Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
41. Pasar Malam


__ADS_3

Senyum Kamila mengembang, terlihat Laras dan Livia saling berpandangan, mereka merasa sangat kesal. Karena dengan begitu artinya mereka tidak akan bisa bersikap semena-mena terhadap Kamila.


Tetapi, ibu dan anak itu langsung memasang wajah ceria.


"Wah ini bagus dong Mas, jadi kita bisa lebih sering bareng. Biar hubungan kita sesama keluarga jadi dekat," kata Laras.


"Iyah Pah, aku juga seneng," ujar Livia.


Reynald tersenyum senang, dia melihat ke arah Kamila.


"Kamu seneng kan, Mila?" tanya Reynald.


"Senang, Pah. Ini bener-bener berita baik. Tadinya, Kamila mau Papah pasang CCTV di rumah supaya Papah bisa liatin kegiatan Kamila setiap hari di rumah. Tapi, karena


Papah sekarang jarang keluar kota kayak nya gak perlu lagi CCTV," kata Kamila sambil melirik ke arah Laras.


Reynald tertawa kecil mendengar perkataan Kamila.


"Kamu ada-ada aja, sih."


"Ish si Papah. Tapi CCTV itu penting loh, Pah. Jaman sekarang kan banyak banget pencuri. Jadi, kayak nya memang kita harus pasang, siapa tau ada yang mau maling warisan kan," kata Kamila terkekeh sambil melirik ke arah Laras.


Laras langsung mendelik kesal. Selama ini di rumah mereka memang tidak terdapat CCTV sehingga ia bisa dengan leluasa menyiksa Kamila.


"Hmm mana ada maling warisan Kamila ... Tapi Papah setuju juga buat pasang CCTV, Papah sampai gak kepikiran," kata Reynald.


Laras memegang tangan Reynald.


"Iyah Mas, kan bisa nanti-nanti aja pasang nya sekarang kan Mas ada di rumah!"


"Tapi apa yang Kamila bilang bener. Aku akan memasang nya juga di minimarket kita. Supaya jika ada apa-apa kita bisa memiliki bukti rekaman," kata Reynald.


Kamila hanya tertawa kecil, ia melihat dengan jelas adanya kepanikan di wajah ibu tiri nya itu.


***


Setelah pulang makan malam, Kamila langsung pamit kembali ke kamar. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.


Panggilan dari Arkan, Kamila mengangkat panggilan nya.


"Kenapa?" saut Kamila.


"Ya ampun Mil, lo sama pacar sendiri galak amat!" kata Arkan sambil terkekeh.


"Gue bukan pacar lo!" jawab Kamila ketus.


"Iyah Sayang, tau kok. Lo sayang gue kan, udah biasa!"


"Ck... Mulai deh. Kenapa?" tanya Kamila.


"Mau ikut gak?" tawar Arkan.


"Ke mana?" tanya Kamila sambil


tersenyum.


"Ikut aja yu, gue gak akan nyulik lo kok!" kata Arkan lagi.


Kamila nampak menimang-nimang ajakan Arkan, Kamila bangkit dari kasur nya.


"Boleh deh!"

__ADS_1


"Oke, tunggu pacar lo dateng yah, meluncur!" kata Arkan dari sebrang sana sambil tertawa.


Kamila pun segera bersiap, ia mengganti pakaian tidur nya dengan kulot dan cardigan. Setelah itu ia pun segera turun untuk meminta izin kepada ayah nya.


"Pah, Mila izin keluar sebentar, ya?" pamit Kamila.


Reynald yang sedang minum kopi di ruang keluarga ditemani oleh Laras.


"Loh mau ke mana?" tanya Reynald.


"Nganter temen Pah!" jawab Kamila.


"Jangan terlalu malem pulang nya," kata Reynald.


"Siap komandan," ujar Kamila dengan senyum manis nya.


Kamila mengecup pipi Reynald kemudian ia pun langsung keluar rumah dan menunggu di gerbang.


Tak lama kemudian, Arkan datang sambil tersenyum.


"Cepet amat, gue ajak langsung rapi. Takut calon suami nunggu lama, ya?" kata Arkan.


"Ish, najis amat. Emang mau ke mana sih?" Tanya Kamila


"Ngajak ucup ke bengkel, dia minta jajan," jawab Arkan.


Kamila mengerutkan dahi nya.


"Ucup?" Tanya Kamila


la menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun kecuali mereka.


"Lo cari sapa?" tanya Arkan.


Tawa Arkan meledak seketika. Ia pun menunjuk motor nya.


"Ini ucup. Gue kasih nama motor gue ucup, Kamila," kata Arkan.


Kamila tertawa mendengar perkataan Arkan.


"Lah pantesan waktu lo ikut naik bis bilang ke Kean suruh bawa ucup," kata Kamila dengan geli.


Mereka pun langsung berangkat menuju ke bengkel langganan Arkan.


"Arkan," panggil Kamila.


"Hmm, kenapa Mil?" tanya Arkan.


"Papah ada di rumah, dia kata nya bakalan kerja di sini. Urusan di luar kota udah ada asisten nya!" Arkan memelankan laju motornya.


"Bagus dong Mil, jadi lo gak akan disiksa lagi sama dua Nenek sihir itu!"


"Bukan itu Arkan, gue takut!" kata Kamila.


Arkan menghentikan motor nya dipinggir jalan dia melihat ke belakang.


"Apa yang lo takutin? Ada gue yang selalu ngelindungin lo! Gue bakalan bales sedilkit demi sedikit semua rasa sakit lo!"


Kamila menggelengkan kepala nya.


"Bukan itu, gue takut Tante Laras bisa nyakitin Papah dengan mudah!"

__ADS_1


Arkan tau Kamila sekarang khawatir dia mengusap kepala Kamila pelan.


"Sebelum mereka nyentuh Papah lo, gue duluan yang bakalan buat perhitungan sama mereka Mil. Lo gak usah khawatir!"


Kamila melihat ke dalam mata Arkan seakan mencari kebohongan.


"Gue gak bohong Mil! Gue emang suka jailin lo tapi kalo udah perkara lo yang disakitin sama orang lain, gue gak akan pernah terima!"


Kamila menganggukan kepala nya dia percaya kepada Arkan, sangat percaya. Arkan kembali mengemudikan motor nya dia mengusap tangan Kamila.


Arkan membawa Kamila ke sebuah bengkel. Seharus nya bengkel itu sudah


tutup, tapi karena pemilik nya sudah kenal dekat dengan Arkan ia pun rela menunggu.


Arkan dan Kamila turun dari motor mereka bergegas ke arah pemilik bengkel.


"Wah bos apa kabar nih?"


Mereka bertos ria seperti laki-laki pada umumnya.


"Aman-aman!"


"Waduh siapa nih, tumben bawa cewek ke sini?" tanya pemilik bengkel sambil melihat kepada Kamila.


"Calon!" jawab Arkan sambil berbisik.


"Wah-wah bau-bau calon Ibu Negara ini mah!"


Arkan tertawa saja sedangkan Kamila hanya tersenyum dia tidak tau apa yang para laki-laki itu bicarakan.


"Kenapa ini si ucup?" tanya pemilik bengkel.


"Ganti oli sama rem nya agak kurang pakem!" kata Arkan.


Pemilik bengkel itu mengecek nya.


"Kelar bos!" ujarnya.


"Gue tinggal ye Bang! Kasian ibu negara gak ngerti motor!"


"Hahaha aman bos, sejam kelar lah ini!" jawab pemilik bengkel.


"Oke siap!"


Arkan melirik ke arah Kamila dia mendekati Kamila.


"Mil, dari pada bosen, kita ke pasar malam, yuk. Ga jauh dari sini ada pasar malam,'


katanya.


"Jauh?"


"Lemotnya kumat, kan tadi gue udah bilang gak jauh Kamila!" kata Arkan.


Plak...


"Ish.."


Kamila hanya memukul tangan Arkan dan mereka akhir nya berjalan menuju ke pasar malam.


Arkan berjalan beriringan dengan Kamila sesekali dia melihat wajah gadis itu yang tersenyum. Kamila tidak ingat kapan terakhir ia berada di pasar malam seperti ini.

__ADS_1


Kamila pun merasa sangat gembira. Arkan mengajaknya bermain tembak hadiah dan yang lain nya.


__ADS_2