Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
171. Support System


__ADS_3

Tetapi sayang karena kurang berhati-hati mangkuk itu pun pecah. Tepat pada saat Kamila memecahkan mangkuk, Alisa masuk ke dalam kamar.


"Kamila?!" seru Arkan.


Dia berusah bangkit tapi kepalanya terasa sangat pusing.


"Aduh Mila kamu nggak apa-apa?" tanya Alisha khawatir.


"Bund, kepala Abang pusing gak bisa bantu Kamila, Abang minta tolong!" kata Arkan yang merebahkan dirinya.


"lyah gak papa, Mila baik-baik aja kan?" tanya Alisha.


"Maaf Bunda aku nggak sengaja mecahin mangkuknya. Tadinya aku Cuman mau ngambil air biar gak bolak-balik ke kamar mandi buat ngompres Arkan. Tapi karena gerakan aku terbatas jadi mangkuknya pecah," kata Kamila sedih.


"Udah nggak apa-apa, ini biar Bunda yang bersihin. Kamu temenin Arkan aja, ini Bunda udah beliin obat juga kok," kata Alisa.


Kemudian wanita itu pun membersihkan pecahan beling yang ada di lantai. Alisha juga mengompres putranya kemudian memberikan obat penurun panas kepada Arkan.


"Bunda mau ke bawah dulu ya, kamu bisa kan temenin Arkan sebentar?" tanya Alisha.


"Boleh Bunda, biar Kamila yang temenin Arkan," jawab Kamila.


Arkan yang sudah dalam pengaruh obat pun tertidur dengan pulas sementara Kamila duduk di kursi rodanya di samping tempat tidur Arkan.


Gadis itu merasa sangat sedih sekali karena tidak bisa mengurusi Arkan dengan baik. Padahal selama ini jika Kamila sakit Arkan selalu bisa membantunya.


"Seandainya aja malam itu gue lebih hati-hati. Pasti kecelakaan itu gak akan terjadi," kata Kamila dalam hati.


Kamila memegang dahi Arkan ternyata panasnya sudah mulai turun. Arkan pun terlihat tidur dengan nyenyak.


Maka Kamila pun segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Air mata Kamila tanpa sadarjatuh dia mengusapnya lalu tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya.


Malamnya Kamila berdiam diri di kamar sambil menatap ke arah luar jendela, tiba-tiba saja air mata Kamila kembali menetes dia sangt ingin menangis.


Kamila merasa sangat sedih dengan kondisinya sekarang, tidak bisa berjalan dengan benar merepotkan orang lain.


Saat ini Kamila merasa sangat tidak berguna. la merasa jika hidupnya hanya menjadi beban untuk orang lain.


Ceklek...

__ADS_1


"Sayang kata Bunda suruh turun makan malem, ayo!" Tiba-tiba saja pintu terbuka,


Kamila langsung mengusap air matanya


ternyata yang masuk adalah Arkan.


"Iya nanti lo duluan aja, gue belum laper, kalo mau ke bawah gue nanti minta tolong!" kata Kamila tanpa membalikan tubuhnya dia mengusap matanya.


Pemuda itu mengerutkan dahinya ia sempat melihat jika Kamila mengusap matanya.


"Lo kenapa? Kok nangis?" tanya Arkan.


"Siapa juga yang nangis? Lo salah lihat kali gue nggak ada nangis tuh," kata Kamila sambil tersenyum.


Arkan tidak membalas senyuman Kamila, "Gue gak suka lo bohong Kamila! Gue tadi liat lo nangis, ada apa? Bilang ama gue!" ujat Arkan menuntut.


"Beneran nggak ada apa-apa gua nggak nangis Arkan," jawab Kamila bersikukuh.


Tetapi Arkan tahu jika kekasihnya itu sedang berbohong kepadanya. la kemudian menundukkan wajah sehingga wajahnya dan wajah Kamila saling berhadapan.


Kamila dapat merasakan deru nafas Arkan, Kamila menutup matanya. Arkan memegang dagu Kamila, "Buka matanya!"


Arkan menatap lurus ke arah mata Kamila, "Sekarang jawab gue lo tadi kenapa nangis?"


"Gu-gue gak papa Ar-"


"Mmphhhh!"


Arkan mencium bibir Kamila tiba-tiba, Kamila dapat merasakan bibir lembut itu menempel dengan bibirnya.


"Jawab jujur Kamila atau gue bakalan ngelakuin yang lebih dari ini!" ancam Arkan.


Merasa tidak ada gunanya lagi berdusta Kamila pun menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


"Gue cuman sedih sama kondisi gue yang sekarang, gue udah terapi dan pake obat ini itu tapi gak ada perubahan. Mungkin dokter bener kalau gue selamanya nggak bisa jalan. Gue cuma bisa ngerepotin lo doang," kata Kamila sedih.


Tatapan tajam Arkan berubah menjadi lembut, "Sayang masa udah nyerah gitu aja sih, kan dokter bilang masih harus rajin, gue yang gak sakit juga semangat. Ayo semangat, susah senang kita laluin bareng-bareng, gue gak akan ninggalin lo!" kata Arkan.


"Gue sedih, tadi lo sakit gue gak bisa ngapa-ngapain, ngompres lo aja gak bisa gue malah nambahin kerjaan Bunda buat beresin pecahan mangkuknya!"

__ADS_1


Arkan menarik nafas panjang kemudian ia mengusap pipi Kamila. Perlahan la pun mengusap rambut Kamila dengan lembut sambil tersenyum.


"'Sayang, gak usah merasa bersalah gitu, gue gak papa tadi cuman kecapean aja, sekarang gue udah sembuh kan apalagi tadi udah nyium lo makin sembuh!" ujar Arkan sambil terkekeh.


Kamila tetap saja diam dia berusaha untuk tidak menangis, Arkan memegang tangan Kamila.


"'Sayang, jangan begitu. Gue gak merasa direpotin, gue malah seneng lo bergantung sama gue, gue bakalan ngelakuin apa aja buat lo, akhir-akhir ini lo sering baper sering nganggep diri lo gak berharga gara-gara masalah spele begini lo gak sadar Mil betapa berharganya lo buat gue, gue bakalan hancur Mil kalo gak ada lo! jangan suka ngerendahin diri kayak gitu Mil!"


Arkan merasa jika Kamila akhir-akhir ini begitu sensitif. Arkan tidak mau Kamila merasa rendah diri karena kondisinya saat ini.


"Lo mau keluar? Besok kita jalan-jalan yah biar lo gak suntuk, gue mau buat lo selalu bahagia Mil!" ujar Arkan.


Kamila menundukan kepalanya, lihat betapa besar cintanya Arkan pada dirinya, bahkan disaat seperti ini Arkan selalu jadi support systemnya.


"Sayang!" Arkan menangkup wajah Kamila.


"Besok jalan yah, mau ke mana hm?" tanyanya.


"Ke mana aja asal sama lo!" jawab Kamila membuat Arkan terkekeh.


Arkan mengusap bibir Kamila lembut dia menatap wajah Kamila, " Sekali lagi yah sebelum makan malem," pinta Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya, Arkan menempelkan bibirnya kali ini bukan hanya ciuman biasa tapi Arkan sudah ********** gemas. Kamila hanya bisa pasrah.


Kamila melingkarkan tangannya di leher Arkan, dia memejamkan matanya, apa pun akan dia berikan untuk Arkan, seperti yang Arkan lakukan, Arkan rela memberi nyawanya pada Kamila. Kenapa Kamila tidak, Arkan sangat berharga dalam hidupnya.


Kamila yakin Arkan tidak akan melakukan hal yang dapat membuat kedua orang tuanya kecewa, Kamila sangat percaya pada Arkan.


Arkan melepas ciumannya, Kamila membuka matanya dia melihat Arkan yang tengah tersenyum padanya. Arkan mengusap bibir Kamila yang basah dan sedikit membengkak.


Arkan mencium pipi Kamila, " Sekarang harus senyum gak boleh sedih oke!" kata Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya," Makasih Arkan!"


"Terima kasih kembali Sayang, ayo turun ke bawah nanti kalo kelamaan di sini gak akan keluar-keluar!"


"Gue kecanduan sama bibir lo Mil!" bisik Arkan, membuat Kamila terkejut.


"Mesuuummm!"

__ADS_1


__ADS_2