokter Adelia.


Kamila menganggukan kepalanya, "Nama saya Kamila, saya bolos karena saya gak mau nangis di sekolah Dok nanti pacar saya tau kalo saya lagi ada masalah!"


"Loh kan bagus nanti dia bisa bantu kamu buat selesain masalah, dia kan bisa jadi support system buat kamu!" kaya Dokter Adelia.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak bisa Dok, saya udah banyak merepotkannya. Masalah saya sekarang berkaitan sama keluarganya!" Air mata Kamila merembes deras dia benar-benar


tidak bisa untuk tidak menangis.


"Menangis saja, Sekarang apa yang bisa saya bantu? Kamu bisa bercerita kepada saya, dan saya jamin rahasia kamu sebagai pasien akan terjaga!"


"Saya sudah tidak punya Ibu Dok, saya hanya punya Ayah dan Ayah saya menikah dengan seorang janda dia jahat saya selalu di siksa dan sekarang Ayah saya juga menjadi jahat selama ini dia tidak pernah menyayangi saya dia hanya mau harta ibu saya, dia menyuruh saya meracuni keluarga


pacar saya karena mereka orang kaya. Ayah saya mau harta mereka!"


Kamila pun mulai bercerita. la menceritakan semua yang sudah terjadi termasuk juga permainan Reynald untuk meracuni keluarga Arkan.


"Saya bingung harus bagaimana, Dokter. Saya tidak mau melakukan hal itu, keluarga pacar saya sangat baik terlebih ibunya."


Adelia melihat Kamila sendu dia ikut merasakan sedih yang luar biasa gadis seusia Kamila sudah tertekan.


"Saya merngerti, menangis saja Kamila semua memang harus segera di selesaikan lingkungnnya sudah toxic, apa kamu mau mendengarkan saran saya sebagai dokter?" tanya Adelia.


Kamila menganggukkan kepalanya, "Kalo nanti Ayah kamu memaksa kamu lagi rekam pembicaraan kalian dan setelah itu

__ADS_1


bawa racunnya ke rumah sakit untuk di cek terus kamu cerita sama pacar kamu. Bukankah tadi kamu bilang dia orang kaya dan dia juga sangat mencintai kamu? Maka percayalah, dia pasti akan membantu kamu dengan caranya sendiri."


"Tapi Dok saya sudah banyak merepotkan dia dan keluarganya," kata Kamila terisak.


__ADS_2