
Nenek Kamila hanya tersenyum, tiba-tiba saja ia merasa sesak, "Arkan, Nenek titip Kamila yah, sayangi dia! Jangan sakiti Kamila. Nenek percaya sama kamu!"
"Kamila, Nenek sayang kamu!"
Nafas Marina semakin tersenggal-senggal. Air mata Kamila sudah semakin deras mengalir.
"Enggak Nenek gak boleh pergi?!" teriak Kamila.
Dokter pun segera menghampiri, namun...
Titttttt.....
Tiba-tiba saja di monitor menunjukkan garis lurus yang menandakan jika Nenek Kamila sudah berpulang.
"NENEK?!" teriak Kamila histeris.
"Nenek kenapa ninggalin Mila, Nenek janji sama Mila kalo Nenek gak akan pergi kayak Mamah! Nek bangun Nek...." Kamila memeluk Marina erat sambil menanhgis.
"Maaf Pak Bu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pasien sudah tiada!"
"ENGGAK! DOKTER PASTI BOHONG NENEK SAYA GAK AKAN PERGI," bentak Kamila.
Arkan mendekati Kamila, "Mil jangan begini!"
Melihat sang istri yang sudah berpulang, air mata kakeknya Kamila pun mengalir tanpa suara. Sangat sakit kehilangan orang yang kita cinta.
"Kakek!" Kamila melepas diri dari Arkan dia berpindah ke ranjang sebelah dan ia memeluk kakeknya.
"Kakek, Nenek beneran pergi ninggalin Mila, Kakekjangan tinggalin Mila juga yah, Kakek harus tetep di sini nemenin Mila yah," kata Kamila dengan air mata yang deras mengalir.
Perlahan Frans membelai rambut panjang milik Kamila.
"Hey cucu Kakek kok nangis, Mila udah besar gak boleh nangis nanti cantiknya ilang loh terus Arkan gimana?" kata Frans sambil tertawa kecil.
"Kek jangan pergi juga, Mila beneran sendirian!"
"Kata siapa sendiri? Sekarang Mila punya Arkan dan keluarganya. Kakek sama seperti Nenek percaya kalo Arkan pasti akan selalu menjaga kamu!" kata Frans sambil mengusap air mata yang ada di pipi cucunya itu.
"Marvin, Om sudah mengurus semuanya, surat balik nama semua sudah selesai, semua aset sudah resmi atas nama Kamila, kamu bisa mengambil berkasnya kepada orang kepercayaan Om di kantor. Om juga sudah menulis surat wasiat supaya semuanya menjadi resmi. Tolong titip Kamila...jaga dan sayangi dia seperti
anak kalian sendiri."
__ADS_1
"Baik Om, saya akan mengurus semuanya!" jawab Marvin.
"Kamila Sayang, Kakek minta maaf Kakek juga harus pergi, Nenek dan ibu kamu sudah menunggu Kakek, Mila baik-baik yah nurut sama Ayah sama Bundanya Arkan! Jangan nakal oke, cucu kakek anak yang baik!"
"Enggak Kek, jangan pergi juga enggak?!" Kamila semakin histeris.
"Sssttt... Jangan nangis, Kakek sayang Mila! Jaga diri yah Sayang!"
Setelah selesai mengucapkan semua itu kakek Frans menutup mata dan ia pun menghembuskan napasnya yang terakhir.
"KAKEK! BANGUN KEK?! KENAPA SEMUA NINGGALIN MILA?!"
"KEK!" Kamila mengguncang tubuh Frans.
"KAKEK JAHAT SEMUA NINGGALIN MILA?! MILA MAU IKUT HIKS?!" Tangis Kamila pun pecah sejadi-jadinya, ia meraung dan
menjerit-jerit.
Sementara Arkan langsung memeluk Kamila untuk menenangkan gadis itu.
"Arkan Kakek sama Nenek kenapa pergi, mereka udah gak sayang sama gue Arkan!"
"Syuttt gak boleh ngomong begitu. Semua yang terjadi itu takdir Mil kita gak bisa mencegahnya!"
"Lo punya gue, punya Bunda, punya Ayah! Lo juga punya anak-anak Gravendal yang selalu ada buat lo. Jangan pernah merasa sendiri Mil!"
***
Mendung menjadi cuaca pengantar kakek dan neneknya Kamila untuk pulang ke rumah terakhir mereka.
Sama seperti suasana hati Kamila yang juga mendung dan berkabut. Gadis Itu tampak sangat sedih karena ia langsung kehilangan dua orang yang iabsangat cintai. Kini dirinya benar-benar sebatang kara, tidak punya ibu, tidak punya kakek nenek, tidak punya saudara dan juga tidak memiliki ayah.
Ya mungkin saat ini Reynald memang belum meninggal dunia. Tetapi, bagi Kamila ayahnya itu sudah lama meninggal semenjak ia tahu jika sang ayah sendiri yang ingin melenyapkannya dari muka bumi sejak ia bayi.
Air mata Kamila tidak berhenti mengalir selama perjalanan menuju pemakaman. Gadis itu menangis dalam pelukan Arkan yang dengan setia menemani Kamila.
Alisha yang berada di samping Kamila juga mengusap pundak Gadis itu supaya tetap tegar.
"Mila harus banyakin sabarnya yah, semua yang hidup pasti akan kembali sama sang pencipta. Kita yang masih hidup di dunia ini cuman bisa mendoakan supaya Kakek dan Nenek mendapat tempat yang terbaik di alam sana. Mereka sudah berkumpul dengan ibunya Mila dan Bunda yakin Kakek sama Nenek seneng banget kalo Mila bisa senyum lagi. Ada Ayah dan Bunda juga Arkan di sini yang akan selalu menemani kamu," kata Alisha dengan lembut.
"Iyah Bunda, terima kasih banyak, Bunda baik banget sama Mila!" Kamila memeluk Alisha erat dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika tidak ada keluarga Arkan.
__ADS_1
"Jangan sedih yah Sayang, Bunda juga Bundanya Mila kok begitu juga Ayah!" Alisha mengusap kepala gadis rapuh itu.
"Mila sedih Bunda, kenapa Kakek sama Nenek ninggalin Mila barengan, apa salah Mila? Padahal baru kemarin Mila sedih gara-gara Papah yang jahat, dan sekarang Mila harus sedih lagi karena Nenek sama Kakek pergi ninggalin Mila juga selamanya!"
"Kalo aja harta bisa ditukar dengan nyawa, Mila rela ngasih semuanya asal Nenek sama Kakek bisa hidup lagi. Tapi sayangnya itu semua mustahil, Mila harus kehilangan semua orang yang Mila sayang," kata Kamila dengan sendu.
Alisa memeluk Gadis itu dengan penuh kasih sayang ia mengerti bagaimana perasaan Kamila sekarang tentulah sangat hancur dan sedih.
"Mila boleh sedih, kita lewatin semuanya bareng-bareng yah, Ayah sama Bunda gak akan ninggalin Mila begitu juga Arkan dia sayang banget sama kamu," kata Alisha penuh kasih sayang.
Saat sampai di pemakaman, Arkan dan Marvin membantu memakamkan kakek dan nenek Kamila bahkan keduanya pun ikut turun ke liang lahatbuntuk menempatkan jenazahnya. Baju Marvin dan Arkan terlihat sangat kotor karena tanah.
Setelah keduanya selesai dimakamkan Kamila mendoakan kakek dan neneknya. Walau bagaimanapun ia harus ikhlas. Kamila percaya jika kakek dan neneknya itu sangat menyayangi dirinya.
Arkan mengusap pundak Kamila menenangkan dia tau kekasihnya itu sangat bersedih.
"Gak papa Sayang, semua udah takdir! Semoga Kakek sama Nenek ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya."
"Sekarang pulang yu, udah mau ujan juga nanti sakit." Setelah semua orang kembali Arkan pun mengajak Kamila pulang Kamila menuruti saja.
Arkan memegang pundak Kamila,
"Kamila?!"
Tepat saat Kamila hendak bangkit seluruh persendian tubuhnya terasa lemas. la pun jatuh pingsan dalam pelukan Arkan.
"'Sayang! Bangun!" Kamila tetap menutup matanya.
Dengan sigap Arkan mengangkat Kamila. Mereka pun membawa Kamila pulang ke rumah kakek dan neneknya dalam keadaan pingsan.
Mbok Darmi, pembantu yang sudah lama bekerja di rumah itu langsung mempersilahkan mereka untuk beristirahat di kamar tamu.
"Tadinya, kami akan menginap di hotel supaya tidak merepotkan. Tapi karena kondisinya seperti ini tidak apa-apa kan, kalau kami tidur di sini?" kata Alisha kepada Mbok Darmi.
"Oalah lbu, tidak apa-apa. Ini kan rumahnya Non Kamila apalagi kakek. dan neneknya sudah tiada jadi rumahini sah menjadi miliknya non Kamila Masa kalian tidak boleh menginap di sini?"
Senyum Alisha mengembang dan itu membuat Mbok Darmi kagum, senyum ibu mertua nonanya itu sangat manis.
"Terima kasih yah Mbok, oiya nanti apa akan ada pengajian?"
"lya asisten lbu sama Bapak akan datang. Mereka sudah dalam perjalanan dan mungkin sebentar lagi akan sampai merekalah yang akan mengadakan pengajian. Maklum kakek dan neneknya Non Kamila cuman punya anak satu satunya yaitu ibunya Non Kamila. Jadi, setelah ibunya non Kamila tidak ada, mereka tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Non Kamila sebagai cucu mereka," kata Mbok Darmi.
__ADS_1
Jika Alisha sedang berbincang dengan Mbok Darmi maka. Arkan dan Marvin pun langsung membersihkan diri, karena sebentar lagi akan diadakan pengajian. Sementara Kamila dibiarkan beristirahat di kamarnya.