
Kedua wanita cantik beda generasi itu pun segera turun dan bergabung dengan yang lain.
Kamila sangat terharu, ternyata semua
keluarga Arkan juga sangat baik dan
menyambutnya dengan sangat ramah.
"Lo tadi kenapa nangis sama Bunda?" tanya Arkan.
"Lo liat?"
"Iyah lah, gue nyari calon bini eh taunya lagi sama ibu mertuanya!" kata Arkan menggoda Kamila.
"Ish."
"Kakak Mila!"
Suara cempreng membuat Kamila melihat
seseorang mencari dari mana asalnya.
"Kayla! Halo cantik!"
"Aku kangen, aku tadi dari supermarket sama Ayah beli coklat, Kakak mau?" tawar Kayla.
"Enggak usah buat Kay aja!"
"Sini Abang mau," pinta Arkan kepada Kay.
"No! Abang udah besar jangan makan coklat, ini punya Kay!"
"Loh Kakak Kamila juga udah besar!" saut Arkan tidak terima.
"Iyah sih, tapi Kakak Mila cantik. Coklat kan manis, jadi cocok buat Kakak Mila!"
Arkan melongo tidak percaya.
Sedangkan wajah Kamila sudah memerah. Kayla yang sangat menyukai Kamila tidak mengizinkan siapa pun untuk mendekati Kamila. Meskipun itu Arkan.
"Kay, Kak Mila kan pacar Abang. Kenapa kamu yang gandeng," kata Arkan.
"Abang apa sih! Kakak Mila punya aku. Abang main ps aja sana!" usir Kayla.
Sedangkan Alisha dan yang lainnya tertawa saja melihat Arkan dan Kayla, mereka memang tidak akur.
"Kakak Mila sama Abang aja!"
Arkan menarik tangan Kamila lalu menggandengnya.
"ABANGGGGG!"
Kayla mulai mengeluarkan jurus reognya.
"Bundaaaa liat Abang!" adu Kayla kepada Alisha.
"Abang udahlah biarin Mila sama Kay, kalian ribut aja!" ujar Alisha.
"Tapi Bund--"
"Kasih Abang!"
Kamila tertawa kecil melihat Arkan yang penurut.
"Iyah Bunda!" jawab Arkan.
"Calon suami yang baik!" bisik Kamila.
***
"Kalian ini telat terus telat terus! Kebiasaan, kalian mau jadi apa kalo terus-terusan begini!" Semua anggota osis berdiri di depan anak-anak yang telat.
__ADS_1
Kamila melihat Arkan, pemuda itu hanya cengengesan sambil melihat ke arah Kamila.
"Sekarang kalian yang telat akan Bapak beri hukuman, satu anak osis akan memantau kalian!" ujar Pak Yusuf nampak marah.
"Bastian dengan Rasyid!"
"Kean dengan Kamila!"
"Harusnya Arkan sama Kamila Pak, pawangnya tuh, kalo sama yang lain saya gak yakin dia bakalan nurut!" kata Kean mengelak.
"Yasudah, Kamila Arkan. Saya lihat Arkan memang nurut pada Kamila!"
"Tapi Pak-"
"Oke Pak saya sama Kamila," potong Arkan sambil mengedipkan sebelah matanya genit pada Kamila.
Kamila hanya bisa menghela nafasnya, setelah pembagian, anggota osis dibebaskan untuk menghukum partnernya.
"Lo mau ngasih gue hukuman apa?" tanya Arkan saat berjalan beriringan dengan Kamila.
"Gue bingung, semua hukuman udah lo lakuin, dasar brandal!" ketus Kamila.
"Hahaha, sama pacar sendiri jangan susah-susah Mil. Gak gue ajak jajan!" kata Arkan sambil tertawa.
Kamila mendelik sinis, dia bingung hukuman apa yang pas untuk Arkan.
"Bersihin gudang samping lab ayo!"
Arkan melongo tidak percaya, yang benar saja.
"Gue? Sendiri? Gak mau Mil, gila lo!" ujar Arkan tidak terima.
"Berisik, ayo!"
Kamila menarik tangan Arkan menuju gudang, Arkan melihat tangan Kamila, ini sudah tiga minggu sejak Ayah Kamila berada di rumah.
Arkan menghentikan langkahnya dia melihat tangan Kamila lalu mengusap-usapnya.
Kamila melihat tangannya.
"Iyah, Tante Laras sama Livia udah gak
mukulin gue lagi!" jawab Kamila.
Arkan memicingkan matanya dia seperti tidak percaya pada Kamila.
"Lo gak bhong kan?" tanya Arkan.
Kamila menggelengkan kepalanya.
"Enggak Arkan, percaya deh, sekarang hubungan gue sama Tante Laras udah baik-baik aja," kata Kamila.
"Lo tau kan Mil, gue bisa berbuat apa aja, jangan bohong sama gue!"
Arkan memegang pundak Kamila. Gadis itu terlihat menahan sakit sambil meneguk salivanya susah payah, Arkan langsung melepas tangannya dari pundak Kamila.
Arkan masuk ke dalam gudang begitu saja dia langsung membersihkan barang-barang kotor. Kamila merasa heran dengan sikap Arkan dia bingung kenapa Arkan menjadi cuek seperti itu.
"Arkan," panggil Kamila.
"Kenapa?" tanya Arkan sambil mengangkat bangku agar rapih.
"Lo marah?" tanya Kamila.
Arkan melihat ke arah Kamila sekilas lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.
Kamila menunggu jawaban Arkan tapi pemuda itu tidak berniat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan Kamila.
"Arkan, ih!" panggil Kamila lagi.
Arkan masih diam saja dia seakan menulikan telinganya.
__ADS_1
" Arkan," panggil Kamila.
"Arkan,"
Masih tidak ada sautan dari Arkan, rasanya aneh sekali jika didiamkan oleh Arkan.
"Arkan ibh bolot lo!"
Arkan menghela nafasnya dia melirik Kamila sekilas.
Brakh....
Arkan membanting pintu, Arkan memojokan Kamila ke tembok dengan satu tangan di atas kepala Kamila mengunci pergerakan gadis itu.
"L-lo mau apa?" tanya Kamila sedikit bergetar.
"Gue gak suka lo bohong Kamila!" kata Arkan dengan nada seriusnya.
"Gu-gue gak bohong Arkan, gue emang udah baik-baik aja, ada Papah di rumah!" jawab Kamila.
Arkan kembali memegang pundak Kamila, kali ini sedikit lebih kencang membuat Kamila menahan nafasnya dan menutup matanya.
"Kalo lo gak mau jujur gue bisa cari tau sendiri!" ucap Arkan penuh penekanan.
Glek...
Kamila menelan ludahnya kasar, dia takut dengan Arkan yang seperti ini.
"Arkan," panggil Kamila.
"Gue-"
"Gue ke kelas duluan Mil!" kata Arkan dia keluar dari gudang meninggalkan Kamila.
Kamila menatap kepergian Arkan, dia seperti merasa kosong tapi entah kenapa. Kamila juga sudah ada rasa pada Arkan.
"Arkan!" panggil Kamila dia berlari mengejar Arkan.
Tapi pemuda itu terus berjalan menuju kelasnya, Kamila terus memanggil Arkan tapi tidak digubris sama sekali.
Daren, Kean dan Bastian yang melihat itu lantas mendekati Kamila.
"Kenapa?" tanya Bastian.
"Kayaknya Arkan ngambek sama gue!" jawab Kamila, dia mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Arkan kalo ngambek gak gitu Kamila, lo buat salah apa?" tanya Kean.
"Gue gak buat salah apa-apa!"
"Gue yang susul Arkan!" kata Daren lalu pergi meninggalkan Bastian, Kean dan Kamila.
"Gue ikut!" seru Kamila.
"Eitssss... Gak usah! Percuma, dia gak akan mau dengerin lo!" kata Kean sambil menarik tangan Kamila.
"Tapi Arkan-"
"Biar jadi urusan Daren!" potong Kean.
Kamila manut saja dia melihat Arkan yang semakin menjauh, dia tidak bisa jika Arkan mendiaminya.
"Maaf Arkan!"
***
Hari minggu, Kamila tidak ada kegiatan apa pun, biasanya Arkan akan mengajaknya keluar tapi sekarang hubungan keduanya sedang renggang karena tempo hari.
Kamila juga tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Apa lagi ayahnya ada di
rumah, ia lebih merdeka lagi. Biasanya Laras selalu menyuruh ini itu kepadanya meski mereka memiliki pembantu.
__ADS_1
Asisten rumah tangga pun tidak ada yang berani melaporkan hal itu kepada Reynald karena sudah diancam oleh Laras. Entah mengapa malam itu Kamila tidak bisa tidur. Padahal besok hari senin dan ia harus datang lebih pagi untuk upacara bendera.